Pengorbanan Cinta Diana

Pengorbanan Cinta Diana
Penurut


__ADS_3

Diana terdiam tak berkutik, sedangkan Alex masih terus memeluknya dari belakang. Diana perhatikan, Alex sama sekali tidak bergerak atau bersuara. Diana mencoba melepaskan pelukan tangan Alex perlahan, berusaha agar tidak membangungkanya.


Terlepas, Diana menarik nafas lega setelah terbebas dari pelukan Alex. Ia beranjak turun dari ranjang, baru satu langkah Ia melangkah tiba-tiba tanganya sudah di tarik kembali oleh Alex. Alex menariknya sampai tubuh Diana terbaring di atas ranjang dan Alex berada di atasnya.


“Lepas, ” Ucap Diana sambil meronta,


“Kau ingin aku melepaskanmu? ” tanya Alex, Diana mengangguk dengan cepat, “Cium aku dan ucapkan selamat pagi, ” Diana ternganga mendengar ucapan Alex.


Diana mendorong bahu Alex, namun Alex sangat kuat, percuma Ia meronta tapi tidak bisa menggeser satu inci pun tubuh Alex.


“Kau sangat menikmati berlama-lama di atas ranjang bersamaku, ” Seringai Alex, Diana tertegun, jantungnya berdebar dengan sangat kencang.


Hanya mencium saja, kendalikan dirimu Diana.


Perlahan Diana mendekatkan wajahnya pada Alex, “Selamat, pagi. ” Ucapnya sembari mencium lembut kening Alex, Alex tertegun melihatnya. Kemudian, Ia langsung beranjak dari menindih Diana. Diana menatapnya sekejap, lalu Ia langsung pergi ke kamar amndin dan mengunci pintunya.


Alex tersenyum puas mendapat perlakuan manis dari Diana, seandainya dari awal Diana bersikap seperti itu, Alex tidak akan repot selalu mengancamnya menggunakan nama ayahnya.


Niat hati Alex memang ingin menebus rasa bersalahnya kepada Diana, namun menggoda gadis polos itu adalah hal baru yang menyenangkan baginya. Tidak ada ruginya jika menggodanya sedikit saja.


Beberapa menit Diana selesai membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Karena terburu-buru Diana lupa membawa bajunya, dengan terpaksa Ia harus keluar hanya menggunakan handuk tipis untuk membalut tubuhnya.


Dengan ragu, Diana membuka perlahan pintu kamar mandi, pandanganya mengedar ke seluruh isi kamar dari balik celah pintu, Ia berharap bahwa Alex sudah tidak berada di sana. Diana melihat dengan teliti, Diana cemas jika Alex melihat keadaanya saat ini itu adalah hal yang memalukan baginya, walaupun pada kenyataanya Alex sudah pernah melihat setiap inci tubuhnya.

__ADS_1


Diana tidak melihat Alex di dalam kamarnya, Ia bisa bernafas lega, Ia mengendap keluar dan menuju lemari untuk segera mengambil pakaianya dan masuk ke kamar mandi kembali untuk mengenakannya.


Diana terkesiap, setelah melihat Alex sedang berdiri bersender pada tembok sebelah pintu kamar mandi menatapnya dengan tajam. Sejak kapan Ia berada di sana, tadi saat Diana melihat dari dalam kamar mandi, Ia tidak memperhatikanya. Memang tempat Alex berdiri tidak bisa terlihat saat Diana mengintip dari balik celah pintu tadi.


Alex menatapnya dengan intens, siapa yang akan nyaman bila terus di tatao seperti itu. Diana gugup, Ia tidak bisa focus memilih pakaian apa yang akan Ia pakai hari ini, di tambah ini adalah hari dimana Diana akan kembali ke kampusnya. Ya, sudah lama Ia absen, entah sudah berapa jauh Ia tertinggal pelajaran.


Jangan pedulikan Alex, Diana mencoba menfocuskan diri untuk memilih bajunya. Diana heran dan mengeryitkan dahinya, Ia baru menyadari tidak ada satupun bajunya yang berada di dalam lemari. Kemana perginya, seingatnya semua bajunya di bawa oleh pelayan dan di simpan di kamar Alex.


“Aku membuang semua pakaianmu, ” Ucap Alex seakan menjawab semua pertanyaan di dalam pikiran Diana, Diana terkejut dan langsung menutup pintu lemari menatap tak percaya Alex.


Alex menatap Diana yang berjalan mendekatinya, tubuh gadis itu hanya terbalut oleh handuk yang tipis dan rambutnya yang basah terlihat sangat sexy.


“Apa? Kenapa kau membuang seluruh pakaianku? ” tanya Diana kesal,


“Kenapa kau membuang pakaianku?” Diana bertanya lagi, masih dengan perasaan kesal. Alex tampak menyentikan jemarinya, Diana berkerut kening melihatnya.


Sesaat, semua pelayan di rumah itu membawa berbagai macam baju, sepatu, tas dan aksesoris lainya. Diana menatap malas, sudah berapa kali terjadi seperti ini. Diana sungguh tidak butuh. Diana menatap Alex, Alex membalasnya dengan mengangkat kedua halis. Diana mengerti, Ia tidak bisa menolaknya lagi sekarang, atau taruhanya adalah kehancuran perusahaan ayahnya.


Rasanya, Ia ingin menjerit sekencangnya. Kenapa selalu seperti ini, kenapa harus terjadi kepadanya. Tidak berdaya, itulah Diana saat ini. Ia hanya alat untuk menghasilkan penurus keluarga Pradipta saja, tidak lebih. Ia tidak bisa menolak, tidak bisa melakukan hal yang Ia inginkan. Mungkin ini takdir yang tertulis untuk dirinya.


“Cepat bersiap, aku menunggumu di bawah. ” Ucap Alex kemudian berlalu pergi,


Setengah jam Ia menghabiskan waktu bersama para pelayan itu, dari atas sampai bawah tubuhnya semua di siapkan oleh pelayan. Diana menatap dirinya dari balik cermin, Ia tampak berbeda dari sebelumnya. Pakaian dan riasan yang Ia kenakan, semuanya seperti bukan dirinya.

__ADS_1


Setelah selesai bersiap, Diana keluar dari kamar. Ia melongok ke lantai satu, tampak Alex yang sedang duduk di atas sofa.


“Dia benar-benar menungguku, ” Gunam Diana, Diana berjalan mendekat. Alex menatapnya sesaat kemudian berjalan keluar, di ikuti Diana dari belakang.


Alex duduk di kursi kemudi, Diana menengok ke kiri dan ke kanan tidak ada siapapun. Kemana Alex akan membawanya, tidak biasanya Alex mengemudikan mobilnya sendiri, biasanya Ia selalu pergi di antar oleh supir pribadinya.


Tiiiit!!! Suara klakson berbunyi dengan begitu nyaring, menyadarkan Diana dari lamunanya. Walaupun ragu, Ia tetap masuk ke dalam mobil. Alex melanjukan mobilnya membelah jalanan yang lumayan padat.


Selama perjalanan, Diana hanya memandang keluar jendela. Seperti biasa, suasana tampak hening dan tidak ada percakapan di antara mereka. Alex membelokan mobilnya ke arah kanan, yang mana itu adalah area parkir sebuah rumah sakit. Diana heran, untuk apa Alex membawa dirinya kesana. Apa keluarga atau kerabatnya ada yang sedang sakit dan di rawat. Diana tidak berani bertanya, Ia hanya terdiam mengikuti langkah Alex saja.


Mereka menyusuri lorong rumah sakit dan sampailah di depan sebuah ruangan yang bertuliskan ginokologi. Ruangan apa itu, Diana tampak heran. Tentu saja itu bukan ruang untuk pasein rawat inap, ada sebuah ranjang di sana dan sebuah layar, layar apa itu. Diana tertegun, siapa yang akan di periksa, apa Alex sakit? Tapi Ia terlihat biasa saja.


Dokter itu tersenyum menyambut kehadiran Alex dan Diana, Dokter yang masih muda dan lumayan tampan.


“Nona, silahkan berbaring. ” Dokter itu meminta Diana untuk berbaring, Diana bingung kemudian menatap Alex, Alex hanya membalas tatapanya dingin.


Dokter itu memoleskan sebuah gel dingin ke area perut Diana, kemudian memeriksanya menggunakan alat yang langsung terhubung dengan layar di depanya. USG, Diana tahu itu. Kini jelas, Alex membawanya ke dokter kandungan, tanpa memberitahunya. Membuat Diana tampak seperti orang bodoh.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Diana pun beranjak dari posisinya dan terduduk di kursi samping Alex. Dokter itu tampak menjelaskan kondisi Diana, menjelaskan kondisi rahimnya dan lain-lain.


“Apakah aku hamil? ” tanya Diana spontan seakan lupa oleh keberadaan Alex di sana.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2