
Diana terkejut setelah mendengar perkataan Alex yang berkata dengan entengnya menyuruh Diana untuk memakai gaun tidur sexy tersebut. Melihatnya saja sudah membuat Diana merinding setengah mati, bagaimana Ia bisa mengenakanya.
Diana mengambil paksa kotak hadiah yang berada di tangan Alex, Diana kembali memasukan gaun tidur sexy itu ke dalam kotak. Ia mencoba menyimpan kotak hadiah itu di dalam lemari, namun Alex mengatakan sesuatu yang membuat langkahnya tersendat.
“Pakailah itu malam ini, bukankah kau sudah menyetujuinya? ” perkataan Alex membuat Diana terkejut. PRAK! Kotak itu terjatuh dari tangan Diana, Ia memaku sejenak mencoba mencerna perkataan dari Alex
Sontak Diana langsung berbalik menatap tajam ke arah Alex, “Menyetujui apa? Apa yang sudah aku setujui? ” tanyanya heran,
“Kau sudah berjanji akan memberikan seorang cucu kepada kedua orang tuaku, bukan” Jawab Alex enteng mengangkat kedua bahunya menatap tajam Diana
“Tidak! Tadi aku hanya mengikutimu berakting di hadapan orang tuamu saja. ” Hardik Diana kesal,
“Berakting? Kapan aku memintamu untuk berakting? Aku hanya memintamu untuk bersikap baik di hadapan orang tuaku, itu saja. ” Ucap Alex enteng, kemudian Ia berjalan dan duduk kembali di atas sofa, menyibukan diri dengan macbook dan pekerjaanya.
__ADS_1
Appaaaa...
Dengan langkah yang cepat Diana mendekati lemari dan menyimpan kotak hadiah itu ke dalam lemari dengan sedikit melemparnya, sampai suara benturan antara kotak hadiah dengan dinding lemari terdengar cukup keras.
Apa-apaan dia? Jadi apa maksudnya? Maksudnya aku yang salah?
Ia berjalan dengan cepat, berencana menuju kamar tamu. Diana akan tetap tidur di sana malam ini ataupun seterusnya, tidak peduli alasan apa lagi yang akan Alex ucapkan Ia tidak akan memperdulikanya. Mustahil baginya untuk berbagi kamar dengan Alex, apalagi berbagi ranjang.
“Perkataanku pada saat acara makan malam, aku serius mengatakanya. Ingat itu, ” Ujar Alex dan pandangannya masih focus menatap layar macbooknya.
Ia mengalihkan pandanganya kepada Alex yang sedari tadi sibuk dengan macbooknya, Alex terlihat santai dengan raut wajah tanpa dosa.Menyebalkan, satu kata yang saat ini mewakili perasaanya.
Diana berjalan cepat menuju kamar tamu, kamarnya sebelum Ia pindah ke kamar Alex. Diana mencoba menelepon temanya Ghani, beberapa panggilan Ia coba namun Ghani tak kunjung menjawabnya. Mungkin sudah terlalu larut, jadi Ghani tidak sempat menjawab panggilanya.
__ADS_1
'Telepon aku saat kau membaca pesan ini, temui aku di tempat biasa. Besok pukul sepuluh pagi, aku memerlukan bantuanmu. ' Isi pesan yang Diana tulis dan kirimkan kepada Ghani.
Kemudian, Diana merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Terasa sangat empuk dan nyaman. Ia menutup matanya perlahan mencoba untuk terlelap setelah lelah seharian.
Tiba-tiba suara handphone yang berdering sangat nyaring membatalkan acara tidurnya, Ia bergegas melihat layar ponselnya untuk melihat notifikasi yang masuk. Berharap mendapat balasan pesan dari Ghani temanya, tapi Ia di kecewakan dengan notifikasi yang hanya berisikan alarm peringatan hari saja. Diana lupa menyetel nada dering telepon dan alarmnya, sehingga nadanya masih terdengar sama.
Dengan malas Ia menggeser layar ponselnya, melihat ada hari penting apa sampai ada alarm masuk untuk mengingatkanya.
Matanya terbelalak saat melihat kegiatan yang Ia tulis pada tanggal tersebut.
“Datang bulanku. ” Dengan emoji senyum, tertulis seperti itu, Diana hampir lupa. Ia berpikir sejenak,
“Aku tidak pernah telat sebelumnya, ” Gunamnya kemudian langsung terperanjak turun dari ranjang.
__ADS_1
Bersambung....