
Alex menatap Diana dengan begitu dalam. Hari ini adalah pertama kalinya hatinya merasa hangat karena seorang wanita. Walaupun sudah sering di beri kejutan pada hari ulang tahunnya, dan hanya sebuah penolakan yang terlontar dari mulutnya. Karena menurutnya, hal seperti itu hanyalah kekanakan dan tidak penting. Tapi tahun ini justru sebaliknya, Alex dengan senang hati menerima kejutan pada hari ulang tahunya. Semua karena gadis itu, karena Diana.
“Kau sangat cantik,” ujar Alex, mata Diana membulat ketika mendengarnya. Untuk yang pertama kalinya Alex memuji dirinya.
Diana tersenyum tipis, “Terima kasih,”
Sebuah meja dengan kue ulang tahun tersimpan di atasnya, tidak ketinggalan dengan satu botol wine untuk merayakannya. Diana canggung dan pandangannya tak menentu, Ia hanya merasa tidak yakin dengan semua ini. Rasanya ada yang berbeda.
“Aku tidak mengerti cara kerjanya, apa yang harus aku mulai?” gunam Diana resah dalam hati. Sementara Alex, Ia meminta waktu kepada Diana untuk menerima panggilan.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, sebuah pesan whatsapp masuk. Diana langsung membukannya, dan pesan itu tak lain dari Mama mertuanya. Diana mengerjapkan kedua matanya, pemeran utama malam ini mengiriminya pesan. Kasarnya, pembuat onar malam ini.
“Apakah Alex sudah datang? Baiklah, pertama kau harus menyalakan lilinya terlebih dahulu, semangat!” isi pesan tersebut.
Diana menghela nafas berat, benar-benar mama mertuanya ini cepat sekali menyimpulkan sesuatu. Jelas-jelas Diana belum membalas pesannya. Bagaimana jika malam ini Alex tidak pulang? dan Ia masih mengirimi pesan seperti ini.
Tak lama kemudian, Alex datang lalu duduk di samping Diana. Dengan gugupnya, Diana memberanikan diri untuk menuruti perkataan dari Mama mertuanya, yaitu menyalakan lilin. Dalam hatinya sebuah pemberontakan besar tengah terjadi. Setelah menyalakan lilin, Diana mengangkat pelan kue itu ke hadapan Alex.
“Ucapkan permohonanmu, ”
“Baiklah, aku berharap ... ”
“Dalam hati saja, ” Diana memotong ucapan Alex.
__ADS_1
“Aku berharap ... ” Alex tidak memerdulikan perkataan Diana dan malah terus mengatakan permohonannya. “Untuk kau dan calon anakku, ” Alex menatap Diana dengan tersenyum.
Mata Diana membulat dan masih mengharapkan kelanjutan dari permohonan Alex. Selain itu, jantungnya berdetak sangat kencang tak beraturan, menambah ketegangan pada suasana malam ini. Rasa gugupnya tak mampu Ia kendalikan.
Alex langsung meniup lilin yang berada di atas kue ulang tahunnya, lalu mengambil Alih kue tersebut dari tangan Diana dan menyimpannya kembali ke atas meja. Alex menyentuh lembut wajah cantik di hadapannya, wajah yang merona merah dan tampak gugup itu menjadi keistimewaan tersendiri untuk dirinya.
“Potong kuenya,” kegugupan Diana membuyarkan suasana romantis antara Alex dan dirinya. Entah ini salah atau apa, yang Diana tahu jika setelah lilin di tiup maka akan ada acara pemotongan kue.
Alex menyentuh lembut pucuk kepala Diana, duduknya Ia geser sedikit, mengikis jarak antara dirinya dengan Diana. Alex merangkul pinggang Diana yang sudah terbilang tidak ramping itu, menariknya ke dalam pelukannya.
Diana menatap Alex ragu karena Ia tak kunjung memotong kuenya dan malah terus menatapnya. Di tambah posisinya saat ini, membuat Diana semakin merasa gugup. Ya, sangat gugup. Meskipun ini bukanlah posisi yang paling intim di antara mereka, bahkan mereka pernah berada di posisi yang lebih dari ini, namun tetap saja Diana merasa sangat tidak nyaman. Entah mengapa, rasanya Alex hari ini sangat berbeda dengan biasanya.
Diana mulai memotong kue ulang tahun itu, lalu Ia tempatkan pada piring kecil dan garfu untuk memakannnya. Alex memberikan kue itu kepada Alex.
“Apa lagi? Potongan pertama, harus kau berikan kepada orang yang kau sayangi.” ujar Diana, lalu tak lama Alex langsung menerima piring itu dan memotongnya kembali dengan garfu lalu memberikannya kepada Diana.
Diana tertegun, kenapa Ia harus mengatakan kata-kata seperti tadi. Jelas potongan kue itu di berikan kepadanya karena Ialah satu-satunya orang yang berada di dalam kamar ini. Anggap saja seperti itu.
“Kau pasti memberikannya kepadaku karena aku satu-satunya orang yang berada di dalam kamar ini, ” ujar Diana dengan senyuman salah tingkahnya. Tiba-tiba Ia berkerut meringis memikirkan kata-katanya yang keluar begitu saja. Bodoh! Seharusnya Ia tidak mengatakan seperti itu.
Lupakan! Diana membuka mulutnya dan hendak memakan potongan kue itu, tapi tiba-tiba Alex menariknya kembali dan malah mendekatkan bibirnya pada telinga Diana.
“Tidak, ini untuk orang yang aku sayang. ” ujarnya, lalu menyuapkan sepotong kue itu pada mulut Diana yang sedari tadi sudah siap terbuka menyambut datangnya kue itu ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Diana langsung menutup bibirnya setelah kue itu masuk ke dalam mulutnya, Ia mengunyahnya pelan di iringi hati yang terus berdebar tak karuan. Diana masih terkejut dengan apa yang di katakan oleh Alex tadi. Bohong! Ya, itu pasti bohong! Pikir Diana.
Tiba-tiba, Alex mendekatkan kembali bibirnya lalu menempelkannya pada bibir Diana. Diama semakin merasa terkejut dengan semua ini, Alex meluumat bibirnga lembut namun segera Ia sudahi. Diana menatapnya dengan binar dan napas yang semakin tak beraturan.
“Kau meninggalkan cream di bibirmu, ” ujarnya lalu tersenyum.
Diana memaksakan senyumannya agar terukir di wajahnya, tapi nyatanya Ia tak mampu. Ini semua terlalu cepat untuk Ia cerna ke dalam hati dan pikirannya. Terlalu cepat, tidak! Bahkan sangat cepat. Diana yakin kini wajahnya tengah merona.
Alex menyentuh lembut pipi Diana, “Aku akan mandi dan mengganti pakaianku, ” lalu Ia beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Memberi Diana waktu.
Setelah Alex masuk ke dalam kamar mandi, ponsel Diana kembali bergetar. Satu pesan masuk dalam aplikasi whatsappnya. Diana sudah mengira pesan itu dari Mama mertuanya dan benar saja.
Pesan tersebut berisikan, “Apakah lancar? Selamat bersenang-senang. ” di akhiri dengan emoticon cium dan love. Mama mertuanya yang telah menyebabkan semua ini, membuat dirinya gugup tak karuan.
Entah dari sudut hatinya yang mana, Diana mampu merasakan semua ini. Rasanya semuanya berbeda. Entah itu sikap, ucapan maupun tatapan Alex malam ini, rasanya sangat berbeda untuk Diana. Apakah ini hanya perasaanya saja? atau memang benar ada yang berbeda? Diana menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, memcoba berhenti memikirkan semua hal yang bersangkutan dengan Alex.
Tiba-tiba, ponselnya kembali bergetar. Diana menghela napas berat, kali ini apalagi yang di minta oleh ibu mertuanya itu?
“Kirimkan fotomu bersama Alex! ” di akhiri dengan emoticon love.
Diana melebarkan kedua bola matanya, rasanya frustasi sekali. Bagaimana Ia bisa berfoto dengan Alex? Apakah Diana harus memintanya langsung?
“Apa yang membuatmu gusar seperti itu? ” suara itu ... tiba-tiba merebut ponsel yang tengah di genggam oleh Diana.
__ADS_1