
Seluruh tubuhnya seakan melemas, badannya melorot hingga terduduk di atas kursi. Air matanya mengalis tanpa Ia kehendaki. Gadis itu bergeming, hatinya sakit setelah mendengar kabar buruk yang menimpa ayahnya.
“Diana ....” Nameera menghampiri lalu menghambur memeluk adiknya, Ia tak tega melihat Diana seperti itu. Sementara Diana masih bergeming di tempatnya dengan air mata yang turun begitu derasnya.
Alex menghela napas lelah, tidak ada alasan untuknya menutupi semua ini dari Diana. Meskipun beresiko dan Alex sangat menyesal, tapi Ia akan lebih menyesal lagi jika semuanya terlambat.
Semua mata tertuju pada gadis di pelukan Nameera, Diana terus bergeming di tempatnya tanpa melakukan apapun selain air matanya yang terus saja mengalir membasahi wajah cantiknya. Relung hatinya meringis melihat gadis yang Ia sayangi harus menahan perih karenya. Jika saja Alex tidak egois semua ini tidak akan terjadi.
“Kak bawa aku pulang,” ujar gadis itu yang akhirnya membuka suara.
Nameera menarik diri, membuat jarak pandang antara dirinya dengan Diana. Sesaat Ia menatap Reino yang langsung mengangguk mengiyakan. “Baiklah, aku akan membawamu pulang.” jawab Nameera lalu beranjak dari tempat Diana dan mendekati Reino.
“Kak ....” Ia menatap Alex dengan tatapan sendu.
Alex menghela napas panjang sampai akhirnya Ia menganggukan kepalanya menyetujui permintaan Diana. Tentu saja Alex harus menyetujui permintaan Diana, Ia juga turut andil dalam masalah yang menimpa Tuan Wijaya. Diana, bagaimana perasaannya jika Ia tahu semua yang terjadi ini karena ke egoisan Alex.
***
Beberapa jam mereka di dalam pesawat, sementara Diana masih bergeming menatap lurus dengan pandangannya yang kosong. Sesekali Alex menyentuh bahunya dan menanyakan apakah Diana baik-baik saja. Gadis itu hanya menjawab dengan anggukan yang lemah.
Setelah pesawat mendarat, di bandara mereka menaiki mobil masing-masing. Sebelumnya Alex sudah memerintahkan supir kediamannya untuk menjemput mereka di bandara. Alex dan Diana berada dalam satu mobil yang sama, sementara Nameera dengan Reino.
Alex tertegun melihat kondisi Diana saat ini, Ia takut jika kondisinya bertambah buruk ketika Ia bertemu dengan ayahnya nanti. Bagaimana gadis itu bisa menghadapinya? Bagaimana Alex menghadapinya? Satu kata maaf saja tidak bisa menebus kesalahan yang telah Alex buat. Ia benar-benar merusak kehidupan seorang gadis polos ini.
“Uh ....” lenguh Diana ketika merasakan tendangan di dalam perutnya. Apakah bayinya merasakan apa yang Diana rasakan?
“Kenapa?” tanya Alex, Ia menutupi rasa cemasnya agar tidak berpengaruh buruk bagi Diana.
__ADS_1
“Tidak, Kak- Uh ....” Diana meringis sekali lagi, kenapa bayinya hari ini begitu aktif.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Alex lalu menyentuh perut Diana lembut.
Seketika Alex tertegun karena merasakan tendangan dari bayi kecil yang berada di dalam perut Diana, tendangannya begitu kuat sampai telapak tangan Alex benar-benar merasakannya. Jujur, selama Diana hamil Ia belum pernah menyentuh perut Diana ketika bayinya menendang. Ia baru tahu ada hal semenakjubkan ini. Sayang rasa senangnya harus di tutupi dengan kekalutan.
“Apa dia sering melakukan ini?” tanya Alex sembari terus meraba perut Diana dan berharap mendapatkan gerakan dari buat hatinya lagi.
“Sesekali dan tidak sekuat ini. Terakhir kali tendangannya begitu kuat dan aku sampai harus di rawat di rumah sakit.” jawab Diana, Ia ingin sekali tersenyum melihat respon Alex yang seperti itu. Tapi keadaan tidak mendukungnya.
“Benarkah? Tapi sekarang kau-”
“Aku tidak apa-apa, Kak.” pangkasnya, perhatian Diana sedikit teralihkan oleh hal tersebut. Kini Alex sedikit merasa lega saat gadis itu mengulas senyum tipis di wajahnya.
Tiba-tiba ponsel Alex berdering mengacaukan suasana di antara mereka. Ia langsung merogoh kantung di celananya untuk mengambil ponselnya.
“Ya?” jawabnya pada seseorang di seberang sana.
“Kak,” panggilnya sembari menyentuh bahu suaminya. “Ada apa?”
Alex menatap wajah Diana, Ia tidak bisa mengatakan apapun kepada gadis di hadapannya saat ini. Hal yang paling menakutkan itu terjadi.
Alex mengalihkan pandangannya pada supir di kursi kemudi, “Pak putar balik dan kembali ke alamat rumah Diana.” pinta Alex kepada supir tersebut.
“Baik, Tuan.” jawab supir tersebut.
Diana berkerut heran sembari terus menatap Alex. Bukankah mereka akan pergi ke rumah sakit? Tapi mengapa Alex malah meminta supir menuju alamat rumahnya.
__ADS_1
“Kak, ada apa Kak?” Ia mengguncang lengan Alex.
Alex menakupkan telapak tangannya pada sisi wajah Diana. “Semuanya akan baik-baik saja.” ujar Alex mencoba menenangkan Diana yang semakin terlihat gusar.
Air matanya mulai mengenang di pelupuk mata, tapi Diana tahan agar tida menetes. Diana tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, bahkan Alex menutup rapat dari dirinya. Napas Diana semakin terasa berat, tenggorokannya sakit ketika Ia harus menahan tangisannya. Jangan menangis untuk alasan yang belum jelas.
“Diana dengarkan aku, apapun yang terjadi kau harus kendalikan dirimu, ya?”
Pandangan Diana mengedar, Ia semakin tidak mengerti dengan kata-kata yang Alex ucapkan. Air matanya setetes jatuh membasahi wajahnya. “Ada apa, Kak?”
Alex menipiskan bibirnya, Ia tidak tega jika harus mengatakan yang sebenarnya kepada Diana. Sampai akhirnya suara seseorang mewakilinya.
“Sudah sampai, Tuan.”
Hati Alex mencelos setelah mendengar kata 'sampai' yang supir itu katakan. Sekarang hal yang paling di takutkannya sudah di depan mata. Perasaanya semakin tak karuan ketika harus melihat wajah Diana yang refleks memucat saat melihat saudara dan beberapa orang mengerumini rumahnya.
“Kak,” Ia menggenggam kuat lengan Alex. Lelaki ini dapat merasakan telapak tangan Diana yang berkeringat dingin dan bergetar.
Diana melepaskan genggamannya di tangan Alex, Ia segera keluar dari mobil untuk melihat keadaan sekitar. Alex langsung turun dari mobil dan menyusulnya. Ia menggenggam erat jemari Diana.
“Siapa yang--” suaranya tercekat saat Ia melihat Nameera dan ibunya tengah menangis di ruang tamu.
Diana mencoba melepaskan tautan jemarinya pada jemari Alex, namun Alex malah semakin menggenggamnya kuat dan langsung menarik tubuhnya untuk menghambur ke dalam pelukannya. Alex memeluknya erat, gadis itu tergugu dengan nada yang amat memilukan.
***
“Ayah ....” gunamnya sembari mengusap nisan bertuliskan nama ayahnya.
__ADS_1
Hal yang paling menyakinkan bagi Diana adalah tidak bisa menemani ayahnya di saat-saat terakhir sang ayah. Bodohnya Diana ketika Ia tidak menyadari nada bicara ayahnya saat terakhir kali Ia menelponnya. Diana sangat menyesali itu semua. Diana merasa Ia adalah putri yang tidak berguna.
“Ayah maaf, ayah ....” Ia tergugu, memeluk nisan ayahnya dengan erat. “Ayah aku sangat menyayangimu. Ayah jangan tinggalkan aku.” Diana semakin terisak, membuat Alex yang berada di sampingnya semakin tidak tega.