Pengorbanan Cinta Diana

Pengorbanan Cinta Diana
Episode 81


__ADS_3

Selamat membaca❤❤


***


“Ayah ... ” lirih Diana ketika mendengar suara pria paruh baya yang sangat di rindukannya.


“Mendadak kau menelpon, ada apa?” tanya Tuan Wijaya terdengar khawatir.


“Ayah, aku sangat terindukanmu.” air matanya mulai menetes beriringan dengan isakan yang Ia tahan, “Aku selalu memikirkanmu, perasaanku menjadi tidak enak. Ayah, apakah kau baik-baik saja?”


Alex tertegun melihat Diana seperti itu, Ia sungguh tidak tega. Namun bagaimana lagi, sudah seharusnya seperti ini. Alex harus membawanya pergi dengan alasan babymoon hanya karena ingin membawanya menghindar dari masalah yang begitu besar.


“Ayah baik-baik saja, kau tidak perlu mengkhawatirkan ayah. Jaga dirimu baik-baik, ingat dengan anak di dalam perutmu kau harus menjaga cucu Ayah dengan baik.”


Sakit hati Diana semakin terasa ketika mendengar suara berat dari seberang telepon. Diana mengepalka jemarinya lalu Ia simpan di depan dada, dan menggigit bibir bagian bawahnya menahan semua isakan yang enggan Ia keluarkan.


Ayah ada apa? Kau menyembunyikan sesuatu dariku.


“Sayang, Ayah akan menghadiri rapat. Ayah akan menutup teleponya, jaga dirimu baik-baik.” ujarnya lalu kemudian telepon itu terputus secara sepihak.


Air mata Diana mengalir semakin deras membasahi wajah cantiknya, isakannya mulau terdengar sangat memilukan. Alex yang duduk di sampingnya langsung mendekat dan membawa Diana ke dalam pelukannya. Membiarkan gadis itu menangis sejadi-jadinya, meluapkan segala kesedihan yang Ia rasakan.


***


Pria paruh baya itu duduk menunduk di atas kursi kebesarannya, kapan terakhir kali Ia menangis? Ketika Ia harus menyerahkan putri kecilnya menikah dengan calon iparnya sendiri. Kini matanya mengenang kembali, belum satu kesahalan di masa lalu dapat Ia tebus. Dan kini masalah lainya datang menghampiri.


“Nak, Ayah harus apa?” lirihnya, hatinya terasa begitu sakit jika kenyataan harus mendorongnya untuk mengorbankan putrinya untuk yang kedua kali.


Apa yang harus Ia lakukan kini? Diam dan tidak berdaya? Mengorbankan kembali jiwa yang tidak bersalah. Gadis itu bahkan belum mendapatkan kebahagiannya. Apakah ini karma? Mengapa kesialan bertubi-tubi menghantam dengan begitu kuat.


Tiba-tiba terdengar suara kegaduhan dari luar ruangannya, dan tak lama seorang wanita masuk ke dalam dengan raut wajah marah menatap ke arahnya.

__ADS_1


“Apa ini?! Apa maksudnya?” tanyanya marah sembari meletakan kasar selembar kertas ke atas meja.


***


“Sudahlah, jangan menangis seperti itu. Ayahmu akan baik-baik saja.” Alex mencoba menenangkan gadis di dalam pelukannya dengan mengelus lembut punggung gadis itu. “Menangis dan stres tidak baik untuk dirimu.”


Alex menarik diri untuk menjangkau pandangannya pada Diana. Ibu jarinya menyeka lembut air mata yang membasahi pipi gadisnya.


“Kak, Ayah ... ”


“Sttt, Ayahmu baik-baik saja.” Alex mencoba meyakinkan gadis itu kembali. Dan Diana hanya terdiam dan menunduk lemah. “Kau mau sesuatu?”


Diana menggeleng lemah, “Kak, aku mau tidur.” ujarnya lalu membaringkan diri ke atas ranjang di ikuti oleh Alex yang terbaring di sampingnya.


Diana hanya terdiam ketika tangan Alex mulai menyentuh perutnya yang sudah semakin membesar, Alex mengelusnya lembut disana. Diana tidak menolak karena sentuhan Alex benar-benar membuat perutnya merasa hangat dan nyaman.


Beberapa menit Alex menyentuh dan mengelus lembut perut Diana, dan tidak ada gerakan lagi dari gadis itu. Alex beranjak lalu menatap wajah gadisnya yang sudah tertidur dengan pulas. Ia mencium keningnya lembut sebelum akhirnya Ia beringsut turun dari atas ranjang.


Alex meraih handphone di atas nakas, Ia mulai mengetikan nomor dan membuat panggilan sembari melangkah keluar dari kamar.


“Pak, keadaannya sangat kacau. Semua investor menarik dana yang mereka salurkan untuk perusahaan. Perusahaan menjadi tidak terkendali, dan semua itu tentu saja memengaruhi harga saham di pasaran. ”


Alex menarik napasnya dalam, “Lakukan apa saja sebisamu, jangan sampai hal yang tidak di inginkan itu terjadi. Kau paham?!”


“Baik, Pak.” jawab seseorang di seberang sana sebelum akhirnya Alex memutuskan sambungan teleponnya.


Alex mengusap wajahnya dengan kasar, lalu Ia satu batang rokok Ia sulut guna menenangkan pikirannya yang sedang kacau. Diana, apapun untuk gadisnya.


***


Diana sudah menghabiskan satu porsi spageti dengan lemon tea sebagai pendampingnya, sudah pula hampir satu setengah jam dirinya duduk di dalam restoran. Entah apa yang di mengharuskan dirinya menunggu selama ini.

__ADS_1


“Kak, nunggu siapa?” tanya Diana sembari terus mengaduk minumannya.


“Seseorang,” jawab Alex singkat dan matanya terus tertuju pada layar ponselnya.


Tak lama kemudian, seorang wanita cantik dan seksi datang menghampiri meja mereka. Sontak Alex menyambutnya hangat, dan wanita tersebut langsung memeluk Alex ringan. Diana berkerut kening melihat pemandangan di depannya, hatinya mendadak panas tak karuan melihat wanita inilah yang sedari tadi Alex tunggu.


Diana ikut berdiri untuk menyambutnya. “Kak,”


“Diana, ini adalah Stefi.” ujar Alex, dan Diana langsung menjulurkan tangannya untuk memperkenalkan dirin para Stefi, begitupula Stefi yang menyambut hangat Diana.


Mereka bertiga duduk bersama dalam satu meja. Diana hanya terdiam menahan rasa sakit hatinya melihat keakraban antara Alex dengan wanita cantik di depannya. Alex terlalu asik dengannya sehingga Ia melupakan kehadiran Diana. Untuk apa aku disini?


“Kak, aku ke kamar ya?” Diana beranjak dari duduknya namun di tahan oleh Alex.


“Kenapa?”


“Kak, aku cape.” ujar Diana melepaskan genggaman Alex pada tangannya dan langsung melangkah pergi.


Diana mengepal erat jemarinya di atas dada. Rasanya kekhawatiran mengenai ayahnya kemarin belum cukup membuat gundah di hatinya. Hatinya terus saja di hantam godam besar membuat sakit di hatinya semakin dalam.


Diana tersenyum tipis melihat laut dengan ombak yanh begitu tenang. Nyatanya Ia tidak kembali ke dalam kamarnya dan malah berjalan-jalan di pinggiran pantai.


“Ah..” lirihnya ketika Ia merasakan sesuatu yang keras di dalam perutnya.


Mungkin ini yang pertama kalinya bayi di dalam kandungan Diana menendang dengan kuat, biasanya hanya sebuah gerakan kecil yang Ia rasakan.


Diana mulai menggigit bibir bagian bawahnya ketika tendangan bayinya terasa kembali, Diana meringis menahan rasa linu di bagian bawah perutnya. Ia melihat darah segar mengalir di antara kakinya. Napasnya mulai terengah dan panik, Ia takut sesuatu yamg buruk akan terjadi, apalagi dirinya kini tengah seorang diri, dan Alex tengah sibuk bersama wanita asing itu.


Diana memaksakan kakinya untuk terus melangkah menuju restoran tadi, Diana berharap Alex masih berada di sana. Darahnya terus saja mengalir di tambah rasa panik di dalam hatinya.


“Kak Alex..”

__ADS_1


Langkahnya mulai terasa berat, pandangannya mulai mengabur tak jelas, napasnya sudah tidak beraturan dan darah yang mengalir juga semakin banyak. Diana mulai terhuyung setelah setengah perjalanan Ia hampir sampai ke dalam restoran yang masih berada di dalam resort. Namun Ia sudah tidak mampu melangkahkan kakinya lagi. Beberapa orang yang melihat itu segera menghampiri Diana dan langsung meminta pertolongan dengan memanggil ambulance. Sementara Diana, pandangannya gelap kemudian Ia tak sadarkan diri.


❤❤❤


__ADS_2