
Maaf yaa yang nunggu lama, sebenernyaa jiwa nulisku malah blum balik setelah liburan Huaaaa, orang lain liburan dapet inspirasi, loh aku malah dpet males yaaa😂 Kelamaan lockdown apaayaaa. Oke Happy Reading😂😂
Semoga sehat selaluu kaliaan💋
****
Pagi-pagi sekali Diana sudah bangun, Ia melihat sekitar ranjangnya dan kosong. Alex tidak pulang tadi malam, entah pekerjaan apa yang Ia kerjakan hingga begitu sibuk sampai tidak mempunyai waktu untuk pulang.
Diana beringsut turun dari ranjang, Ia langsung keluar dari kamar untuk mengambil segelas air putih, karena persediaan di kamarnya sudah habis. Seketika langkahnya tercekat ketika melihat beberapa orang berkumpul di rumahnya. Ada apa? Diana mulai menuruni anak tangga satu persatu dan melangkah menuju dapur.
“Ada apa?” tanyanya kepada seorang pelayan saat Ia sampai di dapur dan duduk di kursi meja makan.
“Nona,” semua menyambutnya dengan membungkukkan tubuh mereka. Lalu seorang pelayan menghampirinya. “Nona, Tuan Alex yang meminta mereka untuk mendekor kamar,” jawabnya masih menundukan wajah.
“Kamar?” tanya Diana lalu menuangkan air putih ke dalam gelas.
“Iya, Nona. Kamar bayi anda.” Diana berkerut ketika mendengar jawabannya. Benarkah Alex berbuat seperti itu?
“Apa kau suka? Kau yang akan mendekor kamarnya,” tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang dan mencium lembut pipi Diana, membuat wanita itu terhenyak.
“Kak,” Ia menoleh melihat Alex yang kemudian duduk di kursi sampingnya. Wajah lelaki itu tampak kacau dan terlihat sangat lelah. Apa yang sudah di lakukannya semalam?
***
Semalam Elios mengabarinya untuk bertemu di sebuah club malam, Ia tengah menunggu Alex di sebuah ruangan VIP khusus. Alex yang seketika itu langsung pergi menemuinya langsung tahu apa maksud Elios memintanya untuk bertemu.
Elios memberikan beberapa berkas kepada Alex, “Seperti yang kau minta. Orang-orangku telah menyelidikinya sampai tuntas.” jelasnya
Alex mengangguk sembari meraih kumpulan kertas tebal itu. Ia melihatnya satu-persatu sembari tersenyum simpul. Inikah yang di kerjakan ayahnya selama beberapa tahun membangun perusahaannya? Dengan hal seperti ini?
“Sekarang pilihan ada di tanganmu,” ujar Elios, sementara Alex masih bergeming di tempatnya.
“Seperti yang sudah aku katakan, aku tidak akan segan-segan untuk melawannya.”
__ADS_1
“Bagaimana dengan dirimu? Dia adalah ayahmu,”
“Tsk!” Alex berdecak kesal.
Pradipta adalah ayah kandungnya, namun Ia sama sekali tidak pernah memperhatikannya. Dendam di masalalu yang sempat redup, kini menyala kembali. Berkobar seperti bara api di dalam hatinya.
“Simpanlah dan pikirkan dengan baik,”
***
“Kak untuk apa semua ini?” Diana bertanya setelah Alex duduk di kursinya dan beberapa pelayan menyiapkan sarapannya.
“Untukmu,” jawabnya lalu menyesap hot cofee miliknya.
Diana senang dengan semua ini, apalagi Alex mengijinkannya untuk mendekor kamar calon bayinya sesuai dengan keinginannya. Hanya saja ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. “Jika semua ini untuk membujukku, aku tidak mau.” Gadis itu menghela napas lelah lalu memutar sendok di atas piring.
“Hm?” Alex menatap Diana, samar Ia mendengar gerutu istri kecilnya itu.
Diana meliriknya sekilas, “Tidak,” Ia melirik jam dinding, “Tidak kerja?”
Diana semakin menurunkan pandangannya. Sebenarnya Ia masih kesal karena semalam Alex tidak pulang ketika lelaki itu sudah berjanji bahwa Ia tidak akan pergi lama. Namun Alex sepertinya tidak mengerti perasaannya. Diana juga butuh waktu bersama Alex. Kini waktu lelaki itu semakin terkikis untuknya. Hanya pekerjaan yang selalu Ia utamakan. Diana menyesal saat di bali Ia tidak memanfaatkan waktunya dengan baik. Sebenarnya, kebersamaan dengan Alex lah yang Ia harapkan.
Gadis di hadapannya itu hanya memberengut kesal, sementara Alex masih sibuk memakan sarapannya.
“Makan,” Alex menyodorkan satu potong roti yang menempel langsung pada bibir gadis itu. Sementara Diana hanya terdiam dengan wajah mencebik kesal. Alex menurunkan lengannya dan menyimpan roti itu kembali ke dalam piring. “Kau marah?”
“Tidak!” tukas Diana dengan cepat.
“Bagaimana dengan itu?” Alex menunjuk ke arah depan, seketika pandangan gadis itupun mengikuti arahannya.
Diana menyalang takjub ketika melihat beberapa pelayan dari toko tengah menjejerkan beberapa aksesoris untuk bayi. Seperti mainan untuk kamar, hiasan dinding, bahkan baju dan perlengkapan lainnya. Alex tahu bahwa akhir-akhir ini istrinya itu sangat suka dengan perlengkapan bayi, maka dari itu Ia menyiapkan itu semua.
Diana kembali pada posisinya semula, “Tidak hari ini, aku lelah.” Ia menggelengkan kepalanya pelan. Penyesalan terbesar datang ketika Ia menolak itu semua.
__ADS_1
Alex berkerut kening, bukankah yang Ia lakukan semuanya hal yang Diana inginkan. Apa yang salah dari semua itu sehingga Diana masih saja merajuk. Oh Ia ingat, memang tidak mudah untuk membujuk gadis ini.
“Aku mau ke kamar saja,”
Entah benar atau tidak, tapi hari ini moodnya benar-benar buruk. Di tambah saat malam Ia tidur dengan sangat larut karena menunggu suaminya itu pulang. Namun penantiannya berujung sia-sia.
***
Setelah memutuskan untuk kembali ke kamar, Alex malah mengikutinya. Sebenarnya Diana sangat ingin berada di lantai bawah dan milih beberapa perlengkapan bayi. Namun gengsi ibu-ibu hamil terlalu menguasai dirinya.
“Aku akan mandi,” ujarnya sembari melonggarkan dasi di kerah kemejannya. Sedangkan Diana hanya mengangguk samar menanggapi perkataan suaminya itu. “Benar-benar melelahkan,” lalu Ia melangkah ke kamar mandi dan segera menutup pintunya.
Diana menatap lekat pintu berwarna putih itu. Apa yang baru saja lelaki itu katakan? Lelah? Apa Ia lelah dengan tingkah Diana yang kekanakan? Tega sekali Alex berkata seperti itu. Diana meringis tidak percaya dan tersenyum masam.
Beberapa menit Alex menghabiskan waktu di dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah keluar Ia melihat Diana yang tengah sibuk memainkan ponselnya.
“Sedang apa?” lelaki itu duduk di hadapan Diana dengan terus mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.
Diana hanya bergeming di tempatnya, sampai akhirnya sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya. “Oh aku lupa!” pekik gadis itu yang sontak mendapatkan tatapan cemas dari Alex.
“Apa?”
“Jadwal chek up kandunganku, aku sudah ada janji dengan dokter Beni hari ini.” jelas Diana dengan cepat Ia beringsut turun dari ranjang.
Alex menahan lengannya saat Diana hendak berdiri, “Beni? Sejak kapan dokter kandunganmu berubah menjadi laki-laki?”
“Sejak aku pergi ke bali, dan dokter Mili di pindah tugaskan.” jelas Diana lalu beranjak dari ranjang menuju lemari. “Kak kau mau pakai baju apa? Aku akan menyiapkannya.”
Oh bukankah gadis itu tengah merajuk? Tapi mengapa tiba-tiba Ia begitu bersemangat? Sementara Alex masih bergeming memikirkan mengenai dokter kandungan yang akan memeriksa kehamilan istrinya itu. “Kenapa kau tidak memberi tahuku?”
Seketika aktivitas memilih baju Diana terhenti dan langsung menatap Alex, “Aku lupa,” lalu melanjutkan memilih bajunya kembali.
“Apa dokter itu masih muda dan tampan jadi kau menutupinya?”
__ADS_1
“Kak!”