Pengorbanan Cinta Diana

Pengorbanan Cinta Diana
Episode 93


__ADS_3

Hari ini Diana memutuskan untuk pulang ke kediamannya. Ia tidak mau berlama-lama berada di rumahnya dan menganggu ketenangan ibu tirinya. Karena wanita paruh baya itu terlihat sangat kacau dan tertekan semenjak kematian Tuan Wijaya.


Diana tengah duduk di sebuah kursi santai di pinggir kolam renang dengan satu gelas jus mangga yang menemaninya. Ia menatap Alex lekat yang tengah berenang di kolam renang. Lelaki itu terlihat sexi dengan bertelanjang dada dan badannya yang basah. Diana tersenyum kecil melihatnya.


“Sudah selesai?” tanya Diana ketika Alex duduk di kursi santai sebelahnya, lalu memberikan handuk kepada Alex.


“Ya,” Alex menutupi dadanya menggunakan handuk lalu meminum jus mangga milik Diana. Diana tersenyum ketika melihat itu. “Kenapa?” tanyanya heran sembari mengusap kasar rambut pekatnya yang kasar.


“Tidak,” Diana mengalihkan pandangannya dari Alex, Ia masih menetapkan senyuman manisnya. Membuat Alex berkerut heran. “Aku hanya merasa beruntung. Ketika ayahku sudah tidak ada, aku mempunyai kau di sisiku.” Ia masih meluruskan pandangannya, sementara Alex masih menatapnya lekat. “dan Leah juga akan menjadi pelengkap di antara kita,” Ia menundukan wajahnya menatap perut besarnya lalu mengelusnya lembut.


“Leah?” ujar Alex heran.


“Iya, putri kita.” Diana menatap Alex dengan senyuman.


“Jika yang lahir itu bayi laki-laki?”


“Aku belum memikirkannya,” Diana tersenyum kuda memperlihatkan deretan gigi putihnya. Apakah Alex pernah mengatakan jika istrinya ini sangat cantik ketika tersenyum? Diana benar-benar cantik.


Alex merasa tenang ketika melihat gadis itu akhirnya tersenyum. Selama beberapa hari ini Ia khawatir melihat kondisi Diana yang tampak murung, tapi nyatanya gadis itu mampu mengendalikan suasana hatinya dengan baik.


“Kak,”


“Ada apa?” tanyanya dengan nada cemas.


“Coba ini,” Diana mengantarkan telapak tangan Alex untuk memegang perutnya untuk merasakan pergerakan anak mereka di dalam sana. “dia merespon dengan sangat baik, bukankah dia setuju aku memberi nama Leah?” ujar Diana masih dengan senyuman manisnya dan terlihat begitu senang.


“Atau mungkin dia tengah protes karena dia adalah bayi laki-laki?” ungkap Alex menatap Diana dengan tatapan jahilnya.


Seketika senyuman di bibir Diana menghilang, “Kak!” Ia mencebik kesal.

__ADS_1


Alex terkekeh kecil, lalu Ia mendekat ke arah Diana lalu menyimpan lengannya di antara leher dan bawah lutut Diana, kemudian Ia menggendong tubuh istri kecilnya.


“Atau mungkin Leah minta di jenguk?”


“Kak,” Diana membeliak saat Alex mengatakan hal seperti itu, seketika wajahnya merona merah. “Kau basah, Kak!” protesnya.


Alex hanya memberikan senyuman penuh arti kepada Diana, sementara istrinya itu semakin dalam membenamkan wajahnya pada dada bidang Alex.


Alex membopong tubuh Diana sampai mereka sampai di lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya. Alex merebahkan tubuh Diana di atas ranjang lalu meregangkan otot lengannya sesaat sebelum Ia berkata, “Kau sangat berat.” yang sukses membuat Diana mencebik kesal dan langsung berbalik membelakangi Alex.


Kenapa Alex harus mengeluarkan kata-kata yang akan membuat mood ibu hamil itu hancur? Akhir-akhir ini Ia begitu sensitif jika menyinggung mengenai berat badannya dan Alex tahu itu. Alex mengusak rambutnya ketika baru saja menyadari dirinya telah menyinggung istri kecilnya itu.


Alex duduk di sampingnya, mencondongkan tubuhnya agar menatap wajah istri cantiknya. “Diana ....”


“Tidak, Kak! Aku lelah,” jawab Diana yang langsung mengerti dengan maksud Alex. Sebenarnya beberapa menit yang lalu Diana sudah siap menyerahkan dirinya, jika saja Alex tidak menyinggungnya.


“Ya sudah,” Alex menghela napas kecewa lalu Ia beranjak dari sana.


“Kak,” Diana berbalik dan beranjak duduk dari tidurnya. Alex menghentikan langkahnya saat Ia baru saja sampai di ambang pintu kamar mandi.


“Ya?” Alex berbalik menatap Diana yang terduduk di atas ranjang.


“Kak aku--”


“Diana kau tidur saja ya? Aku akan segera mandi,” potongnya lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Hati Diana mencelos saat melihat perilaku Alex yang seperti itu. Apakah Alex kecewa karena sikapnya, relung hati Diana meringis perih mendapat perilaku seperti itu dari suaminya. Sebenarnya itu semua karenanya, Diana lah yang sangat kekanakan. Air matanya mengenang ketika menatap pintu kamar mandi. Ia tidak bisa berkata apa-apa selain menyesali sikapnya.


Sebenarnya Alex tidak bermaksud untuk menolak Diana seperti itu, hanya saja ponselnya di atas nakas tiba-tiba bergetar. Elios menelponnya pasti ada sesuatu yang penting. Setelah masuk ke dalam kamar mandi, Alex langsung menerima panggilan Elios.

__ADS_1


Diana merasa bahwa dirinya sangat cengeng, Ia selalu mudah menangis dengan hal sekecil apapun. Seperti saat ini, Diana terus saja menangis karena sikap Alex tadi. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, Diana langsung menyeka air matanya yang mengalir kasar di pipinya. Posisinya kini tengah berbaring di atas ranjang.


Setelah beberapa menit Alex menyelesaikan acara mandinya, Ia berjalan menuju arah lemari dan mengambil setelah formal. Diana yang melihat itu seketika beranjak.


“Mau kemana, Kak?” tanyanya ketika Alex mempersiapkan beberapa keperluannya.


“Ada urusan mendesak,” jawabnya dengan nada santai, namun terasa dingin bagi Diana.


Mata Diana kembali mengenang, “Tapi sudah malam, Kak.” ujarnya, padahal jelas waktu masih menunjukan pukul enam lebih sepuluh menit.


Alex menghela napas lelah, istrinya ini benar-benar suka sekali bertanya. Ia menghentikan aktivitasnya saat Ia baru menyampaikan dasi di lehernya. Lalu kemudian Ia berjalan menghampiri Diana yang terduduk di atas ranjang.


“Ada urusan penting yang harus aku selesaikan,” ujarnya lembut sembari menatap Diana. “Istirahatlah dulu dan jangan menungguku,” ujarnya lagi, kini Ia mengusap lembut puncuk kepala Diana.


“Jika aku melarang Kakak pergi, apa kakak akan menurutiku?” ujarnya dengan mata berbinar.


Alex terdiam sesaat sebelum akhirnya Ia berkata, “Tidak bisa,” ujarnya sukses membuat Diana kecewa.


“Baiklah,” Diana kecewa, Ia membalikan tubuhnya dan hendak berbaring kembali. Namun tangan Alex lebih cepat untuk menghentikannya.


“Ikatkan dasiku dulu,” pinta Alex ketika Diana sudah berbalik untuk menatapnya. Diana semakin merasa setelah mendengar itu semua, Ia pikir bahwa Alex akan membatalkan acara perginya.


Diana mendekatkan tubuhnya ke tempat Alex, lalu Ia meraih dasi Alex dan mulai mengikatkannya. Alex yang memperhatikan mimik wajah Diana yang tampak kesal dan memerah seketika meniupnya lembut, membuat gadis itu mengerjap beberapa kali karena hembusan napasnya.


Istrinya itu masih bergeming di tempatnya dan focus pada dasi yang tengah Ia ikatkan di kemeja Alex, sementara Alex masih terus saja meniup wajahnya. Wajah Diana semakin memerah ketika mendapat perlakuan Alex seperti itu, dan Ia mengerjapkan matanya semakin sering.


“Kak!” protesnya lalu melepaskan dasi yang tengah Ia pasang. “sedang apa!” Ia memberengut menatap ke arah Alex.


Alex menatapnya dengan senyum tipis, “Wajahmu memerah seperti api, dan aku sedang meniupnya agar padam.” ujarnya yang sukses membuat Diana tak kuat lagi menahan tawanya.

__ADS_1


Sebenarnya Diana sedari tadi menahan geli karena tingkah laku suaminya itu, Alex bisa saja mempermainkannya ketika Ia sedang merajuk. Hal-hal kecil inilah yang menjadi pelengkap di dalam rumah tangga mereka.


__ADS_2