Pengorbanan Cinta Diana

Pengorbanan Cinta Diana
Episode 75


__ADS_3

Diana merentangkan tubuhnya di atas ranjang, Ia menutup kedua matanya menggunakan lengan kanannya. Diana bingung, mengapa ibu mertuanya meminta dirinya untuk merayakan ulang tahun Alex. Sedangkan dirinya tidak mengetahui apapun mengenai Alex. Apa makanan kesukaannya? Apa yang Alex suka dan tidak suka, Diana tidak hafal dengan semua itu.


Diana menghentakan kakinya ke atas ranjang, Ia kesal lalu terbangun secepat kilat. Diana segera beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar. Dengan membawa buku beserta pena, Ia hendak menanyakan apa saja yang di sukai atau tidak di sukai oleh Alex, Diana akan menanyakannya kepada beberapa pelayan di dapur.


Sesampainya di dapur, Diana melihat dua orang koki yang sibuk memasak dan beberapa pelayan lainya yang juga sibuk mengiris dan menyiapkan bahan makanan. Setelah melihat Diana datang, mereka langsung menghentikan aktivitasnya dan menunduk serta menyapa nona mudanya dengan ramah. Tak lama seorang pelayan datang menghampirinya.


dengan wajahnya yang tertunduk, “Apa kau memerlukan sesuatu, Nona? ”


“Kau tahukan perihal ... ibu mertuaku, Ia meminta aku untuk merayakan ulang tahun Alex. Bisakah kau membantuku? ” ujar Diana canggung, Ia juga merasa sangat malu harus melibatkan pelayan karena ketidaktahuannya mengenai suaminya itu.


“Mengenai itu ... nyonya besar sudah menyiapkan semuanya, Nona. Jadi kau tenang saja. ”


“Benarkah? ” tanya Diana berbinar, “Benar, Nona. ”


Diana menghela napas lega, akhirnya Ia tidak perlu repot-repot menyiapkan segalanya. Diana tersenyum girang, Ia tidak perlu takut kalau Alex tidak akan menyukai persiapan yang sudah di buat, karena semua itu adalah perencanaan ibunya, pasti seorang ibu tahu apa yang terbaik untuk anaknya.


“Baiklah, terimakasih. Aku akan kembali ke kamar, ”


“Tunggu, Nona. ” sebelum Diana berbalik dan hendak ke kamarnya, pelayan tadi langsung menghentikan Diana. “Maaf, Nona. Tapi ... untuk hari ini anda tidak bisa memasuki kamar anda. ” ujarnya sedikit gugup.


Diana mengerutkan keningnya, “Kenapa? Ada apa dengan kamarku? Baru saja aku dari aana dan semuanya baik-baik saja. ” tanya Diana heran.


“Em, sebenarnya ... ”


“Nona, ikutlah dengan kami. Kau harus memilih gaunmu, ” beberapa Pelayan menarik lengan Diana menjauh dari dapur. Seorang pelayan yang tadi sempat di tanyai oleh Diana pun menarik napas lega.

__ADS_1


***


Setelah memilih satu gaun untuk Ia kenakan nanti malam, kini Ia tengah duduk di depan cermin dengan beberapa orang yang mengitarinya. Riasan, rambut hingga gaun semuanya telah di persiapkan dengan matang, dan yang selalu Diana pikirkan adalah semua ini terlalu berlebihan.


Beberapa kali Diana menguap ketika di dandani, Ia tidak bisa menahan kantuk yang tengah melandanya.


“Sudah siap, Nona. ”


Diana mematut dirinya di depan cermin. Ya, riasan seperti ini sering kali di gunakan olehnya semenjak Ia menikah dengan Alex. Diana sudah terbiasa melihat dirinya yang tampil berbeda dan terlihat lebih cantik dari biasanya ketika Ia di dandani.


“Apakah aku boleh pergi ke kamarku sekarang? ” tanya Diana dengan nada lemas, beberapa jam Ia hanya terduduk di deoan cermin dan tidak melakukan apapun, membuat tubuhnya sedikit merasa kaku.


“Tentu saja, Nona. Tunggulah Tuan muda Alex di kamarmu. ” jawab seorang pelayan sembari terkekeh kecil menatap beberapa pelayan lainya.


“Baiklah, Nona. Jangan melamun, ayo aku antar kau ke kamarmu. ” ujarnya sembari mengulurkan tangan ke arah Diana.


“Baiklah, ” Diana mengiyakan lalu menjabat tangan pelayan tersebut.


Dengan hati-hati, pelayan itu menuntun lengan Diana. Menaiki anak tangga satu persatu, memastikan bahwa nona mudanya itu tidak terpeleset apalagi sampai terjatuh. Bahaya sudah jika semua itu terjadi.


“Kau siap, Nona? ” tanyanya memastikan, sementara Diana hanya berkerut kening heran.


Pintu kamar Diana di buka secara perlahan, menampilkan dekorasi cantik dan indah layaknya sebuah pesta besar. Satu langkah Diana masuk ke dalam kamarnya, Ia di kejutkan oleh hiasan tempat tidur miliknya. Ranjang yang di hias sedemikian rupa seperti ranjang sepasang pengantin baru, membuat wajah Diana merona ketika melihatnya.


Diana tertegun, “Apa, apa semua ini? ” tanya Diana dengan gugup, tak lupa Ia menatap tajam seorang pelayan di sampingnya dengan wajahnya yang merona.

__ADS_1


“Semua ini telah di siapkan oleh Nyonya besar, Nona. Selamat menikmati dan bersenang-senang. ” ujarnya seraya melangkahkan kakinya keluar kamar, dan meninggalkan Diana seorang diri.


Diana tertawa kecut, wajahnya meringis karena tak kuat menahan malu. Mengapa Mama mertuanya selalu saja senang menyiksa dirinya dengan semua ini. Terakhir kali yang Ia ingat adalah, makan malam hari itu. Dimana Mama mertuanya itu menyiapkan kado khusus untuk Diana pakai di hadapan Alex. Satu buah lingerie. Menyeramkan!


***


Diana masih menunggu kedatangan Alex dengan wajahnya yang lesu, waktu sudah menunjukan pukul sembilan lebih sepuluh menit, namun Alex belum juga sampai ke rumah.


“Ck! Semoga malam ini dia tidak pulang, akan lebih bagus jika dia tidak melihat semua kekacauan ini, ” ketus Diana.


Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Sontak Diana langsung berdiri dari duduknya dan menatap seseorang yang datang. Alex, siapa lagi kalau bukan dirinya? Pelayan tidak akan berani memasuki kamar tanpa meminta ijin terlebih dahulu.


Jantung Diana semakin berdetak kencang tak beraturan. Kini Alex tengah berada di ambang pintu dan menatap ke dalam kamar dengan begitu lekat. Di tatapnya Diana dengan begitu dalam. Diana menundukan wajahnya ke bawah, Ia tidak mau kalau Alex sampai melihat wajahnya yang merah merona karena malu.


“Maaf, kau pasti tidak menyukainya. Ini bukan ... ”


Belum sempat Diana melanjutkan perkataannya, Alex sudah terlebih dahulu membungkan bibirnya. Alex meluumat bibir Diana lembut, sedangkan Diana hanya terdiam sembari matanya terus menatap wajah Alex yang berada begitu dekat dengan wajahnya.


Terasa napas Alex yang semakin tidak beraturan, ciuman lembutnya berubah menjadi ciuman rakus. Diana mulai memejamkan matanya dan membalas ciuman dari Alex. Tapi tiba-tiba, Alex melepas ciuman mereka, dengan kening yang masih menempel satu sama lain. Terasa napas hangat Alex menyapu wajah Diana, sementara Diana masih setia memejamkan wajahnya.


“Jangan melanjutkan perkataanmu, dan jangan membuatku kecewa malam ini. ” ujar Alex.


Entah dari mana Ia bisa mengatakan semua itu kepada Diana, yang pasti Ia hanya tidak ingin merasa kecewa dengan kelanjutan kalimat yang akan di katakan oleh Diana. Tiba-tiba saja perasaanya menjadi tak karuan ketika melihat wanita yang berada di hadapannya kini, tengah duduk dan menunggu kehadirannya dengan kamar yang telah di hias dengan sedemikian rupa. Hatinya merasa aneh, tersentuh dan merasakan sebuah kehangatan yang tak pernah Ia rasakan sebelumnya.


Diana membuka matanya kilat, Ia langsung menatap wajah Alex yang masih terpejam dengan napas yang sama tak beraturannya. Perasaan Diana menjadi tak karuan setelah mendengar semua ucapan Alex tadi.

__ADS_1


__ADS_2