Pengorbanan Cinta Diana

Pengorbanan Cinta Diana
Episode 72


__ADS_3

“Minum ini, ” Alex menyodorkan satu gelas berisikan susu untuk Diana minum. Diana menghela napas berat, Ia tahu susu apa itu. Diana menggeleng pelan menatap Alex, dari tatapanya seolah Ia mengatakan 'tidak mau!'.


“Itu memiliki rasa, tidak hambar. ” “Tidak mau! tetap saja tidak enak. ” tolak Diana.


Alex menghela napas panjang. Ia harus ekstra sabar ketika menghadapi wanita di hadapannya. Alex terus menatap wajah Diana yang sedari tadi terlihat cemberut seolah tengah protes mengenai perlakuannya semalam.


“Makanlah dulu, simpan dulu amarahmu. Jangan sampai membuat bayi kita kelaparan, ” ujar Alex dengan nada sesabar mungkin.


Diana mencebik, “Bayi kita? ” Diana terdiam sesaat lalu engingat kembali kejadian semalam.


“Kau masih marah kepadaku karena kemarin malam, bukankah aku melakukannya dengan lembut dan kau juga menikmatinya. ” ujar Alex dengan nada santai.


Beberapa pelayan yang ada di sana sampai ternganga dan terkejut ketika mendengar perkataannya. Begitu pula Diana. Wajah gadia itu merona malu, Ia menundukan wajahnya dalam-dalam. Diana yakin, semua mata kini tertuju kepadannya.


“Makan sendiri atau kau ingin aku menyuapimu? ” Diana tidak bergeming,Ia masih setia dengan diamnya dan terus menundukan wajahnya. “Tindakanmu ini menunjukan bahwa kau ingin aku suapi, ”


Alex mengambil piring makanan milik Diana, Ia menyendokan bubur seafod kesukaan Diana dan menyodorkan sendok ke arahnya. Namun gadis itu terus saja terdiam.


Alex mendekatkan bibirnya pada telinga Diana, “Kau sangat terang-terangkan meminta di hukum kembali olehku, ” ujar Alex dengan seringai di wajahnya. Diana tersentak, Ia langsung menolehkan wajahnya dan menatap wajah Alex dan menggeleng cepat.


“A, ” Alex meminta Diana membuka mulutnya, dan gadis itu langsung menurut seperti seorang bayi yang tengah di huapi oleh ibunya.


***


Diana tengah memilah buah-buahan di dapur dan hendak memakannya. Jika biasanya seorang pelayan akan mengantarkan buah segar ke dalam kamarnya pada tengah hari, tapi berbeda hari ini, Ia ingin menyiapkan buah-buahannya sendiri.


“Nona, ada yang mencarimu. ”


Diana mengerutkan keningnya. “Siapa? ”


“Seorang wanita, Nona. ”


Diana semakin bingung, tidak ada teman wanitanya yang mengetahui mengenai tempat tinggal barunya. Lantas siapa wanita yang datang berkunjung dan mencarinya. Diana meletakan beberapa buah yang tengah di pegangnya, dan mulai melangkah menuju ruang tamu untuk menemui seseorang yang tengah menunggunya.


Mata Diana membulat ketika Ia melihat seorang wanita yang tengah terduduk di sofa ruang tamu. Nameera. Terakhir kali Ia bertemu dengannya ketika di restoran hari itu.

__ADS_1


“Kakak, ” sapa Diana, dan Nameera langsung menoleh ke arahnya. Nameera tersenyum ke arahnya.


“Aku ingin berbicara kepadamu, bisakah kau ikut bersamaku? ” Nameera menatap secara bergantian dua pelayan yang senantiasa berdiri di belakang Diana. Ia merasa tidak nyaman jika harus mengobrol dengan kehadiram mereka.


“Em, ” Diana berpikir sejenak tentang kemungkinan hal yang akan terjadi kepadanya jika Ia prgi dengan Nameera. “Kemana, Kak? ”


Nameera berjalan mendekati Diana, Ia meraih kedua tangan Diana dan menatapnya penuh binar. “Percayalah padaku, Diana. Aku tidak akan macam-macam. Aku hanya ingin memberitahukan sesuatu kepadamu. ”


Diana tidak bergeming, Ia terdiam dengan tatapan tidak percaya menatap seorang wanita cantik di hadapannya. Orang yang sama namun dengan perilaku yang berbeda.


“Bagaimana? ” Diana mengangguk pelan menyetujui ajakan Nameera.


“Tunggu, Nona. Anda tidak bisa pergi kemanapun tanpa persetujuan dari tuan Alex. ”


“Tidak apa-apa, aku hanya akan mengajaknya ke cafe terdekat. Kami membutuhkan privasi. ”


Diana menelan ludahnya dengan susah payah, sebenarnya siapa wanita yang tengah berada di sisinya?


“Supir akan mengantarku, kalian tenang saja. ”


***


Diana memutar bibir cangkirnya menggunakan jemari, pandangannya Ia arahkan untuk melihat ke jendela luar.


“Diana, ” suara itu mampu membuat tatapan Diana beralih lalu memandangnya. “Seberapa dekat hubunganmu dengan Alex? ”


Mata Diana membulat, apakah Nameera bermaksud untuk membicarakan Alex dengannya? Membicarakan masalalu mereka atau ...


“Ada apa, Kak? ” Diana balik bertanya kepada Nameera. Sementara Nameera menghela napas panjang, entah sejak kapan rasa bencinya dulu kepada Diana berubah menjadi rasa iba.


“Aku mengerti, ” Nameera terdiam sejenak, menghirup udara dalam dan bersiap untuk mengatakan sesuatu pada Diana. “Apakah kau tahu mengenai ... apakah Alex pernah memberitahumu? ”


Diana berkerut kening. Melihat dari ekspresi yang Ia tunjukan, Nameera menyimpulkan bahwa Diana belum mengetahui apapun.


“Tahukah kau mengenai seorang gadis bernama Leona? ” Diana mulai mempertajam pendengarannya. “Dia adalah a, ”

__ADS_1


“Sayang, ” seseorang memotong perkataan Nameera. Mendekat dan merangkul bahu Diana. Alex. Diana menelan ludahnya susah payah. Nameera memutarkan kedua bola matanyanya dengan malas.


“Mengapa kau di sini?! ” Nameera menatapnya dengan penuh kekesalan. Lalu Ia menatap sekilat ke arah Diana. Nameera mencebik kesal, “Sialan! Para pelayan itu. ”


“Ada apa? Cepat katakan! ” tegas Alex.


Diana tertegun. Kedua orang yang sempat dia pikirkan mempunyai cinta yang besar dan saling menerima satu sama lain, kini tengah perang dingin di hadapannya. Ada apa?


“Tidak seharusnya kau berada di sini! ” katus Nameera.


“Diana adalah istriku, hal yang nenyangkut dirinya itu juga menyangkut diriku! ”


“Cih! ” Nameera mencebik, “Aku hanya kasihan saja kepada adikku, ”


Alex tergelak, tawanya pecah sampai beberapa orang yang berada di dalam cafe itu melirik ke arahnya. Nameera memutar bola matanya malas.


“Kau belum memberitahunya? Perihal ... ” Seringai jelas Nameera tunjukan ke arah Alex.


Alex menghentika tawanya, “Bukan urusanmu. ” Ia membalas Nameera dengan tatapan tajamnya. Seolah tatapan itu adalah sebuah pisau yang siap menusuk lawannya.


Diana masih setia dalam diamnya. Entah ada perasaan apa di dalam hatinya, sedikit getaran membuatnya takut ketika Alex dan Nameera saling beradu pandang. Walaupun dengan jelas Ia tahu bahwa kedua orang ini tengah berdebat.


“Honey, ”


Sontak pandangan mereka bertiga beralih pada seorang pria berpakaian rapih tengah berdiri di samping meja mereka saat ini.


Pria itu melirik aroji pada pergelangan tangannya, “Kita sudah terlambat. ”


Nameera tersenyum hangat ke arahnya, “Baiklah. ” kemudian Ia beranjak dari duduknya dan berdiri sembari mengandeng lengan pria tersebut. “sebelumnya, perkenalkan dulu ini adalah Diana, adikku. Dan ini adalah ... suaminya. ”


Pria tersebut menyalamin Alex dan Diana secara bergantian.


“Diana, ini adalah Revan, calon suamiku. ” dengan bangga Nameera memperkenalkannya. Pandangannya berubah ketika Ia berada di samping pria tersebut. Pandangan kasih, membutuhkan begitu hangat terlihat. “Jaga dirimu. ” Nameera mengusap pelan bahu Diana sebelum Ia berlalu pergi keluar cafe.


“Cinta sejati rupannya. ” gunam Alex sembari terkekeh kecil.

__ADS_1


Diana melihat ke arahnya dengan tatapan menyelidik.


__ADS_2