
Diana scrol layar ponselnya, semua halaman di penuhi oleh artikel mengenai Alex. Namun, artikel dimana pesta hari itu tidak ada satupun yang muncul, seakan tenggelam oleh berita tentang scandal CEO Alexis Grup. Diana melihat dan membaca satu persatu artikel mengenai Alex, karena sangat seius membacanya Diana tidak menyadari bahwa Alex telah duduk tepat di sebelahnya.
“Membaca apa kau? ” tanya Alex membuat Diana terkesiap dan langsung menoleh ke arahnya. Diana langsung melempar ponselnya sedikit menjauh darinya, Diana berharap layar ponselnya itu telah terkunci sehingga Alex tidak bisa mengetahui apa yang tengah Ia baca.
“Tidak, aku tidak membaca apapun. ” Jawabnya singkat kemudian bergeser sedikit menjauh dari Alex. “Aku akan pergi memasak. ” Diana beranjak dan langsung pergi ke dapur, di dapur tampak ramai. Ada semua pelayan dan koki juga di sana. Rasanya Diana tidak perlu memasak sendiri, karena para pelayan tengah menyiapkan makan malam, kemudian Diana terduduk di meja makan dengan memakan satu buah jeruk.
“Malam, Nona. ” Sapa mereka sopan, Diana hanya tersenyum tipis menanggapinya, lalu mereka melanjutkan kembali aktivitasnya.
Setengah jam berlalu, makan malam pun telah siap di hidangkan. Diana melihat para pelayan yang sudah berhamburan pergi ke rumah belakang yang di tempatkan khusus untuk para pelayan, Diana berada di meja makan sendirian dengan makan malam yang sangat banyak dan terlihat sangat lezat.
Rupa dan wanginya memang terlihat sangat lezat, namun Diana tidak berselera untuk memakannya. Diana hendak menyendokkan makanannya, Ia mencoba mungkin saja setelah makanan itu masuk ke dalam mulutnya akan terasa enak. Namun, saat makanan itu baru sampai di depan mulutnya, ketika menghirup baunya saja Diana sudah merasa bergidik. Ada apa dengan dirinya, makanan selezat tidak bisa Ia makan.
Diana beranjak, mencari sesuatu di dalam kulkas. Di dalam kulkas tampak lengkap semua makanan, sayuran dan buah-buahhan. Diana meraih beberapa buah dan berencana memakannya. Hari ini perutnya menolak untuk memakan makanan berat seperti nasi atau lauk pauk lainya. Padahal dokter sudah mengingatkannya, untuk memaksakan nafsu makannya walaupun di rasa tidak enak. Karena saat ini Ia tengah mengandung, Ia harus terus memakan makanan bergizi walaupun perutnya menolak.
“Kumohon, hari ini saja aku tidak mau memakan makanan seperti itu. Aku mual. ” Gunam Diana menatap ke arah perutnya,
Diana menutup pintu kulkas dengan sikutnya, karena kedua tangannya di penuhi oleh beberapa buah yang akan Ia makan. Diana berbalik dan hendak berjalan menuju meja makan, tiba-tiba langkahnya tercekat setelah melihat Alex yang tengah duduk di kursi meja makan dan tengah menatapnya tajam. Diana terperanjak, semua buah yang tengah di bawanya jatuh berserakan ke atas lantai.
“Maafkan aku. ” Gunamnya sembari meringis kecil, kemudian Ia memungut buah-buahan itu satu persatu.
__ADS_1
Semua buahnya telah jatuh ke lantai, padahal hanya itu buah yang tersisa di dalam lemari es, sisanya hanya ada beberapa sayuran saja. Diana menatap prustasi buah itu, Ia sangat ingin memakannya. Diana memasukan buah itu satu persatu ke dalam sebuah keranjang, kemudian Diana hendak mencucinya. Namun, tiba-tiba Alex berjalan mendekatinya dan mengangkat tubuh mungilnya kemudian di dudukan di atas meja sedangkan Alex berdiri di hadapannya. Diana tertegun, Alex menatapnya tajam.
“Apa yang akan kau lakukan? ” tanya Alex dengan nada dinginnya menatap tajam Diana.
“Aku akan mencuci buahnya, ” Jawab Diana mencoba turun dari atas meja namun Alex menahannya.
“Kau akan memakan buah yang sudah terjatuh itu? ”
“Meskipun terjatuh, tapi masih bisa untuk di makan, awas. ” Diana menepis lengan Alex, namun Alex malah semakin kuat memegang pinggang Diana. Diana mengalihkan pandangannya, Ia tahu tidak ada gunanya juga meskipun Ia terus meronta.
Diana terkesiap, tiba-tiba Alex membopong tubuh Diana menuju meja makan kemudian mendudukannya di kursi. Alex meminta Diana untuk tidak memakan buah yang telag terjatuh itu dan memakan makanan yang sudah tersedia di atas meja. Perutnya tidak sehati dengan pikirannya, walaupun Diana ingin memakan makanan lezat itu tapi perutnya selalu menolak.
“Kenapa kau sangat keras kepala? ” tanya Alex lagi-lagi menatap tajam Diana dan Diana balik menatapnya.
“Aku tidak ingin memakan makanan itu! ” tegas Diana sembari menunjuk ke arah makanan yang tersedia di atas meja makan.
“Baiklah, aku akan meminta koki untuk memasakan makanan yang lain untukmu. ” Ucap Alex enteng,
Diana menolak, ini sudah terlalu malam untuk memasak makanan lagi. Terlebih lagi dirinya yang tidak ingin memakan makanan berat, percuma koki itu memasak makanan yang lain, karena perutnya pasti tidak akan bisa memakannya hanya membuang-buang makanan saja.
__ADS_1
“Aku pergi tidur saja, ” Diana hendak berdiri, namun Alex masih menahannya. Membiarkan Diana berada dalam pangkuannya.
“Apa kau sedang kesal? Aku tahu jika kau banyak bicara seperti ini pasti suasana hatimu sedang tidak baik. ” Alex menatapnya sinis, membuat Diana terbelalak dan langsung mengalihkan pandangnya.
Kenapa aku kesal? Apa aku terlihat seperti itu? Tentu saja tidak. Batin Diana menenangkan dirinya sendiri.
“Tidak, aku sedang tidak kesal. Aku hanya ingin memakan buah-buahan saja, aku tidak mau memakan makanan yang di hidangkan di atas meja. Itu membuatku mual. ” Ucap Diana singkat jelas padat mencoba mengalihkan pembicaraan. Diana mencoba turun kembali dari pangkuan Alex, namun Alex terus menahanya.
“Kenapa kau terus saja bergerak? ” tanya Alex, membuat Diana tertegun. Diana tahu apa maksud dari perkataannya itu. Diana langsung terdiam, Ia tidak akan bergerak kembali.
“Kau mau memakan buah? ” tanyanya lagi, Diana mengangguk cepat tanpa menggerakan satu incipun bagian tubuhnya, “Aku akan memesannya untukmu. ” Ucap Alex dengan santai, kemudian Ia meraih poselnya dan menelpon seseorang tanpa membiarkan Diana pergi terlebih dahulu.
“Turunkan aku, ” Ucap Diana, menatap lurus ke depan. Sedangkan wajah Alex berada tepat di sampingnya. Diana hanya bisa melihatnya sedikit dari ekor matanya.
“Apa kau bilang? Tatap wajahku saat kau berbicara. ”
Diana langsung mengalihkan wajahnya ke arah wajah Alex, jarak mereka yang terlalu dekat malah membuat bibir mereka saling bersentuhan satu sama lain. Kemudian, Diana langsung memundurkan kembali wajahnya menghindar dari wajah Alex. Diana tidak mau tenggelam ke dalam perasaan yang aneh itu kembali.
Bersambung..
__ADS_1