
Diana terperanjak turun dari ranjangnya, Ia baru menyadari setelah membaca alarm pengingat di ponselnya. Bulan ini, Ia belum mendapat datang bulanya. Diana melirik layar ponselnya, waktu menunjukan pukul 11 malam.
Sepanjang malam, Diana hanya focus menatap pada layar ponselnya. Mencari tahu di internet perihal mengapa Ia telat datang bulan. Ia sedikit bernafas lega saat mengetahui bahwa hal itu wajar, mungkin akibat stres yang berlebihan. Diana meyakinkan dirinya agar tidak terlalu memikirkanya, namun tetap tidak bisa. Dadanya bergejolak saat membaca halaman lain pada internet, yang mengatakan hal apa yang Diana takutkan.
Untuk meyakinkan dirinya, Diana berencana akan pergi ke klinik besok. Walaupun ragu, tapi Ia harus tetap melakukanya agar bisa meyakinkan hatinya.
Pagi hari tiba, hangatnya sinar mentari menyambut pagi yang cerah.
Di atas ranjangnya, Diana terpaku dengan mata yang sayu, Ia tidak tidur semalaman akibat memikirkan perihal datang bulanya. Diana melirik jam dinding yang berada di dalam kamarnya, waktu sudah menunjukan pukul delapan. Menurut info yang Ia dapat, klinik rata-rata buka pada pukul sembilan. Walau begitu, Ia tetap bergegas mandi dan pergi keluar rumah.
Diana keluar dari kamarnya, Ia melirik dapur namun tampak sepi mungkin Alex sudah terlebih dahulu pergi ke perusahaan.
__ADS_1
Diana pergi ke pusat perbelanjaan, mencari alat tes kehamilan. Ia hanya meliriknya, ragu untuk mengambil dan membelinya. Menggigit bibir, Diana harus cepat membeli itu sebelum pusat perbelanjaan ini ramai. Karena semakin siang akan semakin ramai orang berdatangan. Ia pun mengambil beberapa alat tes kehamilan itu lalu membayarnya ke kasir. Diana pergi ke toilet terdekat.
Di toilet, Diana membaca cara pemakaianya.Di sana tertuliskan, jika muncul dua garis merah maka hasilnya positif dan jika muncul satu garis maka hasilnya negatif. Diana sudah mengerti, Ia pun bergegas menggunakanya.
Ia menunggu, melihatnya dengan dekat dan seksama. Perlahan muncul satu garis pada alat kehamilan itu, Diana berharap jika hanya satu garis saja. Tapi, jantungnya seakan berhenti berdetak, ketika melihat satu garis lagi muncul di dekat garis satunya namun berwarna samar. Positif!
“Tidak mungkin! ”
Diana menunggu taxi di pinggir jalan, cuaca semakin terik ketika menjelang siang. Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dan membuat Ia terkejut. Diana langsung menoleh ke arahnya.
“Ghani, ” Diana sontak terkejut matanya terbelalak dengan nafas yang tersenggal gugup merasa sudah tertangkap basah.
__ADS_1
“Kau, kau kau ba bagaiman bisa ada di sini? ” ucapnya tergagap
“Ada apa denganmu? Bukankah kau mengirimiku pesan agar bertemu di tempat biasa? Ayo cepat masuk, mataharinya sangat terik.” Ucapnya seraya menarik lengan Diana dan masuk ke dalam cafe.
Diana tertegun, Ia terus melirik arloji di pergelangan tanganya. Hari sudah semakin siang, jika Ia pergi ke klinik pasti akan terkena antrian yang sangat panjang.
Ghani memesankan makanan dan minuman kesukaan Diana, namun Diana terlihat melamun tidak menyentuh sedikitpun makanan tersebut.
“Aku akan ke toilet, ” Ucap Ghani, dan beranjak dari duduknya. Namun tidak sengaja Ia menyenggol kursi yang terdapat tas Diana di atasnya. Diana terkejut, isi tasnya terlihat berserakan. Ghani meminta maaf dengan memasukan satu persatu isinya, namun aktivitasnya terhenti saat Ia melihat alat tes kehamilan di dalam tas Diana.
“Apakah ini punyamu? ” tanyanya sembari memegang alat tes kehamilan itu
__ADS_1
Bersambung...