
Diana melihat sekeliling ruangan, tidak nampak Alex di sana. Pergi kemana Alex, Diana melihat ke arah jam dinding dan waktu sudah menunjukan pukul 09:00 WIB, sudah siang mungkin Alex sudah pergi bekerja. Diana beranjak dari ranjangnya dan berjalan pelan menuju ke arah jendela sembari tangannya memegangi sebuah botol infus. Ia menatap keluar, karena ruanganya berada di ruang VVIP dan berada di lantai paling atas rumah sakit, seluruh kota tampak terlihat jelas di dalam kamarnya.
Diana memejamkan matanya, merasakan betapa hangatnya sinar mentari yang tengah menerangi wajahnya. Diana tersenyum tipis, entah kenapa semenjak bangun hatinya terasa sangat tenang. Tiba-tiba, pikirannya teringat dengan kejadian kemarin sore. Diana langsung membuka matanya secepat kilat, Ia menggelengkan kepalanya cepat. Tapi pikirannya mulai memikirkan hal itu kembali, Diana menyentuh lembut bibirnya dan membayangkan ketika Alex menciumnya dengan lembut. Jantungnya mulai berdegup kencang dan mungkin kini wajahnya tengah merah merona.
“Nona, anda sudah bangun? ” ucap seorang perawat, Diana terperanjak seketika bayangan tentang Alex sirna.
Diana berbalik, Ia tidak lagi menatap ke arah jendela. Diana berjalan menuju ranjangnya dan duduk di sana, Ia tahu jika perawat datang ke dalam ruangan itu tak lain untuk memeriksa kondisinya. Perawat itu mulai melakukan tugasnya, pertama-tama Ia memulai dari mengecek tekanan darah Diana.
“Apa kau melihat seorang lelaki yang kemarin menemaniku? ” tanya Diana memecah keheningan, Perawat itu berpikir.
“Kau bertanya mengenai suamimu? Aku tidak tahu, Nona. Pagi-pagi sekali Ia sudah pergi meninggalkan ruang rawatmu. ” Jawabnya, Diana mengangguk pelan
“Nona, kau sangat beruntung mendapatkan seorang suami sepertinya, ” Tambahnya membuat Diana berkerut kening, menatap perawat yang tengah sibuk melakukan tugasnya. “Dia terlihat sangat mencintaimu, sepanjang malam Ia selalu mendampingi dan menjagamu. ” Ujar perawat itu tersenyum menatap Diana.
“Benarkah? ” Diana menatapnya heran, Perawat itu tersenyum sopan menjawab pertanyaan Diana. Setelah melakukan tugasnya, perawat itupun berlalu pergi meninggalkan ruang rawat Diana.
__ADS_1
Benarkah seperti itu? Tapi, kenapa orang lain bisa melihat cintanya sedangkan aku tidak?
***
Di waktu yang bersamaan, Alexis Grup.
Alex sibuk di depan komputer yang berada di atas meja di dalam ruanganya, pekerjaannya terlalu banyak dan Ia tidak bisa mengerjakan semua itu di rumah sakit, sehingga Alex harus pergi pagi-pagi sekali untuk mengurus pekerjaanya.
Tiba-tiba teleponya berbunyi, Sekretarisnya menelpon guna mengingatkan jadwal rapat Alex yang sempat tertunda akhir-akhir ini. Alex harus menghadiri rapat penting setengah jam lagi. Tapi sekretarisnya berkata ada seorang wanita yang tengah menunggunya, Alex berkerut kening heran. Siapa wanita yang akan menemuinya saat jam pekerjaannya, dan siapa dia padahal Alex sudah menghentikan segala aktivitas liarnya ketika Ia menikahi Diana. Alex melirik arloji pada pergelangan tanganya, masih ada waktu untuk rapat selanjutnya. Alexpun menyempatkan diri untuk pergi ke ruang tunggu dan menemui seorang wanita yang tengah menunggunya.
Sesampainya di sana, Alex sedikit terkejut melihat seorang wanita cantik dan elegan tengah terdudum manis dan terlihat sedang menunggunya. Alex berjalan menghampirinya, ketika wanita itu menyadari kehadiran Alex Ia langsung beranjak dan tersenyum sambil meraih tangan Alex.
Diana melamun, tiba-tiba terdengar suara meja yang di dorong. Seorang perawat pria memasuki ruangannya dan mengantarkan sarapan Diana. Diana tersenyum dan berterima kasih. Makanan itu di pangkunya, Ia menyendok makanan tersebut lalu memakannya. Tiba-tiba Diana tersenyum, Ia teringat ketika Alex marah ketika menyuapinya. Diana menghentikan acara makannya dan menyimpan makanan itu di atas ranjang, Ia melihat sekeliling ruangan. Kini ruangan itu tampak sepi, hanya ada dirinya seorang. Kenapa terasa begitu berbeda ketika Alex tidak berada di sana, kenapa hatinya merasa ada sesuatu yang kurang?
Diana menatap makananya, Ia tidak ingin menghabiskannya. Karena, makanan rumah sakit sungguh tidak enak dan hanya akan membuatnya mual saja. Teringat rasa mualnya, tiba-tiba Diana memegangi perutnya. Aneh, hatinya begitu merasa senang ketika Ia ingat dirinya kini tengah mengandung anak dari Alex, jelas-jelas dulu Ia sungguh tidak menginginkannya. Diana memikirkan akan seperti apa anaknya nanti, di sela-sela khayalannya Ia tersenyum tipis. Tapi, tiba-tiba suasana hatinya kembali buruk mengingat dirinya tidak akan bisa tinggal lebih lama untuk menjaga buah hatinya.
__ADS_1
“Akankah aku di perjuangkan? Apakah bisa kita terus bersama? ” gunamnya dengan nada rendah dan lirih, menatap nanar ke arah perutnya. Diana meraih kembali makanannya dan langsung memakannya sampai habis.
Suasana rumah sakit tampak sepi, apalagi Ia berada di ruangan VVIP yang tak banyak pasein di rawat di sana. Diana merasa sangat bosan, tidak ada orang yang bisa di ajaknya mengobrol bahkan handphonenya pun entah berada di mana. Sepanjang hari, Diana hanya melamun dan tak melakukan apapun. Sangat membosankan, dan kika terus-terusan tertidur badanya pasti akan bertambah sakit dan kepalanya akan pusing. Serba salah untuknya. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Diana yakin itu adalah perawat yang akan memeriksa kondisinya. Pasalnya setiap harinya, kondisi Diana selalu di pantau setiap tiga kali sehari.
Diana menatap ke arah pintu, menunggu perawat itu masuk ke dalam ruang rawatnya. Tapi, Diana sedikit merasa terkejut karena yang masuk ke dalam ruangannya itu bukan perawat melainkan Alex yang masuk bersama dengan seorang dokter. Mereka berjalan mendekat ke arah ranjang Diana, yang mana Diana tengah terduduk saat ini. Dokter itu tersenyum dan menyapa ke arah Diana, Diana hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
“Bagaimana kondisimu saat ini, Nona? ” tanya dokter itu dengan sopan,
“Kondisiku sudah lebih baik, Dok. ” Jawab Diana dengan senyum tipis pada wajahnya. Dokter itupun tersenyum dan meminta ijin kepada Diana untuk memeriksanya, Diana hanya mengangguk pelan.
Selama dokter memeriksa kondisinya, Diana hanya diam dan memperhatikannya. Sesekali Ia melirik ke arah Alex, Alex tampak serius memperhatikan dokter yang tengah melakukan tugasnya. Tiba-tiba seorang perawat datang dengan membawa kursi roda, Diana menatapnua heran. Dokter itupun mempersihlakan Diana untuk duduk di kursi roda tersebut dan Diana hanya mengangguk menuruti.
Kursi roda itu di dorong oleh seorang perawat, dengan Alex dan dokter yang mengikutinya dari belakang. Diana sampai kepada ruang ginekologi dan dokter mempersilahkannya untuk berbaring di atas ranjang yang sudah di sediakan. Pemeriksaan USG pada perutnya, Diana hanya terus terdiam menurut dengan apa yang tengah di lakukan oleh Dokter tersebut. Setelah selesai, Diana beranjak dan duduk di samping kursi Alex.
Dokter itu memberikan selembar hasil USG kepada Alex dan menjelaskan mengenai kondisi Diana saat ini. Dokter itu menjelaskan bahwa kehamilan Diana saat ini sudah memasuki minggu ke lima dan dokter juga menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh di lakukan ketika hamil, seperti makan makanan bergizi dan jangan terlalu stres memikirkan sesuatu hal yang dapat mempengaruhi keadaanya. Sudah paham dengan itu, Diana di antar kembali ke dalam ruangannya.
__ADS_1
Bersambung....
HAI GUYS, JANGAN LUPA LIKE DAN TINGGALKAN JEJAK UNTUK MENYEMANGATI AUTHOR YA. 😇