Pengorbanan Cinta Diana

Pengorbanan Cinta Diana
Episode 99


__ADS_3

Setelah menceritakan semua tentang


masalalunya, Alex keluar kamar dan kembali ke ruang kerjanya, meninggalkan


Diana seorang diri yang masih bergeming dengan pikirannya yang terus berpikir,


berputar, memahami dan mencoba mencerna semua penjelasan yang Alex berikan.


Suami tampannya itu hanya menceritakan alasan Leona memutuskan untuk mengakhiri


hidupnya. Tapi Ia tidak menjelaskan kenapa kisah Leona harus di hapuskan dari


semua ingatan seseorang.


Lalu, apa alasan Alex menikahi


Nameera jika Ia tidak mencintainya?


Semuanya sangat rumit bagi Diana.


Alex juga menceritakan semuanya tidak dengan cerita yang jelas dan tuntas.


Diana paham, mungkin pria itu butuh waktu dan mungkin belum siap untuk


menceritakan kisah masalalunya yang menyakitkan itu.


Wanita hamil itu melirik ke arah


jam yang terpasang kokoh di dinding. Ternyata waktu sudah menunjukan pukul lima


sore, namun Diana masih belum mandi. Ia harus bergegas, jika tidak hari akan


semakin malam dan tidak baik untuk ibu hamil mandi pada waktu yang tidak tepat.


Kemudian Diana langsung beranjak dari tempat duduknya dan mulai melangkah


menuju kamar mandi.


Beberapa langkah menuju kamar


mandi, wanita cantik itu merasakan ada yang tidak beres dengan perutnya. Sakit


namun masih bisa Ia tahan. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar


mandi, dan Diana cukup terdiam sejenak. Tangannya berpegangan pada dinding dan


yang satunya lagi memegang perutnya yang buncit.


Diana harus tenang. Ia pernah


membaca di sebuah artikel jika kontraksi semacam ini biasa terjadi kepada ibu


hamil yang sudah mendekati pada bulan kelahiran. Meskipun memang kontraksi akan


melahirkan, tapi prosesnya masih panjang. Maka dari tiu Diana harus bisa tenang


dan berusaha sebaik mungkin agar tidak panik.


Setelah rasa sakitnya sedikit


reda, Diana mulai menatih langkahnya lagi dengan sangat berhati-hati. Ia


langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu lalu bersiap untuk mandi.


Di depan wastafel yang terdapat cermin, seraya membuka pakaiannya satu persatu,


Diana menatap ke setiap inci tubuhnya. Sangat gendut. Dua kata yang pas


menggambarkan kondisi tubuhnya kini. Bagaimana tidak? Selama masa kehamilannya


berat tubuh Diana naik lima belas kilo gram. O Lord! Awalnya berat badan gadis


itu hanya empat puluh lima kilo, tapi sekarang berat tubuhnya itu menjadi enam


puluh kilo.


“Tidak apa, demi baby kecilku.” Gumamnya.


Setelah satu kain terakhir yang Ia


jatuhkan ke lantai, kemudian Diana langsung melangkah menuju tempat shower dan dan

__ADS_1


langsung menyalakan air hangat. Wanita cantik itu memejamkan  mata ketika satu tetes demi tetes air hangat


itu membasahi tubuhnya. Tapi tiba-tiba … Seketika Diana langsung mematikan air


shower tersebut, kepalanya langsung tertunduk untuk melihat ke bagian bawah


tubuhnya. Ada yang tidak beres.


Kemudian satu lengannya langsung


meraih handuk yang tersimpan tak jauh dari tembatnya berdiri. Setelah mengeringkan


seluruh tubuhnya, Diana langsung membalut tubuhnya menggunakan bathrobe


berwarna putih, dan kemudian langsung keluar dari kamar mandi. Kamarnya sepi,


tidak ada tanda-tanda Alex di sana. Apakah suaminya itu masih sibuk di ruang


baca bersama pekerjaanya?


“Ah!” pekik Diana refleks ketika


suatu cairan bening  dan hangat keluar


mengalir membasahi ************ serta kaki jenjangnya. Apa itu? Dengan segera


wanita hamil itu langsung melangkah menuju ranjang dan duduk di pinggirannya.


Diana sama sekali tidak merasakan


sakit pada bagian perutnya. Hanya saja cairan bening it uterus keluar dan


bahkan kini bathrobe yang di kenakannya sudah basah, begitupula pinggiran


ranjang yang tengah Diana duduki. Cairan apa ini?


“Pelayan,” seru Diana yang


tentunya akan di dengar oleh salah satu pelayan yang menjaga di luar kamarnya.


Kemudian satu pelayan langsung


hadapan nona mudanya. “Dimana kak Alex?” tanya Diana.


Namun pelayan itu hanya terhenyak


dengan mata yang membulat lebar ketika melihat kondisi nona mudanya yang sudah


tidak karuan. Cairan bening di lantai, begitupula ranjang dan bathrobe yang


tengah di gunakanya basah.


“Nona, apakah anda ingin pergi ke rumah sakit?  Kami akan segera membawamu ke rumah sakit.” Serunya panic.


“Aku bertanya, dimana kak Alex?” tanya Diana lagi untuk yang kedua kalinya.


“Tuan Alex … Tadi beliau pamit untuk keluar sebentar.” Jawab pelayan tersebut dengan wajah tertunduk. Tidak enak hati untuk menjawab pertanyaan Nona mudanya.


“Kemana?”


“Maaf, saya tidak tahu Nona.”


Kemana Alex? Kenapa pria itu malah


pergi saat Diana membutuhkannya?


“Tolong segera hubungi kak Alex.” Pinta


Diana, namun pelayan itu hanya bergeming dan terdiam tidak menjawab perintah


dari nona mudanya.


“Ehm … Nona, lebih baik anda pergi


ke rumah sakit terlebih dahulu.”


“Tolong hubungi kak Alex terlebih


dahulu.” Pinta Diana lagi dengan raut wajah memohon.


“Baik, Nona. Tapi sebaiknya kita

__ADS_1


pergi ke rumah sakit terlebih dahulu.”


Cairan bening yang tidak berhenti


mengalir, dengan di iringi rasa sakit yang sesekali menyengat pada bagian bawah


perutnya, sepertinya tidak baik bagi Diana untuk terus mengikuti egonya yang


menginginkan agar Alex ada di sisinya terlebih dahulu agar mereka pergi bersama


ke rumah sakit. Tapi kondisinya sangat tidak memungkinkan. Sepertinya Diana


tidak bisa menunggu terlalu lama.


“Siapkan bajuku terlebih dahulu.” Perintah


Diana yang tentunya langsung di iyakan oleh pelayan wanita tersebut.


Beberapa menit Diana bersiap dan


mengenakan pakaian yang pantas,lalu  wanita hamil itu di tatih oleh beberapa


pelayan sampai depan pintu mansion. Satu supir sudah siap dengan mobil yang


akan mengantarkan Diana ke rumah sakit. Sebelum wanita hamil itu masuk ke dalam


mobil, sesaat Ia menghentikan langkahnya an menatap kea rah pelayan yang


sebelumnya Ia perintah untuk menghubungi Alex.


“Bagaimana kak Alex?”


Pelayan tersebut tertunduk, enggan


untuk menatap wajah cantik nona mudanya. “Maaf Nona-“


“Diana, What is wrong with you?


Are you alright?” tanya seseorang sembari tergesah mendekat ke arah Diana.


“Kakak ….” Seru Diana, seraya


kedua lengannya refleks memeluk tubuh tegap suami tampannya. Akhirnya yang


Diana tunggu sudah datang. Hal-hal yang Diana takutkan jika Ia harus melahirkan


tanpa seorang suami di sisinya seketika sirna. Syukurlah … Dengan seperti ini


Diana merasa sangat senang.


“Terimakasih sudah datang, kak.” Imbuh


wanita hamil itu.


“Tentu saja aku akan datang,


Diana. Cepat masuk ke dalam mobil dan pergi ke rumah sakit.”


“Iya, kak.”


Selama perjalanan, Alex terus


menggenggam telapak tangan Diana yang menit ke menit semakin terasa dingin dan


berkeringat. Wajah istri mungilnya itu juga semakin terlihat pucat. Sudah hamper


setengah jam tapi mereka belum juga sampai ke rumah sakit. Memingat jalanan di


ibukota yang sangat padat pada jam seperti ini.


Diana memejamkan matanya seraya


menggigit bibir bagian bawahnya, sakitnya semakin terasa sering.


__


Siapa yang udah menerka-nerka kalo Alex gak


bakalan ada pas Diana lahiran? Wkwkwk jangan nething terus sama babang Alex ya


wkwkwk. See you di next chap saaaaay

__ADS_1


__ADS_2