
Diana sempat terkejut melihat seseorang yang menyapanya dan kini tengah melangkah mendekatinya. Itu Nameera. Diana melirik sekilas ke arah Alex, wajah Alex tampak tenang dengan ekspresi datar. Jauh berbeda dengan dirinya, yang merasa sangat gusar dan kelagapan.
Nameera meregangkan kedua tangannya dan sedikit membungkuk kemudian memeluk Diana ringan. Nameera sempat menyimpulkan senyumnya ke arah Alex, sementara Alex langsung mengalihkan pandangannya. Masih dengan ekspresi datar.
Diana tersenyum canggung ketika Nameera menatap lalu tersenyum kepadanya, sesaat setelah melepaskan pelukannya. Nameera berpenampilan begitu cantik dan sexi, dengan bentuk tubuh yang ideal berbalut gaun seatas lutut berwarna merah, dan bagian atasnya memiliki model 'sabrina'. Berbeda jauh dengan Diana yang mengenakan pakaian sederhana.
“Kalian makan di sini juga? ” Tanpa di persilahkan, Nameera duduk di kursi kosong sebelah Diana. Diana menatap Alex yang masih setia dengan diamnya.
Diana sejenak berpikir, mengapa sikap Nameera begitu berbeda. Biasanya emosi Nameera akan tersulut jika melihat wajah Diana dan selalu berkata kasar dan membentaknya. Namun berbeda hari ini, Ia tampak baik dan tenang. Ada apa dengannya?
Hening di antara mereka, tidak ada yang memulai pembicaraan dari terakhir Nameera bertanya tadi. Tak selang beberapa menit, pelayan mengantarkan makanan yang di pesan oleh Diana dan Alex. Sementara Nameera, tamu tak di undang itu hanya melirik antara Diana dan Alex.
“Makanlah, ” ujarnya Alex sembari menggeser piring makanan yang sudah Diana pesan tadi. Tidak terpengaruh oleh kehadiran Nameera, Alex dengan tenang menyantap makan malamnya. Namun berbeda dengan gadis di hadapannya, entah kenapa tangannya ragu untuk menyendokan makanan itu ke dalam mulut.
“Diana, bagaimana kehamilanmu? ” tanya Nameera, Diana langsung menghentikan lengannya yang akan menyendokkan sesuap nasi dan lauk ke dalam mulutnya.
“Baik, ” jawabnya singkat, Ia mengembalikan kembali sendok ke dalam piring. Nameera mengangguk-anggukan kepalanya menerima balasan Dari Diana.
Nameera menghela napas panjang, “Sangat menyenangkan bukan menjadi Nona muda? Bagaimana dengan Ayah mertuamu, apakah hubungan kalian baik-baik saja? ” Diana tertegun, matanya melebar menatap ke arah makanan yang sama sekali belum Ia makan.
Alex menatap tajam ke arah Nameera, sementara wanita cantik itu hanya mengangkat kedua halisnya, penuh makna.
Diana sedikit mengangkat pandangannya dan menatap Alex, Diana melihat expresi Alex yang jelas tengah menahan emosinya sembari menatap ke arah Nameera. Diana merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Alex, dan sepertinya Nameera tahu semua itu. Bahkan kini Diana berpikir, Ia juga harus tahu.
__ADS_1
“Sayang, ” sapa seorang pria, menghentikan acara saling tatap antara Alex dan Nameera. Dengan refleks Diana dan Nameera langsung melihat ke arahnya. Sementara Alex, Ia terlihat tidak peduli.
“Ah, kau sudah datang? Ayo, ” Nameera beranjak dari duduknya, “Pastikan bayimu memiki keluarga yang utuh, ” Nameera memegang pundak Diana lalu berjalan pergi menjauh, dengan di gandeng oleh seorang pria tampan bertubuh kekar. Pria? Apakah karena itu Alex memasang expresi seperti tadi. Apakah Alex masih mencintai Nameera? Diana melamun dengan pertanyaan yang berputar di dalam pikirannya.
Suasana hatinya menjadi buruk semenjak di restoran tadi, selain memikirkan mengenai Alex, Diana juga berpikir tentang beberapa kata yang Nameera lontarkan padanya tadi. Menurut Diana perkataannya itu janggal. Seperti, secara tidak langsung Nameera tengah menyindirnya dengan sesuatu hal, namun Diana tidak dapat mengartikan semua itu.
“Tidak usah memikirkan hal yang tidak penting, ” Alex membuka pembicaraan, sementara focusnya tetap Ia arahkan pada jalanan di depannya. Sudah pukul setengah sebelas malam, namun jalanan masih saja terlihat padat.
“Benarkah? ” “Apa? ” Alex mengeraskan suaranya
“Bisakah aku memegang ucapanmu, kau berjanji untuk memperbaiki semuanya, ” Hubungan tanpa cinta ini ...
Mata Alex melebar setelah mendengar perkataan Diana, pantas saja perilaku gadis itu tiba-tiba berubah, ternyata tidak tanpa sebab. Ketika sudah berjanji, maka Ia tidak akan mengingkarinya. Meski hubungan mereka seperti simbosis mualisme, atau hanya hubungan yang saling menguntungkan.
“Ya, kau bisa memegang ucapanku. ” Diana tersenyum tipis, terdengar ketidakiklasan pada nada bicara Alex.
“Tidurlah denganku, ” Alex menarik lengan Diana menuju kamarnya, sementara gadis itu hanya mengikutinya dengan pasrah. Itulah resikonya, Diana sudah memberikan kesempatan kepada Alex.
“Jangan malam ini ... ” keluh Diana ketika Alex tak henti mencumbu setiap sudut wajah dan lehernya. Alex tidak memperdulikannya, Ia hanya terus melancarkan aktivitasnya.
***
Diana membenarkan posisi tidurnya, seluruh badanya terasa pegal sehingga membuatnya tidak nyaman bagaimana pun posisi tidurnnya. Meskipun begitu, Diana tidak berniat untuk segera bangun dari tidurnya. Mengingat Ia baru bisa tidur jam tiga pagi, membuatnya merasa masih sangat mengantuk dan enggan membuka matanya.
__ADS_1
“Ada apa? ” tanya Alex yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya dan sudah terduduk menyender pada pinggiran ranjang samping Diana.
“Tubuhku ... sakit, ” serunya dengan suara berat dan serak, suara khas orang bangun tidur.
“Mandi? ” “Tidak, ” Diana menggeleng dengan cepat, Ia semakin membenamkan dirinya ke dalam selimut. Sementara Alex, Ia beranjak turun dari tempat tidur dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Alex keluar dari kamar mandi dan langsung mendekati Diana yang masih setia berbaring di bawah selimutnya. Alex berniat membopong tubuh Diana, namun ketika tangannya Ia selipkan pada bawah leher dan lutut Diana, Diana terkejut dan langsung duduk di atas tempat tidur. Diana menolak ketika Alex hendak memandikannya, Ia sehat masih bisa untuk mandi sendiri.
Diana langsung beranjak turun dari ranjang, tapi langkahnya langsung goyah, matanya berkunang-kunang dan tubuhnya merasa lemah sehingga tidak bisa menahan berat tubuhnya sendiri. Ya seperti itulah, tubuhnya menjadi tidak stabil semenjak kehamilannya.
Dengan sigap, Alex langsung menahan tubub Diana agar tidak terjatuh. Akan sangat fatal jika Diana sampai terjatuh.
“Kau ini! Sangat ceroboh! ” Alex mengeraskan suaranya, marah dengan kecerobohan istrinya. Dia pikir ... dia hanya membawa dirinya sendiri. Gerutu Alex.
Diana terdiam, wajahnya menampilkan expresi terkejut. Benar, Ia begiru ceroboh dan tidak hati-hati. Hampir saja Ia melukai kandungannya jika sampai dirinya terjatuh.
Alex langsung membopong tubuh Diana dan membawanya ke dalam kamar mandi, Diana membenamkan wajahnya pada dada bidang Alex dan kedua tangannya merangkul pada bahu dan leher Alex. Diana merasa sepenuhnya Alex miliknya, walaupun tidak ada cinta di antara mereka, namun Diana akui bahwa saat ini dirinya sangat butuh sosok Alex di dalam hidupnya.
Alex mendudukan Diana di atas closet.
“Kau tidak bekerja? ” tanya Diana, ketika Alex tengah bersimpuh di hadapannya dan sibuk melepaskan satu-persatu kancing baju milik Diana.
“Hari minggu, ” jawab Alex singkat.
__ADS_1
“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu, ” “Tanyakanlah, ”
“Apakah hubunganmu dengan Nameera ... belum berakhir?”