
Setelah melakukan renovasi selama satu bulan, akhirnya kamar
baby yang Alex janjikan kini sudah siap. Ibu hamil yang cantik itu kini tengah
gemar-gemarnya menata kamar calon putri kecilnya. Ya, putri kecil. Karena Diana
sudah memastikan itu semua dengan melakukan USG ke dokter kandungan.
“Kemari dan makanlah sesuatu.” Ujar seseorang yang baru saja
masuk ke dalam kamar baby Diana. Suara yang sangat Diana kenal. Siapa lagi jika
bukan suami tercintanya? Alex. Mendadak pria itu menjadi suami siaga semenjak
hari kelahiran babynya semakin mendekat.
“Kakak ….” Seru Diana seraya berjalan mendekat ke arah Alex
yang tengah duduk di atas sofa yang masih berada di dalam kamar baby tersebut.
“kenapa kakak yang membawakan makanan untuku? Kenapa tidak meminta kepada
pelayan saja?” imbuhnya bertanya.
“Sudahlah, makan terlebih dahulu bubur seafood kesukaanmu.”
Ujar Alex seraya menyendokan satu sendok bubur dan mengarahkannya kepada Diana.
Dengan senang hati wanita cantik itu membuka mulutnya dan
memasukan satu sendok bubur itu ke dalam mulut. Tersenyum tipis seraya menyeka
bubur di pinggiran buburnya, terlihat sangat menggemaskan bagi pandangan Alex.
Kenapa baru kali ini Ia menyadari jika istri kecilnya itu sangat cantik dan
lucu? Dan entah mengapa, melihat wajah Diana, luka lama serta rasa bersalah itu
selalu muncul.
Teruslah tersenyum seperti itu. Apapun yang akan terjadi.
Batin Alex.
“Kak.” seru Diana di saat Alex malah sibuk menatapnya dan
memberhentikan suapan buburnya.
Seketika itu juga Alex tersadar dan kembali menyendokan
bubur itu. Sembari terus memakan dan mengunyah makanannya, Diana memperhatikan
gerak-gerik suaminya itu. Apa yang tengah suaminya itu pikirkan?
“Apa ada sesuatu yang tengah mengganggu pikiranmu kak?” tanya Diana dengan raut wajah heran.
“Tidak ada, sayang. Makanlah.” Jawab pria tampan berusia dua
puluh delapan tahun itu. Meskipun banyak hal yang tengah di pikirkannya, Alex
juga tidak mungkin memberitahukan itu kepada Diana. Terlebih yang tengah Ia
pikirkan tak lain mengenai keluarga serta almarhum ayah wanita cantik itu.
Diana hanya mengangguk lemah mengiyakan. Ia tidak ingin
mendesak Alex untuk menceritakan apa yang tengah pria itu pikirkan. Meskipun
Alex berkata tidak, tapi Diana yakin ada sesuatu hal yang tengah Ia pikirkan.
Diana hapal bagaimana Alex bersikap akhir-akhir ini. Aneh. Bukan Alex seperti
biasanya.
“Maaf, Tuan, Nona. Ada Tuan dan Nyonya besar menunggu anda
__ADS_1
di bawah.” Ujar seorang pelayan dari ambang pintu.
Diana menatap heran kea rah Alex yang juga tengah menatapnya
penuh tanya. Tatapan Diana seolah menunjukan tanda tanya besar sekaligus
protes. Kedua orang tua Alex akan datang tapi Alex sama sekali tidak
memberitahunya. Seolah mengerti dengan tatapan istrinya, lantas Alex langsung
mengedikkan bahunya seraya menggeleng pelan dengan kerutan di dahi. Sungguh
Alex juga tidak tahu apapun mengenai kedatangan kedua orangtuanya.
“Ayo kita turun.” Ajak Diana kepada pria yang malah
bergeming di atas sofa itu.
Hal yang sangat-sangat Alex khawatirkan semoga tidak terjadi
hari ini. Semoga hanya kedatangan biasa yang kedua orang tuanya itu lakukan.
Semoga saja tidak ada maksud yang lainnya. Karena jika sedikit saja Diana
mengalami syok berlebih, itu sangatlah tidak baik untuk kehamilannya .
“Tunggulah di sini.” Ujar Alex kepada Diana, membuat wanita
cantik itu berkerut heran.
“Kak, tidak sopan jika membuat mamah dan ayah menunggu
seperti itu.” Jawab Diana yang sama sekali tidak mengindahkan perintah Alex.
Suaminya ini kenapa sangat aneh.
Jika semakin di paksakan, maka Diana akan semakin curiga.
Berdoa saja semoga hal-hal yang tidak di inginkan itu tidak terjadi hari ini.
Setelah itu, Alex dan Diana mulai beranjak dan keluar dari
kecilnya. Di usia kehamilannya yang sudah menginjak Sembilan bulan, Diana tidak
bisa lagi bergerak secara aktif. Kadang wanita hamil itu juga merasakan tidak
enak di bagian perut, atau bahkan pusing ketika berdiri setelah lama terduduk.
Maka dari itu, harus ada orang yang selalu mendampinginya. Dan Alex tidak
mempercayakan itu kepada siapapun. Pria itu akan menjadi suami yang siap siaga
untuk istri dan baby kecilnya.
Pria serta wanita paruh baya itu seketika langsung berdiri
setelah melihat kehadiran anak dan menantunya.
Nyonya pradipta menyambut hangat Diana dengan memberikan pelukan ringan kepada
wanita hamil itu. Setelah pelukan itu terlepas, Diana langsung melangkah
mendekat kea rah ayah mertuanya, mengulurkan lengan dan mencium punggung
telapak tangan ayah mertuanya. Tuan pradipta masih bertingkah biasa saja,
sopan, dan tidak ada perkataan tidak enak yang keluar. Anggap jika semuanya
baik-baik saja.
“Ayo duduk sayang.” Ajak nyonya Pradipte kepada Diana. Dan Diana
menurut kemudian duduk di samping mamah mertuanya. Sementara Alex duduk di
sebuah sofa tunggal di samping sofa Diana terduduk.
__ADS_1
“Apakah ada hal penting sehingga kalian datang ke sini?”
tanya Alex yang terdengar sangat tidak menyenangkan. Diana langsung melirik kea
rah suaminya dengan tatapan tidak suka, kenapa Alex bertanay seolah Ia tidak
mengharapkan kehadiran kedua orang tuanya?
“Ah … Aku yang mengajak ayahmu untuk datang. Aku dengar
kelahiran baby kalian sudah semakin dekat.” Jawab nyonya Pradipta dengan raut
wajah bersalah. Membuat Diana yang melihatnya berkerut heran. Sebenarnya ada
apa? Pasti ada yang tidak beres di sini. Ada sesuatu hal yang di sembunyikan
dari Diana.
Diana tersenyum tipis. “Iya ma, dokter mengatakan jika hari
kelahiranku akan datang satu minggu lagi.”
“Benarkah? Apa kalian sudah melakukan USG? Bagaimana? Apa
jenis kelamin baby kalian?” tanya Nyonya Pradipta yang mendadak sangat
antusias.
“Aku sudah melakukan USG. Dan itu adalah baby perempuan.” Jawab
Diana dengan senyuman tipis di wajahnya, dan satu telapak tangan mengelus
perutnya yang membuncit.
“Benarkah? Baby perempuan? Aku jadi teringat dengan Leona.” Lirihnya
dengan nada sendu.
Diana berkerut heran. Leona? Sepertinya nama itu terdengar
tidak asing bagi indera pendengaran Diana. Ia pernah mendengarnya, tapi dimana?
“Ma,” suara parau dan berat itu menginterupsi. Seketika Nyonya
Pradipta langsung tersadar dan mengembalikan senyum di wajahnya kembali dan
menatap kea rah Diana.
“Siapa itu Leona, Ma?” tanya Diana, menatap mamah mertuanya
dengan penuh rasa heran.
“Bukan siapa-siapa.” Jawab Alex. Dan refleks Diana langsung
menatap kea rah suaminya. Mamah mertuanya yang Ia tanya, bukan Alex. Kenapa sangat
sembarangan menjawab pertanyaan yang bahkan bukan di ajukan untuk dirinya?
“Ma,” lirih Diana, berharap mamah mertuanya itu memberikan
sebuah jawaban.
“Alex benar. Leona bukan siapa-siapa.” Jawab nyonya Pradipta
dengan senyuman yang di paksakan. Meskipun di tutupi sedemikian rupa, Diana
masih bisa melihat raut wajah sedihnya di wajah mamah mertuanya ketika Ia
menyebutkan Leona bukanlah siapa-siapa.
Kenapa? Apa yang sebenarnya mereka tutup-tutupi?
Maaf upny lama. Insya allah mulai hari ini upnya banyak dan
tiap hari soalnya mau aku tamatin hehe. See you guys.
__ADS_1
Eh btw ada yang mau masuk grup chat aku gak? Kalo ada koment
ya, nanti gerbangnya aku buka huaa kwkwkwkw.