
Kakinya mengayun pelan masuk ke dalam mansion, senyum merekahnya tidak pernah hilang dari wajah cantiknya. Diana terus memandangi boneka litte angel yang berada di dalam genggamannya, sesekali Ia menekan-nekan hidung mungilnya.
Di dalam kamar, Diana menatap ke arah cermin, melihat perutnya yang mulai membesar dengan usia kandungan yang sudah memasuki 4 bulan. Waktu berlalu begitu cepat, pikir Diana.
Alex masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berisikan beberapa piring makanan. Alex ingat Diana belum sempat memakan apapun tadi. Ia me-nyimpan nampan itu di atas nakas dan meminta Diana untuk segera mendekat.
“Makanlah, ” ujar Alex memerintah, mendekatkan nampan berisikan makanan itu ke hadapan Diana. “Habiskan lalu minum obatmu, ” Diana mengangguk pelan lalu tersenyum tipis,
Sementara Diana memakan makan malamnya, Alex pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sehabis pulang kerja tadi, Ia belum sempat berganti baju dan malah sibuk membantu Diana memasak di dapur. Diana yang tengah focus menyantap makanannya pun tiba-tiba menghentikan acara makannya. Ia meraih sebuah kalender kecil di atas nakas.
“Waktu cepat sekali berlalu, ” gunamnya, sembari menyendokan sesuap nasi ke dalam mulutnya
“Kau sudah selesai? ” Terenyak, Diana langsung menyimpan kembali kalender yang tengah di pegangnya ke atas nakas. Diana melirik ke arah Alex yang masih bertelanjang dada dan hanya berbalut handuk tipis di bagian bawah tubuhnya. Diana beralih pandang, mengalihkan pandangannya agar tidak berlama-lama memandang tubuh pria di hadapannya.
“Obatmu, ” Alex memberikan beberapa butir obat kepada Diana, Alex menatap gerak-gerik gadis itu dengan seksama membuat Diana sedikit merasa canggung.
“Ada apa? ” tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya untuk menatap Alex
Alex mendekatkan wajahnya pada wajah Diana, bibirnya tepat menempel pada pinggir gadi cantik itu. Refleks Diana memundurkan badanya, menghindari sentuhan yang di buat Alex.
“Kau masih mau menolak? ” “Tidak hari ini, ”
Pandangannya mengedar, walau dalam hatinya Ia menikmati saat-saat kebersamaanya bersama Alex, namun Ia masih belum bisa terlalu terbuka kepadanya.
“Baiklah, ” Alex berbaring di atas ranjang, Ia menarik tubuh Diana agar mengikuti-nya tidur. Ia melingkarkan lengannya pada pinggang Diana, memeluknya dari belakang dengan dagu di tempatkan pada bahu Diana. Nafasnya terasa begitu hangat, beecampur dengan aroma khas Alex yang baru saja selesai mandi.
“Pakailah baju dulu, ” tidak ada jawaban, Diana berpikir mungkin Alex sudah tertidur karena lelah
__ADS_1
***
Diana menggosok mata dengan sebelah telapak tangannya, meringankan kantuk yang masih Ia rasa padahal sudah tertidur semalaman. Diana membalikan tubuhnya, Ia tidak mendapati Alex di sana. Kemana perginya?
“Nona, ” pintu terketuk dari luar, dan Diana langsung mempersilahkan pelayan itu masuk ke dalam. Diana beranjak dari peraduannya, lalu mengikuti langkah pelayan tersebut dan masuk ke dalam ruangan khusus pakaian
“Dimana Alex? ” “Tuan muda pagi-pagi sekali sudah pergi, Nona. ” Diana berkerut kening, “Tuan hanya menyampaikan beberapa pesan seperti biasa, ” jawabnya, seakan menjawab pertanyaan Diana yang enggan Ia tanyakan
Diana hanya mengangguk pelan menanggapinya.
Diana duduk di sofa bulat yang memang di tempatkan di ruangan tersebut. Pandang-nya menatap ke arah pelayan yang tengah sibuk mempersiapkan baju yang akan Diana pakai hari ini, meskipun kenyata-anya pikiran Diana tidak berada dimana tubuhnya berada.
“Nona, apa yang ingin anda makan untuk hari ini? ” “Apa saja, ” Diana mengayunkan kakinya dan pergi
***
“Diana ... ” wanita paruh baya melangkah ke arahnya lalu mendaratkan pipinya pada pipi Diana bercipika-cipiki dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya
“Kemari dan lihatlah, ” Nyonya Pradipta menuntun lengan Diana dan mengajaknya untuk duduk di atas sofa. “Coba kau lihat ini, ” Ia menunjukan beberapa baju mungil dengan desain yang lucu dan apik, memperlihatkannya dengan sangat antusias. Diana hanya mengangguk dan tersenyum tipis menanggapi mamah mertuanya.
“Lihatlah, bukankah ini cantik? ” memperlihatkan baju bayi dengan motif bunga. Diana terkekeh pelan
“Mah, bagaimana jika aku memiliki seorang putra? ” serunya sembari terus terkekeh kecil
Nyonya Pradipta mengerucutkan bibirnya tanda kecewa. Di dalam hidupnya, Ia hanya melahirkan satu kali, dan itu adalah putra dingin dan begitu keras kepalanya. Sedari dulu, Ia sangat menginginkan seorang putri. Oleh karena itu, Ia begitu menyayangi Diana dan sudah menganggapnya sebagai putrinya sendiri.
“Kakimu? ” Diana ikut melirik ke arah kakinya, Ia baru menyadaru bahwa kakinya bengkak parah seperti itu. “Tidak apa-apa, ini biasa terjadi pada seorang wanita yang tengah mengandung. ” Nyonya Pradipta tersenyum, memancarkan aura hangat keibuan. Setelah itu, Ia meminta pelayan untuk mengambilkan obat gosok untuk mengobati kaki Diana yang bengkak.
__ADS_1
“Tidak usah, Mah. ” Diana menolak ketika kakinya di angkat ke atas oleh mamah mertuanya.
“Tidak apa-apa, sedikit saja untuk meringankan rasa sakitnya. ” Nyonya Pradipta tersenyum menatap ke arah Diana, yang di tanggapi dengan senyuman tipis oleh Diana
Nyonya Pradipta memijat kaki Diana dengan lembut dan lihai, Diana dengan memperhatikannya dengan seksama. Tiba-tiba Ia merasa terharu akan perlakuan mertuanya terhadap dirinya, selama hidupnya Diana tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu. Inilah pertama kalinya Ia merasakan di perhatiakan oleh seorang ibu di dalam hidupnya. Bahkan Diana sampai tak kuasa menahan tangisnya. Diana terisak sembari terus menatap kegiatan yang tengah Nyonya Pradipta lakukan. Tiba-tiba mertuanya itu menyadari jika menantu satu-satunya itu tengah menangis.
“Eh, ada apa? Apa pijatannya membuatmu tidak nyaman? ”
Diana menyeka air matanya, mencoba mengatur nafasnya kembali. “Tidak, Mah. Diana hanya ... merasa terharu. Terima kasih, Mah. ” ujar Diana, sementara air matanya masih terus menetes tak dapat Ia bendung.
Nyonya Pradipta tersenyum tipis, Ia memeluk tubuh Diana ringan dan mengelus punggung Diana pelan, mencoba menenangkan gadis yang masih terisak di dalam pelukannya itu.
“Kau akan selalu mendapatkan perhatian seperti ini dariku, percayalah. ”
***
Di lain tempat, Alex tengah berada di dalam ruangan khusus di sebuah restoran. Beberapa makanan tersaji di atas meja, di hadapannya sudah ada pria berparas tampan, yang umurnya tidak terpaut jauh dari Alex, Ia lah yang telah mengundang Alex datang ke tempat ini.
“Bagaimana kabarmu? ” “Baik, ”
Pria tersebut hanya mengangguk-anggukan kepalanya pelan atas jawaban Alex.
“Aku dengar, kau sudah menikah? ” Alex menjawabnya kembali hanya dengan anggukan pelan.
“Bagaimana kabar ayahmu? ” Alex menghela nafas berat, Ia menatap pria yang berada di hadapannya itu dengan tatapan malas.
“Dasar kau! ” tatapannya mencela pria di hadapannya
__ADS_1
“Ckck, ” Ia terkekeh. “Bagaimana dengan rencanamu itu? ” Alex hanya terdiam sembari menegak gelas minumannya, “Melihat dari ekspresi wajahmu, pasti kau gagal. ”