
Alex menatap tajam ke arah Diana yang sedari tadi berdiri memaku di ambang pintu ruang bacanya. Diana menundukan kepalanya dan menggigit bibir bagian bawahnya. Ia merasa bahwa akan ada badai di depannya yang kapan saja menerjang dirinya. Alex menghela napas berat, Ia menarik lengan Diana dan masuk kembali ke dalam ruang bacanya. Lalu menutup pintu dengan sedikit kasar.
Ketegangan tidak hanya berada di dalam diri Diana, namun beberapa pelayan yang menyaksikan semua itupun merasa jantungnya sudah turun ke perut. Tentu saja, sedari dulu Alex tidak pernah membiarkan siapapun masuk ke dalam ruang bacanya tanpa seijin darinya. Dan Diana, gadis itu cari mati!
Beberapa pelayan berkumpul di luar ruangan, mereka memastikan bahwa Nona mudanya itu akan keluar dengan baik-baik saja. Ya, harus baik-baik saja. Jika tidak, satu kemarahan Alex akan mempengaruhi semua orang yang berada di dalam mansion. Terlebih, ini bisa di katakan kesalahan beberapa pelayan yang teledor menjalankan tugasnya.
“Bagaimana ini? ” seorang pelayan bertanya dengan resah.
“Hah, mengapa tidak ada satupun di antara kalian yang mengingatkan, Nona muda! ” ujar kepala pelayan. Tidak bisa berkata-kata lagi, mereka hanya bisa terdiam dan berdoa saja.
Alex mendudukan Diana di atas sofa, sedangkan Ia tetap berdiri di hadapan Diana dan tangannya Ia lipat di dada, menunggu penjelasan yang akan di katakan oleh gadia di hadapannya. Jantung Diana semakin berdegup kencang ketika Alex menatapnya dengan begitu intens. Menyeramkan! Kata itulah yang mampu menjelaskan bagaimana suasana saat ini. Begitu mencekam.
“Apa tidak ada yang mengingatkanmu, untuk tidak masuk sembarangan ke dalam ruang bacaku? ” tanya Alex, nada bicaranya begitu datar dan dingin, seolah mampu membekukan siapa saja yang mendengarnya.
“Ada, tentu saja ada. ” jawab Diana sekenannya, Ia berusaha agar tidak terlihat gusar.
Alex mengayunkan kakinya perlahan, mendekat ke arah rak buku. Diana sedikit mendongakan wajahnya, melihat apa yang akan di lakukan Alex. Diana terdiam, saat Alex meraih sebuah figura foto yang tadi sudah Diana lihat. Tatapan Alex seketika berubah, tatapan itu baru pertama kalinya Diana lihat dari seorang Alex.
“Kau sudah melihatnya? ” tanya Alex, dan Diana masih setia dalam diamnya. “Pasti kau sudah melihatnya. ” Alex menyimpan kembali pigura foto itu pada tempatnya. Posisinya tidak Ia benarkan, masih dengan posisi yang sama ketika pertama kali Diana melihatnya.
__ADS_1
Diana menundukan wajahnya kembali ketika Alex berjalan mendekatinya, Diana pasrah apapun yang akan Alex lakukan kepadannya. Diana juga yang salah, Ia sudah dengan berani masuk ruangan pribadi Alex tanpa seijinnya. Bahkan ketika seorang pelayan sudah mengingatkannya.
Alex duduk di samping Diana, jemarinya menyentuh pipi Diana dengan lembut, mengarahkannya agar menatap ke arah Alex. Alex tersenyum simpul.
“Ada apa dengan wajahmu? ” Diana berkerut kening, benarkah berlalu begitu saja? Benarkah Ia tidak di marahi? Mungkin ini adalah mimpi. Ya, ini adalah mimpi!
“Heh, seperti ini expresimu ketika takut? Sudah sering aku melihatnya. Namun ketika melihatnya sedekat ini, sungguh menyenangkan. ” ledek Alex sukses membuat wajah Diana memerah. Kesal, itu yang tengah di rasakannya. Diana langsung menampik tangan Alex dari wajahnya, Ia memalingkan wajahnya dari hadapan Alex.
“Kau tidak akan menanyakan siapa gadis di foto itu? ” Diana langsung menatap Alex kembali, dengan tatapan penuh rasa penasaran. “Kau ingin tahu? ” Diana berkerut kening, kenapa yang menjadi ketakutan seperti ini malah dirinya. Seharusnya Alex, Ia yang sudah tertangkap basah karena telah menyimpan foto seorang wanita.
“Aku akan memberitahumu suatu saat nanti, bersabarlah. ”
“Hukumanmu, ” bisik Alex tepat di telinga Diana, seketika perasaan haru itu berubah menjadi rasa kewaspadaan. “Kau menginginkannya bukan? Kau sengaja masuk ke dalam ruanganku agar kau mendapatkan hukuman dariku, benarkan? ”
Refleks Diana langsung melepaskan pelukan Alex, tangannya Ia rapatkan di depan dada. Diana menatap Alex dengan begitu waspada, waspada kepada singa lapar di hadapannya ini, yang siap menerkamnya kapan saja. Seringai Alex membuat Diana menelan ludahnya dengan susah payah.
“Dokter mengatakan jika ... kau tidak bisa menyentuhku dulu. ”
“Ftttt ....” tawa Alex pecah melihat expresi Diana, expresi takut dan rasa kewaspadaan yang begitu tinggi kepada dirinya. Apa aku semenakutkan itu?
__ADS_1
“Dia tertawa? ” gunam Diana dengan nada rendah.
“Aku, aku akan menyiapkan makan malam. Aku akan pergi ke dapur. ” Diana segeran beranjak dari duduknya, membesarkan langkahnya dan pergi menjauh dari Alex. Diana lega, Ia berhasil keluar dengan keadaan baik-baik saja. Tidak ada bajunya yang robek atau bagian tubuhnya yang memar.
Diana menatap ke arah beberapa pelayan yang kelihatannha tengah bersih-bersih, tapi kenapa di satu tempat dalam bersamaan? Diana menatap mereka dengan tatapan penuh menginvestigasi. Abaikan mereka, Diana harus pergi dan menyibukan dirinya agar tidak di ganggu lagi oleh Alex.
Beberapa pelayan menghela nafas dengan lega ketika melihat Diana keluar ruang baca dengan kondisi baik-baik saja, itu artinya posisi mereka kini aman. Mereka juga sempat terkejut ketika mendengar tawa Alex dari dalam ruangan, keterkejutan mereka melebihi ketika mereka tengah mendapatkan amukan bosnya. Sungguh langka. Baru kali ini mereka mendapati Tuan mudanya tertawa dengan begitu lantang. Apalagi untuk Rully, kepala pelayan yang sudah mengabdikan separuh umurnya untuk bekerja sebagai pelayan keluarga Pradipta. Ia tersenyum lega, tatapannya terus tertuju pada Diana. Gadis itu...
Alex terkekeh melihat Diana yang tergopoh-gopoh untuk keluar dari ruangannya, gadis itu terlihat sangat konyol dengan tingkahnya. Wajahnya yang memancarkan sinar kewaspadaan akan Alex, sunggu membuat Alex merasa terhibur.
Alex beranjak dari duduknya, kemudian Ia meraih bingkai foto tadi yang sempat Ia tunjukan kepada Diana. Alex bembenarkan lipatan foto tersebut, sehingga kini fotonya terlihat jelas dan utuh, walaupun lipatan jelas berada di tengah-tengahnya.
“Kau lihat dia? Sangat konyol! Lihatlah tingkahnya, kepolosannya dan kekonyolannya, sangat persis denganmu. Gadis bodoh itu ... aku menemukan dirimu di dalamnya. ” Alex terdiam sejenak, “Kau pasti melihatnya. Kekonyolan kakak iparmu, ah tidak! Lebih tepatnya adik iparmu ... usianya bahkan berada jauh di bawahmu. ” gunam Alex sembari terus menatap foto gadis cantik yang tengah tersenyum lebar.
Sepanjang perjalanannya menuju dapur, Diana terus saja menggerutu. Diana tak habis pikir dengan tingkah Alex yang seperti itu. Walau sebenarnya Ia merasa lega karena tidak mendapat amukan darinya.
“Tunggu, ” Diana menghentikan langkahnya sejenak. “Apakah seperti itu tingkah seorang pria ketika tertangkap basahn ketika melakukan perselingkuhan? ” Diana menggertakan giginya.
“Dan ... siapa leona itu? Leona ... gadis cantik yang berada di dalam foto bersama Alex, ”
__ADS_1