
“Sayang ....” panggil Alex kepada gadis di sampingnya.
“Sudahlah, Kak, aku mau tidur!” ketus Diana.
“Apa kau sakit? Semalam kau masih baik-baik saja,” tanyanya dengan nada khawatir. Tentu perubahan sikap Diana bukan karena sakit.
Gadis itu masih bergeming di tempatnya, tidak ada tanda-tanda bahwa Ia akan menjawab pertanyaan suaminya.
“Aku akan menelpon Elios,” ujar Alex sembari mengambil ponselnya di atas nakas, namun dengan segera di cegah oleh Diana.
“Kak aku tidak apa-apa,” Diana beranjak dari tidurnya dan duduk di samping Alex.
Sebenarnya Ia merasa semua sikapnya tidaklah benar, Ia marah-marah tidak jelas kepada Alex yang bahkan tidak tahu apa-apa. Suasana hatinya sungguh tidak stabil, meskipun Ia merasa bahwa kesalnya tidak wajar tapi tetap saja di dalam hatinya Diana sungguh merasa resah mengenai perubahan bentuk tubuhnya.
“Kak,” panggil gadis itu menatap Alex dengan binar.
“Iya, Sayang?” jawab Alex balik menatapnya.
Meskipun terdengar asing dengan panggilan seperti itu, nyatanya Diana tidak menolak Alex memanggilnya sayang. Hatinya malah merasa sangat senang.
“Kak bukankah aku tampak ... aneh?” tanyanya ragu.
Lelaki itu mengerutkan keningnya heran, “Tidak,”
Bohong! Diana mencebik kesal, “Tapi, Kak, berat badanku bertambah sampai dua belas kilogram. Aku gemuk, Kak!” ujarnya dengan tidak sabaran.
“Ya, lalu?” Ia semakin heran dengan tingkah gadis di hadapannya.
Benarkan, Alex mengakui bahwa Diana itu gemuk. Tahukah Alex bahwa perkataanya itu semakin menyulut api kecil di dalam batin Diana menjadi kobaran besar?
Diana membeliak, rasa kesal di dalam hatinya semakin bertambah buruk. “Yasudah!” ketus gadis mengalihkan pandangannya dari Alex, mencebik kesal.
Alex semakin heran, “Ada apa?”
“Aku gemuk, dan Kakak pasti tidak suka kan melihat aku seperti ini? Itulah kenapa Kakak selalu mengurungku di dalam kamar. Kakak malu!” akhirnya kata-kata yang Ia pendam di dalam hatinya sejak tadi pagi keluar.
Sejak kapan Alex mengurungnya?
__ADS_1
Alex bergeming di tempatnya. Biarkan Ia sejenak mencerna perkataan dari gadis di sampingnya. Apakah sedari tadi Diana mengajaknya berdebat karena berat badannya bertambah karena hamil? Dan sejak kapan Alex mengurungnya? Apakah kemarin karena Alex mengantarnya ke kamar lebih awal? Bukankah itu karena Diana sedang sakit dan Alex hanya memintanya untuk beristirahat? Oh Diana...
Bibir Alex menarik ke atas membuat sebuah seringai, “Jadi karena kau tidak rela berat badanmu bertambah karena hamil?” tanyanya dengan nada ketus, walau sebenarnya Ia tengah meledek gadis yang tengah merajuk di sampingnya.
Diana langsung mengalihkan pandangannya dan menatap Alex, “Bukan, Kak!”
“Lalu apa?”
Tiba-tiba air matanya mengenang, hatinya sakit karena Alex menuduh dirinya seperti itu, “Aku aku hanya merasa ... ” Ia menggigit bibir bawahnya, wajahnya tertunduk agar air matanya yang menetes tidak terlihat oleh Alex. “Aku merasa bahwa aku tidak pantas menjadi istrimu.” tenggorokannya sakit menahan isakan tangisnya.
Alex menghela napas panjang, tak di sangka gadis itu menangis padahal Ia hanya meledeknya saja. Alex membawa tubuh Diana ke dalam dekapannya, dan tangis yang sedari tadi Diana tahan seketika membludak keluar. Gadis itu tergugu di dalam pelukan suaminya.
“Hei sudah, aku hanya bercanda.” ujar Alex mencoba menenangkan gadis itu sembari mengusap punggungnya perlahan.
Bukannya berhenti, gadis itu malah semakin tergugu di dalam pelukan Alex, membasahu baju Alex dengan air matanya. Teganya Alex mempermainkan Diana seperti itu, sampai Diana menangis sedih sekaligus kesal.
Alex melepaskan pelukannya, menarik tubuhnya dan membuat jarak dengan Diana. “Sudahlah aku hanya bercanda tapi kau menangis seperti ini,” ujarnya sembari menyeka air mata yang membanjiri pipi gadis itu.
“Kau keterlaluan kak!” ujarnya sembari terisak.
Diana mendongakan wajahnya, air matanya masih mengenang di pelupuk matanya.
“Kau ingin pergi hari ini?”
Gadis itu bergeming. “Kemana?”
“Bukankah kau merasa aku mengurungmu,” ledek Alex kembali yang di hadiahi cubitan kecil pada perutnya.
“Kak!”
“Baiklah, segera bersiap aku akan mengajakmu jalan-jalan.”
Diana merasa senang, bibirnya membentuk sebuah senyuman manis sampai akhirnya Alex mengecup bibirnya kilat, membuat senyuman itu hilang di gantikan dengan wajah terkejutnya. Diana mengerjap beberapa kali, nyatanya ciuman itu hanya kilatan saja bukan *******.
“Bersiaplah,” ujar Alex mengusak puncuk kepala gadis cantik tersebut.
***
__ADS_1
Diana menatap sekeliling, suasananya begitu ramai karena banyak orang berlalu-lalang tengah berbelanja. Ternyata Alex mengajaknya ke sebuah Mall yang jaraknya lumayan dekat dari resort mereka menginap.
Mereka seperti pasangan suami istri yang baru menikah, Alex menautkan jemarinya kepada jemari Diana sepanjang acara jalan-jalan mereka. Mereka kini sudah berada di dalam mall selama hampir setengah jam, dan Diana masih belum memikirkan akan melakukan apa di sana.
“Ke sebelah sana,” ujar Alex lalu menuntun Diana pada jalan yang Ia arahkan.
Mereka sampai pada area khusus baju bayi dan anak, beberapa baju terpajang terlihat sangat lucu dengan ukuran yang sangat mungil. Diana tersenyum ketika Ia melihat sepatu kecil khusus bayi itu, sepatu bayi berwarna pink dengan motif bunga-bunga.
“Sangat lucu,” gunamnya dengan binar menatap sepatu bayi tersebut.
“Pink?” tanya Alex ketika melihat sepatu kecil yang tengah Diana pegang, “Bayi kita adalah lelaki,” ungkapnya yang sukses membuat Diana berkerut kening.
“Tidak, Kak. Kita bahkan belum melakukan pengecekan jenis kelamin bayi kita, bagaimana jika perempuan?” ujarnya mengulas senyum simpul.
“Anak pertama kita pasti laki-laki,”
Anak pertama? Memangnya dia mau mempunyai anak berapa? Gunam Diana dalam hati.
“Tapi ini lucukan?” Ia memperlihatkan sepatu kecil bermotif bunga-bunga kepada Alex.
Alex meliriknya tajam, “Ya,” jika tidak di turuti maka istrinya ini akan marah lagi.
“Kita akan membelinya,” gunamnya riang. Alex tersenyum melihat kebahagian gadis itu, kehangatan yang tidak pernah Ia dapatkan dari siapapun, dan gadis ini mampu memberikannya.
“Beli juga yang lainnya,”
“Tidak, Kak. Akukan masih lama melahirkannya, kita akan membelinya ketika sudah di jakarta.” Alex mengangguk mengiyakan, “Tapi Kak, kapan kita akan pulang?”
Ya, satu pertanyaan yang selalu Alex di inginkan kehadirannya. Yaitu ketika Diana menanyakan kapan mereka akan pulang dari acara babymoon mereka. Nyatanya mereka sudah dua minggu berada di bali, dan Diana sudah merasa cukup untuk itu.
“Waktu kita masih panjang,” jawab Alex sekenanya. Alex sendiri bahkan tidak tahu kapan Ia bisa pulang dan sampai kapan kekacauan itu akan segera berakhir.
“Tapi Kak, kau kan harus bekerja,” Diana berbicara sembari terus memilih sepatu bayi lainnya, pandangannya selalu terpesona dengan benda-benda kecil itu. Ia bahkan tidak melihat ekspresi Alex yang tampak kacau saat ini.
“Kita bisa tinggal lebih lama lagi jika kau mau,”
Gadis itu berbalik, menatap Alex dengan sorot mata penuh tanya. “Kak apakah kau di pecat?”
__ADS_1