Pengorbanan Cinta Diana

Pengorbanan Cinta Diana
Episode 92


__ADS_3

Sebenarnya Diana juga tidak enak hati jika harus menolak suaminya terus menerus. Diana tahu jika batas waktu yang di berikan dokter padanya sudah selesai, tapi kini suasana hatinya lah yang mengatakan tidak. Diana masih berkabung dan alasan lain datang karena mereke masih berada di kediaman ayah Diana menbuat Ia semakin enggan melayani Alex. Rasanya seperti tidak leluasa saja.


“Tidak, Kak.” tolaknya halus lalu melepas pelukan Alex dari tubuhnya. Alex mengerti situasinya oleh karena itu kini Ia tidak akan memaksa Diana.


Setelah pelukan mereka terlepas Diana beringsut dari ranjang dan melihat Alex masih saja asik memejamkan matanya. Diana berkerut heran apakah suaminya itu tidak berangkat untuk bekerja.


“Kak, sudah siang.” ujarnya sembari menarik selimut yang menutupi tubuh Alex.


“Biarkan seperti ini, aku tidak pergi bekerja.” jawabnya menarik Kembali selimut untuk menutupi tubuhnya.


“Kenapa?”


“Aku bosnya jadi tenang saja,” Ia membuka matanya perlahan kemudian tersenyum. Diana berkerut heran melihatnya.


Sudahlah jika itu yang di katakan Alex maka itu pula yang akan terjadi. Diana beranjak untuk masuk ke dalam kamar mandi dan segera membersihkan diri. Setelah itu Ia akan turun untuk sarapan. Sepertinya ketika perasaanya mulai pulih, nafsu makannya bertambah dua kali lipat.


***


Beberapa menit Diana sudah menyelesaikan acara mandinya dan kini Ia sudah siap untuk turun dan sarapan. Saat keluar dari kamar mandi Ia melihat Alex yang sudah terduduk di tepian ranjang sembari menatap layar ponselnya.


“Siapa yang datang menemuimu kemarin?” tanyanya dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


Diana berkerut kening dan berpikir sejenak, “Oh, Ghani, Kak.”

__ADS_1


“Apa dia mengatakan sesuatu?”


“Hanya berbela sungkawa saja,” jawabnya singkat. Alex merasa lega akan hal itu, syukurlah semua masalah di hadapan Diana masih bisa di kendalikan.


“Kak mandi lalu turun untuk sarapan,” ujarnya sembari terus menggosok rambutnya yang basah menggunakan handuk.


“Ya,” lalu Alex menyimpan kembali ponselnya ke atas nakas dan beranjak mendekati Diana.


Diana menatap wajahnya saat lelaki itu berdiri sangat dekat dengan dirinya. Tiba-tiba Alek memeluk pinggang Diana untuk Ia dekatkan dengan tubuhnya, meskipun dekat namun tetap terhalang oleh perut besar Diana.


“Kak,” ujarnya saat Alex mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Diana.


Tidak butuh waktu lama untuk Alex meraih bibir mungil milik istrinya, lalu yang Ia lakukan adalah menciumnya, ******* dan menghisapnya lembut. Dan Diana memejamkan matanya menikmati sentuhan yang Alex berikan, Ia mulai membuka mulutnya agar ciuman mereka bisa semakin dalam.


Suara lembut tercipta saat bibir keduanya mulai terlepas, Diana membuka matanya dan kembali mengatur napasnya. Entah mengapa ada rasa kecewa di akhir ciuman mereka, Diana merasa bahwa Ia tidak rela Alex melepaskannya begitu cepat.


“Tunggu aku, kita turun bersama.” ujarnya sembari mengusak lembut puncuk kepala Diana lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


***


Diana dan Alex sudah duduk meja makan dan sarapan sudah lengkap tersaji di sana, Nameera baru saja datang dan duduk untuk memakan sarapannya. Sedangkan ibu Diana, Ia selalu mengurung dirinya sendiri di kamar setelah suaminya tiada.


Diana melirik tempat duduk yang kosong di sampingnya, kursi yang selalu ayahnya duduki jika sedang makan bersama. “Kak, ibu tidak datang untuk sarapan?” tanyanya pada Nameera, seketika aktivitas wanita cantik itu terhenti, Ia langsung menurunkan roti dan pisau yang berbalur selai kacang di tangannya.

__ADS_1


Raut wajahnya seketika berubah menjadi sedih, “Ibu berada di dalam kamarnya, dari kemarin dia tidak mau makan.” jawab Nameera melemah.


“Aku akan mengantarkan sarapan untuknya,” Nameera hanya menatap Diana dan terdiam, sementara Alex yang mendengar itu langsung mencekal lengan Diana.


“Kak, aku akan baik-baik saja.” ujarnya tenang, lalu Ia mulai menyimpan beberapa lembar roti ke dalam piring dan menuangkan segelas susu.


“Biarkan Nameera saja yang melakukannya,” ujar Alex, karena Ia tahu bahwa ibu tiri Diana sangatlah kasar. Alex khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


“Kak biarkan--” suaranya tercekat saat Ia melihat sosok ibunya berjalan mendekat lalu terdusuk di kursi meja makan. Diana menatapnya tidak tega, Ia terlihat sangat kacau dengan wajah yang pucat dan matanya yang sembab.


“Duduklah,” ujar Nyonya Wijaya dingin tanpa mengalihkan pandangannya. Diana mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya Ia menyimpan segelas susu yang hendak Ia bawa tadi ke hadapan ibu tirinya. Setelahnya Ia duduk kembali di kursinya.


Suasana menjadi hening saat Nyonya Wijaya hadir di antara mereka, mereka terlihat canggung dan kaku. Sebenarnya hal yang paling mereka takutkan tak lain jika wanita paruh baya itu mengamuk karena kehadiaran Diana di antara mereka. Namun semua itu di luar dugaan, Ia malah meraih gelas berisikan susu hangat yang tadi Diana berikan lalu meminumnya perlahan. Sebelum akhirnya Ia mengatakan, “Aku bahkan tidak mempunyai tenaga untuk memarahimu,” ujarnya, lalu setetes cairan bening itu jatuh membasahi wajahnya.


Lalu Ia meraih piring berisikan roti yang tadi Diana siapkan untuknya, lalu memoleskan selai coklat di atasnya. Isak tangisnya masih terdengar walau jelas Ia tahan. “Di hari terakhirnya ayahmu masih saja mencemaskanmu,” lalu memakan potongan roti pertamanya. “Ia memintaku menjagamu,” Ia mulai terisak, “bagaimana bisa dirinya juga memintaku untuk menjaga cucunya.” kini Ia mulai menudukan wajahnya lebih dalam lagi. Suara isak tangisnya kini terdengar begitu nyata dan menyakitkan.


“Dia berkata bahwa aku harus menyayangimu layaknya aku menyayangi Nameera. Bagaimana aku bisa melakukan itu?” tuturnya sembari terus terisak.


Seketika tubuh Diana bergetar hebat, hatinya meringis perih setelah mendengar itu semua. Walaupun Ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu, tapi wanita paruh baya ini selalu ada untuknya ketika Diana kecil. Walau dengan amarahnya, Ia masih tetap memperhatikan Diana. Diana merasa itu semua wajar di saat dirinya adalah putri dari istri kedua ayahnya, yang secara tidak langsung tidam mereka harapkan kehadirannya.


“Ibu sudahlah,” di samping ibunya Nameera juga terisak, Ia tidak tega melihat ibunya seperti itu.


“Jagalah dirimu baik-baik, aku mengatakan semua ini untuk ayahmu.” setelah mengatakannya, Ia beranjak pergi untuk memasuki kamarnya kembali.

__ADS_1


Diana menatap kepergiannya hingga akhirnya bayang-bayangnya hilang terhalang pintu. Diana tahu semuanya tidak akan mudah, tapi walau begitu ibu tirinya tetap saja mengatakan semua itu pada dirinya.


__ADS_2