
Diana menundukan wajahnya kebawah, terdiam sembari pandangannya tertuju pada piring berisikan makanan di atas meja. Sesekali Ia melirik ke arah Alex yang duduk di depannya, terlihat tenang ketika menyantap makan siangnya. Wajahnya terlihat sangat santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Diana mencebik, menghela napas panjang dan menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi. Diana menatap Alex lalu memutarkan kedua bola matanya.
“Ada apa denganmu? ” tanya Alex sembari terus mengunyah makanannya. Diana menggeleng pelan.
Alex menyudahi acara makannya lalu menyeka mulutnya dengan tisue dan menatap Diana tajam.
“Ada apa? ” tanyanya kembali, kini dengan nada suara yang penuh dengan penekanan. Diana tetap tidak bergeming. “Kau.. ”
“Kenapa kau ada di sini? ” tanya Diana, memotong perkataan Alex.
“Aku kesini untuk makan siang, ” jawabnya singkat dengan nada santai.
“Jelas kau kemari untuk menggangguku! ” gunam Diana rendah, Alex masih bisa mendengar ucapan Diana, namun Ia sengaja mengabaikannya.
“Pulanglah, aku masih ada urusan. ” Alex beranjak dari kursinya, Ia membelai pipi Diana lembut sebelum melangkah pergi dari pintu keluar cafe. Tidak lupa Ia membayar terlebih dahulu makanan yang sudah Ia pesan tadi.
Alex memutuskan pergi dari cafe dan membiarkan Diana sendiri. Ia tahu jika dirinya tidak pergi maka Diana akan terus bertanya kepadanya. Alex juga tahu dengan maksud apa Nameera meminta untuk bertemu dengan Diana, Ia pasti berniat untuk memberitahukan apapun yang Ia tahu kepada Diana. Walaupun sebenarnya Diana berhak tahu, tapi Ia harus mengetahuinya langsung dari mulut Alex. Dan menurut Alex sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk memberitahukan semua ini kepada Diana.
Diana meminta kepada supir untuk mengantarkannya ke taman sebelum Ia pulang. Diana ingin berjalan-jalan sebentar dan menghirup udara segar setelah lama berada di dalam mansion. Mansion megah bak istana itu bagaikan sebuah penjara bagi Diana.
Diana duduk di kursi taman yang langsung menghadap ke danau. Pikirannya melayang ketika matanya tengah menyusuri setiap sisi tempat ini. Dulu, dirinya dan Ghani sangat sering datang ke taman ini untuk bermain, bahkan ketika Diana merasa sedih, Ia selalu mendatangi taman ini. Rasanya Ia ingin kembali ke masalalu.
“Kau sendirian? ” suara seseorang membuyarkan lamunan Diana. Refleks Diana menoleh ke arahnya.
Diana tersenyum lebar karena senang. Hampir Ia meloncat untuk memeluk seseorang yang kini tengah duduk di sampingnya. Namun Diana mengurungkan niatnya mengingat dirinya kini sudah menikah, dan memeluk pria lain di belakang suaminya merupakan hal yang tabu. Terlebih lagi suaminya adalah Alex.
“Ghani, aku sangat merindukanmu, ” ujarnya dengan mata yang berbinar.
__ADS_1
Ghani tersenyum lebar menatap Diana, sesungguhnya Ia juga merasakan apa yang Diana rasakan.
“Bagaimana kabarmu? ” tanya Diana lagi, matanya menyelidik ke arah sahabatnya itu, melihatnya dari atas sampai bawah. “Kau sangat rapih dan terlihat berbeda, ”
“Ya, seperti inilah aku sekarang, selalu di sibukkan dengan pekerjaan kantor. ” jawab Ghani, matanya Ia tunjukan pada tubuhnya yang berpakaian rapih dan tidak terlihat seperti biasa ketika Ia bertemu Diana.
Diana mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasan dari sahabat karibnya. “Ah, apa kau bilang? Kantor? ”
Ghani mengangkat kedua halisnya, lalu menghembuskan napas berat. “Ya, aku mengambil alih perusahaan ayahku. ” ujarnya, memperlihatkan dengan jelas keberatan hatinya menghadapi semua itu.
Diana mencebik, “Seharusnya kau bangga!”
“Hah, tapi ini bukanlah hal yang aku inginkan. ” keluh Ghani, Diana memutarkan kedua bola matanya.
“Setidaknya kau masih dapat melakukan apapun yang kau suka. Bersyukur! ” Diana menghembuskan napas berat.
Ghani menatap ke arahnya, expresi ceria Diana tiba-tiba berubah menjadi expresi kekecewaan.
Diana mengerutkan kedua halisnya, kesal akan tingkah sahabatnya yang terang-terangan tengah meledeknya.
“Tapi kau tetap terlihat cantik, ” Ghani tersenyum dengan dua ibu jari yang Ia angkat ke atas. Diana tersenyum tipis dan menahan tawanya.
“Kau tidak pernah berubah, kau selalu konyol dan suka mengganggu. ” Diana terkekeh di ikuti oleh Ghani.
Seperti itulah Diana, Ia tidak pernah merasa asing ataupun gugup jika berhadapan dengan Ghani. Ghani adalah sahabat masa kecilnya, Diana tidak perlu menutupi sikapnya dari Ghani. Berbeda ketika dirinya sedang bersama Alex, Ia harus memikirkan kembali tindakan atau perkataan dari mulutnya dengan matang. Sebenarnya Ia merasa tertekan, namun apa daya jika Ia menampilkan sisi dirinya yang sebenarnya? Bisa-bisa Ia mendapatkan masalah dan hukuman dari Alex lagi. Ya, lagi!
“Kau tidak tahu jika aku berperilaku seperti ini hanya di hadapanmu. ” batin Ghani.
Tiba-tiba, Diana teringat akan sikap Nameera yang berubah hampir tiga ratus enam puluh derajat. Nameera yang sombong dan egois, suka memperlakukan Diana seenaknya saja tiba-tiba berubah menjadi Nameera yang terlihat peduli dan lembut kepada Diana. Diana juga mengingat perkataan Alex ketika Ia melihat Nameera dengan pasangan barunya. Cinta sejati?
__ADS_1
Diana dan Ghani sudah mulai tenang. Kekehan mereka tergantikan oleh hembusan angin yang dengan sengaja mengayunkan dedaunan dan ranting hingga keduanya saling bergesekan dan menimbulkan suara yang khas. Keduanya kini tengah menatap ke arah danau yang tepat berada di depan kursi mereka.
“Ghani? ” panggil Diana.
“Ada apa? ” sahut Ghani tanpa menolehkan pandangannya, Ia juga tahu bahwa Diana tidak menoleh ketika memanggil namanya. Terlihat begitu jelas dari ekor matanya.
“Apakah kau percaya dengan cinta sejati seseorang? ”
Kehenigan itu berubah menjadi gelak tawa Ghani yang dengan lantang menertawakan perkataan Diana tadi.
“Ghani ... ” Diana geram, Ia mencubit perut Ghani lalu memelototinya.
“Aw, baiklah baiklah. Lepaskan itu, okey? ” Ghani meringis di sela tawanya. Diana langsung meringankan cubitannya dari perut Ghani namun Ia tidak menarik kembali jemarinya. Jemarinya tetap berada di sana, berjaga kalau Ghani akan meledeknya kembali.
“Apa katamu? Cinta sejati? ” Ghani terdiam sejenak, Ia harus memikirkan dengan betul-betul mengenai pertanyaan yang di ajukan oleh Diana. “Mengapa kau bertanya seperti itu? Apakah kau sedang jatuh cinta atau semacamnya? ”
“Bagaimana rasanya jatuh cinta, aku sendiri tidak mengerti. ” lirih Diana lalu mengangkat kedua bahunya.
“Kau tidak akan paham karena kau tidak pernah merasakannya. Ada dua jenis hal mengenai jatuh cinta. ”
Ghani menghentikan perkataannya, sementara Diana terus memasang telinga lebar untuk mendengarkan dengan seksama lanjutan dari penjelasan Ghani tadi.
“Apa? ” tanya Diana ketika Ghani tak kunjung melanjutkan perkataannya.
Diana menghela napas dalam, mengisi ulang udara di paru-parunya sebelum Ia menjelaskan panjang lebar mengenai 'Jatuh cinta'.
“Satu, jatuh cinta karena obsesi. Jika kau merasakan bahwa dirimu jatuh cinta kepada seseorang dengan alasan karena dia tampan atau kaya mempunyai karier bagus dan pintar,.”
“Tidak usah di jabarkan secara detail mengenai alasannya. Cukup katakan satu alasan, dan aku akan mengerti, ” gerutu Diana, dan Ghani hanya mengangguk setuju dengan ucapan kliennya itu. Klien, ya klien cinta. “Lalu? ”
__ADS_1
“Kau akan melakukan apapun untuk mendapat perhatian dan cinta darinya. Obsesi, obsesimu akan pudar ketika kau sudah mendapatkannya. ”