
Larut malam, Diana melamun sendiri di dapur dengan segelas air putih yang menemaninya. Diana memikirkan perkataan Alex barusan, Ia mengangkat segelas air putih tersebut agar sejajar dengan wajahnya. Diana bercermin pada segelas air putih itu, Diana tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas ketika air yang berada di dalam gelas itu terkoyak. Mungkin, hal ini sama seperti suasana hatinya saat ini.
Diana bingung, harus bagaimana Ia sekarang. Mereka menuntut terlalu berlebihan, perkataan Tuan Pradipta tak pernah hilang dari pikirannya dan juga tingkah Alex kepadanya. Semakin Diana menjauh, kenapa Alex malah semakin mendekatinya. Tidak bisakah hidupnya tenang sedikit saja, jangan terus menorehkan luka di hatinya.
Diana menundukan kepala di atas meja, Ia memejamkan kedua matanya. Rasanya hari ini begitu melelahkan untuknya, Diana memejamkan matanya, pikirannya mulai melayang tidak terasa Diana tertidur dengan begitu mudahnya.
Alex masih memperhatikannya, beberapa saat Alex melihat Diana yang tampak selalu menundukan kepalanya. Kemudian, Alex perlahan berjalan mendekatinya. Sesampainya di dekat Diana, Alex melihat wajahnya. Menyibakkan rambut yang tengah menutupi wajah Diana, terlihat Diana yang tengah memejamkan matanya. Alex memegangi pipinya, namun Diana masih terus tertidur. Alex mulai meraih perlahan tubuh Diana kemudian menggendongnya di antara ke dua lengannya, Alex membawa Diana kembali ke dalam kamar, kemudian membaringkannya di atas ranjang.
Sinar mentari menyeruak masuk menembus kaca jendela, memberikan efek yang menyilaukan mata namun tetap terasa hangat.
Diana membuka matanya secara perlahan, Diana melihat ke arah jendela. Tampak matahari yang sudah terang menyinari seisi ruangan kamarnya menandakan bahwa siang hari telah tiba. Diana beranjak turun dari ranjangnya, kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak butuh waktu lama baginya untuk bersiap.
Setelah selesai bersiap, Diana keluar kamarnya dan menuruni tangga yang menjadi penghubung antara kamarnya dengan lantai satu. Diana berjalan menuju dapur, di dapur terlihat beberapa pelayan dan koki mansion yang tengah sibuk melakukan aktivitasnya masing-masing. Pandangannya beralih menuju arah meja makan, Diana melihat sesosok lelaki yang tengah membaca koran pagi dengan santai dengan secangkir kopi hangat yang menemaninya.
Diana berjalan mendekatinya dan terduduk di kursi meja makan, sesaat setelah Diana terduduk beberapa pelayan langsung berdatangan menghampirinya untuk menyiapkan sarapan Diana, Diana tersenyum tipis.
“Kita sudah terlambat, ayo kita pergi. ” Ujar Alex, membuat Diana berkerut kening dan heran. Diana bahkan belum menghabiskan sarapannya, tapi Alex sudah memintanya untuk segera pergi dengannya.
“Kemana kau akan membawaku? ” tanya Diana sembari tangannya meraih jeruk yang di tersedia di atas meja makan,
“Ikut saja, tidak usah banyak bertanya. ” Ujar Alex, jemarinya menggenggam lengan Diana dan menuntunnya memasuki mobil.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan suasana tampak hening, seperti biasanya tidak ada percakapan di antara mereka. Alex ataupun Diana, mereka berdua sama-sama terdiam dan tidak ada yang memulai percakapan sama sekali.
Mobilnya terhenti pada sebuah bangunan yang terbilang cukup besar dan tak asing bagi Diana, seorang satpam bergegas membukakan pintu gerbang agar mobil Alex bisa terparkir di dalamnya. Diana menatap Alex, di dalam hatinya Diana bertanya-tanya kenapa Alex membawanya kesini.
“Turunlah, ” Ujar Alex sembari membuka sabuk pengaman yang Ia kenakan lalu keluar dari mobil. Diana menurutinya dan kemudian turun dari mobil.
Alex menggandeng lengan Diana kemudian membawanya menuju pintu rumah, Alex menekan bel kemudian tak lama pintu di bukakan dari dalam. Tampak seorang pria paruh baya yang tengah berdiri di dalam dengan wajah yang tampak gembira menyambut kedatangan Diana dan Alex. Diana ikut tersenyum kemudian berjalan mendekatinya.
“Ayah ... ” Sapanya kemudian memeluk hangat sang ayah, Tuan Wijaya pun balik memeluknya erat.
Diana memeluk sang ayah dengan begitu erat, seakan rasa rindunya selama ini terbayar sudah. Matanya berkaca-kaca, rasanya Diana ingin menangis namun Ia tahan, Diana sangat merindukan ayahnya. Perlahan Tuan Wijaya melepaskan pelukannya pada tubuh Diana, kemudian menatap wajah putrinya sendu. Diana tersenyum menahan tangisnya, Ia merasa terlalu bahagia karena di pertemukan kembali dengan sang ayah.
Tuan Wijaya mengajak Diana dan Alex untuk duduk di meja makan, di sana sudah tersedia berbagai macam makanan untuk sarapan. Diana menatap ke arah Alex, ternyata ini alasannya mengapa Alex tidak membiarkannya memakan sarapannya terlebih dahulu sebelum pergi tadi.
“Diana, apa kau sudah memberitahukan kedapa Ayah kabar baiknya? ” tanya Nameera tersenyum simpul ke arah Diana. Diana hanya terdiam sedikit tidak memahami perkataan Nameera, “Ayah, Diana tengah mengandung bayinya bersama Alex. ” Diana tertegun, Nameera sungguh lancang. Diana sendiri bahkan menyembunyikannya serapat mungkin agar ayahnya tidak mengetahui mengenai kehamilannya, agar jika Diana berpisah dengan Alex nanti semuanya akan terlihat baik-baik saja. Diana tidak ingin menambahkan beban untuk ayahnya.
“Tentu saja kami ingin memberitahukannya, tapi kau malah memberi tahukannya terlebih dahulu. ” Alex menyela perkataan Nameera, Diana melihat Nameera yang tampak terbelalak.
“Diana ... ” Ucap sang Ayah menatap ke arah Diana,
“Benar, Ayah. ” Diana menarik nafas panjang, apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur.
__ADS_1
“Syukurlah, ayah akan segera menggendong cucu. ” Diana terbelalak, petir seperti tengah menyambar hatinya dengan begitu kuat.
Ayah... bagaimana bisa? Aku bahkan tidak tahu berapa lama aku bisa bersamanya.
Diana tersenyum tipis menanggapi perkataan dari ayahnya, ayahnya terlihat sangat gembira mengenai kabar kehamilan dirinya. Nameera dan ibu tirinya terlihat sangat kesal, mereka juga tidak bisa berbicara terlalu banyak untuk menindas Diana, karena ada Tuan Wijaya dan Alex di sana.
Alex mengangkat sebelah tanganya, melirik arloji pada pergelangan tangannya. Alex menggenggam jemari Diana dan menatapnya, Tuan Wijaya yang melihatnya pun tampak mengerti. Raut wajah Diana terlihat sedih, Ia tidak ingin segera berpisah dengan sang ayah.
Tuan Wijaya mengantar Alex dan Diana sampai depan pintu rumah, begitupula dengan Nameera dan ibu tirinya.
“Jaga kesehatanmu, jaga baik-baik kandunganmu. ” Ucap Tuan Wijaya, Diana tersenyum kemudian memeluk sang ayah.
Diana berjalan menuju mobil dan langsung masuk ke dalamnya, Diana tampak sedih karena hanya sedikit waktu untuk bisa bertemu dengan ayahnya.
“Terima kasih telah mengajakku untuk bertemu dengan ayahku. ” Ujar Diana, menatap Alex yang tengah focus mengemudikan mobilnya dan menatap ke arah jalanan.
“Kau senang sekarang? ” tanya Alex dengan pandangan masih focus ke arah jalanan.
“Tentu saja, ”
“Kau harus membayar untuk itu. ” Diana berkerut kening.
__ADS_1
Bersambung....