
Mendengar kata 'hukuman' membuat tubuh Diana terasa seperti tersengat listrik, Ia terus terbayang dengan kejadian terakhir kali ketika Alex membantunya mandi. Hukuman yang Alex berikan, mampu membuat gadis itu kaku dan tidak bisa berkutik. Alex menatap Diana secara tajam dengan seringai di wajahnya, seolah siap memberi hukuman kepada Diana, jika gadis itu tidak menurut juga dengan perkataannya. Seketika, Diana menarik kembali tangannya yang tadi selalu berusaha mengambil jeruk yang tengah di genggam oleh Alex.
Alex memberi isyarat kepada pelayan agar segera menyiapkan sarapan untuk Diana. Pelayan itu langsung bergerak dan mengambilkan satu lembar roti dengan selai kacang dan satu gelas susu khusus ibu hamil. Seketika Diana teringat dengan Mesya, karena ketika hari pertama Ia meminum susu itu, di hari itu juga Diana harus bertengkar dengan gadis yang tidak di undang. Diana tersenyum tipis mengingat kejadian itu, konyol!
Alex berkerut kening memperhatikan tingkahnya, ada apa dengan gadis yang berada di hadapannya, sehingga tiba-tiba Ia tersenyum seperti itu. Tidak beres!
“Apa yang tengah kau pikirkan? ” tanyannya, namun mata Alex tetap tertuju pada koran paginya. Enggan menatap Diana.
Diana sedang asik memakan roti dengan selai kacang kesukaanya, namun Ia enggan meminum susu khusus ibu hamil itu. Diana memicingkan matanya ke arah Alex, setelah Ia mendengar pertanyaan yang tadi di katakan oleh Alex.
“Diana, ” Alex menggeram, karena Diana tidak menjawab pertanyaanya. Seketika Diana langsung menatap ke arah Alex, Ia menatap Alex dengan seksama. Tiba-tiba jantungnya berdegup sangat kencang ketika Alex memanggil namannya, ini pertama kalinya ... Alex menyebutkan namanya langsung. Terharu dan tidak percaya.
“Diana, ” “Ah, iya? ”
“Apa kau ingin pergi ke suatu tempat? ” terlontarkan begitu saja.
Sebenarnya apa yang tengah Alex pikirkan, pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Elios! Beberapa perkataan-nya sungguh memengaruhi pikirannya sampai begitu dalam. Tapi Alex juga sedikit membenarkan perkataan dari dokter itu, Elios benar, Ia harus bisa melangkah ke depan, sudah lama Ia menahan diri seperti ini. Memperbaiki dan mendapatkan maaf dari gadis yang kini tengah berada di depannya saja tidak cukup, gadis itu kini tengah mengandung buah hatinya. Alex harus bisa, mempertahankannya!
__ADS_1
“Benarkah? Kau akan mengajakku pergi? ”
Sebenarnya, jadwal pekerjaan Alex sangat padat. Namun mendapat respon seantusias ini dari Diana, Ia menjadi tidak tega jika harus menarik kata-katanya kembali.
Namun, tiba-tina senyum merekah yang tadi sempat terukir di wajah Diana walaupun hanya sekejap, seketika hilang. “Sepertinya tidak, ” Diana menggeleng lemah. “Kondisi kandunganku ... aku tidak bisa menukarnya dengan egoku. Aku akan di rumah saja. ”
Alex tertegun, Diana bisa berpikir jernih dan dewasa seperti ini. Semenjak kapan? Biasanya Ia hanya diam dan mengiyakan, kalaupun Ia berbicara, hanya ketika Ia sedang marah dan emosinya tidak terkontrol. Gadis labil ini, selalu memberikan kejutan yang tidak terduga.
“Baiklah, ” mengingat jadwalnya yang padat, Alex akhirnya lega, Ia bisa membatalkan ajakannya tanpa harus menyinggung perasaan Diana.
***
Kakinya berayun ke sana dan kemari tak menentu arah, meskipun sudah cukup lama Ia tinggal di mansion milik suaminya, tapi Diana belum pernah menjelajahi setiap sudut mansion. Diana baru menyadari jika mansion milik Alex begitu besar dan sangat luas. Diana tidak terlalu memperhatikannya, karena tempat yang selalu Ia kunjungi hanyalah kamar tamu, kamar Alex dan dapur saja, tidak pernah memasuki ruangan lainnya.
Langkah Diana terhenti tepat di depan sebuah pintu yang tengah tertutup rapat, Diana berpikir sepertinya Ia pernah memasukinya, namun Ia sendiri lupa ruangan apa itu. Diana melihat sekitar, dan tidak ada siapapun di sana. Diana mencoba satu langkah lebih dekat dengan pintu ruangan itu, Ia memegang kenop pintu dan mencoba membukannya. Pintunya terbuka dan tidak terkunci. Diana mulai melangkahkan kakinya masuk, melihat setiap sudut ruangan itu dengan penglihatannya. Mencoba mengingat ruangan apa ini.
Matanya melebar, Ia ingat ruangan siapa ini, Diana bahkan pernah masuk ke dalam ruangan ini. Ruangan ini tak lain adalah ruang baca Alex. Ya, kenangan buruk dimana Alex mengancamnya menggunakan nama perusahaan ayahnya. Kakinya Ia ayunkan perlahan menuju sebuah rak buku yang berada di samping meja kerja Alex. Buku yang tertata rapih, suasana ruangan ini juga cukup menenangkan. Pantas saja Alex lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam ruangan ini.
__ADS_1
Diana iseng mencoba duduk di kursi kerja Alex, Ia menyenderkan punggungnya pada senderan kursi dimana Alex sangat sering menggunakannya. Nyaman, sangat nyaman. Diana mencoba menutup matanya dan tersenyum tipis. Rasanya beda, tidak seperti Ia duduk di atas sofa lainnya. Entah mengapa, rasa puas itu ada ketika Ia duduk di kursi milik Alex.
“Sangat nyaman ... ” gunamnya masih dengan posisi yang sama.
“Nona, ” suara seorang pelayan memanggil Diana dan mengetuk pelan pintu ruangan yang sengaja tidak Diana tutup. “Maaf, Nona. Tapi Tuan Alex tidak memperbolehkan siapaun memasuki ruangan kerjanya. ” ujar pelayan itu sembari menundukan wajahnya.
“Em, termasuk aku? ” pelayan itu hanya terdiam dan masih menundukan kepalannya, enggan membalas pertanyaan dari Diana. “Baiklah, aku akan keluar sebentar lagi. Kau duluan saja. ” pelayan itupun mengangguk lalu pergi meninggalkan Diana.
Diana mulai beranjak dari tempat duduk Alex, Ia melangkahkan kakinya dan hendak keluar dari ruangan itu. Namun, langkahnya tercekat ketika Ia menemukam sebuah figura foro berukuran kecil di rak buku dengan posisi tengkurap. Diana mendekatinya dan ingin tahu foso siapa yang terpajang di sana. Dan mengapa Alex membiarkan foto itu tidak berdiri sebagai mana mestinya?
Diana meraih figura tersebut dan melihat fotonya, matanya membulat ketika Ia melihat foto Alex yang tengah tersenyum dengan bahagia, hanya foto Alex. Namun, Diana merasa ada yang janggal dengan foto tersebut. Karena bagian sebelah figura itu kosong. Rasa ingin tahunya tak bisa Ia tahan, Diana membalikan figura foto itu dan membuka penutupnya. Benar saja, ternyata itu adalah foto yang terlipat.
“Siapa wanita ini? ” gunam Diana ketika melihat foto seorang wanita cantik yang tengah tersenyum di samping Alex.
“Nona, ” suara itu mengejutkan Diana, seolah Diana tengah tertangkap basah ketika mencuri. Jantungnya berdegup sangat cepat karena terkejut. “Nona, bisakah anda keluar? Tuan Alex sudah pulang. ”
Diana mengeryitkan keningnya, Ia menatap ke arah jam dinding yang jelas-jelas masih menunjukan pukul tiga sore, tapi Alex sudah pulang. Cepat sekali. Dengan segera Diana menyimpan kembali foto tersebut dan langsung keluar dari ruangan Alex.
__ADS_1
“Sedang apa kau? Keluar dari ruang bacaku?”