
Di dalam ruang rawatnya, Diana di tinggalkan sendiri lagi, Alex tidak mengikutinya entah kemana perginya. Diana merasa kecewa, entah kecewa karena terlalu merasa bosan entah kecewa karena Alex tidak ada di sini bersamanya. Diana memutuskan untuk tidur siang, Ia tidak ingin seharian melamun dan memikirkan hal yang tidak-tidak, yang mana dapat mempengaruhi perasaannya.
Baru saja matanya ingin terpejam, tapi tiba-tiba Diana mendengar suara pintu terbuka. Diana langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu, yang datang adalah Alex, entah kenapa hatinya menjadi begitu senang setelah melihatnya. Diana langsung beranjak dan terduduk di atas ranjang, Alex melangkah mendekatinya.
“Kau sudah boleh pulang hari ini, bersiaplah. ” Ujar Alex menatap Diana, Diana tersenyum tipis dan senang, Ia juga sudah terlalu bosan berada di dalam rumah sakit.
Seorang perawat datang memasuki ruangannya, Ia meminta ijin untuk melepas selang infus pada tangan Diana. Diana hanya mengangguk dan perawat itu mulai melakukan tugasnya. Selang infus di lepas secara halus, darah segar mulai keluar, dengan sigap perawat itu menyekanya kemudian menplester luka Diana. Perawat itu tersenyum dan pamit pergi setelah selesi melakukan tugasnya.
Alex sibuk dengan layar ponselnya, sementara Diana bingung. Diana sudah di perbolehkan untuk pulang, tapi Ia sama sekali tidak memiliki baju ganti, apakah Diana akan keluar dari rumah sakit dengan tetap memakai baju rumah sakit. Diana masih terduduk di atas ranjang, sedangkan Alex duduk di atas sofa yang berada di pojok ruangan. Tiba-tiba Alex berjalan mendekat, menghampiri Diana namun matanya tetap Ia focuskan kepada layar ponselnya.
“Ayo kita pulang, ” Ujarnya, Diana menatapnya tajam.
“Bajuku? Apakah aku akan pulang seperti ini. ” Alex mengalihkan pandangnya kepada Diana, Ia berkerut kening kemudian menarik nafas panjang. Alex berjalan menjauh dan terlihat tengah menelpon seseorang, sedangkan Diana hanya berdiam di atas ranjangnya.
Beberapa menit setelah menelpon, seorang wanita cantik dan elegan datang ke dalam ruanganya dengan membawa satu kantung belanja. Kemudian, wanita itu berjalan mendekat ke arah Alex dan memberikan kantung belanja itu dengan sopan. Diana tahu itu adalah seorang pegawai dari butik merk terkenal, Alex pasti memintanya untuk mengirimkan pakaian untuk Diana. Kemudian, wanita itu pun dengan cepat berlalu pergi.
Alex berjalan mendekat ke arah Diana dan memberikan kantung yang berisi baju itu kepadanya, Diana tersenyum tipis dan langsung mengganti baju paseinnya dengan baju yang telah di berikan oleh Alex. Diana menatap tubuhnya, bajunya sangat indah ketika Ia kenakan. Diana juga sedikit merapihkan wajah dan rambutnya. Setelah selesai, Ia pun keluar dan berjalan mendekat ke arah Alex.
__ADS_1
“Aku sudah siap, ” Ucap Diana, Alex menatapnya tajam dari atas hingga bawah. Membuat Diana merasa tidak nyaman dan menatapnya heran.
Diana terlihat sangat sexy dengan dress yang Ia gunakan, Alex tertegun melihatnya. Sejak kapan gadis di hadapanya ini tumbuh dewasa, Ia terlihat lebih cantik dan sexy dari sebelumnya. Alex tersadar dari lamunanya menatap Diana, Ia kemudian mengajak Diana untuk segera pulang. Diana hanya mengangguk menurut, Alex menggenggam jemarinya erat dan berjalan bersampingan bersama Diana. Padahal dulu, mereka tidak pernah seperti ini. Mereka selalu berjalan berjauhan dan Diana selalu berjalan di belakang Alex. Tapi kini, Alex menggenggam jemarinya erat dan jalan beriringan. Suatu hal yang berbeda di antara mereka, Diana tersenyum tipis.
Sesampainya di mansion, Diana berjalan masuk terlebih dahulu sedangkan Alex tengah memarkirkan mobilnya. Di dalam mansion, seluruh pelayan tengah berjajar dan menyambut kepulanganya. Mereka semua tersenyum dan membungkukan sedikit badanya menghormati Diana, Diana hanya tersenyum membalas sambutan mereka. Tiba-tiba Alex datang dan langsung menarik lenganya, membawa Diana menuju kamar mereka berdua.
Sesampainya di dalam kamar, Alex mendudukan Diana di atas ranjang dan menyuruhnya untuk beristirahat. Diana menolak, pasalnya Ia sudah terlalu cukup beristirahat. Beristirahat berlebihan malah akan membuatnya merasa sangat sakit, Diana pun beranjak dan mencari ponselnya yang entah ada dimana. Diana sendiri juga lupa kapan terakhir kali memakainya dan menyimpan dimana.
Alex yang tengah duduk di sofa terus memperhatikan Diana, “Kau mencari apa? ” tanyanya, Diana berbalik dan menatap Alex.
“Ponselku. ” Jawab Diana singkat kemudian mencari kembali ponselnya.
Benar saja ponselnya berada di dalam laci meja riasnya, Diana berpikir apakah Alex yang telah menyimpan ponselnya?
Diana berjalan ke arah ranjang dan terduduk di sana, sedangkan Alex masih focus dengan macbook dan pekerjaannya. Alex adalah CEO sebuah perusahaan besar, pekerjaannya juga sangat banyak. Entah kenapa Ia lebih memilih mengerjakannya di rumah dan hanya akan pergi ketika ada pekerjaan yang penting saja.
Diana menyalakan layar ponselnya, sudah lama Ia tidak melihat sosial mediannya. Biasanya Diana selalu aktif bersosial media guna chat bersama teman-teman kampus atau teman sekolahnya dulu, itu bisa membuat hatinya senang dan sedikit melupakan pilu di dalam kehidupannya, apalagi dengan candaan konyol yang temana-temannya buat di grup chat. Tapi, sudah beberapa minggu ini dirinya selalu di sibukkan dengan hal yang datang tak terduga.
__ADS_1
Sebelum membuka aplikasi sosial medianya, Diana iseng membuka internet sekedar ingin mencari sesuatu hal untuk wanita yang tengah hamil muda, karena Ia tidak ingin melakukan kesalahan apapun selama kehamilannya. Baru saja Diana akan mengetik pencarian, matanya sudah di suguhkan dengan trending topik hari ini. Diana penasaran, Ia pun menekan trending topik itu untuk mengetahuinya lebih lanjut. Setelah menelusuri, Diana terkejut dengan beberapa artikel yang terpajang di halaman internet.
“Siapa wanita yang tengah kencan bersamanya? ”
“Apakah wanita itu adalah wanita yang CEO Alexis Grup bela di pesta keluarganya beberapa hari lalu? ”
“Hot News! CEO Alexis Grup di duga memilik Scandal! ”
Diaja berkerut kening, Ia semakin penasaran dengan isi dari artikel-artikel tersebut. Ia pun mencoba melihatnya, matanya terbelalak melihat foto Alex yang tengah berada di sebuah restoran bersama seorang wanita. Diana meneliti dengan detail foto yang tampak samar itu, foto Alex terlihat jelas namun tidak dengan foto wanitanya. Diana sempat berpikir bahwa itu adalah Nameera, namun tidak mungkin. Itu jelas orang lain dan bukan Nameera, Diana tidak tahu wanita mana lagi yang sedang bersama Alex.
Diana termangu, Ia hanya menatap foto yang kini tengah terpajang jelas di halaman web. Hatinya terasa sedikit terguncang, ternyata benar. Alex memang tidak akan pernah bisa menghargainya, Diana berpikir mungkin ini adalah jalan yang terbaik.
Tuhan tunjukan jalan padaku, agar aku tidak terlalu berharap lebih padamu.
Bersambung....
Pengalaman pribadi author ya, ternyata satu atau dua kali di kecewakan kita masih bisa memaafkan. Tapi ketika kita terus memaafkan tanpa kesadaran dari orang yang sudah kita maafkan? Sakit ya, capek juga. Tapi, kalau terus2an memaafkan dan terima diri kamu terus-terusan tersakiti itu termasuk hal yang bodoh juga ya. Semuanya punya batasan, sayang, cinta bahkan kesabaran.
__ADS_1
Oke sedikit sapaan dari author, dan tunggu terus next chapternya ya all. See you
-Salam sayang Author 💋 Jangan lupa tinggalkan jejak untuk terus menyemangati author ya 😍