
Mereka saling menatap satu sama lain dengan tatapan heran. Diana heran karena suaminya ini begitu santai ketika mereka membahas masalah pekerjaanya, dan Alex heran kenapa bisa-bisanya Diana berpikir bahwa Alex di pecat padahal posisinya jelas adalah pemilik perusahaan. Apakah ada bos yang memecat dirinya sendiri?
“Kenapa kau bertanya seperti itu? Jelas akulah bosnya,” tanyanya heran.
Diana mengerjap, Ia menarik napas panjang. “Iya, bos yang sangat santai. Jika semua perusahaan mempunyai bos sepertimu, apakah perusahaan tersebut tidak akan hancur?” ungkapnya.
“Istriku ini sangat tidak masuk akal,” ujarnya lalu beranjak pergi setelah mengusak puncuk kepala Diana.
Diana mencebik menatap Alex dari belakang, tidak ada yang salah dengan perkataanya, mengapa Alex menyebutnya tidak masuk akal? Sejenak berpikir, Diana mengedikkan bahunya tidak peduli, lalu Ia memilih kembali barang-barang mungil di depan matanya.
***
Satu jam setengah mereka berbelanja. Diana mengatakan Ia tidak akan membeli apapun selain sepatu bayi perempuan itu, namun nyatanya kini Alex harus bersusah payah membawa dua kantung plastik berisikan baju bayi.
“Ini sangat lucu, Kak. Mungkin di jakarta kita tidak akan menemukan yang seperti ini.”
Seperti itulah kata-kata mutiara yang ibu hamil itu katakan. Sesaat Ia menyesali karena belanja terlalu banyak, di sisi lain juga hatinya merasa senang. Dan Alex sebagai suami yang perhatian, hanya bisa mengiyakan permintaan istrinya membuat Diana sebahagia mungkin.
Kini mereka tengah berada di sebuah food court di lantai paling atas mall. Diana duduk terlebih dahulu, sementara Alex membelikan makanan untuk mereka berdua.
Selang beberapa menit, Alex datang dengan makanan di tangannya. Alex membawa dua mangkuk makanan yang tadi sempat Diana pesan untuk membelikannya, dan dua gelas lemon tea yang menjadi favorit Diana.
Mereka memakan makanan mereka masing-masing karena lapar sudah berbelanja seharuan penuh. Tapi Diana merasa masih ada yang kurang dengan makanan mereka. Diana menatap sekeliling, mencari makanan lainya walau makanan di atas meja belum Ia makan.
“Kau mencari apa?” tanya Alex ketika melihat gadis di sebrangnya tengah melihat sekitar mencari sesuatu.
Diana mencebik, tidak ada makanan yang aneh di sana. Semua makanan sama saja seperti di jakarta. “Tidak ada,” jawabnya lalu melanjutkan kembali acara makannya.
Sembari memakan makanannya, Diana berpikir bahwa Ia melihat bahwa film hantu yang baru, baru saja tayang di bioskop. Ia melihatnya tadi saat di lantai tiga. Tapi Diana juga memikirkan bagaimana Ia masuk ke dalam room karaoke saja? Sepertinya lebih seru. Tapi film baru di bioskop Ia mengingunkannya juga. Semua hal itu belum pernah Diana lakukan. Menonton bioskop maupun menyanyi karaoke.
__ADS_1
“Kau memikirkan apa?” tanya Alex membuat pikiran fantasi yang Diana bayangkan sedari tadi buyar.
Diana menatapnya sinis, kenapa lelaki itu selalu tahu mengenai gerak geriknya. “Kak, di lantai dua--”
“Tunggu,” Alex mengangkat sebelah tangannya. Ia memotong perkataan Diana karena ponselnya tiba-tiba bergetar. Diana menghela lelah lantas Ia kembali memakan makanannya.
“Baiklah, akan aku share alamatnya.” ujar Alex pada seseorang di seberang sana sebelum akhirnya Ia mematikan panggilannya.
“Siapa Kak?” sebenarnya Diana tidak mau bertanya dan terlalu ikut campur dengan urusan suaminya. Namun mendengar Alex akan menshare lokasi, menandakan bahwa akan ada seseorang yang datang mengunjungi mereka.
“Tunggu saja,” jawabnya singkat, Diana hanya mengangguk menanggapi jawaban dari lelaki di hadapannya ini.
Beberapa menit kemudian, makanan di mangkuk Diana sudah habis dan mereka sudah menyelesaikan acara makannya. Ice lemon milik Diana juga sudah tandas tak tersisa, namun orang yang Alex katakan akan datang belum juga tiba. Sementara Diana, sehabis perutnya terisi penuh Ia malah mengantuk.
“Kak,”
“Ya?”
Tiba-tiba Alex beranjak dari duduknya saat seorang lelaki dan wanita menghampiri tempat duduknya.
“Pak Alex,” ujar lelaki itu lalu menyalami Alex.
Diana membeliak ketika melihay kedua orang itu datang. Ternyata mereka tak lain adalah kakak tiri dan kekasihnya yang waktu itu bertemu di cafe sewaktu mereka di jakarta.
Diana beranjak berdiri, “Kakak?” sapanya, seketika Nameera berhambur memeluk adik perempuannya itu.
Matanya mengenang menahan perih, tapi Ia tetap harus terlihat tenang di hadapan adiknya ini atau dia akan curiga. Nameera menyeka air mata yang berada di ujung matanya.
“Duduklah,” ujarnya lalu mereka berempat duduk dalam meja yang sama.
__ADS_1
“Maaf Pak Alex, hari itu saya tidak memperkenalkan diri dengan pantas.”
Alex terkekeh, “Baiklah, kau terlalu formal kepadaku.”
Seketika Nameera memegang lembut lengan Diana, “Diana apa kau tahu? Ternyata Reino adalah rekan bisnis Alex, dunia sangat sempit ya?” ujarnya girang.
Jujur saja Diana belum terbiasa dengan keakraban antara dirinya dengan Nameera. Ia tersenyum tipis, “Iya, Kak.”
Mereka berempat berbincang bersama. Dari Alex membicarakan mengenai bisnis, hingga perjalanan cintanya bersama Nameera. Karena tampaknya wanita itu sangat tulus mencintai lelaki di sampingnya. Diana ikut bahagia jika Ia mendapatkan seseorang yang bisa meluluhkan hatinya.
“Sebenarnya kami akan segera menikah, namun terpaksa harus di undur.” ujar Nameera, tampak Reino menatapnya lalu menggeleng lemah. Nameera tersenyum ketir.
Diana menatapnya heran, “Ada apa, Kak?” akhirnya gadis itu membuka suara.
“Tidak ada apa-apa,” Ia menampilkan senyuman yang di paksakan, melihat ekspresi Diana yang tampak tidak puas dengan jawabannya akhirnya Nameera harus berbohong lebih jauh lagi. “Reino harus mengurus pekerjaannya, karena itulah kami datang ke bali. Ada proyek yang harus dia urus. Iyakan, Sayang?” Ia menatap pria di sampingnya, pria tersebut hanya mengangguk mengiyakan.
Diana mengangguk, alasan Nameera cukup masuk akal. Namun mendengar acara pernikahan mereka harus di undur sungguh membuat sudut hatinya meringis perih. Pasalnya, kakaknya itu pernah batal menikah dengan lelaki yang kini malah menjadi suaminya.
Reino mengerjapkan matanya kepada Nameera, seketika Nameera berbicara. “Diana, aku akan mengajakmu menonton film, bagaimana? Ada film baru di bawah, bukankah kau sangat suka genre romantis?”
“Hm ....” Diana berpikir, sebenarnya Ia juga sangat ingin menonton film itu.
“Ayo, biarkan para lelaki mengobrol tentang urusan bisnis mereka.” Nameera beranjak lalu menarik lengan Diana.
“Pergilah,” ujar Alex mengijinkan Diana untuk menonton film dengan Nameera, yang Diana pikir jika Alex akan menahannya agar tidak pergi. Diana ingat hari terakhir ketika Ia bertemu dengan Nameera di cafe dan Alex langsung menyusulnya.
“Baiklah, Kak.”
Diana beranjak dan pergi dengan di tuntun oleh Nameera, nyatanya Nameera sangatlah merasa ngilu melihat perut adiknya yang membesar itu.
__ADS_1
“Hati-hati,” ujar Nameera sembari tersenyum ke arahnya.
Diana tersenyum, “Iya, Kak.”