Pengorbanan Cinta Diana

Pengorbanan Cinta Diana
Alasan


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap, Diana dan Ghani kembali duduk di kursi taman yang tadi siang mereka tempati. Taman ini masih terlihat ramai walaupun sudah malam hari.


“Diana, selamat atas pernikahanmu, ” Diana langsung menatap ke arah Ghani, Ia terkejut Ghani mengatakan hal seperti itu.


“Apa maksudmu Ghani? ” tanyanya menatap Ghani heran,


“Seharusnya kau mengundangku ke acara pernikahanmu, kenapa kau menyembunyikan pernikahanmu dariku? Apa aku adalah orang asing bagimu? ” Ghani tersenyum kecut, hal itu seakan menambah luka di hati Diana.


“Tentu saja tidak seperti itu, pernikahan itu tidak di rencanakan. Aku ... telah menjadi pengantin pengganti,” Diana terdiam sejenak, Ia larut dalam kesedihanya, air matanya tak henti mengalir.


“Pengantin pengganti? Apa maksudmu? ” tanya Ghani dengan heran dan tidak sabar


“Alex ... Aku menikah dengan Alex, kekasih Nameera. Keluarganya tahu tentang masalah penyakit Nameera, mereka tidak terima mereka merasa telah di tipu oleh keluargaku. Mereka ... berniat menuntut ayahku, aku tidak bisa melakukan apapun, aku terjebak di dalamnya. Terpaksa, aku harus menjadi pengganti Nameera. ” Jelasnya dengan air mata yang terus mengalir membasahi wajah cantiknya


“Lalu, kau menerimanya begitu saja? Kenapa kau tidak menolak? ” Ucapnya dengan nada tinggi, seakan amarahnya memuncak sesaat setelah mendengar penjelasan dari Diana.


“Aku tidak bisa menolaknya, aku terpaksa menerima itu semua, aku hanya tidak ingin melihat ayahku hancur, aku tidak ingin menyakitinya.” Tangisnya semakin terisak, dadanya terasa semakin sesak setelah menceritakan itu semua, apalagi jika Ia mengingat masalah mengenai ayahnya, Diana tidak bisa membayangkan jika ayahnya itu hancur, Ia tidak bisa membayangkanya, Ia sangat menyayanginya.


Ghani terdiam sesaat setelah mendengar penjelasan Diana, Ia merasa iba. Ghani tidak tega melihat Diana terus menerus menangis, Ghani merasa dirinya begitu bodoh telah menuduh yang tidak-tidak terhadap Diana.


“Maafkan aku, Diana maafkan aku tidak ada di saat kau membutuhkan seorang teman. ” Sesal Ghani, perlahan lenganya memeluk lembut tubuh Diana, membiarkan Diana menangis dalam pelukanya.


Beberapa saat, Diana sudah mulai tenang. Ghani melepaskan pelukanya, kedua telapak tanganya mengusap lembut air mata yang membasahi pipi merona Diana, Ia menatapnya dalam.


“Jangan menangis. Diana, aku akan selalu ada untukmu. ” Ucap Ghani tersenyum ke arah Diana, di balas senyuman tipis pada wajah Diana.

__ADS_1


“Ghani, terimakasih. ”


Diana merasa sedikit lega setelah menceritakan semuanya kepada sahabatnya itu beban hatinya sedikit berkurang.


Ghani sedikit menyinggungnya mengenai hubungan pernikahanya dengan Alex, tentu Diana menjawab bahwa hubunganya baik-baik saja, tidak mungkin Ia menceritakan hal yang sebenarnya. Diana tahu Ghani tidak akan bisa menerima itu semua, Diana hanya tidak ingin membuatnya semakin menghawatirkan dirinya.


Ghani menerima dan mendengarkan apapun yang Diana katakan, walaupun Ia tahu Diana tidak bersungguh-sungguh mengatakan itu semua, Ghani tahu Diana tidak baik-baik saja menjalani pernikahanya, jika memang baik-baik saja, kenapa Ia berniat pindah ke asrama kampus? Mereka sudah bersama sejak kecil, Ghani tentu tahu jika sahabatnya itu sedang berbohong. Namun, Ghani tidak ingin menyinggungnya terlalu jauh, Ia tidak berhak akan hal itu. Ghani juga tidak ingin Diana semakin merasa sedih karena dirinya.


Tidak terasa malam sudah semakin larut, Ghani menawarkan diri untuk mengantarkan Diana pulang, Diana hanya memgangguk pelan.


Waktu menunjukan pukul 21:45, sepanjang perjalanan Diana tampak kaku, jemarinya tak berhenti saling meremas satu sama lain. Ia cemas, apa yang akan di lakukan oleh Alex atas tindakanya tadi siang. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang.


“Sudah sampai, ” Diana tersentak, suara Ghani begitu mengagetkanya. Diana tersenyum, dengan segera Ia turun dari mobil.


“Hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu, ” Ucap Ghani, Diana tersenyum tipis dan mengangguk pelan.


“Dari mana saja kau? ” tanya Alex sembari menatap tajam ke arah Diana,


“Aku hanya pergi bersama seorang teman, ” Jawab Diana dengan cepat, Ia mencoba berjalan menuju kamarnya namun terus di halangi oleh Alex. Alex terus menatapnya tajam, di tatap balik oleh Diana.


Tiba-tiba Alex mencengkram kuat bahu Diana dan mendorong tubuhnya ke arah tembok, hingga Diana meringis kesakitan dan meronta.


“Berani sekali kau pergi bersama pria lain di hadapanku! Apa aku terlalu baik kepada mu! Kau sudah menikah, kau harus tahu malu! ”


DEG!!! Perkataan Alex seakan mengingatkanya kembali dengan kejadian hari ini, dimana Nameera juga berkata seperti itu kepadanya. Diana tak habis pikir, kenapa sikap Alex begitu labil terhadapnya. Sesaat Ia baik, tapi hari ini?

__ADS_1


“Apa pedulimu? Apa pedulimu jika aku pergi bersama lelaki lain atau tidak? Sebelum kau berbicara, coba lihat dirimu dahulu! Kau sendiri masih pergi bersama wanita lain. Apakah itu wajar untuk lelaki sepertimu?! ”


“Jaga bicaramu!” ucap Alex, terlihat wajahnya yang begitu geram menatap ke arah Diana. Jelas Ia sudah tidak pernah pergi dengan wanita manapun semenjak Ia berjanji untuk menjaganya.


“Jelas-jelas kau masih bersama dengan Nameera, tapi kenapa kau tidak melepaskanku? Kau menginginkan penerus? Cari saja wanita lain, aku yakin mereka akan suka rela memberikanya untukmu! ”


“Siapa yang mengatakanya padamu? ” tanya Alex tampak heran


“Kenapa? Itu semua benar bukan? Carilah wanita lain, aku akan pergi secepatnya dari sini. ”


Alex hanya terpaku memikirkan ucapan Diana barusan, siapa yang mengatakan itu semua padanya, bahkan Alex sendiri sudah melupakan itu semua. Dengan tak sadar Ia melonggarkan cengkraman tanganya dari bahu Diana. Dengan cepat Diana melangkah menuju kamarnya, namun langkahnya tercekat sesaat setelah Alex mengatakan sesuatu.


Gadis bodoh yang sangat susah di atur! Aku memberikan kemudahan untuknya dan dia malah memilih... dasar bodoh!


“Kau tidak bisa pergi, memang benar aku menginginkan penerus darimu. Apa kau tidak tahu bahwa ayahmu sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar kota? Apa Ia tidak memberi tahumu? Perusahaanya hampir bangkrut, tidak ada bank yang bersedia mengalirkan dana kepadanya. Satu-satunya yang bisa membantu adalah aku. Tetap tinggal dan aku akan bersedia membantu ayahmu. ”


Diana terdiam langkahnya terasa begitu kaku, seluruh tubuhnya bergetar, kenapa harus seperti ini. Satu langkah lagi Ia keluar dari rumah ini, namun ada saja hal yang mencegahnya.


Diana mengingat kembali, Ia ingat bahwa saat Ia mengunjungi rumahnya memang ayahnya sedang tidak berada di sana. Pelayan itu juga berkata bahwa ayahnya sedang melakukan perjalanan bisnis.


Diana membalikan tubuhnya dengan cepat, Ia menatap tajam ke arah Alex,


“Kenapa kau selalu mengancamku dengan hal-hal seperti itu? Jangan terus menekanku seperti itu! ” Diana terdiam sejenak, “Baiklah, kau menginginkan penerus? Aku akan memberikanya untukmu! Kau puas! ”


Bersambung...

__ADS_1


Hai guys, gimana sama ceritanya nih? makin acak2an atau gimana? hmm. Semoga kalian ga bosen ya, terus tunggu kelanjutanya oke.Oke pyepye, loveyou all 😁😍


__ADS_2