
Sudah tiga jam semenjak kepulangan mertuanya, Diana hanya
bergeming di atas sofa yang berada di dalam kamarnya. Wanita hamil itu tengah
melihat-lihat beberapa foto di dalam album. Foto masa kecil Alex, dari pria itu
masih menjadi baby kecil merah hingga sebesar sekarang. Tampan dan lucu. Tapi
meskipun matanya tertuju pada beberapa album di dalam foto itu, pikirannya
tetap tertuju pada hal yang terjadi beberapa jam yang lalu. Leona? Siapap itu
Leona?
Diana benar-benar merasa penasaran dengan hal itu, ia selalu
memikirkannya. Siapa dia? Apakah wanita yang bernama Leona itu keluarga Alex?
Diana pernah mendengar nama itu, namun dimana? Ah … Ia lupa. Bagaimana caranya Ia bisa mencari tahu siapa
wanita yang bernama Leona itu. Haruskah Ia menanyakannya kepada Alex? Tidak mungkin.
Karena sepertinya Alex tidak menyukai jika ada yang menyebutkan nama Alona.
“Kau melamun?”
Tiba-tiba sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Wanita hamil
yang tengah melamun sembari menatap keluar jendela itu seketika berjengit kaget
dan refleks langsung menoleh kea rah samping. Alex. Pria itu tengah berdiri
sembari menempelkan satu gelas berisikan jus buah pada pipi Diana.
“Kakak.” Serunya dengan nada memprotes sebal.
Sementara Alex hanya tersenyum kemudian duduk di samping
istrinya. Satu gelas berisikan jus buah itu Ia letakan di atas meja serta
sepiring irisan buah segar. Banyak pelayan di rumah mewah ini, tapi entah
kenapa Alex lebih suka melakukan semuanya sendiri. Pria tampan itu tidak
mempercayakan semua kebutuhan Diana kepada siapapun.
“Sedang memikirkan apa?” tanya Alex kepada istri cantiknya.
“Tidak kak.” Jawab Diana seraya menggeleng pelan.
Wanita cantik itu
sedikit mencondongkan tubuhnya untuk mengambil sepiring irisan buah yang Alex
bawakan. Sebenarnya Diana sangat ingin menanyakan perihal ini kepada Alex. Namun
Ia memikirkan waktu yang tepat. Karena semenjak kepulangan kedua orang tuanya
tadi, raut wajah Alex tampak kesal meskipun pria tampan bertubuh tegap itu
berusaha untuk menutupinya.
“Apakah kau memikirkan perihal siapa Leona?” ujar Alex yang
menghentikan kunyahan pada mulut Diana. Perlahan Diana mengangguk mengiyakan. Sudah
di tanya seperti ini kenapa menolak? Diana akan menyesal nantinya dan gila
karena rasa penasaran.
Seketika wajah cantik
dan mungil itu menoleh kea rah Alex,
__ADS_1
tatapannya menelisik bagaimana raut wajah pria di hadapannya. Datar. Diana
toidak tahu entah apa yang tengah di rasakan oleh pria itu. Entah marah, sedih,
atau biasa saja ketika Ia tahu Diana memikirkan tentang sesuatu yang jelas
Diana tahu jika Alex tidak suka ketika membahasnya.
“Leona adalah adikku.” Ujar Alex, membuat Diana langsung
menatap ke arahnya dengan raut tidak percaya. Adik? Bukankah Alex adalah putra
tunggal dari keluarga pradipta?
“Tapi kak, semua orang bahkan tahu jika keluarga Pradipta
hanya memiliki seorang putra. Dan Leona ….” Dari mananya saja sudah pasti itu
adalah nama seorang gadis. Sambung Diana yang hanya bisa Ia ucapkan di dalam
hati. Wanita hamil itu takut menyinggung Alex lebih jauh. Apalagi mendengar
jika seseorang yang bernama Leona itu adalah adiknya, ini pasti masalah serius
keluarga mereka. Keluarga Pradipta.
“Benar. Tidak banyak yang tahu jika aku memiliki seorang
adik perempuan.” Jawab Alex, dan kini dengan rahang yang mengeras. Why? Pria tampan
itu kelihatan sangat marah.
“Tapi dia adalah adikku.” Sambungnya.
Pandangan Diana jatuh, tidak bisa melihat raut wajah kekecewaan
yang sangat dalam pada wajah pria yang sangat di cintainya. Wajah datar, diam,
lantas kenapa seluruh dunia hanya tahu jika keluarga besar Pradipta hanya
memiliki seorang putra tunggal saja? Kenapa sosok Leona tidak pernah tampil di public?
Dimana dia?
“Dia hilang, bungkam, dan seperti tidak pernah ada di dunia
ini. Itu semua karena keegoisan seseorang.”
“Kakak ….” Diana langsung menegakkan kembali pandangannya
dan menatap Alex. Suara berat dan parau itu terdengar sangat tidak
menyenangkan. Marah. Satu kata yang Diana simpulkan untuknya. Alex marah. Marah?
Apakah pria itu marah kepadanya karena perkataan Diana yang lancang?
Alex langsung menolehkan wajahnya dan menatap istri kecilnya
yang tengah menatap nanar kea rah dirinya. Bibir mungil dan tipis itu bergetar.
Astaga … Alex melupakan jika istrinya itu sangat sensitive dan mudah
tersinggung. Amarah Alex bukan tertuju kepadanya. Kemudian dua telapak tangan
Alex menakup pada kedua sisi wajah Diana.
“Tidak apa-apa sayang.” Ujarnya menenangkan, dan berharap
jika Diana akan paham dengan sendirinya tanpa harus Alex jelaskan.
Diana mengangguk
perlahan. Memang hatinya sangat sensitive. Bukan karena efek kehamilannya, tapi
__ADS_1
gadis berusia delapan belas tahun itu memang sangat mudah terluka hatinya. Wataknya
yang polos dan juga lembut. Bahkan Alex pernah berusaha untuk mengubahnya.
Kemudian Alex menurunkan lengannya dari menakup wajah Diana.
Kini kedua telapak tangannya beralih mengenggam erat kedua telapak tangan istri
kecilnya. “Apakah kau masih ingin tahu tentang Leona?” tanya Alex, dan Diana
langsung mengangguk mengiyakan.
“Leona adalah adikku, dia sudah meninggal.”
Sementara Diana hanya bergeming dan masih terus menjelaskan.
Ia sangat ingin bertanya, namun wanita cantik itu enggan untuk melakukannya. Diana
takut salah, Diana takut jika Alex akan marah. Astaga … Hatinya. Meskipun berulang
kali Alex menyakinkan Diana tentang hatinya yang sepenuhnya Ia berikan untuk
istri kecilnya itu, tapi entah mengapa Diana masih belum bisa beradaptasi
dengan semua itu.
“Kau tahu apa yang menyebabkannya meninggal?” tanya Alex
lagi, dan Diana langsung menggeleng lemah untuk itu.
Kenapa kak? Apakah dia sakit? Apakah meninggal ketika masih
bayi? Karena kehadirannya seperti sama sekali tidak pernah ada. Batin Diana
menerka-nerka..
Leona adalah gadis yang cantik, baik, dan juga lugu. Sama persis
seperti Diana. Namun suatu hari, entah ada angin apa yang sampai membawanya
pada keadaan yang tidak pernah Alex sangka sebelumnya. Gadis cantik itu
mengatakan jika Ia mencintai seorang pria. Apa yang salah dengan itu? Tentunya tidak
ada. Masalahnya terletak pada keegoisan seseorang. Yaitu Pradipta. Pria paruh
baya itu tidak menyetujui jika Leona memiliki hubungan dengan seorang pria yang
bahkan tidak jelas asal usulnya.
Pradipta tidak setuju. Ia terus memaksa Leona unntuk menjauh
dari pria itu, meskipun Pradipta tahu jika putri satu-satunya itu sangat
mencintai pria tersebut. Leona di kurung. Gadis cantik itu bahkan tidak di
perbolehkan keluar sampai akhirnya Ia memutuskan untuk melakukan hal bodoh
tersebut.
“Kakak ….” Lirih Diana. Genggaman tanganya semakin erat
mengenggam telapak tangan Alex. Pandangannya nanar. Kini Diana tahu kenapa Alex
tidak suka membahas perihal Leona. Karena semua itu secara tidak langsung
mengintakannya dengan luka di masa lalu.
Haii aku mau curhat ih. Ko tulisan aku jadi acak-acakan yah
huaah sedih bgt. Padahal aku nulis di web, malah kek ginih ih. Okok nnti aku
revisi beb see you. Makasih buat yang masih setia baca yah hehe.
__ADS_1