Pengorbanan Cinta Diana

Pengorbanan Cinta Diana
Episode 83


__ADS_3

Selamat membaca❤❤


***


Malam sudah semakin larut, waktu juga sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam namun mata Diana tidak menurut untuk segera terpejam. Diana terus menatap ke arah Alex yang tampak sibuk dengan macbooknya di atas sofa, yang Alex tahu bahwa gadis di atas ranjang itu sudah terlelap.


Alex menatap focus layar macbooknya, sesekali Ia juga menelpon seseorang melalui telepon genggamnya. Alex terlihat sangat sibuk, namun terlihat santai di depan Diana.


“Kak,” suara serak Diana memecah keheningan, membuat Alex langsung menutup macbooknya lalu Ia simpan ke atas sofa.


“Ya?” jawabnya sembari berjalan ke arah ranjang Diana.


“Belum tidur?” Diana bangun lalu terduduk di atas ranjang.


“Ada pekerjaan yang harus aku tangani,”


“Kamu sibuk ya, Kak?”


“Tidurlah,” ujar Alex mengalihkan pembicaraan.


Diana menghela napas panjang sebelum akhirnya Ia membaringkan tubuhnya kembali ke atas ranjang. Diana selalu merasa ada yang Alex sembunyikan darinya. Alex jelas sibuk dengan pekerjaannya, namun mengapa Ia masih mengajaknya pergi ke Bali dengan alasan babymoon.


Diana memiringkan posisi tidurnya membelakangi Alex, sangat tidak nyaman untuknya tidur dengan posisi terlentang di usia kehamilannya yang sudah menginjak dua puluh enam minggu.


“Kak,” Diana terhenyak ketika lengan Alex melingkar pada perutnya dan mengelus lembut di sana. Tiba-tiba saja Alex sudah berbaring bersamanya di atas ranjang.


“Tidur,” ujarnya sembari lengannya terus mengelus perut Diana.


Hangat. Itulah yang Diana rasakan. Hangat dan sangat nyaman.


“Kak,” Diana membalikan posisi tidurnya menghadap Alex. Di lihatnya wajah Alex yang tengah terpejam namun belum terlelap itu. “Kak, besok kita pulang ya? Kamu juga banyak kerjaankan?”


Alex hanya terdiam, padahal jelas-jelas Ia belum tertidur. Diana merasa Ia menghindari perkataannya barusan.

__ADS_1


“Tadi siang ada yang bilang, kalau di dalam sebuah hubungan itu hal terpenting adalah komunikasi.” ujar Diana yang langsung memejamkam matanya.


Alex membuka matanya kembali ketima memdengar sindiran Diana. Ia melihat wajah gadisnya yang sengaja terpejam. Alex terdiam sesaat menjelajah setiap inci wajah cantik Diana lalu mengecup keningnya lama, membuat Diana membuka matanya kembali. Alex melepaskan ciuman di kening Diana, di saat bersamaan Diana memejamkan matanya kembali. Alex menarik tubuhnya lembut, membawa tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.


Kak, sebenarnya apa yang kau sembunyikan?


Lengan yang Ia simpan di depan dada perlahan Ia pindahkan untuk melingkar di tubuh Alex. Diana semakin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya. Berharap waktu berhenti di sana. Inilah waktu dimana Ia merasa bahwa Alex benar-benar miliknya, setelah pria di pelukannya ini menyuarakan isi hatinya siang tadi.


***


Setelah satu minggu di rawat di rumah sakit, akhirnya Diana di perbolehkan untuk pulang. Hari ini pagi-pagi sekali Alex sudah keluar untuk membereskan biaya administrasi kepulangannya. Sementara Diana, Ia duduk manis di atas ranjang menunggu Alex menjemputnya.


“Diana,” suara riang itu terdengar mengisi ruang rawat, Diana langsung tersenyum menyambut kedatangan Stefi ke dalam ruang rawatnya.


“Kak Stefi, Kak Elios juga di sini.”


Stefi langsung berjalan mendekati Diana ketika gadis itu hendak turun dari ranjangnya. “Tidak apa, kau duduklah di sini.” ujarnya lembut. Selain cantik, Ia juga sangat baik hati. “Kami akan mengajakmu makan siang bersama,”


“Tapi Kak Alex-”


Beberapa menit setelah perbincangan mereka, Alex datang untuk menjemput Diana pulang. Mereka berempat keluar dari rumah sakit bersama.


Diana menduduki kursi roda yang di dorong oleh Alex selama melewati beberapa lorong menuju pintu keluar. Meskipun Ia menolak karena dirinya cukup kuat untuk berjalan sendiri, namun Alex bersikeras agar Diana duduk di kursi roda saja. Hal itu membuat senyum tipis Diana terukir sepanjang perjalanan.


Yang Diana ingat, rumah sakit ini adalah rumah sakit dimana Ia di rawat dulu. Sekilas ingatan akan masalalu itu terlintas. Rasanya berbeda sekali antara masalalunya dan masakini. Diana masih tidak percaya bahwa hari ini akan ada. Hari dimana Ia dan Alex akan bersama


***


Mereka berempat sepakat untuk makan di restaurant yang berada di dalam resort mereka menginap. Itu memudahkan Diana untuk segera beristirahat setelah acara makan mereka selesai.


“Apa rencana kalian setelah ini?” tanya Stefi setelah selesai dengan hidangan penutupnya.


Diana melemparkan pandangnya ke arah Alex, “Em,” tidak tahu untuk menjawab bagaimana, Diana tidak merencakan apapun sebelumnya.

__ADS_1


“Berdiam di dalam kamar saja, Diana perlu istirahat.” ujar Alex santai, membuat gadis di sampingnya berkerut kecewa.


“Pergi ke Bali hanya untuk tidur di kamar saja?” tanya Stefi yang cukup tercengang dengan jawaban Alex.


“Ayolah sayang. Mereka itu pengantin baru.” ujar Elios sembari terkekeh yang di hadiahi tatapan tajam oleh Alex. Diana tersipu malu, Ia menundukan wajahnya yang sudah Ia yakini kini tengah merona merah.


“Tapi Diana baru saja keluar dari rumah sakit,” ledek Stefi melayangkan sebuah senyuman penuh arti untuk kedua orang di hadapannya itu.


“Kak,” Diana menatap Stefi dengan rona di wajahnya, Ia berharap bahwa Stefi berhenti menggodanya.


“Oke oke,” Stefi mengangkat kedua lengannya di dada. Diana menahan senyumnya. Gadis ini selalu terlihat lugu dan polos.


Setelah selesai makan siang, Alex mengantar Diana untuk pergi ke kamarnya. Sementara Stefi dan Elios masih berada di restauran. Awalnya Diana tidak enak meninggalkan mereka, namun mereka meyakinkan Diana bahwa mereka baik-baik saja dan meminta Diana untuk beristirahat. Setelahnya Diana bersedia untuk di antar ke dalam kamarnya.


“Masih ada hal yang perlu aku bicarakan dengan Elios, kau beritirahatlah.” ujar Alex lalu langsung pergi keluar kamar.


“Buru-buru sekali,” gunam Diana.


***


“Aku duluan ya?” ujar Stefi setelah kehadiran Alex. Ia mengerti bahwa Alex akan membicarakan suatu hal dengan tunangannya dan Ia tidak enak jika berada di antara mereka.


“Hati-hati, aku akan segera menyusul.” Elios mengecup lembut pipi kanan kiri tunangannya sebelum gadis itu beranjak pergi keluar.


Alex mengarahkan dagunya ke samping, Alex meminta agar mereka membicarakannya di luar. Elios mengerti dan langsung mengikuti arahan Alex.


Mereka berencana untuk berbicara di sebuah club yang posisinya tak jauh dari tempat Alex menginap, mereka sudah memesan satu room vip di sana.


Alex menyulut satu batang rokoknya lalu menghembuskannya menjauh, asap rokok seakan menenangkan pikirannya. Elios mengangkat satu gelas berisikan redwine ke arah Alex, lalu Alex menerimanya dan langsung menghabiskan itu dalam satu tegukan.


“Sekacau itu situasimu saat ini hingga harus membawa Diana jauh-jauh ke sini?” tanya Elios, satu tegukan redwine membasahi tenggorokannya.


“Sangat kacau,” jawab Alex menuangkan kembali minuman itu ke dalam gelasnya yang kosong.

__ADS_1


“Lalu apa rencanamu ke depannya? Apa kau akan terus menyembunyikan semuanya dari gadis itu?”


__ADS_2