Pengorbanan Cinta Diana

Pengorbanan Cinta Diana
Episode 79


__ADS_3

“Kak Alex,” ucap Diana lirih ketika mereka sudah berdiri di depan pintu kamar.


Alex menatapnya lekat, ada gelenyar aneh di hatinya ketika gadis yang sudah bukan gadis itu menyebut namanya dengan menyertakan sebutan 'Kak'. Coba ingat kapan terakhir kali Diana memanggilnya seperti itu.


Kenangan buruk memang tak pernah pudar di dalam ingatan seseorang walaupun hati berusaha menguatkan. Bayangan masa lalu yang menggoreskan luka begitu dalam walaupun oleh orang yang kini Ia cintai. Bayang-bayang itu akan selalu ada.


Diana berdiri di depan pintu dengan langkahnya yang tercekat. Ia menatap sekeliling dimana hal buruk yang sudah menimpa kehidupannya terjadi di sana. Diana mencoba memantapkan hatinya, mengangguk ketika Alex menatapnya menunggu persetujuan gadis itu. Tak lama Alex membuka pintu kamarnya. Kamar yang sama mungkin dengan kenangan yang berbeda.


Kejadian hari itu, terjadi di dalam kamar ini. Perilaku kasar, umpatan dan hinaan yang Ia terima dari seseorang yang kini berada si hadapannya. Langkahnya seolah rapuh, ragu untuk terus menjelajah masuk. Namun Alex, lelaki itu menatapnya lekat seolah tatapannya mengatakan 'semua akan baik-baik saja'.


Kau harus melawan rasa takutmu.


Matanya mengenang, Alex yang sedari tadi melihatnya tertunduk merasa bersalah. Seandainya semua itu di awali dengan baik, seandainya saja. Tapi pada kenyataanya waktu tidak bisa di putar kembali, luka lama juga tidak akan pernah hilang. Yang mampu Ia lakukan saat ini hanyalah menebus kesalahannya pada gadis itu, seperti janjinya dulu.


Air matanya pecah dalam keheningan. Hatinya hancur dan sakit seolah dirinya tertarik kembali ke dalam masa lalu. Rasanya Diana ingin berlari menjauh dari tempat itu. Tapi pikirannya terus mengatakan 'Kau tidak bisa lari kau harus melawan rasa takutmu!'.


Ia ingin memulainya kembali, menutup perih di hatinya dengan kebahagiaan baru. Sebelum waktunya habis. Ia tahu bahwa tak banyak waktu tersisa.


“Ahhh,” Diana meringis sakit membungkukan tubuhnya dan tangan kirinya memegang perut bagian bawahnya.


Tertekan. Kondisi paling rapuh untuk seorang ibu hamil. Alex yang melihat itu segera mungkin menghampirinya dan menuntun Diana untuk duduk di pinggiran ranjang.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Alex dengan nada khawatir.


Setidaknya hari ini, Diana ingin merasa baik-baik saja.

__ADS_1


“Ya,” jawabnya singkat. “Kak?” Ia mendongakan kepalanya menatap Alex.


“Hm?”


Diana mulai melingkarkan kedua lengannya pada leher Alex dan menjangkau bibirnya untuk Ia luumat lembut. Alex yang mendapat sentuhan tiba-tiba itu hanya terdiam dan melongo. Dan tak lama Ia pun menerima ciuman itu dan balik membalasnya.


Setidaknya hari ini, Diana ingin menutupi rasa sakit itu dengan cinta. Lakukanlah dengan lembut, tidak dengan umpatan ataupun hinaan dan kata-kata kasar dari lelaki yang kini berada di posisi paling intim dengannya.


Apa yang Diana lakukan? Matanya terus terpejam berselingan dengan kenikmatan dan rasa sakit di dalam hatinya. Kenikmatan itu menutupi keperihan hatinya, pikiran yang terus terngiang oleh perkataan ayah mertuanya.


***


Matanya terus terpejam menikmati kenikmatan yang Alex berikan, sembari bibirnya menahan erangan-erangan kecil yang enggan Ia keluarkan.


“Keluarkan,” ujar Alex terengah, “Sebut namaku.”


Jantungnya berdegup begitu cepat beriringan dengan hentakan yang Alex berikan, matanya terpejam menahan kenikmatan yang teramat ketika Alex memasukinya lebih dalam.


Tiada rasa takut, tidak ada paksaan, tidak ada perlakuan kasar, tidak ada umpatan bahkan hinaan. Diana akan mengingat hari ini dan melupakan masalalu.


Diana akan mengingat, dimana tempat inilah yang memberinya banyak cinta. Penyatuannya dengan Alex yang ada tanpa paksaan. Ia akan mengingat semua itu di lakukan dengan kehendak mereka. Menyatukannya lebih dalam lagi. Setidaknya, tempat yang mengukir kenangan buruk masalalu kini sudah tertutup dengan kenangan indah hari ini.


***


Diana membuka matanya perlahan, merasakan ngilu di sekujur tubuhnya. Masih dengan tanpa pakaian Ia tertidur di dalam pelukan Alex dengan lengan Alex sebagai bantalannya. Dada bidang suaminya seolah menjadi tempat ternyaman untuk Ia singgahi. Wangi aroma tubuh Alex memberinya ketenangan tersendiri.

__ADS_1


Diana sedikit menggeser posisinya perlahan, Ia tahu bahwa Alex tengah tertidur terdengar dari dengkuran halus yang Ia buat. Diana mengangkat perlahan lengan Alex yang melingkar pada pinggulnya lalu meletakannya kembali ke atas kasur dengan perlahan. Diana beringsut turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.


Diana membuka pintu kamar mandi perlahan mencoba agar tidak menimbulkan suara decitan sepelan mungkin. Ia masuk lalu menutup pintunya kembali.


Diana melihat pantulan tubuhnya di cermin lalu tersenyum tipis. Wajahnya terlihat mulus, kulit putihnya tidak lagi menampilkan lebam merah bekas tamparan. Leher dan dadanya memiliki bekas merah tanda kepemilikan yang Alex tinggalkan di sana. Ingat! Melakukannya dengan cinta. Tidak dengan hisapan kasar sampai meninggalkan bercak merah darah. Begitupula lengan, hanya ada kulit putih yang mulus tanpa ada luka lebam bekas gigitan.


Diana tersenyum tipis meski dengan cairan bening membasahi wajah cantiknya. Akan sangat membahagiakan jika di awali dengan seperti ini, Ia akan merasa lebih sempurna sebagai istri yang paling beruntung di dunia. Menghabiskan waktu bulan madu dengan penuh cinta dan kasih sayang. Seperti harapan Diana dulu.


Kakinya mulai mengayun pelan menuju bathtub lalu Ia memutar keran air dingin yang segera memancar memenuhi bathtub. Diana mulai melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam sana. Ia membasuh wajahnya perlahan dengan air yang terasa begitu menyejukkan. Diana menghela nafas lega, Ia mulai menikmati acara mandinya.


***


Matanya langsung terbuka lebar ketika samping tempat tidur yang di rabanya terasa kosong. Ia langsung beringsut turun dan melangkahkan kakinya cepat menuju kamar mandi. Takut jika hal buruk itu kembali Diana lakukan.


Alex mengulas senyum tipis di wajahnya dan menghela napas lega ketika Ia melihat Diana yang tengah berdiri di bawah guyuran air shower. Ya, karena gadis itu tidak ingin berendam lama-lama di dalam bathtub. Diana lebih memilih mandi menggunakan shower yang Ia rasa akan lebih menyegarkan tubuhnya jika mandi di bawah air mengalir.


Alex berjalan mendekatinya lalu memeluknya dari belakang membuat gadis itu mengejit karena terkejut. Alex mencium leher Diana lembut, wangi khas dari tubuh gadis itu jelas tercium.


“Kak lepas,” ujar Diana ketika Ia mulai memoleskan sabun pada kedua lengannya.


Gadis kecilnya kembali menjadi gadis polos yang dulu tak sengaja Ia bawa ke dalam rumahnya. Gadis yang akan menangis ketika Ia sentak, terlihat rapuh dan tak berdaya. Dengan embel-embel kata 'Kak' yang jelas Alex rindukan. Gadis penurut dengan lemah lembutnya, gadis yang tidak pernah membangkangnya, gadis yang selalu gugup ketika memandang wajahnya. Gadis itu kembali, kembali pada jati dirinya yang sesungguhnya.


Apakah gadisnya itu benar-benar kembali?


Alex mengharapkan semua itu, sikap polos yang Diana tunjukan ketika pertama kali bertemu dengannya. Bukan sikap angkuh dan dingin seolah siap untuk mengajaknya berperang kapan saja. Sikap Diana yang lembut, dimana gadis itu akan menangis hanya karena satu sentakan keras darinya. Alex menginginkannya. Gadis polosnya yang selalu Ia coba rubah sedemikian rupa walaupun pada akhirnya Ia tetap menyukai Diana yang asli.

__ADS_1


Kau ingat? 'Jadilah wanitaku, wanitaku yang kuat dan tidak mudah di tindas!'


__ADS_2