Pengorbanan Cinta Diana

Pengorbanan Cinta Diana
Episode 59


__ADS_3

Suasana di meja makan tampak hening, Alex terus menatap Diana yang tengah terdiam menatap gelas susunya. Sementara Mesya, tengah tenang terduduk di samping Alex dan menyantap sarapan paginya. Diana terus terdiam, sementara Alex terus menatapnya dengan intens, siapa yang akan nyaman jika terus-menerus di perhatikan seperti itu.


***


Beberapa menit yang lalu.


Seseorang merebut paksa gelas yang tengah di genggam oleh Alex, sontak Diana dan Alex menoleh ke arahnya. Ternyata, orang itu tak lain adalah Mesya. Diana terkejut, mengapa Mesya pagi-pagi seperti ini sudah berada di sini, atau mungkinkah semalam Ia tidak pulang?


“Mengapa kau masih berada di sini? ” tanya Alex sedikit menggeram


“Semalam ... ”


Mesya kesal karena Alex berkata kasar kepadanya dan menyuruhnya pulang begitu saja. Mesya berpikir, Ia harus melakukan sesuatu agar Ia bisa terus berada dekat di samping Alex. Sebenarnya, Mesya sengaja pulang dari luar negeri hanya untuk menemui Alex. Mendengar kabar mengenai pernikahannya, membuat Mesya merasa gusar dan tidak tenang. Namun, Mesya merasa sedikit lega, karena mendengar kabar bahwa istri Alex hanyalah seorang gadis biasa. Mesya merasa, bahwa seorang gadis biasa tidak akan pernah bisa di bandingkan olehnya.


Beberapa jam menempuh penerbangannya, sebenarnya Mesya tidak langsung pergi ke kediaman Alex. Ia memilih untuk pergi ke sebuah tempat spa dan bersantai di sana. Setelah itu, barulah dirinya pergi ke kediaman Alex.


Sedari dulu, hubungannya dengan Alex tidaklah sedekat yang terlihat. Hanya karena keluarga mereka saling mengenal satu sama lain, membuat mereka menjadi sering bertemu. Namun Mesya, gadis itu selalu menempel kemanapun kaki Alex melangkah, hubungan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak beradik. Tapi berbeda dengan Mesya, yang selalu menginginkan Alex lebih dari sekedar itu.


Setelah di usir oleh Alex, Mesya menelpon ayahnya, agar mengurus hal selama Ia disini. Mesya meminta ayahnya tersebut untuk berbicara kepada Tuan Pradipta, agar mengijinkannya menginap di kediaman Alex. Mengingat hubungan mereka begitu dekat, Tuan Pradipta tidak sungkan untuk membiarkan Mesya menginap. Hari sudah larut, menjadi satu-satunya alasan bagi Mesya agar tidak pergi.


Setelah itu, seorang pelayan menerima panggilan dari Tuan besarnya. Pelayan itu di minta memberikan kunci kamar tama kepada Mesya dan usahakan melayaninya dengan baik. Tak lama, pelayan itupun menghampiri Mesya dan memberikan kunci kamar tamu kepadanya.


***

__ADS_1


“Kak Alex, apakah kau tidak sarapan? ” tanya Mesya menatap ke arah Alex.


“Cepat habiskan sarapanmu, lalu pergilah dari sini.” ujar Alex dengan nada dingin, sementara pandangannya terus tertuju ke arah Diana. Mesya mengerucutkan bibirnya tanda kecewa.


“Diana, mengapa kau tidak menyentuh sarapanmu? ” tanya Mesya kepada Diana sembari terus mengunyah makanan di mulutnya. Diana menyimpan gelas sususnya dan menyenderkan badannya pada senderan kursi, menatap Mesya.


“Apakah baju itu ... ” gunam Diana di dalam hati, “Tidur dimana kau semalam? ” tanya Diana, sembari terus memperhatikan Mesya. Alex menoleh ke arah Mesya yang berada tepat duduk di sebelahnya.


“Aku tidak tahu bahwa baju yang di buatkan khusus untukku memiliki duplikat, dengan motif dan ukuran yang sama. Tapi, tidak mungkin jika merk terkenal melakukan hal yang mengecewakan pelanggannya seperti itu. ” sindir Alex, Mesya terbelalak. Diana mengalihkan pandangannya.


“Apa maksudmu, Kak Alex? ” tanya Mesya menunjukan kekhawatiran di wajahnya.


Alex mengangkat gelas kopinya lalu meminumnya, “Seseorang akan marah jika orang lain menyentuh barangnya sembarangan seperti itu. ” ujar Alex kemudian berlalu pergi meninggalkan meja makan, Diana menatap kepergiannya dan berkerut kening.


“Pakailah jika kau suka. ” ujar Diana pada Mesya, lalu beranjak dari kursinya dan pergi.


“Lihat saja, aku akan membalasmu, Diana! ”


***


Diana membuka pintu kamarnya, Ia terkejut melihat Alex berada di dalam kamarnya, Alex terlihat tengah focus pada macbook di pangkuannya. Diana mengurungkan niatnya masuk ke dalam kamar, Ia menutup kembalu pintu kamar.


“Tidakkah kau merasa tidak suka ketika seseorang menyentuh barang milikmu? ” tanya Alex,

__ADS_1


Diana menahan gagang pintu sebelum Ia menutupnya dengan rapat. Diana terdiam sejenak menatap Alex yang masih focus pada macbooknya, lalu Diana menutup pintu itu dengan rapat.


Diana berjalan-jalan di halaman mansion, halaman yang begitu luas dan terdapat air mancur di tengahnya. Diana terduduk di sebuah kursi yang memang sengaja di tempatkan di sana. Diana memejamkan matanya lalu mendongakan wajahnya ke atas, menikmati sinar matahari pagi. Terasa begitu hangat ketika sinar matahari menyentuh langsung wajahnya, di balik pelupuk matanya, Diana bisa merasakan betapa teriknya matahari dan cahaya yang sedikit merubah warna pelupuk matanya.


Tiba-tiba, Diana merasakan sinar matahari itu redup. Terasa sangat jelas ketika pelupuk matanya sudah tidak berwarna terang, melainkan berubah menjadi warna hitam. Diana menurunkan wajahnya, Lalu Ia membuka matanya perlahan, sepasang kaki seseorang tengah berdiri tepat di hadapannya.


“Kau menghalanginya, ” ujar Diana sembari menggeser duduknya ke arah samping agar mendapatkan sinar mentarnya lagi.


“Tidakkah kau tahu ini sudah jam berapa? Dan kau malah asik berjemur di bawah terik matahari seperti ini?” ujar Alex, sementara Diana tidak perduli dan terus memejamkan matanya dan mendongakkan wajahnya ke atas. Alex bergeser dari posisinya dan kembali menghalangi Diana.


Diana membuka matanya, Ia menghela nafas pelan ketika melihat Alex, lagi-lagi Ia menghalanginya seperti itu.


“Sepertinya kau mempunyai banyak waktu luang, ” ujar Diana kemudian beranjak dari duduknya dan pergi melangkah menjauh dari Alex.


Namun, tiba-tiba Alex menarik lengannya dan membuat Diana terjatuh ke dalam pelukannya.


“Sikapmu buruk sekali, Nona. Apakah kau ingin di hukum, hah? ” bisik Alex, membuat Diana bergidik.


“Lepaskan! ” ujar Diana meronta.


“Kau ingin mencobanya? Kau terus saja meronta seperti ini, ” bisik Alex kembali, namun Diana tetap saja meronta dan tidaj mau diam. “Baiklah. ” ujarnya


Alex meringankan pekukannya pada tubuh Diana, tiba-tiba Ia menarik tengkuk leher Diana dan mencium bibirnya. Diana terkejut, matanya terbelalak, lengannya tak lagi meronta. Secepat kilat ciuman itu langsung terlepas dari bibirnya, Diana terus terdiam dan merasa tercengang. Alex menatap ekspresinya dan tersenyum tipis. Kemudian, Alex berlalu oergi meninggalkan Diana yang masih berdiri mematung.

__ADS_1


“Semakin lama tingkahnya senakin tidak terkendali, ” gunam Alex sembari terus berjalan pergi.


Diana duduk kembali di kursi taman, Ia terus termenung, “Mengapa kau tidak menolak, Diana? ” tanyanya sendiri dalam hati, “Ia menciumku secara tiba-tiba. ” ujar Diana, menjawab pertanyaan dari pikirannya sendiri.


__ADS_2