
Diana terkejut saat Alex tiba-tiba merebut ponselnya, tapi focusnya teralihkan pada penampilan Alex saat ini. Dimana Alex saat ini hanya menggunakan handuk tipis untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Sementara dada bidangnya yang masih basah karena sehabis mandi, terbuka begitu saja.
“Ibuku?” Alex memperlihatkan isi pesan dari Nyonya Pradipta. Diana mengangguk pelan.
Diana semakin tersentak ketika Alex tiba-tiba duduk di sampingnya tanpa mengenakan bajunya terlebih dahulu. Ia mengubah mode ponsel dari pesan whatsapp menjadi kamera. Diana terhenyak ketika Alex mengangkat ponselnya ke hadapannya lalu, Diana menatap Alex dengan bingung sementara Alex menatap ke arah kamera.
“Kirim,” ujarnya santai, lalu meletakan ponsel Diana ke atas meja dan berjalan pergi menuru ruangan baju.
Segera Diana meraih ponselnya dan melihat apakah Alex benar-benar mengirim foto mereka berdua kepada ibunya, sedangkan Ia sendiri tengah bertelanjang dada. Diana menghela napas lega, ternyata itu tidak benar-benar terjadi. Syukurlah ... Alex masih punya rasa malu.
“Kau lega sekarang?”
Diana menoleh ke arah Alex yang tengah berjalan mendekat ke arahnya. Diana berkerut kening heran, mengapa Alex belum juga memakai pakaiananya. Apakah Ia tidak punya baju atau merasa senang jika harus memperlihatkan dada bidangnya?
Alex duduk di samping Diana, Ia membuka tutup botol minuman wine lalu menuangkannya ke dalam gelas, hanya gelas miliknya. Sementara gelas Diana Ia isi dengan jus buah yang memang sengaja di siapkan di atas meja.
“Hadiahku?” Alex menyodorkan sebelah telapak tangannya ke arah Diana.
“Hadiah?” Diana menatap Alex dengan tatapan polosnya. Ia menggigit bibir bagian bawahnya dan pandangannya Ia alihkan agar tidak menatap Alex. Benar! Ia menyiapkan semua ini untuk ulang tahun Alex, tapi Ia sendiri lupa dengan hadiahnya.
Alex meneguk gelas wine pertamanya sampai habis, lalu Ia menatap Diana dengan intens.
“Aku akan membawakan baju untukmu, ” Diana hendak berdiri namun di tahan kembali oleh Alex dan Alex memeluknya dari belakang. Diana tertegun.
“Aku menginginkanmu,” ujar Alex secara terang-terangan.
“Tidak!” refleks Diana menolak, “Em, maksudku ... aku punya hadiah untukmu dan aku akan mengambilkannya. ” Diana mencoba melepaskan pelukan Alex dari tubuhnya, namun usahanya hanya sia-sia.
__ADS_1
“Aku tidak meminta hadiah darimu, ini merupakan kewajibanmu.” Alex menyibakkan rambuta yang menutupi leher Diana lalu menciumnya lembut. Diana memejamkan matanya, merasakan sentuhan lembut bibir Alex di lehernya.
Alex terus menciumi leher Diana, bahkan sesekali Ia menggigitnya kecil, memberikan tanda kepemilikan di sana. Diana mulai terbuai dengan permainannya, jemarinya mulai mereemas lembut pinggiran sofa.
Alex menyelipkan tanganya pada leher dan bawah lutut Diana, lalu menggendong tubuh Diana dan membawanya ke ranjang. Alex membaringkan tubuh Diana ke atas ranjang dan melanjutkan aksinya kembali.
***
Alex tersenyum tipis sembari terus menatap layar ponselnya, fotonya dengan Diana terpampang jelas di sana. Rasanya, Ia ingin segera pulang untuk melihat wajah polos yang tengah merona itu lagi.
“Pak,” untuk yang ke sekian kalinya wanita cantik bertubuh ramping itu memanggil Alex.
Alex mengerjapkan matanya dan menutup layar ponselnya, “Ada apa?”
“Pak, ini adalah jadwalmu hari ini.” wanita cantik yang tak lain adalah sekretaris Alex memberika sebuah tab berisika jadwal pekerjaan yang harus Alex lakukan hari ini.
Dengan melihatnya sekilas saja, Alex sudah tahu betapa padat jadwalnya. Tidak aneh, bahkan setiap haripun jadwalnya begitu padat. Bahkan sepuluh menit kemudian Ia harus segera pergi ke ruang rapat.
“Sudah saya simpan di atas meja Bapak, ” Ia menunjukan berkas yang Ia simpan di atas meja Alex. Pandangan Alex menuturukan arah tangan serketarisnya, lalu Ia meraih berkas dan membacanya sekilas.
“Kau duluan saja, aku akan pergi lima menit lagi.” ujar Alex yang di anggukan oleh serketaris cantiknya itu. “Ck, menggemaskan.” gunamnya pelan ketika melihat fotonya bersama Diana.
***
Diana tengah sibuk memotong duri pada tangkai mawar, mawar berwarna merah persis seperti warna wajahnya yang selalu merona hari ini. Diana terus menampilkan senyuman tipis yang mengukir di wajahnya, di dalam pikirannya terus saja terbayang tentang kejadian semalam. Rasanya sangat asing bagi Diana meneriman perlakuan seperti itu dari Alex yang biasanya hanya bisa menggertak dan memaksanya.
“Nona,” seorang pelayan menghampirinya. Diana menoleh dan langsung beranjak dari duduknya, menyimpan setangkai bungan dan gunting ke atas meja.
__ADS_1
“Tuan besar ingin bertemu dengan anda, dan sedang menunggu di ruang tamu.”
“Ayah?” Diana menatap pelayan itu heran, pandangannya mengedar tak tentu arah. “Baiklah.”
Diana keluar kamarnya dengan di tuntun seorang pelayan. Sesampainya di ruang tamu, memang benar Tuan Pradipta tengah duduk dan menunggu dirinya. Detak jatung Diana seketika berdetak tak karuan, gugup dan takut yang kini Ia rasakan.
“Duduklah,” ujarnya ketika melihat kedatangan Diana, Tuan Pradipta juga meminta seluruh pelayan untuk pergi menjauh.
Diana semakin merasa gugup dan tak enak hati dengan suasana seperti ini, Ia merasa tertekan seperti akan di introgasi untuk kesalahan yang besar.
“Aku tahu hubunganmu dengan Alex semakin membaik,” Diana memejamkan kedua matanya mendengar kata-kata yang keluar dari mulut ayah mertuanya. Rasanya seperti akan ada badai besar yang siap menghantamnya.
“Kau tahu jelas apa saja yang harus kau lakukan, tidak usah aku peringatkan setiap saat.”
Diana menunduk lesu, jemarinya saling menaut di iringi perasaan yang sangat tidak karuan.
“Apa kau tetap ingin memperjuangkan cintamu untuk putraku?” tanyanya, namun Diana hanya terdiam tak mampu berkata apapun. “Kau tahu betul akibatnya!” ujarnya lalu beranjak dari sofa dan berjalan pergi keluar mansion.
Diana mencengkam kuat bajunya, perkataan yang Tuan Pradipta ucapkan seakan menjadi hantaman berat bagi Diana. Hatinya bergetar hebat tak karuan. Kecewa dan sakit hati yanv kini Ia rasakan.
“Aku minta maaf,” lirihnya dengan air mata yang menetes tanpa Ia kehendaki.
***
Alex membuka pintu kamarnya, suasananya tampak berbeda dengan kemarin malam. Kini. tubuh Diana sudah meringkuk di atas tempat tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Wanita yang seharian ini selalu Ia pikirkan, kini sudah berada di hadapannya.
Alex duduk di pinggiran ranjang dan jemarinya membelai lembut wajah Diana, menyibakan rambut yang tengah menutupi wajah cantiknya. Di tatapnya Diana dalam-dalam, wajah yang tampak lelah kini tengah tertidur pulas.
__ADS_1
Tak lama Alex beranjak kembali dan langsung memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Diana mulai membuka matanya perlahan, memastikan bahwa Alex sudah masuk ke dalam kamar mandi. Air matanya menetes tak karuan, kata-kata yang Tuan Pradipta katakan tadi selalu terngiang di telinganya.
“Kebahagian itu ... tak pernah bertahan lama.” gunamnya dalam hati.