
Setelah menceritakan semua tentang
masalalunya, Alex keluar kamar dan kembali ke ruang kerjanya, meninggalkan
Diana seorang diri yang masih bergeming dengan pikirannya yang terus berpikir,
berputar, memahami dan mencoba mencerna semua penjelasan yang Alex berikan.
Suami tampannya itu hanya menceritakan alasan Leona memutuskan untuk mengakhiri
hidupnya. Tapi Ia tidak menjelaskan kenapa kisah Leona harus di hapuskan dari
semua ingatan seseorang.
Lalu, apa alasan Alex menikahi
Nameera jika Ia tidak mencintainya?
Semuanya sangat rumit bagi Diana.
Alex juga menceritakan semuanya tidak dengan cerita yang jelas dan tuntas.
Diana paham, mungkin pria itu butuh waktu dan mungkin belum siap untuk
menceritakan kisah masalalunya yang menyakitkan itu.
Wanita hamil itu melirik ke arah
jam yang terpasang kokoh di dinding. Ternyata waktu sudah menunjukan pukul lima
sore, namun Diana masih belum mandi. Ia harus bergegas, jika tidak hari akan
semakin malam dan tidak baik untuk ibu hamil mandi pada waktu yang tidak tepat.
Kemudian Diana langsung beranjak dari tempat duduknya dan mulai melangkah
menuju kamar mandi.
Beberapa langkah menuju kamar
mandi, wanita cantik itu merasakan ada yang tidak beres dengan perutnya. Sakit
namun masih bisa Ia tahan. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar
mandi, dan Diana cukup terdiam sejenak. Tangannya berpegangan pada dinding dan
yang satunya lagi memegang perutnya yang buncit.
Diana harus tenang. Ia pernah
membaca di sebuah artikel jika kontraksi semacam ini biasa terjadi kepada ibu
hamil yang sudah mendekati pada bulan kelahiran. Meskipun memang kontraksi akan
melahirkan, tapi prosesnya masih panjang. Maka dari tiu Diana harus bisa tenang
dan berusaha sebaik mungkin agar tidak panik.
Setelah rasa sakitnya sedikit
reda, Diana mulai menatih langkahnya lagi dengan sangat berhati-hati. Ia
langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu lalu bersiap untuk mandi.
Di depan wastafel yang terdapat cermin, seraya membuka pakaiannya satu persatu,
Diana menatap ke setiap inci tubuhnya. Sangat gendut. Dua kata yang pas
menggambarkan kondisi tubuhnya kini. Bagaimana tidak? Selama masa kehamilannya
berat tubuh Diana naik lima belas kilo gram. O Lord! Awalnya berat badan gadis
itu hanya empat puluh lima kilo, tapi sekarang berat tubuhnya itu menjadi enam
puluh kilo.
“Tidak apa, demi baby kecilku.” Gumamnya.
Setelah satu kain terakhir yang Ia
jatuhkan ke lantai, kemudian Diana langsung melangkah menuju tempat shower dan dan
__ADS_1
langsung menyalakan air hangat. Wanita cantik itu memejamkan mata ketika satu tetes demi tetes air hangat
itu membasahi tubuhnya. Tapi tiba-tiba … Seketika Diana langsung mematikan air
shower tersebut, kepalanya langsung tertunduk untuk melihat ke bagian bawah
tubuhnya. Ada yang tidak beres.
Kemudian satu lengannya langsung
meraih handuk yang tersimpan tak jauh dari tembatnya berdiri. Setelah mengeringkan
seluruh tubuhnya, Diana langsung membalut tubuhnya menggunakan bathrobe
berwarna putih, dan kemudian langsung keluar dari kamar mandi. Kamarnya sepi,
tidak ada tanda-tanda Alex di sana. Apakah suaminya itu masih sibuk di ruang
baca bersama pekerjaanya?
“Ah!” pekik Diana refleks ketika
suatu cairan bening dan hangat keluar
mengalir membasahi ************ serta kaki jenjangnya. Apa itu? Dengan segera
wanita hamil itu langsung melangkah menuju ranjang dan duduk di pinggirannya.
Diana sama sekali tidak merasakan
sakit pada bagian perutnya. Hanya saja cairan bening it uterus keluar dan
bahkan kini bathrobe yang di kenakannya sudah basah, begitupula pinggiran
ranjang yang tengah Diana duduki. Cairan apa ini?
“Pelayan,” seru Diana yang
tentunya akan di dengar oleh salah satu pelayan yang menjaga di luar kamarnya.
Kemudian satu pelayan langsung
hadapan nona mudanya. “Dimana kak Alex?” tanya Diana.
Namun pelayan itu hanya terhenyak
dengan mata yang membulat lebar ketika melihat kondisi nona mudanya yang sudah
tidak karuan. Cairan bening di lantai, begitupula ranjang dan bathrobe yang
tengah di gunakanya basah.
“Nona, apakah anda ingin pergi ke rumah sakit? Kami akan segera membawamu ke rumah sakit.” Serunya panic.
“Aku bertanya, dimana kak Alex?” tanya Diana lagi untuk yang kedua kalinya.
“Tuan Alex … Tadi beliau pamit untuk keluar sebentar.” Jawab pelayan tersebut dengan wajah tertunduk. Tidak enak hati untuk menjawab pertanyaan Nona mudanya.
“Kemana?”
“Maaf, saya tidak tahu Nona.”
Kemana Alex? Kenapa pria itu malah
pergi saat Diana membutuhkannya?
“Tolong segera hubungi kak Alex.” Pinta
Diana, namun pelayan itu hanya bergeming dan terdiam tidak menjawab perintah
dari nona mudanya.
“Ehm … Nona, lebih baik anda pergi
ke rumah sakit terlebih dahulu.”
“Tolong hubungi kak Alex terlebih
dahulu.” Pinta Diana lagi dengan raut wajah memohon.
“Baik, Nona. Tapi sebaiknya kita
__ADS_1
pergi ke rumah sakit terlebih dahulu.”
Cairan bening yang tidak berhenti
mengalir, dengan di iringi rasa sakit yang sesekali menyengat pada bagian bawah
perutnya, sepertinya tidak baik bagi Diana untuk terus mengikuti egonya yang
menginginkan agar Alex ada di sisinya terlebih dahulu agar mereka pergi bersama
ke rumah sakit. Tapi kondisinya sangat tidak memungkinkan. Sepertinya Diana
tidak bisa menunggu terlalu lama.
“Siapkan bajuku terlebih dahulu.” Perintah
Diana yang tentunya langsung di iyakan oleh pelayan wanita tersebut.
Beberapa menit Diana bersiap dan
mengenakan pakaian yang pantas,lalu wanita hamil itu di tatih oleh beberapa
pelayan sampai depan pintu mansion. Satu supir sudah siap dengan mobil yang
akan mengantarkan Diana ke rumah sakit. Sebelum wanita hamil itu masuk ke dalam
mobil, sesaat Ia menghentikan langkahnya an menatap kea rah pelayan yang
sebelumnya Ia perintah untuk menghubungi Alex.
“Bagaimana kak Alex?”
Pelayan tersebut tertunduk, enggan
untuk menatap wajah cantik nona mudanya. “Maaf Nona-“
“Diana, What is wrong with you?
Are you alright?” tanya seseorang sembari tergesah mendekat ke arah Diana.
“Kakak ….” Seru Diana, seraya
kedua lengannya refleks memeluk tubuh tegap suami tampannya. Akhirnya yang
Diana tunggu sudah datang. Hal-hal yang Diana takutkan jika Ia harus melahirkan
tanpa seorang suami di sisinya seketika sirna. Syukurlah … Dengan seperti ini
Diana merasa sangat senang.
“Terimakasih sudah datang, kak.” Imbuh
wanita hamil itu.
“Tentu saja aku akan datang,
Diana. Cepat masuk ke dalam mobil dan pergi ke rumah sakit.”
“Iya, kak.”
Selama perjalanan, Alex terus
menggenggam telapak tangan Diana yang menit ke menit semakin terasa dingin dan
berkeringat. Wajah istri mungilnya itu juga semakin terlihat pucat. Sudah hamper
setengah jam tapi mereka belum juga sampai ke rumah sakit. Memingat jalanan di
ibukota yang sangat padat pada jam seperti ini.
Diana memejamkan matanya seraya
menggigit bibir bagian bawahnya, sakitnya semakin terasa sering.
__
Siapa yang udah menerka-nerka kalo Alex gak
bakalan ada pas Diana lahiran? Wkwkwk jangan nething terus sama babang Alex ya
wkwkwk. See you di next chap saaaaay
__ADS_1