Pengorbanan Cinta Diana

Pengorbanan Cinta Diana
Episode 86


__ADS_3

“Kak!” protes Diana tak terima dengan tuduhan Alex padanya. “Lagipula aku sudah tidak pantas memakai pakaian seperti ini,” ujarnya melemah sembari mengelus lembut perutnya. Ya, perutnya yang sudah membesar otomatis membuat berat badannya bertambah beberapa kilogram, membuat tubuh rampingnya terisi oleh lemak.


Alex tersenyum tipis melihat tingkah gadis di hadapannya, lantas Ia duduk di samping gadis itu. “Tapi kau masih terlihat sangat cantik,” ujarnya sembari mengusak puncuk kepala Diana.


Diana meliriknya tajam, “Kak, ini ulah kakak kan?” tanyanya menyelidik.


Sepertinya hal ini akan berlangsung lama jika Alex tidak mengiyakan.


Alex mengedikkan bahunya santai, “Bukan,”


Tentu saja lelaki itu tidak mau mengalah.


“Tapi Kak ... tidak mungkin jika baju ini bergerak dengan sendirinya.”


“Tapi aku benar-benar tidak tahu,” bela Alex lagi.


Diana mencebik kesal lalu meletakan gaun seksi itu ke atas ranjang dengan sedikit kasar, “Menyebalkan!” gerutunya dengan nada rendah tapi masih terdengar oleh Alex.


Benar apa yang di katakan Elios, bahwa hormon ibu hamil sangatlah buruk. Tapi lebih bagus seperti ini. Melihat Diana yang merajuk sangatlah menggemaskan.


“Mungkin saja gaun itu masuk sendiri ke dalam koper dan meminta agar kau mengenakannya.” ledek Alex mencoba menahan tawanya.


Diana menyalang menatap Alex, “Kak!”


“Baiklah baiklah,” ujar Alex sembari terkekeh, mood Diana benar-benar buruk.


Mata Diana tak lepas dari memandangi tubuh Alex yang masih bertelanjang dada dan hanya handuk tipis yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Lagipula kenapa lelaki itu tak kunjung memakai pakaiannya? Mungkin memang lebih bagus terlihat seperti itu ya, Diana juga menginginkan untuk tidur di atas dada bidang suaminya.


“Kak, tidak usah pakai baju ya?” pinta Diana dengan binar.


“Kenapa? ” sesegara mungkin lelaki itu meraih kaos yang sudah Ia ambil tadi.


Diana merebut kaos itu kilat, membuat lelakinya terperanjan heran. “Kak, please ... ” memohon dengan binar. “Tidak sering juga, aku hanya ingin membaringkan kepalaku di atas dada Kakak.” ujarnya sembari tersenyum manis.

__ADS_1


Alex menatapnya heran. Kenapa gadisnya ini tiba-tiba ingin melakukan hal seperti itu? Bawaan hamil?


Sepertinya malam ini gadis itu harus kecewa ketika Alex tak kunjung memberikan persetujuan kepadanya. Dengan raut masamnya Diana mengembalikan kaos itu kepada Alex dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


“Lihatlah, ayahmu tidak mau menuruti keinginanmu.” gunam Diana dengan nada rendah.


Diana hendak memejamkan matanya berharap segera tertidur untuk menghilangkan rasa kekecewaanya. Namun tiba-tiba Ia merasakan lengan kekar Alex melingkar pada perut dan mengelusnya lembut. Hangat, ya hangat yang Ia rasakan namun kemarahannya itu masih lebih membara dari hangatnya sentuhan tangan Alex. Diana mencoba menyingkirkan lengan Alex dari tubuhnya namun usahanya sia-sia saat Alex mencoba membalikkan posisi tubuhnya agar berhadapan dengannya. Pada saat yang bersamaan Diana mengulas senyum tipis di wajahnya.


“Makasih, Kak.” ujarnya lalu memeluk tubuh Alex, menenggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya. Wangi sabun dengan wangi tubuh Alex seolah menjadi kesenangan tersendiri bagi Diana.


“Tidurlah,” Alex memeluk Diana, membiarkannya tidur di dalam pelukannya. Rasa nyaman itu ada, dan bertambah setiap harinya.


Malam semakin larut sementara mata Diana masih belum juga terpejam, karena rasanya masih ada suatu hal yang mengganjal di dalam hati dan pikirannya.


“Kak,” ujar gadis itu, jemarinya tak diam bermain di atas dada bidang Alex seperti tengah membuat ukiran.


“Ya?” jawabnya terdengar berat, hari sudah sangat larut, dan rasa mengantuk seakan sudah siap merangkul dirinya ke dalam tidur yang nyenyak.


Ingatlah, di dalam suatu hubungan percakapan di antara pasangat sangat di perlukan. Komunilasi itu penting.


“Kak, apa yang kamu bicarakan dengan Elios? ” pertanyaan Diana yang sukses membuat mata Alex kembali terbuka dengan sempurna.


“Tidak ada, hanya berbimcang masalah bisnis saja.” dan satu kebohongan akan menciptakan kebohongan lainnya.


“Kamu mabuk kan, Kak?”


“Ya.. hanya untuk merayakan pertunanganya. Karena aku tidak bisa datang di hari pertunangannya jadi, kita minum bersama. Hanya itu,” jawab Alex.


Meskipun ragu tapi Diana tidak ingin memperpanjang masalah ini, cukup kepercayaan di dalam hatinya untuk Alex yang menutupnya. Diana cukup mengiyakan, percaya penuh kepada suaminya.


“Maaf ya, Kak, kalau aku tidak sopan.”


“Sttt.. tidurlah.”

__ADS_1


***


Pagi ini Diana bangun terlebih dulu, Ia terbangun masih di dalam pelukan suaminya. Ia melihat wajah Alex yang tengah tertidur pulas dengan kerutan halus di dahinya, menandakan bahwa tidurnya itu tidak nyenyak karena menanggung banyak beban pikiran.


“Apa yang kamu sembunyikan, Kak?” gunam Diana dalam hati menanyai dirinya sendiri.


Diana beringsut turun dari ranjang dengan gerakan sepelan mungkin agar tidak mengganggu lelaki yang tengah tertidur di atas ranjang. Ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan segera bersiap membersihkan diri.


Di dalam kamar mandi, Diana melihat pantulan dirinya di depan cermin. Ternyata bukan hanya perutnya yang semakin membesar, tapi pipi dan badannya juga semakin terlihat berisi saja. Diana merasa bahwa dirinya tidak secantik dulu, padahal umurnya masih delapan belas tahun. Masih terlalu muda untuk menjadi seorang ibu.


***


Entah mengapa setelah memikirkan semua itu suasana hatinya menjadi buruk. Beberapa menit dirinya di kamar mandi dan keluar ketika telah selesai Ia sudah mendapati Alex yang sudah bangun dan duduk bersender pada senderan ranjang dengan ponsel di genggamannya.


“Kak,”


“Ya?” jawab Alex tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya, membuat gadis yang berdiri di ambang pintu kamar mandi itu mendengus kesal.


Diana menghentakan langkahnya mendekat ke arah ranjang, Ia membaringkan tubuhnya kembali dengan rasa kesal di hatinya, membuat Alex berkerut heran. Ada apa dengan gadis ini?


Suasana hatinya sangat buruk, mungkin efek dari kehamilannya. Ya, karena hormon ibu hamil sangatlah tidak stabil. Perihal dengan perubahan bentuk tubuhnya membuat Diana semakin menggerutu kesal di dalam hati, di tambah suaminya itu sangat tampan, takut jika Alex mencari wanita cantik dengan tubuh bagus di luar sana karena merasa tidak puas akan dirinya. Hubungannya dengan Alex belum lama membaik, dan Diana tidak mengharapkan kehancuran itu ada.


Diana baru saja selesai mandi dan handuk kecil masih melilit di puncuk kepalanya. Kini Ia malah berbaring dengan rambutnya yang basah, kepalanya akan pusing nanti.


“Diana,” ujar Alex sembari memegang bahu gadis yang berbaring membelakanginya.


“Keringkan rambutmu dulu, jika tidak kepalamu akan pusing.” ujarnya namun gadis itu masih bergeming di tempatnya.


“Tidak usah memerdulikan aku!” ketus Diana yang semakin membuat Alex tidak paham akan sikapnya. Jelas semalam hubungannya baik-baik saja, tapi pagi ini Ia malah marah-marah tanpa alasan yang jelas.


Kembali lagi pada hormon ibu hamil.


“Sayang,” Alex menyebutnya dengan manis. Di yakini bahwa wajah Diana kini sudah berubah menjadi merah padam.

__ADS_1


__ADS_2