Pengorbanan Cinta Diana

Pengorbanan Cinta Diana
Episode 80


__ADS_3

Alex masih melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Diana dan sesekali mengelus perut buncit istrinya. Perlahan jemarinya turun menyentuh bagian sensitif milik istrinya Seperti singa haus yang selalu siap melahap dombanya kapan saja.


Ya, jujur saja. Alex selalu menginginkan berhubungan badan dengan Diana. Mengingat dulu Ia tidak pernah kekurangan wanita di atas ranjang. Dan semenjak menikahi Diana Ia menghentikan segala aktivitasnya jajan di luar. Di tambah istrinya itu pelit jika mengurus masalah ranjang.


“Kak, jangan sekarang.” ujar Diana sedikit merengek membuat Alex semakin gemas.


Alex tidak menghiraukannya, sementara jemarinya terus menyusuri bagian sensitif Diana dan memasukannya lebih dalam lagi membuat Diana mengerang pelan.


“K-kak..”


“Di kamar mandi atau di atas ranjang?” tanya Alex sesekali menghisap tengkuk Diana yang masah.


“Ra-ranjang, Kak.” lenguhnya.


Alex langsung membopong Diana lalu membaringkan tubuhnya yang basah ke atas ranjang. Alex memulai aksinya dengan lembut. Mencium, meluumat dan menghisap bibir hingga squishi lembut milik Diana. Memasukinya secara perlahan dan lembut. Memainkannya berirama dengan dentuman detak jantung mereka yang saling menyahut. Penyatuan yang begitu intim dan sempurna.


Erangan kuat dari keduanya saat pelepasan dari penyatuan mereka menapaki puncaknya. Alex langsung melepaskan penyatuan mereka lalu menghempaskan diri ke samping tubuh Diana yang tengah mengatur napasnya.


Malam ini dan untuk yang kedua kalinya Alex selalu mampu membuat gadis di sampingnya kewalahan. Membutuhkan waktu lama untuk pelepasannya sementara gadis yang berada di bawah tubuhnya sudah mencapai puncaknya beberapa kali. Alex begitu sempurna memanjakannya di atas ranjang.


Di sela mengatur napasnya, Diana merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh pipinya. Diana membuka matanya perlahan dan mendapati wajah Alex yang saling beradu dengannya. Lelaki itu, tengah mencium pipinya dengan lembut sembari tangannya terus mengelus perut Diana yang buncit.


“Kak,”


“Em,” Alex menjawab dengan mata terpejam, bibirnya masih tertempel pada pipi Diana.


“Kak aku lapar,” ujarnya dengan lirih.


Alex sedikit memberi jarak lalu membuka matanya dan menatap Diana. Mengingat dari siang saat dirinya sampai di bali mereka memang belum makan apapun, Alex merasa bersalah akan hal itu.


“Kak, pesankan aku pizza dan cocolala ya,” ujar Diana lalu menatap wajah Alex.

__ADS_1


Alex berkerut kening, “Kau ini sedang hamil tidak baik meminum minuman seperti itu.” protes Alex atas permintaan Diana.


Diana mencebik, kecewa namun Ia tetap tidak bisa egois memikirkan keinginannya. Diana harus menjaga bayi di dalam kandungannya.


Di sisi lain, Alex tersenyum tipis menanggapi keinginan Diana. Di dalam hatinya seperti tengah terjadi guncangan hebat setelah mendengar rengekan istrinya. Tentu saja. Seharusnya ini semua sudah Ia rasakan semenjak beberapa bulan yang lalu, di awal-awal Diana hamil. Tapi gadis itu terlalu sensitif dengan amarahnya yang berkepanjangan. Alex merasa lega, setidaknya kini hubungan mereka baik-baik saja. Semoga seperti itu seterusnya.


“Aku pesankan pizza untukmu,”


“Keju, Kak.” sambar Diana, Alex hanya mengangguk mengiyakan.


***


Masih di atas ranjang, namun sudah dengan pakaian yang lengkap. Diana tengah memakan pizza pesanannya dengan lahap, sedangkan Alex hanya memperhatikan gadis itu makan.


“Kak makan,” Diana menyodorkan satu potong pizza kepada Alex dan Apex menerimanya lalu memakan pizza tersebut. Jujur saja, Ia juga merasa sangat kelaparan.


Di sela-selanya mengunyah makanan, Alex tersenyum tipis. Ia menyayangkan seharusnya Ia melihat sikap manis dan manja dari gadisnya itu sejak dulu. Alex menyesal melewatkan beberapa momen berharga tentang Diana. Nyatanya, gadis itu terlihat sangat manis.


Bagaimana gadis itu terlihat begitu tenang sedangkan kini Ia berada di dalam tempat yang paling mengerikan di seumur hidupnya. Gadis itu melawan rasa takutnya hanya karena Ia tidak ingin meninggalkan luka ke manapun kakinya berpijak.


Seandainya dulu, Alex mengenal gadis itu lebih dekat, mamahaminya lebih dalam, semuanya tidak akan berakhir seperti ini. Gadis itu harus terus menjadi miliknya, berada di sampingnya dan menjadi ibu untuk anak-anaknya kelak. Ia tidak akan melepaskannya.


“Kau menginginkan sesuatu lagi?” tanya Alex, kini waktunya Ia memanjakan gadisnya itu. Diana menggeleng pelan lalu menegak air mineralnya.


Lagi pula sudah larut malam, apa yang Ia inginkan selain tertidur karena merasa sangat lelah. Delivery order pizza saja tadi sangat lama. Jadi, Diana lebih memilih mengatakan tidak malam ini.


***


Entah mengapa, suasana hati Diana begitu buruk pagi ini. Tapi Alex bersikap biasa saja dan tidak menyadari perubahannya. Seharusnya, Diana merasa senang karena Alex mengajaknya untuk babymoon, tapi gadis itu malah cemberut sepanjang hari.


Tidak terasa air matanya menetes begitu saja. Tanpa penyebab apapun namun suasana hati gadis itu begitu buruk hari ini.

__ADS_1


Alex berkerut kening ketika melihat Diana yang tengah sibuk menyeka air matanya. Lantas Ia segera berjalan mendekatinya. “Ada apa? Apa kau merasa sakit?” tanyanya berusaha setenang mungkin, padahal di dalam hatinya rasa takut dan khawatir berkecamuk menjadi satu.


Diana menggeleng pelan, “Tidak, Kak.” jawabnya masih terisak. “Hanya saja, suasana hatiku sedang tidak baik hari ini.”


“Baiklah, aku akan segera menghubungi Elios agar segera terbang ke sini.” Alex hendak menghubungi Elios namun tiba-tiba Diana mencegahnya.


“Kak, jangan berlebihan.” protes Diana seraya melepaskan genggaman tangannya pada tangan Alex.


Tidak memperdulikan perkataan Diana, Alex langsung menelpon Elios untuk segera datang ke Bali dan memantau kondisi istrinya, dan langsung keluar dari kamar sebentar untuk menelpon Elios.


“Elios,”


“Ya,”


“Datanglah kemari secepatnya!”


“Apa?” Alex mengurutkan pangkal hidungnya dan terlihat pusing. “Terserah kau saja.”


Setelah selesai menelpon Elios, Alex segera masuk ke dalam kamar untuk menemui Diana kembali. Namun, Ia di kejutkan dengan permintaan Diana.


“Kak, aku mau pulang.” ujarnya tanpa isakan namun masih dengan air mata yang menetes membasahi wajah cantiknya.


Alex tertegun, “Kenapa? Kita baru satu hari di sini,”


“Kak, aku mau bertemu dengan Ayah. Aku merindukannya, Kak.” Diana menarik napasnya dalam-dalam. “Entah kenapa, aku merasa khawatir dengannya.”


Hati Alex mencelos mendengar semua itu, bahkan Diana mengatakannya sembari terus menangis. Ia merasa tidak tega melihatnya, hatinya mendadak begitu nyeri dan menyesakan.


“Itu hanya perasaanmu saja. Elios mengatakan bahwa hormon ibu hamil memang tidak stabil.” ujarnya mencoba menenangkan Diana, lengannya mengusap lembut punggung gadis itu.


“Kak, aku mau telepon Ayah, Kak.”

__ADS_1


Alex menipiskan bibirnya dan menghela napas panjang. Apapun itu demi ketenangan hati gadisnya. Ia yakin bahwa Tuan Wijaya memahami situasinya kini.


“Tunggu sebentar.”


__ADS_2