Pengorbanan Cinta Diana

Pengorbanan Cinta Diana
Episode 55


__ADS_3

Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, seperti biasa, di sepanjang perlajanan tidak ada percakapan di antara mereka berdua. Diana merasa sangat canggung sekaligus merasa gelisah, pikirannya terus memikirkan mengenai perkataan Alex barusan. Kemana Alex akan membawanya, jelas ini bukanlah jalan menuju mansionnya. Dan apa yang harus Diana bayar untuk itu, Diana bingung.


“Sudah sampai, turunlah. ” ujar Alex, lalu membuka pintu mobilnya dan beranjak keluar


Diana terdiam dan berkerut kening ketika melihat tempat yang Alex tuju, taman bermain, Alex membawanya ke taman bermain. Diana semakin merasa bingung apa maksud Alex membawanya ke tempat seperti ini. Tak lama kemudian, Diana beranjak turun dari mobil. Pandangannya mengedar melihat ke sekeliling tempat bermain itu, suasana yang sangat ramai dan menyenangkan. Banyak orang yang berlalu lalang, bergembira dan beberapa wahana yang tampak ramai pengunjung. Diana tersenyum tipis, Ia bahkan tidak ingat terakhir kali dirinya pergi dan bermain di taman bermain ini.


“Kau ingin masuk? ” tanya Alex, sementara Diana hanya terdiam dengan tatapan kebingungan. “Kemarilah, ” ujar Alex sembari berjalan mendekati kursi yang berada di taman bermain tersebut, kemudian terduduk dan di ikuti oleh Diana.


“Kenapa kau mengajakku kesini? ” tanya Diana, namun pandangannya tetap focus melihat ke arah keramaian taman bermain.


“Menurutmu? ” Alex berbalik bertanya kepada Diana, Diana langsung menolehkan wajahnya menatap Alex heran.


Tiba-tiba Alex memberikan sebuah buku berwarna biru kepada Diana, Diana terbelalak ketika melihatnya. Sampul buku yang tampak tidak asing baginya, berbagai kenangan tertulis di dana. Diana yakin itu adalah buku miliknya, namun mengapa bisa berada di tangan Alex. Bahkan setelah bertahun-tahun, Diana sudah tidak pernah melihat buku itu lagi, Diana kehilangannya dan tidak tahu keberadaan buku tersebut. Namun dengan tiba-tiba, Alex memberikan buku Diana yang sudah lama hilang itu kepadannya.


Diana meraih buku tersebut, mengambilnya dari genggaman Alex. Ia membuka lembaran demi lembaran halaman buku itu, dengan tulisan yang masih seadannya, karena ketika Ia menulisnya, Diana masih berumur 7 tahun. Diana tersenyum tipis ketika membaca satu persatu tulisannya di masa lalu, hampir semua hal tak pernah Ia lewatkan untuk di tuliskan di dalam buku diary itu. Seketika senyuman di wajahnya itu lenyap, ketika Ia berhenti di satu halaman.

__ADS_1


“Senin 08:45, Hari ini adalah ulang tahunku, ayah mengajakku ke taman bermain. Kami sekeluarga berencana pergi bersama-sama. Namun, ketika aku tengah bersiap, ibu mendatangiku. Ia mengatakan bahwa rencana jalan-jalan kami di batalkan, karena mendadak ayah pergi ke kantor untuk mengurusi pekerjaannya. Secara tiba-tiba, bahkan ayah tidak memberitahukannya kepadaku terlebih dahulu. Aku tidak kecewa, hanya saja ... sudahlah. ” tulisan tangan Diana,


Diana tertegun ketika membaca tulisan tangannya sendiri. Lalu, Ia meraba pelan tulisan tangannya di atas kertas. Dengan ragu, Diana membuka halaman berikutnya, Diana tahu bahkan Ia ingat betul, hal apa yang Ia tulis di halaman selanjutnya.


“Senin16:00, Hari ini aku menangis, untuk pertama kalinya ayah berbohong. Sebenarnya ayah tidak pergi ke kantor, ayah pergi bersama ibu dan Nameera untuk jalan-jalan ke taman bermain. Bahkan dengan sangat bahagia, mereka memperlihatkan foto kebersamaan mereka. Aku hanya terdiam, aku tidak bertanya apapun kepada ayah. Tetapi saat aku keluar kamar, ayah bertanya ... 'Diana, apakah sakitmu sudah membaik?' Diana bingung ayah, Diana tidak sakit ... ”


Saat itu adalah hari ulang tahun Diana, Tuan Wijaya mengajaknya ke tempat bermain untuk merayakannya. Namun entah mengapa, tiba-tiba acaranya di batalkan begitu saja, dengan alasan yang menurut Diana tidak masuk akal. Ayahnya sudah merencakan semua itu dari jauh-jauh hari, bahkan itu adalah hari minggu. Saat itu Diana tidak bertanya mengapa ayahnya berbohong, Diana hanya merasa aneh ketika ayahnya bertanya tentang keadaanya. Saat itu umurnya masih kecil, hari berlalu begitu cepat, kekecewaan berlalu menjadi butiran debu yang tak ternilai.


Namun hari itu tak pernah terlupakan di benaknya, dan seiring berjalannya waktu Diana akhirnya mengerti, bahwa ayahnya tidak pernah membohonginya, tapi ibu tirinya lah yang telah berbohong. Kekesalan itu tidak ada gunanya, semua telah berlalu, tidak akan ada untungnya jika di ungkit kembali. Dan semenjak saat itulah, setiap hari kelahirannya, Diana selalu mengurungkan keinginananya pergi bertamasya bersama ayahnya. Itu adalah hal yang mustahil baginya untuk bisa pergi bersenang-senang.


Diana terdiam sejenak, Ia langsung menutup buku diary itu dengan rapat. Diana masih hafal, mengenai hal-hal memilukan yang Ia tulis di sana. Diana tidak ingin membuka luka lamanya kembali. Sudah cukup baginya.


“Lebih baik kita pulang, ” ujar Diana, Ia memasukan buku diarynya ke dalam tas dan beranjak dari duduknya.


Alex menahan lengan Diana, Ia heran mengapa tiba-tiba Diana meminta untuk pulang. “Ada apa denganmu? ” tanya Alex

__ADS_1


“Kita pulang saja, aku tidak ingin berada di sini. ” Diana melangkahkan kakinya, namun Alex menarik lengannya kembali.


“Aku yang memutuskan, jika aku bilang kau harus diam, maka kau harus diam. ” ujar Alex dengan penuh penekanan. Diana tertegun.


Diana menurutinya, mereka berdua berjalan-jalan di sekitar arena bermain. Dari dalam hatinya, Diana sangat ingin mencoba beberapa wahana permainan itu, namun mengingat Alex tengah berada di sampingnya, Diana berpikir dua kali apakah Alex mau menurutinya. Mustahil.


“Pergilah, pakai ini. Aku akan menunggumu di disini. ” ujar Alex memberikan satu buah kartu bertuliskan Zouland. Zouland adalah nama taman bermain tersebut.


“Apa ini ... kartu ini bahkan bertuliskan VIP .. ” batin Diana.


“Aku akan menyimpannya kembali jika kau tidak segera mengambilnya, ”


Diana mengulurkan tangannya ketika Alex hendak menyimpan kembali kartu itu di dalam saku jasnya. Diana mengambil kartu itu kemudian tersenyum tipis. Seperti anak kecil yang di berikan permen, hatinya mendadak begitu gembira. Namun, Diana menutupi dengan menggunakan ekspresi datarnya.


“Untuk apa semua ini? Untuk apa kau membawaku ke sini? ” tanya Diana

__ADS_1


“Ini semua tidaklah gratis, semua akan kau bayar lagi nanti di rumah. ” jawab Alex sembari berlalu pergi meninggalkan Diana.


Diana berkerut kening, hal apa lagi yang akan Alex perbuat padanya, mengapa hari ini begitu banyak teka teki seperti ini.


__ADS_2