Pengorbanan Cinta Diana

Pengorbanan Cinta Diana
Episode 91


__ADS_3

Lelaki itu menatap gadis itu tidak tega, Ia melihat Diana dari ambang pintu kamar miliknya. Diana tengah berdiri sembari menatap keluar jendela dengan tatapannya yang sendu, matanya merah dan sembab karena sudah menangis seharian ini.


Alex mengayunkan kakinya mendekat ke tempat Diana berdiri, Ia menyentuh bahunya perlahan lalu gadis itu menoleh ke arahnya.


Lengan Alex turun untuk menautkan jemarinya pada jari Diana, “Ayo kiya pulang,” ajaknya, sudah beberapa jam berlalu saat mereka pulang dari pemakamam dan gadis itu masih bergeming di dalam kamarnya.


Diana melengos dan melepaskan tautan jemari mereka, dengan langkahnya yang lemah Ia berjalan lalu terduduk di tepi ranjang. “Tidak, Kak.” tolaknya, air matanya kembali mengenang. “Aku mau di sini untuk sementara waktu,” Diana menyeka air mata yang turun ke pipinya dengan kasar lalu menundukkan wajahnya dalam.


Alex menghela napas lelah, lalu Ia mendekat ke arah Diana dan duduk di sampingnya. “Sampai kapan kau akan seperti ini? Semua tidak baik untuk kesehatanmu.” ungkapnya.


“Kak,” Ia mendongakan wajahnya menatap Alex dengan air mata mengenang di pelupuk matanya. “Ayah, Kak ... aku merindukannya. Aku menyesal, Kak. Aku bodoh aku bahkan tidak tahu kalau ayah sedang berada di dalam masalah. Terakhir kali aku mendengar suaranya, suara ayah penuh dengan tekanan ....” Ia menelan salivanya susah payah, menahan isakan yang tercekat di tenggorokannya. “Seandainya aku tahu, Kak. Aku ingin selalu menemaninya.”


Alex tertegun, hatinya meringis sakit melihat Diana seperti ini. Ia menarik Diana dan berhambur ke dalam pelukannya. Gadis itu menangis tergugu di dalam pelukan Alex.


***


Sudah tiga hari ini semenjak Tuan Wijaya meninggal, Diana masih berada di kediamannya. Sebenarnya Alex tak henti membujuk gadis itu agar mau pulang, namun Diana terus saja meminta waktu lebih. Alex tidak bisa apa-apa selain menuruti permintaanya. Sementara dirinya harus pulang untuk menangani pekerjaannya yang sempat terhenti lama. Terpaksa Alex harus pulang pergi ke perusahaan dengan jarak tempuh yang lumayan jauh.


“Diana,” terdengar suara Nameera dari luar sembari mengetuk pintu kamarnya.


Diana menyeka air matanya di pipi dan beranjak untuk membukakan pintu, “Iya, Kak?” sahutnya setelah pintu terbuka.


“Ghani menungumu di bawah,” ujarnya.


“Baiklah,”


Setelahnya Diana turun dengan di bantu Nameera, Ia melihat sahabatnya yang sudah terduduk di sofa ruang tamu menunggu dirinya. Sahabatnya yang sudah lama tidak Ia temui.

__ADS_1


“Diana,” Ghani beranjak ketika melihat Diana datang, dan gadis itu hanya tersenyum tipis menyambutnya.


“Duduklah, aku akan meminta bibi untuk menyiapkan minuman.” ujar Nameera lalu beranjak pergi dari sana.


Ghani menghela napasnya, Ia sangat tidak tega melihat kondisi Diana saat ini. Ghani dapat merasakan betapa sedihnya Diana ketika ayahnya meninggal. Karena Ghani tahu, selain ayahnya Diana tidak mempunyai siapapun lagi.


“Diana aku turut berduka atas kepergian om Wijaya,” ungkapnya lirih.Sementara gadis itu masih bergeming di tempatnya sembari terus menundukan wajahnya.


Diana menghela napasnya, Ia menarik wajahnya dan menatap ke arah Ghani. “Iya terimakasih.” ujarnya.


Diana... Perilakunya sungguh membuat Ghani semakin meringis sakit. Gadis itu menahan kesedihannya di hadapan Ghani. Padahal sejak kecil mereka tidak pernah menutupi apapun yang mereka rasakan. Bahkan Diana akan berlari ke arahnya untuk berhambur ke dalam pelukannya ketika Ia merasa sedih karena di tindas Nameera dan ibu tirinya. Tapi semuanya sudah berlalu. Semuanya tidak lagi sama.


“Maaf aku tidak datang saat pemakaman ayahmu, aku sangat menyesal aku juga tidak bisa membantu saat beliau mengalami kesulitan.” sesalnya.


Diana terhenyak saat Ghani mengatakan itu semua, apa kesulitan yang Ghani maksud? Apa Ia tahu segalanya?


“Kesulitan apa maksudmu? Apa itu sebabnya ayahku mengalami serangan jantung?”


Tak lama Nameera datang dengan membawa dua gelas jus di atas nampan, Ia meletakannya di atas meja lalu duduk di samping Diana. Ghani menatap wanita cantik itu, Ia menatapnya dengan penuh tanya. Nameera menggeleng pelan membalas tatapan dari Ghani. Ghani tidak percaya, bahkan mereka semua menutupi hal sebesar itu dari Diana.


***


Setelah perbincangannya dengan Diana, Ghani pamit pada sahabatnya itu untuk kembali dan membiarkan Diana istirahat. Setelah Ia baru saja keluar dari pintu, tiba-tiba lengannya sudah di tarik oleh Nameera.


“Ikut aku,” ajaknya seraya menarik lengan Ghani menjauh dari sana.


Nameera mengajak Ghani ke cafee terdekat dengan kediamannya, Ia tampak terburu-buru ketika menarik Ghani bersamanya. Ghani memperhatikan itu, Ia bisa menebak apa yang akan di katakan oleh wanita cantik itu.

__ADS_1


“Ini tentang Diana,” ungkapnya dan Ghani langsung mengangguk mengerti.


“Apa kalian menutupi semua itu darinya? Itu bukanlah hal yang kecil, bagaimana jika Ia tahu itu semua nanti di saat semuanya sudaj terlambat? Perusahaan suaminya sendiri menekan perusahaan ayahnya hingga menyebabkan hal fatal itu terjadi!” geram Ghani, Ia tahu semuanya. Namun Ia baru mengetahui bahwa Diana tidak tahu akan hal itu. Betapa malangnya gadis itu.


“Hei tenanglah,”


“Bagaimana bisa!” desisnya kesal, Ia menggertakan giginya lalu menghela napas lelah.


“Kita semua punya alasan, jika bukan karena kesehatannya kita akan memberitahukan semuanya kepada Diana.”


Ghani menyenderkan tubuhnya ke belakang pada senderan kursi lalu mengurut pangkal hidungnya. “Kau tahu semua itu dari awal? Tapi kau membiarkannya!”


“Ya, aku menyesal! Aku juga tidak menyangka akan sekacau ini. Jika saja aku tidak menerima permintaan lelaki itu untuk menikah dan tidak egois.” Nameera mengerjap beberapa kali menghalau air mata yang menerobos keluar dari pelupuk matanya.


Ghani menghela napas lelah mendengar itu semua.


***


“Kak,” Diana membangunkan Alex yang tengah tertidur di sampingnya. Waktu sudah menunjukan pukul delapan pagi dan Alex masih terlelap di atas ranjang. “Kak Alex,” Ia menguncang tubuh suaminya agar segera bangun.


Alex menggeliatkan tubuhnya lalu menarik selimutnya kembali, menutup kembali tubuhnya, tidak ada niatan untuk bangun pagi ini. Perjalanan antara kantor dan rumah Diana benar-benar membuatnya lelah, terlebih masalah rumit yang harus Ia urus.


Diana menggeleng lemah, biarkan saja jika suaminya itu tidak mau bangun makan jangan salahkan Diana jika Alex harus terlambat pergi bekerja.


Diana hendak baranjak turun dari ranjang namun tiba-tiba Alex menarik lengannya pelan dan membuat Diana berbaring kembal. Ia memeluknya ringan. “Jangan pergi,” gunamnya dengan suara serak khas bangun tidur.


Diana berdecak kesal, “Sudah siang, Kak!”

__ADS_1


“Aku merindukanmu,” bisiknya tepat di telinga Diana lalu mencium tengkuknya. Dapatkah Diana mengartikan kata 'rindu' itu dengan arti yang lain?


“Kak,” serunya. “Tidak hari ini.”


__ADS_2