Pengorbanan Cinta Diana

Pengorbanan Cinta Diana
Episode 97


__ADS_3

Setelah melakukan renovasi selama satu bulan, akhirnya kamar


baby yang Alex janjikan kini sudah siap. Ibu hamil yang cantik itu kini tengah


gemar-gemarnya menata kamar calon putri kecilnya. Ya, putri kecil. Karena Diana


sudah memastikan itu semua dengan melakukan USG ke dokter kandungan.


“Kemari dan makanlah sesuatu.” Ujar seseorang yang baru saja


masuk ke dalam kamar baby Diana. Suara yang sangat Diana kenal. Siapa lagi jika


bukan suami tercintanya? Alex. Mendadak pria itu menjadi suami siaga semenjak


hari kelahiran babynya semakin mendekat.


“Kakak ….” Seru Diana seraya berjalan mendekat ke arah Alex


yang tengah duduk di atas sofa yang masih berada di dalam kamar baby tersebut.


“kenapa kakak yang membawakan makanan untuku? Kenapa tidak meminta kepada


pelayan saja?” imbuhnya bertanya.


“Sudahlah, makan terlebih dahulu bubur seafood kesukaanmu.”


Ujar Alex seraya menyendokan satu sendok bubur dan mengarahkannya kepada Diana.


Dengan senang hati wanita cantik itu membuka mulutnya dan


memasukan satu sendok bubur itu ke dalam mulut. Tersenyum tipis seraya menyeka


bubur di pinggiran buburnya, terlihat sangat menggemaskan bagi pandangan Alex.


Kenapa baru kali ini Ia menyadari jika istri kecilnya itu sangat cantik dan


lucu? Dan entah mengapa, melihat wajah Diana, luka lama serta rasa bersalah itu


selalu muncul.


Teruslah tersenyum seperti itu. Apapun yang akan terjadi.


Batin Alex.


“Kak.” seru Diana di saat Alex malah sibuk menatapnya dan


memberhentikan suapan buburnya.


Seketika itu juga Alex tersadar dan kembali menyendokan


bubur itu. Sembari terus memakan dan mengunyah makanannya, Diana memperhatikan


gerak-gerik suaminya itu. Apa yang tengah suaminya itu pikirkan?


“Apa ada sesuatu yang tengah mengganggu pikiranmu kak?”  tanya Diana dengan raut wajah heran.


“Tidak ada, sayang. Makanlah.” Jawab pria tampan berusia dua


puluh delapan tahun itu. Meskipun banyak hal yang tengah di pikirkannya, Alex


juga tidak mungkin memberitahukan itu kepada Diana. Terlebih yang tengah Ia


pikirkan tak lain mengenai keluarga serta almarhum ayah wanita cantik itu.


Diana hanya mengangguk lemah mengiyakan. Ia tidak ingin


mendesak Alex untuk menceritakan apa yang tengah pria itu pikirkan. Meskipun


Alex berkata tidak, tapi Diana yakin ada sesuatu hal yang tengah Ia pikirkan.


Diana hapal bagaimana Alex bersikap akhir-akhir ini. Aneh. Bukan Alex seperti


biasanya.


“Maaf, Tuan, Nona. Ada Tuan dan Nyonya besar menunggu anda

__ADS_1


di bawah.” Ujar seorang pelayan dari ambang pintu.


Diana menatap heran kea rah Alex yang juga tengah menatapnya


penuh tanya. Tatapan Diana seolah menunjukan tanda tanya besar sekaligus


protes. Kedua orang tua Alex akan datang tapi Alex sama sekali tidak


memberitahunya. Seolah mengerti dengan tatapan istrinya, lantas Alex langsung


mengedikkan bahunya seraya menggeleng pelan dengan kerutan di dahi. Sungguh


Alex juga tidak tahu apapun mengenai kedatangan kedua orangtuanya.


“Ayo kita turun.” Ajak Diana kepada pria yang malah


bergeming di atas sofa itu.


Hal yang sangat-sangat Alex khawatirkan semoga tidak terjadi


hari ini. Semoga hanya kedatangan biasa yang kedua orang tuanya itu lakukan.


Semoga saja tidak ada maksud yang lainnya. Karena jika sedikit saja Diana


mengalami syok berlebih, itu sangatlah tidak baik untuk kehamilannya .


“Tunggulah di sini.” Ujar Alex kepada Diana, membuat wanita


cantik itu berkerut heran.


“Kak, tidak sopan jika membuat mamah dan ayah menunggu


seperti itu.” Jawab Diana yang sama sekali tidak mengindahkan perintah Alex.


Suaminya ini kenapa sangat aneh.


Jika semakin di paksakan, maka Diana akan semakin curiga.


Berdoa saja semoga hal-hal yang tidak di inginkan itu tidak terjadi hari ini.


Setelah itu, Alex dan Diana mulai beranjak dan keluar dari


kecilnya. Di usia kehamilannya yang sudah menginjak Sembilan bulan, Diana tidak


bisa lagi bergerak secara aktif. Kadang wanita hamil itu juga merasakan tidak


enak di bagian perut, atau bahkan pusing ketika berdiri setelah lama terduduk.


Maka dari itu, harus ada orang yang selalu mendampinginya. Dan Alex tidak


mempercayakan itu kepada siapapun. Pria itu akan menjadi suami yang siap siaga


untuk istri dan baby kecilnya.


Pria serta wanita paruh baya itu seketika langsung berdiri


setelah melihat kehadiran anak dan  menantunya.


Nyonya pradipta menyambut hangat Diana dengan memberikan pelukan ringan kepada


wanita hamil itu. Setelah pelukan itu terlepas, Diana langsung melangkah


mendekat kea rah ayah mertuanya, mengulurkan lengan dan mencium punggung


telapak tangan ayah mertuanya. Tuan pradipta masih bertingkah biasa saja,


sopan, dan tidak ada perkataan tidak enak yang keluar. Anggap jika semuanya


baik-baik saja.


“Ayo duduk sayang.” Ajak nyonya Pradipte kepada Diana. Dan Diana


menurut kemudian duduk di samping mamah mertuanya. Sementara Alex duduk di


sebuah sofa tunggal di samping sofa Diana terduduk.

__ADS_1


“Apakah ada hal penting sehingga kalian datang ke sini?”


tanya Alex yang terdengar sangat tidak menyenangkan. Diana langsung melirik kea


rah suaminya dengan tatapan tidak suka, kenapa Alex bertanay seolah Ia tidak


mengharapkan kehadiran kedua orang tuanya?


“Ah … Aku yang mengajak ayahmu untuk datang. Aku dengar


kelahiran baby kalian sudah semakin dekat.” Jawab nyonya Pradipta dengan raut


wajah bersalah. Membuat Diana yang melihatnya berkerut heran. Sebenarnya ada


apa? Pasti ada yang tidak beres di sini. Ada sesuatu hal yang di sembunyikan


dari Diana.


Diana tersenyum tipis. “Iya ma, dokter mengatakan jika hari


kelahiranku akan datang satu minggu lagi.”


“Benarkah? Apa kalian sudah melakukan USG? Bagaimana? Apa


jenis kelamin baby kalian?” tanya Nyonya Pradipta yang mendadak sangat


antusias.


“Aku sudah melakukan USG. Dan itu adalah baby perempuan.” Jawab


Diana dengan senyuman tipis di wajahnya, dan satu telapak tangan mengelus


perutnya yang membuncit.


“Benarkah? Baby perempuan? Aku jadi teringat dengan Leona.” Lirihnya


dengan nada sendu.


Diana berkerut heran. Leona? Sepertinya nama itu terdengar


tidak asing bagi indera pendengaran Diana. Ia pernah mendengarnya, tapi dimana?


“Ma,” suara parau dan berat itu menginterupsi. Seketika Nyonya


Pradipta langsung tersadar dan mengembalikan senyum di wajahnya kembali dan


menatap kea rah Diana.


“Siapa itu Leona, Ma?” tanya Diana, menatap mamah mertuanya


dengan penuh rasa heran.


“Bukan siapa-siapa.” Jawab Alex. Dan refleks Diana langsung


menatap kea rah suaminya. Mamah mertuanya yang Ia tanya, bukan Alex. Kenapa sangat


sembarangan menjawab pertanyaan yang bahkan bukan di ajukan untuk dirinya?


“Ma,” lirih Diana, berharap mamah mertuanya itu memberikan


sebuah jawaban.


“Alex benar. Leona bukan siapa-siapa.” Jawab nyonya Pradipta


dengan senyuman yang di paksakan. Meskipun di tutupi sedemikian rupa, Diana


masih bisa melihat raut wajah sedihnya di wajah mamah mertuanya ketika Ia


menyebutkan Leona bukanlah siapa-siapa.


Kenapa? Apa yang sebenarnya mereka tutup-tutupi?


Maaf upny lama. Insya allah mulai hari ini upnya banyak dan


tiap hari soalnya mau aku tamatin hehe. See you guys.

__ADS_1


Eh btw ada yang mau masuk grup chat aku gak? Kalo ada koment


ya, nanti gerbangnya aku buka huaa kwkwkwkw.


__ADS_2