Pengorbanan Cinta Diana

Pengorbanan Cinta Diana
Pahamilah


__ADS_3

Diana membuka matanya perlahan, cahaya lampu yang begitu terang terasa sangat menyilaukan. Diana menatap sekitar, matanya menyisir setiap sedut ruangan. Ia mengangkat kebelah tangannya, terdapat jarum infus yang tertancap kokoh di sana. Pada area wajahnya, terdapat benda yang tak asing yang membuatnya tidak nyaman. Sebuah selang melintang antara area hidungnya, selang oksigen. Diana melepaskannya dan mencoba beranjak bangun dan terduduk di atas ranjangnya.


Tampak sepi, di dalam ruangan sebesar ini hanya ada dirinya seorang. Diana bertanya dalam hatinya, kenapa Ia bisa berada di dalam ruang rawat ini. Padahal yang Ia ingat, Ia tengah berada di dalam kediaman orang tua Alex dan sedang terjadi keributan di sana. Kemana semua orang, kemana Alex, kemana kedua orang tuanya.


Sesaat Diana terperanjak saat seseorang membuka pintu ruangannya, seorang pria paruh baya yang sangat Ia kenali sosoknya berjalan masuk mendekati ranjangnya. Pria tersebut duduk di kursi yang berada di sebelah ranjang Diana, dengan sikapnya yang sangat tenang terlihat sangat berbeda saat terakhir kali Ia menatapnya.


Diana tertegun, pria tersebut menatapnya begitu dalam, Diana hanya bisa menundukan wajahnya dengan hati yang cemas dan gelisah. Jemarinya saling terpaut, terlihat sekali jika Ia takut dan gugup, seluruh tubuhnya bergetar dengan hebat.


“Bagaimana keadaanmu? ” suaranya terdengar begitu berat, Diana tertegun. Seolah jantungnya yang tadi berdegup sangat kencang, kini telah berhenti.


“Ba-baik, ” Diana mengangguk ragu, dengan wajahnya yang masih terus tertunduk.


“Bagus, kau tahu apa yang kau lakukan itu adalah hal yang benar. ”


Setiap kali suara itu terngiang di telinganya, dunianya terasa seperti berhenti berputar. Setiap kalimat yang orang itu ucapkan adalah sebuah penekanan besar bagi Diana. Diana memejamkan matanya perlahan, mencoba tenang dan mengatur nafasnya.


“Aku senang kau mengerti dan dapat mengendalikan keadaan, terus halangi Alex agar tidak mengungkap hubungannya denganmu di depan seluruh publik. ” Diana mengangguk pelan, pria paruh baya itu beranjak pergi.

__ADS_1


“Tunggu, ” Langkahnya tercekat karena ucapan Diana, Ia berbalik dan menatapnya. “Kenapa dulu, kau setuju untuk menikahkanku dengan Alex. ” Tanya Diana, membuat pria paruh baya itu tersenyum simpul.


“Kau hanya sebuah pion di dalam kehidupannya, kau tidak perlu mengetahui apapun hal yang tidak perlu kau ketahui. Dan ingat, Kau lebih baik jika di bandingkan dengan saudarimu itu, dan yang perlu kau lakukan kini adalah hanya menjaga dengan baik penerus keluarga Pradipta. Tidak lebih. Kalian hanya rakyat jelata yang bisa melakukan apapun demi uang. ” Diana tersentak, semacam kilat seperti tengah menyambar hatinya. Begitu perih mendengar perkataan Pria yang kini tengah berbicara padanya. Diana hanya terdiam, menatap kecewa pria paruh baya tersebut. Kemudian, tak lama Pria itu berlalu pergi meninggalkan Diana sendiri di dalam ruangannya, Diana menatapnya sampai bayang-bayangnya hilang di balik pintu.


Diana terhuyung, hatinya begitu sakit setelah mendengar perkataan yang begitu menghina dirinya. Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit ruangan. Air matanya mengalir tanpa Ia kehendaki, membanjiri wajahnya yang cantik. Betapa menoreh hati kata-kata yang di layangkan kepadanya.


Lebih baik, aku lebih baik dari saudariku? Apa maksudnya?


Diana mencoba memejamkan matanya,mencoba menenangkan diri dari hari yang melelahkan ini. Di dalam hatinya, selalu terngiang kata-kata yang menusuk itu. Ia tidak bisa merasa tenang, guncangan hebat kini tengah melanda dirinya. Diana ingin menangis, ingin menjerit, ingin lari. Ia tidak pernah ingin terjebak dalam permainan orang-orang kaya itu, kenapa mereka mempermainkanya layaknya sebuah boneka.


“Kau sudah bangun? ” Suara itu seakan menambah kegelisahan di dalam hatinya. Diana mencoba menenangkan diri sebisa mungkin, agar terlihat baik-baik saja. Diana terperanjak dan mendudukan dirinya kembali di atas ranjang.


Alex terus menatapnya, Ia teringat kata-kata dokter yang menjelaskan tentang masalah kesehatan Diana. Kehamilannya masih dini, sehingga masih rawan untuknya. Bisa saja Diana keguguran karena terlalu tertekan dan merasa stres, Dokter itu berpesan agar Alex selaku suaminya dapat menjaganya dengan baik dan sebisa mungkin tidak boleh menambahkan beban pikiran untuk Diana.


Bagaimana lagi, walaupun Alex sudah berjanji untuk terus melindunginya. Namun, hal yang tidak terduga selalu datang secara tiba-tiba.


“Ada sesuatu yang kau butuhkan? ” tanya Alex, Diana hanya terdiam tanpa kata.

__ADS_1


Alex menggenggam jemari Diana, Diana menoleh dan tertegun menatap Alex, “Jangan pernah berpikir untuk pergi dari sisiku. ” Ucap Alex, Diana menatapnya dalam. Sebelumnya, Alex pernah mengatakan hal ini, namun kali ini rasanya berbeda, nada berbicaranya begitu menghangatkan.


Diana tidak pernah berpikir untuk selalu berada di sampingnya, pernikahanya hanya sebuah ikatan kontrak saja. Hubungan yang saling menguntungkan satu sama lain, Diana juga tidak pernah berpikir bahwa Ia bisa menempatkan dirinya di dalam hati Alex. Diana tahu, jika Ia berharap lebih itu hanya akan membuatnya semakin tersakiti saat semua ini berakhir. Diana mencoba menahan hatinya, menutupnya serapat mungkin.


Diana melamun, Ia tidak menggubris perkataan Alex walau Ia mendengarnya. Tiba-tiba Ia teringat akan perkataan Tuan Pradipta terhadap dirinya tadi.


“Kau sungguh mencintai kakakku? Kenapa kau tidak memperjuangkan cintamu padanya?” tanyanya pada Alex dengan lirih, Alex tertegun.


Semua ini terasa aneh bagi Diana, Ia sungguh tengah berada di dalam ruangan yang gelap dan pengap. Diana bingung, seakan satu persatu kenyataan terungkap di hadapanya. Alasan keluarga Pradipta setuju atas pernikahanya dengan Alex, padahal jelas terlihat bahwa Tuan Pradipta sangat tidak menyetujuinya. Hubungan ini seperti sebuah puzzle yang sulit bagi Diana.


Diana sangat bingung dengan apa yang tengah menimpa dirinya, Alex terlahir dari keluarga kaya Ia bisa mendapatkan pasangan yang sepadan untuknya, masalah keturunan juga adalah hal yang mudah. Diana yakin itu akan membuat keluarganya lebih merasa bangga karena mempunyai menantu dari kalangan menengah ke atas. Diana juga yakin, dari kalangan ataspun pasti banyak yang menginginkan menjadi pasangannya. Alex tinggal memilih, wanita cantik nan sempurna mempunyai pangkat yang sama dengan dirinya sudah berjejer mengantri. Tapi kenapa Ia malah memilih menikahi Nameera yang hanya terlahir dari keluarga biasa bahkan bisa di bilang memiliki kekurangan. Kenapa Alex bersihkukuh? Dan kenapa dengan mudahnya Alex setuju menikahi Diana dan dengan cepatnya meninggalkan Nameera begitu saja.


Alex, pria di hadapannya kini adalah sebuah teka teki besar bagi Diana. Dan kenyataan seperti apa yang tengah menantinya di waktu yang akan mendatang, apakah sebuah kenyataan yang memilukan ataukah sebaliknya. Semuanya terasa begitu rumit. Sebelumnya, Diana tidak pernah merasa aneh dengan pernikahanya. Diana hanya menempuh jalan yang sudah menjadi takdirnya, tapi setelah mendengar perkataan Tuan Pradipta tadi sungguh membuatnya bingung dan bimbang.


Sebuah pion dalam kehidupannya, lebih baik dari saudarimu. Tidak perlu mengetahui apa yang tidak perlu di ketahui. Ini semua rumit.


“Apa dulu kau benar-benar mencintai Nameera? ”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2