
Diana berharap Nyonya Pradipta melanjutkan kisah masa kecil Alex padanya, Ia sungguh penasaran akan hal itu. Tapi Ia malah langsung menutup album foto itu dan tersenyum kepada Diana, lantas pergi keluar kamar. Diana mengeryitkan dahinya, mengiringi kepergian mertuanya itu. Diana tampak kecewa.
“Kemarilah, ” Ucap Alex, Diana tersentak menatap heran ke arahnya.
Diana menghampirinya, melangkahkan kakinya dengan ragu. Alex menepuk sofa bagian sampingnya dengan tatapan yang masih Ia arahkan pada layar tabletnya, mengisyaratkan agar Diana duduk di sebelahnya. Diana berdiri memaku, Ia ragu. Jantungnya berdegup dengan kencang, pandanganya mengedar, Diana ingin menolak tapi tentu saja Ia tidak bisa. Diana terperanjak ketika Alex menatapnya dengan tajam karena Diana tak kunjung duduk di sampingnya. Dengan segera Diana pun duduk di sana.
Diana mengalihkan pandanganya ke arah lain, Ia tak henti meremas jemarinya. Alex tak kunjung berbicara, untuk apa Ia meminta Diana mendekat dan duduk di sampingnya jika Alex terus mengabaikannya. Matanya tetap Ia focuskan pada layar tabletnya, sama sekali tidak menganggap Diana ada.
Padahal di luar orangtuanya akan mengadakan pesta nanti malam, tapi kenapa Alex malah menanam Diana di sampingnya. Diana ingin pergi keluar dan menemui mertuanya, menurutnya ini tidak sopan. Tetap berada di dalam kamar ketika orang tuanya jelas-jelas sedang sibuk dan kerepotan. Meskipun banyak pelayan yang mengerjakan persiapan pesta, tapi bagaimana pun itu semua harus tetap dalam pengawasan orang rumah dan juga, sebenarnya Diana tidak nyaman berada di dalam satu ruangan bersama Alex.
Diana menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangan, tiba-tiba Ia merasakan mual yang teramat mengguncang perutnya. Diana ingat Ia belum memakan apapun semenjak pagi, ketiga bangun Diana langsung bersiap dan di ajak pergi oleh Alex. Matanya terbelalak, mengingat dirinya tengah mengandung. Apakah ini efek dari kehamilanya.
Perutnya terasa seperti terguncang hebat, rasa mual itu terus melanda. Diana masih menutupi mulutnya dengan sebelah telapak tanganya, tangan yang satunya memegang perut. Tidak tahan dengan rasa mualnya, Diana berlari menuju kamar mandi yang masih berada di dalam kamar.
Di sana Diana terus berjongkok dan berhadapan dengan kloset dan mencoba memuntahkan isi perutnya, Alex yang melihat tingkah aneh Diana pun lekas menghampirinya. Setelah merasa kondisinya telah membaik, Diana menutup kloset itu dan duduk di atasnya. Kepalanya terasa pening dan perutnya masih sedikit mual.
Alex melihatnya, Ia tertegun melihat kondisi Diana yang tampak pucat pasi. Alex pun lekas menggendong tubuh Diana yang sudah lemas dan langsung membaringkannya di atas ranjang. Diana yang biasanya menolak ketika di sentuh oleh Alex, kini Ia pasrah karena memang kondisinya yang sudah terlalu lemas untuk meronta dan melawan.
__ADS_1
Kemudian, Alex keluar kamar dan meminta kepada salah seorang pelayan untuk membawakan air hangat dan makanan ke dalam kamar. Sementara Diana, Ia masih terkulai lemas di atas ranjang.
“Tidak enak sekali rasanya, ” Gunamnya, tiba-tiba rasa mual itu muncul kembali, Diana beranjak dan turun dari ranjang.
Baru beberapa langkah, tiba-tiba Diana merasakan pusing pening di kepalanya, seketika langkahnya terhuyung dan hampir terjatuh. Alex yang baru sampai di depan pintu kamar dengan sigap menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
“Kau ini, Bukannya diam di atas ranjang! ” tegasnya kepada Diana. Sementara Diana tidak menghiraukanya, Ia tidak focus karena rasa mual yang melanda dirinya.
Diana merasakan mual kembali, Ia terus menutup mulutnya mencoba menahan rasa mual itu. Ia menyingkirkan lengan Alex pada tubuhnya, dan langsung berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Alex mengikutinya, Diana terlihat sangat lemas. Efek kehamilannya sungguh menguras tenaganya di tambah ini sudah memasuki siang hari dan Diana belum memakan apapun, Ia terkulai lemas kemudian tak sadarkan diri.
Dengan sigap Alex menangkap tubuh Diana dan membopongnya, membaringkannya kembali di atas ranjang. Dengan segera Alex menelepon dokter keluarga agar segera datang ke kediaman Pradipta, untuk memeriksa Diana.
Dokter memeriksa tekanan darah Diana, kemudian pemeriksaan lainya sesuai prosedur kedokteran bagaimana cara menangani kondisi pasein seperti Diana. Dokter itu tampak tersenyum merekah, kemudian menyampaikan keadaan Diana.
Kabar baik tiba, wajah di antara Tuan dan Nyonya Pradipta tampak tersenyum gembira menerima kabar ini. Mereka sangat senang, akhirnya keluarganya akan segera memiliki penerus.
Dokter itu memberi saran dan beberapa resep obat untuk Diana, tak lama Ia pun segera pamit meninggalkan kediaman Pradipta, di antar oleh Tuan dan Nyonya Pradipta keluar ruangan. Mereka memberikan waktu untuk Alex dan Diana, wajah mereka tak lepas dari ekspresi bahagia.
__ADS_1
Diana membuka matanya perlahan, rasa pusing masih melanda dirinya. Diana sedikit terkejut melihat Alex sedang berada di sampingnya, Ia pun beranjak bangun kemudian terduduk.
“Makanlah, ” Ucapnya dengan dingin sembari memberikan semangkuk bubur kepada Diana. Diana melamun menatap mangkuk bubur tersebut, kepalanya masih terasa sangat pusing.
“Makan, ” Ucapnya lagi, menyadarkan Diana dari lamunanya. Diana mengambil mangkuk bubur yang berada di tangan Alex.
Tubuhnya terasa sangat lemas, perlahan Diana mencoba menyendokan bubur dan memakannya. Tangannya terlihat gemetar, di tambah Alex yang terus memandanginya dengan intens, siapa yang akan nyaman jika terus di tatap seperti itu.
Alex memperhatikannya, melihat tangan Diana yang bergetar lemah walaupun hanya menyendokan satu sendok bubur saja Ia tidak bisa. Alex merebut kembali sendok dan mangkuk di tangan Diana, Ia menyendokan buburnya kemudian di arahkan kepada Diana. Diana tertegun menatap Alex yang hendak menyuapinya itu.
“Tidak, aku bisa melakukanya sendiri. ” Diana menepis suapan pertama dari tangan Alex, Ia mencoba meraih mangkuk buburnya kembali namun di larang oleh Alex.
“Cepat makan! ” Alex menatap Diana dengan penuh penekanan, tapi Diana tetap ngeyel dan tidak mau. Diana bersikeras ingin memakan buburnya sendiri, tidak perlu di suapi oleh Alex.
“Aku bisa sendiri, berikan padaku. ” Diana mencoba merah mangkuk bubur tersebut, namun Alex menahanya.
Alex sedikit geram dengan tingkah gadis di hadapanya ini, Ia pun menyendokan bubur kemudian memakannya langsung. Alex menarik tengkuk leher Diana dan mendekatkannya ke arah bibirnya, menyuapi bubur Diana dari bibirnya. Diana terbelalak, setelah bubur itu masuk ke dalam mulut Diana Alex melepaskan ciumanya. Diana memegangi mulutnya yang sedikit belepotan oleh bubur yang di suapi Alex. Kemudian, Alex menyendokan bubur itu dan menyodorkanya kembali ke arah Diana. Diana masih tertegun,
__ADS_1
“Kau mau aku menyuapimu seperti suapan pertama? ”
Bersambung...