
“Berbaliklah, ”
Diana menegang ketika Alex memintanya untuk berbalik dari posisinya, apalagi Alex sempat mengatakan bahwa Diana harus membayar atas apa yang telah di lakukannya hari ini. Diana terdiam, Ia bahkan tidak berani bergerak satu inci sekalipun, Diana merasa sangat tertekan dengan posisinya saat ini.
“Me-mengapa kau.. mengapa kau bertindak seperti ini? Jika ujung-ujungnya kau mengharapkan imbalan dariku, lebih baik kau tidak usah membuatku merasa senang! ” ujar Diana dengan sejuta kegugupannya.
Alex tersenyum tipis ketika mendengarnya, Diana terlihat sangat gugup dan tegang. Padahal siang tadi, Alex berada di sisinya seharian penuh, dan Diana bisa bersikap dengan tenang dan santai. Sungguh tidak kompeten, sikapnya selalu berubah-ubah tergantung situasi dan suasana hatinya.
“Mengapa dia tidak menjawab? ” tanya Diana dalam hati
Diana mencoba melepaskan dekapan tangan Alex dari tubuhnya, namun Alex mendekapnya dengan sangat kuat. Diana kira, Alex tidak menjawab perkataanya tadi karena Ia sudah tertidur, tapi ternyata Alex masih terbangun dan mampu mendekapnya seperti itu.
Diana mulai bingung, keringat dingin membasahi keningnya. Ia tertekan, tertekan dengan posisinya saat ini. Mengapa Alex tidak membiarkannya pergi, dan mengapa Alex sedari tadi hanya terdiam. Diana menggigit bagian bawah bibirnya, mencoba memikirkan suatu hal agar Alex mau melepaskan dekapan tangannya pada tubuhnya.
“Bisakah kau ... memberikan kunci pintu itu? Aku haus dan ingin mengambil segelas air, ” ujar Diana
Tiba-tiba, Alex membalikan tubuh Diana, agar posisinya berhadapan dengannya. Sontak Diana terkejut, matanya terbelalak menatap Alex yang berada sangat dekat dengannya. Alex menatapnya begitu dalam, Ia memperharikan setiap inci dari wajah cantik nan polos istrinya. Diana semakin tegang, ketika lengan Alex semakin mendekap dirinya dan mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Diana.
“Kau terlihat begitu tertekan, ” ujar Alex
Alex mendekatkan wajahnya pada wajah Diana, Ia mencoba meraih bibir Diana dan menciumnya. Namun, ketika bibirnya bersentuhan dengan bibir Diana, Diana langsung memalingkan wajahnya ke samping. Menghindar dari ciuman Alex.
“Kau pernah menyentuh hatiku sekali, lalu kau menghancurkannya. Tahukah seberapa sakitnya itu? Kau merangkulku erat ke dalam kehidupanmu kembali dengan begitu mudahnya, itu tidak benar! Seharusnya aku menolak, tapi kau terus mengancamku agar membuatku diam untuk tetap tinggal! Sebenarnya apa yang kau ingin aku lakukan? ” Diana membatin, hatinya menjerit dalam kekalutan rasa kecewanya di masalalu
__ADS_1
“Kau menolakku? ”
“Seperti ini lagi ... ” gunam Diana di dalam hati, “Terakhir kali kau mengatakan kalimat seperti itu ... ” ujar Diana lalu terdiam, pandangannya tidak Ia alihkan sedikitpun agar tidak memandang wajah Alex
“Bukankah sudah aku katakan aku akan memperbaikinya? Apa kau senang jika selalu mengungkit hal itu kembali? ”
Ia menolehkan wajahnya dan menatap tajam Alex, “Apa kau akan memaksaku lagi? ” tanya Diana dingin,
Seketika Alex langsung melepaskan dekapannya pada tubuh Diana, mereka saling bertatapan satu sama lain. Melihat wajah Alex membuat Diana tenggelam di dalam masa lalunya, tidak mudah baginya untuk melupakan itu semua. Bahkan dengan semua perhatian, pembelaan dan perhatian Alex kepada dirinya, Diana tetap tidak bisa menerimanya begitu saja.
“Kau ... sudah cukup! Jangan pernah menyentuh hatiku lagi, biarkanlah aku hidup dengan damai, ” batin Diana
Diana beranjak turun dari ranjang, sementara Alex terdiam dan masih terus memperhatikannya. Diana berdiri mematung, Ia tidak tahu apa yang harus Ia lakukan, perbincangannya tadi bersama Alex membuat suasana menjadi canggung. Tiba-tiba, Alex beranjak turun dari ranjang lalu membuka pintu kamar dan pergi begitu saja. Diana menghela nafas berat, Ia bukanlah tipe gadis yang suka berkata kasar, perkataanya tadi seoleh menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
***
Diana membuka matanya, Ia masih merasa mengantuk namun sinar mentari seolah membangunkannya. Diana menggosok matanya pelan menggunakan sebelah telapak tangannya. Ia melihat ke arah jam dinding, ternyata waktu sudah menunjukan pukul 8:45 pagi. Diana beranjak dari peraduannya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan segera turun untuk memakan sarapan paginya.
Beberapa menit berlalu, Diana sudah selesai membersihkan dirinya. Ia mencari bajunya di ruangan khusus pakaian yang masih berada di dalam kamar tidurnya. Diana berkerut kening, Ia tidak menemukan satu bajupun miliknya. Diana menghela nafas menempatkan sebelah telapak tangannya du kening, Ia lupa, bahwa Ia tertidur di kamar Alex, sedangkan semua bajunya ada di lantai satu, di kamar tamu.
Tiba-tiba, Diana sadar, bahwa beberapa baju lamanya berada di dalam kamar Alex. Namun, Diana tidak tahu dimana Alex menyimpannya, terakhir kali bajunya ada di dalam sebuah koper. Diana mencari-cari keberadaan kopernya itu, seluruh lemari Ia buka untuk mencarinya, namun sia-sia, Diana tidak menemukannya. Pandangannya melihat ke arah sekeliling, mata Diana membulat ketika menemukan kopernya di sudut ruangan. Diana tersenyum tipis.
Setelah selesau memakai baju, Diana langsung keluar kamar dan turun ke dapur. Keadaan mansion sama seperti biasanya, beberapa pelayan tampak sibuk berlalu-lalang tengah mengerjaan pekerjaan mereka masing-masing. Tak terkecuali, ketika melihat dirinya datang mereka langsung berdekat dan berkumpul dan membungkukan badannya tanda menghormati tuan rumahnya.
__ADS_1
Sesampainya di dapur, Diana tercengang ketika melihat Alex mengah terduduk di kursi meja makan dan terlihat tengah membaca koran paginya, dengan secangkir kopi hangat menemaninya. Diana menatapnya heran, padahal ini sudah siang, apakah Alex mempunyai banyak waktu untuk duduk bersantai di rumah. Dan bagaimana pekerjaannya di kantor?
“Nona, silahkan duduk. ” ujar seorang pelayan dengan sopan sembari menggeret kursi dan mempersilahkan Diana duduk.
Diana duduk tepat berhadapan dengan Alex. Namun, walaupun mengetahui kehadiran Diana, Alex tidak bergeming dan tampak focus membaca koran paginya. Beberapa pelayan menyajikan sarapan di atas meja, satu lembar roti berlapis selai kacang dan susu putih hangat.
Diana meminum susu di gelasnya perlahan, Ia berkerut kening, “Susu apa ini? Sangat aneh, ” Diana bergidik mencoba rasa susu yang hambar itu
“Maaf, Nona. Itu adalah susu khusus untuk wanita hamil. ” ujarnya,
“Habiskan, ” ujar Alex, menurunkan koran paginya dan menatap Diana.
Diana menyenderkan tubuhnya di pinggiran kursi dengan lesu. Sedari kecil, Diana memang tidak suka rasa susu yang hambar, seperti misalnya susu fullcream atau semacamnya. Diana lebih suka meminum susu yang manis. Rasa susu yang hambar membuatnya tidak berselera.
“Bisakah kau menggantinya dengan jus atau semacamnya? ” tanya Diana, menatap pelayan di sampingnya. Pelayan itu langsung mengangguk pelan mengiyakan perintah Diana.
“Jangan sentuh itu, dan biarkan tetap disana! ” perintah Alex ketika pelayan itu hendak mengambil gelas susunya. “Pergilah, ” Alex mengibaskan lengannya
“Kau, minumlah ini. ” ujar Alex sembari menyodorkan gelas berisikan susu khusus ibu hamil. Sementara, Diana hanya terdiam karena enggan meminumnya
Tiba-tiba, gelas susu yang tenga du genggam oleh Alex di rebut oleh seseorang. Seketika, Alex dan Diana langsung menoleh ke arah orang tersebut.
“Kau, mengapa kau masih berada disini? ”
__ADS_1