
Diana menggeliatkan tubuhnya, meregangkan ototnya setelah tidur semalaman. Dengan mata yang masih terpejam, Diana mencoba meminimalisir kantuk di kedua matanya. Tiba-tiba, kakinya menendang sesuatu yang keras dan berat. Sontak Diana membuka matanya dan meringis sakit sembari memegang ibu jarinya.
“Koper?” tanyanya dalam hati. Diana beranjak dari tidurnya dan terduduk pada pimggiran ranjang.
“Kau sudah bangun?” Diana menoleh ke asalh suara tersebut, Alex sudah berada di ambang pintu dengan pakaian yang rapih dan tengah menatap ke arahnya.
“Kau akan pergi?” tanya Diana, pandangannya menutur ke arah koper yang berada di atas ranjang.
“Iya,” jawab Alex, lalu mengayunkan kakinya dan terduduk di samping Diana. “Kita akan pergi berlibur,” ujar Alex kembali sembari mengusap lembut pucuk kepala Diana.
Diana berkerut kening heran, “Kemana?”
“Kemanapun yang kau mau.” Alex tersenyum tipis, “Pikirkanlah. Jika sudah menemukan tempat yang ingin kau kunjungi, cepat bersiap. Aku akan menunggumu di bawah.” Alex membelai lembut pipi cantik Diana. Sementara Diana, Ia masih terdiam menatap heran lelaki yang tengah berjalan dan hendak keluar kamarnya.
Kehadiran Alex hanya memberitahukan kepada Diana bahwa mereka akan pergi berlibur, dan itupun belum di rencanakan akan pergi kemana. Alex keluar kamar, seolah tengah menghindari beberapa pertanyaan yang akan di tanyakan Diana. Ada apa?
Diana beringsut turun dari ranjang, dan berjalan menuju kamar mandi. Ia ingin segera bersiap dan kembali menemui Alex, tidak ingin memikirkan kemana tujuannya akan pergi. Seperti yang Alex katakan tadi.
Beberapa menit berlalu, kini Diana sudah bersiap dengan pakaiannya yang rapih dan tengah mematut dirinya di depan cermin. Diana duduk di kursi meja rias dan tengah menyisir. Tiba-tiba sekelebat bayangan akan masa lalu menghantuinya, dimana kenangan buruk itu di buat.
***
Diana menuruni tangga penghubung antara lantai satu dan dua, Ia berjalan menuju ruang tamu namun tidak mendapati Alex di sana. Katanya mau menungguku?
“Nona, Tuan muda menunggu Anda di meja makan.” ujar seolang pelayan lalu mempersilahkan Diana untuk segera menyusul suaminya.
Pemandangan yang selalu Ia dapatkan di pagi hari. Alex yang tengah bersantai dengan secangkir kopi panas dengan tab berisikan pekerjaanya yang selalu Ia pandang. Sangat sibuk, kenapa tiba-tiba mengajakku liburan?
“Kau sudah memikirkannya?” tanya Alex ketika melihat Diana datang dan duduk di kursinya.
__ADS_1
“Em,” Diana mengangguk pelan.
Diana memperhatikan tangan pelayan yang tengah sibuk menyiapkan dua telur di piring dengan iriasan sosis dan sedikit sayuran brokoli, dan segelas susu untuk melengkapi sarapannya pagi ini. Diana tersenyum tipis ketika pelayan itu selesai menyiapkannya, mengucapkan 'terima kasih' tidak langsungnya.
“Jadi, kemana kita akan pergi?” Alex meletakan tab yang sedari tadi Ia tatap dan beralih menatap Diana.
Diana menatap Alex kembali, “Bali. Tempat yang sama saat kita pergi honeymoon.”
Alex menurunkan pandangannya lalu bersender di pinggiran kursi, tak lama Ia menatap wajah Diana kembali. “Kau yakin? Tapi tempat itu ... apakah tidak berpengaruh untukmu?” tanya Alex
“Tentu saja, semua itu akan berpengaruh untukku. Tapi, aku tidak ingin meninggalkan jejak buruk dimana pun. Di tempat itu, bisakah kita memulai kembali dengan semua hal yang baik?”
Alex merasakan darahnya semakin berdesir, perasaan aneh muncul ketika gadis di hadapannya berkata dengan begitu bijak dan dewasa.
“Seperti yang kau mau.”
“Aku tahu kau sangat sibuk, tapi mengapa secara mendadak kau mengajakku berlibur?” tanya Diana, yang sedari tadi memandangi Alex tanpa beralih sedetikpun.
Diana menganggukan kepalanya, “Karena Elios ... ” gunamnya pelan, lalu meraih sendok dan garpu, bersiap untuk menyantap sarapan paginya.
Alex terkekeh ringan melihat expresi Diana yang terlihat kecewa saat mengetahui alasan Alex mengajaknya untuk berlibur.
“Bukan hanya karena Elios saja, aku mengajakmu berlibur karena aku juga menginginkannya.” ujarnya sembari tersenyum.
Diana meliriknya sekejap, lalu kembali terdiam dan menatap sepiring makanan di hadapannya.“Pembohong!” gunamnya dalam hati.
***
Seperti yang Diana minta, mereka berlibur ke tempat dimana mereka menghabiskan waktunya untuk honeymoon. Tempat yang sama, bahkan dengan kamar yang sama. Kenangan buruk itu, selalu menghantui Diana. Merasa tidak nyaman akan bayangan masalalunya membuat Diana tidak ingin terus hidup dan tenggelam di dalam sana. Diana ingin melawan rasa takutnya, menutupinya dengan kenangan manis dan indah.
__ADS_1
Diana menarik lengan Alex saat Ia mengajaknya masuk ke dalam resort.
“Ada apa?”
“Em, bisakah kita jalan-jalan di luar dulu? Cuaca sangat cerah hari ini.” Diana mengalihkan kegugupannya dengan mengajak Alex keluar.
Alex bisa melihay wajah gugup Diana, namun Ia engan mempertanyakannya. Karena Alex tahu, istrinya kini tengah berada di dalam dilema berat akan masa lalunya.
“Baiklah.”
***
Jemari mereka saling menaut satu sama lain, Alex mengikuti kemanapun kaki istrinya itu melangkah. Jarang-jarang Ia menjadi pria penurut seperti ini, bahkan tidak pernah. Semua ini hanya untuk Diana, gadis polos yang telah Ia bawa ke dalam rumahnya secara tidak sengaja. Kau percaya takdir?
Diana tidak bisa menyembunyikan kegugupannya. Walaupun Ia tampak menikmati pemandangan laut yang indah saat dirinya dan Alex berjalan-jalan di tepi pantai, namun wajah gugup itu jelas terlihat. Alex sudah menyadarinya sejak pesawat mereka baru saja mendarat.
“Jika kau tidak nyaman, kita bisa memesan tempat lain.” Alex menghentikan langkahnya, yang otomatis menghentikan langkah Diana juga.
“Tidak.”
Diana menatap sekeliling, Ia hafal tempat apa ini, begitu pula Alex. Mereka berdua menyadari tempat dimana mereka menghentikan langkahnya.
Tiba-tiba, Alex menakup wajah Diana dan memiringkan kepalanya lalu mencium lembut bibir Diana. Diana mulai memejamkan matanya, menikmati setiap gerakan yang di mainkan Alex.
Alex semakim mendekatkan tubuhnya pada tubuh Diana, mengikis jarak di antara keduanya. Tangan Diana mulai naik dan lingkarkannya pada bahu Alex, membuat ciuman mereka terasa semakin dalam, sangat dalam.
Beberapa menit bibir mereka saling menaut, dan lidah yang saling beradu, bertukar saliva. Napas keduanya mulai terengah dengan nafsu yang semakin bergejolak di dalam diri mereka masing-masing. Namun, sebelum ciuman itu menjadi kasar, Alex sesegera melepaskannya. Membuat Diana berkerut heran menatapnya.
Alex tersenyum tipis, dan melumaat kembali bibir Diana namun hanya sekejap. Kemudian, Ia memeluk Diana ringan, pelukan yang terhalang oleh perut Diana yang sudah membesar.
__ADS_1
“Terima kasih, dan tetaplah berada di sisiku apapun yang akan terjadi.”
Diana berkerut heran sebelum akhirnya Ia membalas pelukan Alex di tubuhnya. Ada apa dengannya? Ia tampak gusar dan nada bicaranya penuh dengan tekanan. Apakah semua ini berhubungan dengan acara liburan mereka kali ini?