
Nameera menuntun Diana sepanjang perlajalan menuju lantai bawah dimana bioskop berada. Sesampainya di sana antrian popcorn ternyata sangat panjang. Sementara Nameera tidak bisa jika menonton tanpa di temani cemilan itu.
“Kau duluan saja, filmnya akan segera di mulai tiga menit lagi.” ujarnya sembari memberikan satu tiket kepada Diana.
“Tapi, Kak--”
“Sudah cepat,” ujar Nameera mendorong pelan punggung Diana agar Ia segera masuk ke dalam.
Diana menatap tiket yang tadi di berikan oleh Nameera, sembari berjalan Ia menatap beberapa orang yang berlalu lalang. Sesekali Ia menengok ke arah belakang dimana Nameera tampak tengah berdiri di antara orang yang mengantri popcorn.
“Diana?” ujar seseorang yang lalu menggenggam pergelangan tangan Diana.
Diana terhenyak dan langsung berbalik, “Kak Stefi,” Ia menatapnya heran, “Kakak sedang apa disini?” tanyanya sembari menatap sekeliling, pandangannya tengah mencari seseorang.
“Ah, aku di sini bersama Elios. Tapi tadi kami bertemu dengan Alex dan memberitahumu jika kau ada di sini, jadi aku menyusulmu.” jawabnya tersenyum lebar.
“Hm ....” Diana menipiskan bibirnya kemudian mengangguk mengiyakan perkataan wanita cantik di hadapannya.
“Film mu, ayo kita masuk.” ajaknya sembari menarik lengan Diana.
Saat mereka hendak masuk ke dalam ruang bioskop, pangkah Diana terhenti saat seseorang memegang pergelangan tangannya yang satunya. Refleks Stefi pun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Diana.
Ia berkerut, “Siapa dia?” tanyanya dengan mengangkat wajah ketika melihat wanita berwajah angkuh di hadapannya.
Nameera memutar bola matanya jengah, “Seharusnya akulah yang bertanya, siapa kau?” tanyanya sembari menunjuk jari telunjuknya di depan wajah Stefi.
“Hei--”
“Kak, dia adalah kakakku.” ujar Diana memotong perkataan Stefi.
Stefi meliriknya dari atas sampai bawah, “Benarkah?” Ia terkekeh, “sangat berbeda dengamu, Diana.” ujarnya, membuat wanita di hadapannya semakin merasa kesal.
__ADS_1
Kalimat 'sangat berbeda' yang Stefi ucapkan tak lain untuk menyindir Nameera. Nameera terlihat sebagai wanita yang menyebalkan di mata Stefi, sedangkan Diana sangatlah anggun dan baik hati.
Sorot mata tajam di antara keduanya, membuat Diana merasa bingung harus bagaimana. Kedua wanita di hadapannya ini terlihat tidak akur padahal mereka baru saja bertemu.
“Kak, filmnya.” ujar Diana mengalihkan perhatian keduanya.
Nameera lebih dulu melangkah masuk ke dalam bioskop meninggalkan Stefi dan Diana di luar. Stefi mendesis kesal.
“Apakah benar dia adalah kakakmu?” tanyanya yang hanya di tanggapi senyum tipis oleh Diana.
***
Beberapa menit berlalu semenjak mereka masuk ke dalam ruang bioskop, Diana merasa tidak nyaman dan sesekali membenarkan posisi duduknya, membuat Nameera dan Stefi melihat ke arahnya dengan raut wajah cemas.
“Kenapa?” tanya Nameera dengan nada khawatir.
“Apa kau merasa tidak nyaman?” lanjut Stefi bertanya.
“Hei katakan sesuatu,” cecar Nameera yang dengan segera mendapat sorot mata tajam dari Stefi.
Nameera adalah tipe wanita yang tidak sabaran, terlebih melihat kondisi Diana yang seperti ini semakin membuatnya merasa cemas di tambah adiknya itu tak kunjung berkata apa-apa. Sama halnya dengan Stefi, Ia juga panik dengan kondisi Diana. Namun wanita itu lebih memilih tenang menghadapi wanita hamil di sampingnya.
“Lebih baik kita keluar saja, ya?” tanya Stefi yang mendapat anggukan dari Diana.
Nameera dan Stefi menuntun Diana keluar dari bioskop, walau sebenarnya Diana merasa baik-baik saja. Kedua wanita di hadapannya ini yang terlalu waspada. Ketika di dalam lift, Nameera dan Stefi segera ingin sampai di lantai atas dimana para lelaki berkumpul disana. Mereka takut jika terjadi apa-apa kepada Diana.
“Akhirnya,” Stefi bernapas lega saat bunya lift berdenting, menandakan bahwa mereka sudah sampai di lantai tujuan.
***
“Ada kabar apa?” tanya Alex setelah menyesap hot cofe miliknya.
__ADS_1
Mendadak Elios ingin bertemu dengannya, dan kebetulan sekali Alex tengah mengobrol dengan Reino. Ketiga lelaki yang selalu membicarakan bisnis di saat pertemuannya.
“Pak Reino,” ujar Elios lalu menyalami Reino di di sambut baik oleh Reino, lalu setelahnya terduduk.
Elios menghela napas lelah, “Ternyata ayahmu sangatlah tidak mudah,” ungkapnya.
Alex bergeming mendengar ungkapan dari temannya itu. Sebenarnya beberapa hari lalu ketika Ia berbincang dengan Elios di dalam club, Ia menarik kembali perkataanya untuk menyerahkan beberapa berkas mengenai perusahaan ayahnya ke pihak berwajib. Alex menginginkan waktu lebih. Walau Ia ingin semua kekacauan ini terhenti, tapi pada kenyataanya pria paruh baya itu adalah ayahnya.
“Dan ....” Elios berhenti sejenak, melirik Alex dan Reino secara bergantian. “semua kekacauan ini membuat Tuan Wijaya drop dan harus di rawat di rumah sakit.”
Ungkapnya itu sontak membuat kedua lelaki di hadapannya terkejut. Begitupula dengan wanita di belakang mereka yang tidak sengaja mendengar percakapan Elios.
“Siapa Kak? Siapa yang harus di rawat di rumah sakit,” Diana berjalan mendekat dengan hatinya yang berdebar. Samar-samar Ia mendengar nama ayahnya di sebutkan. Diana bertanya kembali hanya untuk memastikannya.
“Keadaanya sangat parah,” sambung Elios. Membuat semua orang semakin terkejut.
“Diana duduklah dulu,” saran Nameera lalu memegang lengan Diana agar segera duduk di kursinya, namun Diana segera menepisnya.
“Tidak, Kak!” tolaknya, air matanya sudah mengenang di pelupuk matanya.
“Kak!” Ia menggoyangkan bahu Alex, namun suaminya itu masih bergeming di tempatnya membuat Diana semakin yakin dengan apa yang baru di dengarnya barusa. “Ya ampun, Kak!” Ia mendongakan kepalanya ke atas mencoba menghalangi air matanya yang akan membludak keluar. Tolong yakinkan Diana bahwa semua ini tidak benar!
“Kak Elios ....” Ia beralih menatap Elios ketika Alex tak kunjung mengubris pertanyaanya.
“Katakan saja, Lex. Kau tidak punya banyak waktu.” ujar Elios.
Diana semakin terguncang setelah mendengar perkataan dari pria di hadapannya. Ia tak dapat lagi menahan gejolak air matanya yang mengalir keluar membasahi wajah cantiknya. Tangisnya terisak, Ia benar-benar sangat tidak siap dengan kabar yang akan di sampaikan selanjutnya.
“Kak, Ayah kenapa Kak?” kali ini Ia mengguncang lengan Nameera.
Nameera menggeleng pelan, bahkan Ia sendiri tidak tahu menahu dengab kondisi ayahnya saat ini. Yang Nameera tahu hanyalah situasi perusahaan ayahnya yang tengah di ambang kebangkrutan, tapi Ia tidak tahu dengan kondisi kesehatan ayahnya. Nameera juga sangat terkejut ketika mendengar itu semua.
__ADS_1
“Ayahmu harus di rawat di rumah sakit karena serangan jantung.” akhirnya Alex membuka suara.