
Diana berjalan menuju pintu, sebelum membuka kenop pintu Ia melihat dari jendela kaca terlebih dahulu untuk melihat siapa yang datang. Ternyata itu adalah kakaknya Nameera, entah Diana harus bagaimana menghadapinya, taoi yabg jelas Diana tahu jika Nameera tidak akan pernah menerima jika Ia menikahi kekasihnya.
Sejak hari pernikahan kemarin Ia belum bertemu langsung dengan Nameera, Diana ingin meminta maaf langsung kepada Nameera. Ia merasa bersalah karena sudah merebut kebahagiaan kakaknya sendiri.
"Kakak ..." Gunamnya, dengan segera Ia membukakan pintu rumahnya.
PLAK!!! Sebuah tamparan keras mendari di pipi manisnya, gadis itu hanya meringis kesakitan menerima apa yang di lakukan Nameera terhadap dirinya. Diana mengerti, Ia tentu tahu perasaan Nameera saat ini. Jika Diana berada di posisinya pun, Ia akan bertindak sama.
Nameera, tanpa di persilahkan masuk Ia langsung berjalan ke dalam rumah. Diana yang masih meringis kesakitan hanya memegang pipi yang di tampar Nameera tadi dengan sebelah telapak tanganya dengan mata yang berkaca kaca menahan tangis.
"Seharusnya semua ini miliku! Alex dan semua kemewahan ini! " teriaknya dengan melentangkan kedua lenganya dan menatap seisi rumah.
"Kau! Susah payah aku menjalin hubungan dengan Alex tapi kau malah merebutnya dari ku! Dasar j*lang! " Ia menunjukkan jari telunjuknya ke arah Diana dengan amarahnya yang membabi buta.
Nameera berjalan mendekat ke arah Diana yang sedari tadi masih berdiri di depan pintu, Nameera lalu menjambak rambutnya dengan sangat kuat, membuat Diana meringis kesakitan, meronta agar Nameera segera melepaskannya. Tapi Nameera,tidak peduli bagaimanapun Diana meronta atau berteriak. Ia malah semakin mencengkram rambut Diana dengan kuat dan kasar.
"Kak... jangan Kak sakit Aaaaaah." Teriaknya yang seakan membuat Nameera semakin bersemangat untuk mengintimidasinya
__ADS_1
Cengkramanya begitu kuat, semakin Diana meronta maka semakin sakit pula rasanya. Nameera mendongakan waja Diana ke atas, “Inilah akibatnya, jika kau berani merebut apa yang aku punya! Kau tahu, dari dulu kau hanya bisa memungut barang bekas milikku saja. Tidak lebih! Dasar j*lang!”
Amarahnya seakan bertambah ketika Ia melihat wajah Diana, Nameera sungguh membencinya. Dahulu ataupun sekarang, Ia begitu membencinya. Nameera, dengan teganya Ia menghempaskan cengkraman pada rambut Diana dengan kasar, sehingga membuat kepala Diana terbentur dengan sangat keras pada meja yang berada di antara sofa di ruang tamu.
"Aaaaaaaah... Kak, jangaaan ... "
DUGH!!! Nameera seakan puas sudah menyiksa Diana seperti itu, Ia pun berbalik menuju pintu untuk pergi meninggalkan Diana. Suara teriakan itu terhenti, tidak ada jerit atau tangisan Diana yang terdengar. Itu tampak hening Nameera segera menoleh ke arah Diana. Nameera terkejut tak menyangka, Diana terlihat sudah tidak sadarkan diri dengan darah segar yang mengalir membasahi wajahnya. Kepalanya terbentur sangat keras hingga menyebabkan luka yang begitu parah.
Nameera seketika kalap melihat kondisi Diana yang seperti itu, tiba tiba dua orang satpam masuk karena mendengar suara gaduh dari dalam mansion. Kedua satpam itu terkejut melihat kondisi Diana yang sudah tak sadarkan diri dan terkulai lemas di atas lantai dengan darah segar yang terua mengalir membasahi wajah cantiknya. Kedua satpam itupun segera mungkin memanggil Ambulance untuk memberikan Diana pertolongan pertama dan segera membawa Diana ke rumah sakit.
Dengan sangat panik Nameera langsung menghubungi ibunya untuk segera datang ke rumah sakit. Jika terjadi sesuatu pada Diana Ia takut akan di salahkan, dan yang lebih di takutkan mungkin saja Ia akan di masukan ke dalam penjara. Ia pun menelpon Alex dan memberitahukan semuanya pada Alex, Ia yakin pasti bahwa Alex akan menolongnya keluar dari masalah ini.
Sesampainya di rumah sakit Alex melihat Nameera dan Ibunya yang sedang duduk di luar ruangan IGD menunggu dengan raut wajahnya yang cemas. Nameera menyadari kehadiran Alex, Ia langsung berlari dan memeluk tubuh Alex dengan sangat erat.
"Sayang tolong aku ... Aku tidak sengaja melakukanya. Aku hanya kesal atas pernikahan kalian, lalu aku sedikit memarahinya. Sungguh, aku tidak menyangka bahwa Ia akan berani menghempaskan dirinya sendiri sampai melukai kepalanya, Diana mencoba untuk memfitnahku. " Rengeknya dengan kata penuh kebohongan sembari terus memeluk Alex erat.
Ibunya membenarkan perkataan putrinya tersebut tidak peduli hal itu salah atau benar walaupun jelas Ia tidak berada di sana saat kejadian itu, tapi Ia akan tetap terus mendukung putrinya sampai akhir. Alex hanya terdiam tanpa ekspresi, Ia hanya mengepalkan jemarinya dengan sangat kuat. Alex melihat Nameera yang sedari tadi memeluknya erat dengan tangisan dan rengekan yang di lakukanya.
__ADS_1
Alex hanya terdiam, Ia mencoba menenangkan Nameera. Alex bertanya dengan detail, kenapa atau siapa saja yang melihat kejadian tersebut. Namun, Nameera berkata bahwa di dalam mansion hanya ada mereka berdua, satpam pun hanya berjaga di luar dan tidak mengetahui apapun. Beruntung tidak ada orang di sana, Nameera bisa bernafas lega Ia tidak akan di salahkan, karena tidak ada saksi yang melihatnya.
“Apa kau terluka? ” tanya Alex menatap wajah Nameera, Nameera menggeleng pelan.
Alex bukan pria bodoh yang bisa di kelabui begitu saja, Ia tentunya tahu mana yang berbohong dan yang tidak. Dengan memperhatikan sikap seseorang, Alex akan tahu jika orang itu sedang berbohong. Apalagi gadis di hadapanya kini, Ia sangat mengenalnya.
Dokter yang menangani Diana pun keluar setelah selesai melakukan perawatan, Alex langsung menghampirinya dan bertanya bagaimana keadaan Diana.
“Lukanya begitu parah, benturan yang begitu keras membuatnya kehilangan banyak darah. Beruntung, bank daraj di rumah sakit ini masih cukup untuk menolongnya. ” Ucap Dokter itu menjelaskan, kemudian berlalu pergi.
“Dia gila! Berani sekali dia menyakiti dirinya sendiri demi memfitnahku. Sayang, tolong aku. ” Alex hanya terdiam dan tidak menggubris perkataan Nameera.
“Kau dan ibu pulanglah dulu, biar aku yang mengurus masalah ini. ” Nameera tertegun, bagaimana jika Diana mengadu. Ia menolak untuk pulang.
“Tidak, sebaiknya aku menunggunya sadar. ” Ucap Nameera yang sedikit gelisah. Alex hanya mengiyakan keputusan Nameera, mereka bertiga pun menunggu di luar ruangan IGD hingga Diana bisa di pindahkan ke ruang rawat.
Sebuah ranjang di dorong keluar oleh beberapa perawat dari ruangan IGD, itu Diana. Dengan segera mereka bertiga pun mengikutinya.
__ADS_1
Bersambung....