
Suasana tampak canggung, Diana hanya mampu meremas jarinya yang berkeringat dengan wajah yang terus tertunduk. Kini Ia tengah berada di ruang baca Alex, Alex berada di hadapanya sedang menatap serius pada layar macbooknya. Tidak ada perdebatan lagi di antara mereka, tampak hening dan sunyi.
“Kenapa? Apa kau ingin mengatakan sesuatu padaku? ” tanya Alex seraya matanya tetap terfocus pada layar macbooknya, Diana menggeleng pelan tanpa bersuara dengan wajahnya yang terus tertunduk karena malu.
“Kau banyak bicara tadi, kenapa sekarang kau tampak diam? ” Diana hanya terus terdiam tanpa menggubris pertanyaan dari Alex walau Ia mendengarnya.
“Apakah ada yang mengatakan sesuatu pada mu hingga kau begitu kesal tadi? ” tanya Alex kembali, seakan Alex sedang senang karena terus-terusan meledeknya.
Dia terus bertanya untuk meledekku.
Beberapa menit yang lalu, saat perdebatan hebat di antara mereka.
“Baiklah, aku akan memberikan penerus untukmu! Apa kau puas! ” ucapnya dengan berteriak ke arah Alex, Alex mendekatinya dan duduk santai di atas sofa.
“Memang itu alasan kau menikahiku, kau sudah tahu bukan? Kenapa kau begitu terlihat kesal? ” ucap Alex santai membuat Diana terdiam membisu.
__ADS_1
Benar, aku mengetahuinya sejak awal. Bahkan itu sudah jelas. Benar, kenapa aku begitu kesal?
“Apa seseorang mengatakan sesuatu kepadamu hingga membuatmu kesal dan kau meluapkan kekesalanmu kepadaku? ” tanya Alex lagi, semakin membuat Diana terpaku, terdiam dan membisu. Tampak Ia sedang memikirkan sesuatu.
Benar! Aku kesal karena dia mengatakan hal yang sama seperti yang Nameera katakan untuk merendahkanku. Aku tidak bisa mengendalikan emosiku ketika aku mendengar semua itu.
“Bodoh dan ceroboh, kau tampak sangat menggelikan ketika kau marah. ” Ucap Alex sembari beranjak pergi tapi langkahnya terhenti sesaat, “Bersihkan tubuhmu, lekas temui aku di ruang baca. Ada hal penting yang harus kita bicarakan. ” Alex berlalu dan memasuki ruang bacanya, Diana menatapnya hingga bayang-bayangnya hilang di balik pintu.
Diana hanya terdiam dan memaku, kemudian Ia berlari kecil menuju kamarnya dengan segera Diana menutup pintunya dengan rapat. Ia memukuli kepalanya ringan, mengingat betapa bodohnya tindakannya ketika sedang marah.
Wajahnya tampak merah merona ketika mengingat tindakanya ketika Ia sedang marah tadi, tiba-tiba Ia teringat akan perkataan Alex yang memintanya untuk segera menemuinya di ruang baca setelah Ia membersihkan diri. Dengan segera Diana memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.
Alex focus menatap layar macbooknya, Ia tersenyum tipis mengingat betapa konyolnya wajah gadis yang berada di hadapanya tadi ketika Ia sedang marah. Sesaat amarahnya pun tergantikan oleh tawa yang di tahanya.
“Kau masih berencana untuk pergi? ” tanya Alex dengan mata masih terfocus pada layar macbooknya
__ADS_1
“Bisakan aku pergi dari sini? ” tanya Diana dengan penuh semangat
“Tentu saja tidak, ” Jawab Alex enteng, Diana mendesis pelan.
Diana menanyakan hal yang tadi sempat Alex katakan untuk mengancam dirinya, yaitu tentang perusahaan ayahnya yang akan bangkrut. Apakah itu benar terjadi? Atau akal-akalan Alex saja untuk mengancamnya. Tiba-tiba Alex memperlihatkan layar macbooknya, Diana menatapnya dengan teliti.
“Aku tidak mengerti, ”
“Perusahaan ayahmu mengalami penurunan saham, hutangnya juga sangat besar tidak ada bank yang mau mengalirkan dana untuknya. Dan ... ” Diana mengangkat tangannya seakan memberikan kode agar Alex menghentikanya, Ia tidak ingin mendengarnya lebih lanjut. Terasa begitu menyakitkan.
“Aku mengerti, ” Jawab Diana
“Kau masih menyimpan hadiah dari ibuku? Pakailah malam ini, ”
Diana terperanjak setelah mendengar perkataan dari Alex, menatap frustasi ke arahnya.
__ADS_1
Bersambung...