
Alex terus menautkan bibirnya pada bibir Diana, sedangkan Diana hanya terdiam sembari matanya terus menatap wajah Alex dengan jarak sedekat itu. Tiba-tiba Alex melepaskan ciumannya pada bibir Diana dan menatapnya tajam.
“Seperti mencium patung, ” Ketusnya sembari terus menatap tajam ke arah Diana, Diana balik menatapnya.
“Lantas, aku harus bagaimana? ” tanya Diana dengan nada dingin, Alex terdiam masih dengan tatapan tajamnya. Diana mengalihkan wajahnya ke arah samping.
“Bagaimana jika berakhir seperti ciuman di pantai itu, ” Gunam Diana dengan nada rendah namun Alex masih bisa mendengarnya. Alex berkerut kening, kemudian lengannya memegang wajah Diana menuntunnya agar menatap wajah Alex.
“Balas ciumanku, jika tidak aku akan melakukannya di sini. ” Diana tertegun, Alex mencium kembali bibirnya dengan cepat.
Bibir mereka saling terpaut Alex memainkanya dengan ritme sedang, sedangkan Diana yang masih terpaku seperti patung. Tiba-tiba Alex menaikan tubuhnya ke atas ranjang dan menindih tubuh Diana, membuat Diana semakin gelisah.
“Kau ingin mencobanya di sini? ” lagi-lagi perkataan Alex membuat Diana tertegun tak percaya, Alex menatapnya dan kemudian mencium bibir Diana kembali.
Alex mengarahkan kedua lengan Diana agar memeluk pundaknya, sedangkan bibirnya terus mencium setiap sudut bibir Diana. Perlahan, Diana membalas ciuman Alex pada bibirnya. Seketika wajahnya merasa panas dan jantungnya berdegup kencang, Diana memejamkan matanya perlahan mencoba menikmati setiap ciuman bibir Alex pada bibirnya. Walau sebenarnya posisinya kini membuatnya sangat tertekan.
Beberapa menit bibir mereka saling menaut satu sama lain, ciuman lembut itu berubah menjadi ciuman yang menggairahkan. Terasa nafas Alex yang semakin memburu tak karuan dan ciuman yang semakin memanas. Tiba-tiba Alex melepaskan ciumannya, membuat Diana terbelalak dan langsung menatapnya dengan kerut halus pada keningnya. Kemudian, Alex beranjak turun dari ranjang dan duduk pada pinggiran ranjang.
Alex menekan bel kembali, sesaat seorang perawat memasuki ruanganya. Alex memintanya untuk segera membawakan makanan hangat untuk Diana, karena makanan tadi yang hendak Diana makan sudah dingin. Perawat itu mengiyakan, dan akan segeram membawakannya. Diana bangun dan terduduk, Ia masih menatap ke arah Alex.
__ADS_1
“Kau terlihat kecewa, ” Ucap Alex menatap ke arah Diana, Diana terperanjak mendengar perkataan Alex yang di lontarkan pada dirinya.
“Tidak, aku aku ... ” Diana tergagap, belum sempat Ia membalas perkataan Alex tiba-tiba perawat rumah sakit datang dengan membawakan makanan untuk Diana.
Setelah mengantarkan makananya perawat itu langsung pergi, Diana masih menatap Alex. Apex menyendokan makanannya dan menyuapi Diana, kini Diana hanya menurut dengan apa yang di lakukan Alex pada dirinya. Karena jika Ia menolak, Ia sendiri yang akan rugi nantinya.
“Apa yang kau bicarakan bersama Zeno? Kau tampak terlihat senang, ” Tanya Alex membuat Diana tersedak dan batuk, Alex memberinya segelas air putih, Diana langsung meminumnya habis.
“Kenapa kau terlihat sangat senang setelah berbicara denganya? ” tanya Alex lagi masih dengan nada dinginya dan tanganya masih terus menyuapi Diana makan. Diana mengunyah makanannya sembari berpikir.
Ada apa denganya? Batin Diana, heran.
“Kenapa? ” tanyanya singkat, mewakili semua pertanyaan yang tersimpan di dalam hatinya.
“Setelah kau pulih, aku akan menpublish hubungan kita ke hadapan publik. ” Diana terbelalak, seakan Ia di ingatkan kembali dengan perkataan seseorang.
“Jangan lakukan itu, aku tidak setuju. ” Diana menggeleng cepat, Ia tidak setuju dengan perkataan Alex. Alex menatapnya tajam dan menghentikan aktivitasnya menyuapi Diana.
“Hubungan kita ... aku tidak mau! Karena aku akan pergi setelah bayi ini lahir. ” Ucap Diana dengan nada tinggi, membuat Alex terbelalak.
__ADS_1
“Bukankah sudah aku bilang, kau tidak akan bisa pergi dari sisiku. Kecuali, aku yang menginginkan itu. ” Tegasnya, memberi tekanan berat kepada Diana.
“Maka aku tidak akan pergi, tapi tolong ... jangan beritahu siapapun mengenai pernikahan ini. Aku hanya ingin menjalani hidupku dengan tenang. ” Diana menundukan kepalanya dengan lemas.
Alex sedikit memikirkan perkataan Diana, benar apa yang Diana katakan. Jika hubungannya nanti di ketahui publik, maka Diana tidak akan lepas dari sorotan media dan itu pasti tidak akan membuatnya tenang, dan malah akan terus menganggu pikirannya. Sedangkan kini Ia tengah mengandung buah hatinya.
“Terserah kau saja, ” Ucap Alex, kemudian menyendokan makanan dan menyuapi Diana kembali. Diana bernafas lega, kini Ia dapat meyakinkan Alex.
Tidak terasa hari sudah mulai gelap, hari ini terasa begitu melelahkan bagi Diana. Setelah menghabiskan makananya, Alex menyuruh Diana untuk langsung beristrirahat. Diana berbaring di atas ranjang dan mencoba memejamkan matanya. Sedangkan Alex, Ia duduk di sofa yang masih berada di dalam ruangan dan menyibukan diri dengan macbook dan pekerjaanya.
Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam, namun Alex masih sibuk dengan macbook di pangkuannya. Pekerjaan yang sangat menumpuk, karena beberapa hari ini Ia selalu di sibukan oleh masalah keluarganya dan Diana, sehingga malam ini terpaksa Ia harus bekerja lembur. Alex melihat Diana, yang tengah berbaring di atas ranjang dengan posisi membelakanginya. Alex ingin tahu apakah gadis itu sudah tertidur atau belum. Kemudian, Ia menutup macbooknya dan berjalan mendekati Diana. Alex memperhatikan, ternyata Diana sudah tertidur dengan sangat pulas.
Tiba-tiba, terdengar suara pintu di ketuk dari luar, itu perawat yang akan melakukan pemeriksaan terhadap Diana. Alex mempersilahkan perawat itu masuk dan lekas memperiksa kondisi Diana. Perawat itu melakukan tugasnya, menjalankannya sesuai dengan prosedur rumah sakit. Alex memperhatikannya, Ia juga menatap wajah Diana yang tampak sangat tenang ketika Ia tertidur. Setelah selesai, perawat itupun permisi dan pergi meninggalkan ruang rawat Diana.
Larut malam, Diana terbangun dari tidurnya. Ia merasakan ranjang yang tadinya luas dan nyaman, kini terasa begitu sempit dan pengap. Antara sadar atau tidak kareana terlalu mengantuk, Diana membalikan tubuhnya. Diana mengeryitkan dahinya melihat Alex yang tengah tertidur di sebelahnya, Diana menyipitkan matanya, apakah itu benar-benar Alex atau dirinya tengah bermimpi. Diana tidak memperdulikannya, Ia terlalu mengantuk untuk memikirkan hal itu. Diana kembali tertidur pulas dengan wajah yang berhadapan sangat dekat dengan wajah Alex.
Sinar mentari menyeruak masuk menembus kaca jendela, menerangi seluruh isi ruangan. Dengan malas Diana membuka matanya, dan melihat ke arah jendela sepertinya hari sudah siang, karena matahari terasa sangat hangat. Diana meregangkan tubuhnya setelah tidur semalaman, tiba-tiba Ia teringat akan sesuatu hal yang terjadi semalam. Yang mana dirinya melihat Alex yang tengah tertidur di sampingnya. Diana beranjak dan langsung terduduk di atas ranjang, tapi Ia tidak melihat Alex di atas ranjangnya. Diana berpikir mungkin itu adalah mimpi.
Bersambung...
__ADS_1