Pengorbanan Cinta Diana

Pengorbanan Cinta Diana
Antar aku pulang


__ADS_3

Ghani memasukan satu persatu isi tas Diana yang berserakan di lantai, tiba-tiba ada satu benda yang menarik perhatianya.


“Ini punyamu? ” tanya Ghani sembari menyodorkan alat tes kehamilan habis pakai, Diana hanya terdiam memaku dengan mata yang melebar.


“Bukan, ” Jawabnya, mengambil paksa alat test kehamilan yang di pegang Ghani.


Diana menundukan wajahnya, Ia terlihat tampak gugup. Ghani memperhatikanya, Ia penasaran, sebenarnya milik siapa alat test kehamilanya itu. Ghani duduk kembali pada kursinya, Ia tidak jadi pergi ke toilet. Ia hanya menatap tajam ke arah Diana yang sedari tadi tertunduk lesu.


“Kau, menyembunyikan sesuatu dariku? ” tanya Ghani meraih kemudian memegang tangan Diana lembut, Diana terkejut Ia mengangkat wajahnya menatap ke arah Ghani dan menarik tanganya secara bersamaan. Diana hanya memaku, Ia tidak berkata atau menjawab pertanyaan Ghani.


Ghani sedikit kecewa, Ia tahu Diana menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi, kenapa tidak bercerita, Ia bukan orang asing baginya. Kenapa Diana begitu sungkan?


Sebaiknya aku tidak perlu tertalu ikut campur urusanya, dia sudah dewasa, dia perlu privasi.Tapi aku hanya ingin yang terbaik untuknya, jangan sampai Ia melakukan hal yang bisa mengecewakan keluarganya. Batin Ghani

__ADS_1


Ghani mengalihkan pembicaraannya, kemudian Ia menanyakan kenapa Diana memintanya untuk bertemu.


“Bisakah kau membantuku? Daftarkan namaku di asrama kampus. Aku berniat tinggal di sana. ” Pinta Diana lirih


“Bukan hal yang sulit, aku akan segera mengurusnya. ”


Diana mencoba untuk tetap tenang, walau kenyataanya hati dan pikiranya cukup kacau. Ia memang berencana untuk tinggal di asrama, namun bagaimana jika Ia benar-benar sedang mengandung. Kampus pasti tidak akan menerimanya bukan? Apalagi tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa Ia sudah menikah.


Setelah menghabiskan makananya, Ghani mengajak Diana berjalan-jalan ke taman yang biasa mereka kunjungi. Tempat itu juga yang biasa Diana kunjungi jika sedang merasa senang atau sedih, taman yang sangat indah dengan danau di tengah-tengahnya begitu sejuk dan sangat damai.


Tidak terasa, hari pun sudah mulai senja. Setelah lama berbincang Ghani berencana mengantarkan Diana pulang.


“Tidak perlu mengantarku, aku akan pulang sendiri,” Ucap Diana menolak ajakan Ghani, “lagi pula, kau tidak membawa kendaraan bukan? ”

__ADS_1


Karena sedari tadi mereka hanya menyisir jalanan dengan berjalan kaki, jarak antara cafe dan taman tidak terlalu jauh. Diana juga tidak melihat Ghani membawa kendaraanya.


“Aku memarkirkanya di area cafe, tunggu di sini aku akan mengambilnya. Pastikan kau ada saat aku kembali, oke. ” Ucapnya sembari berlari kecil menuju cafe untuk mengambil mobilnya.


Diana tidak ingin membuat Ghani semakin curiga, sebenarnya tidak mempengaruhinya jika Ghani mengetahuinya atau tidak, Diana hanya belum siap Ia terlalu malu untuk mengakui bahwa Ia telah menikahi kekasih kakaknya sendiri. Dengan terpaksa Ia mengiyakan permintaanya untuk mengantarnya pulang. Pulang? Pulang kemana? Mungkin pintu rumahnya kini telah tertutup rapat untuknya.


Mobil terhenti tepat di hadapanya, Diana melirik heran, itu jelas bukan mobil milik Ghani entah mobil siapa. Diana mengabaikanya dan melangkah menjauhi mobil tersebut. TIIIT!!! Klakson berbunyi dengan sangat nyaring, mobil itu pun mundur mengikuti langkah Diana. Diana merasa risih, Ia menghentikan langkahnya sampai tiba-tiba kaca pintu mobil terbuka sempurna. Tampaklah seorang pria tampan dari dalam,


“Kau? Apa kau mengikutiku? ”


“Cepat masuk ke dalam!” pintanya dengan nada sedikit kesal,


Alex..

__ADS_1


Diana mengalihkan pandanganya ke arah belakang mobil yang di kendarai Alex, tampak mobil Ghani sudah ada di sana dan sesekali menglaksoninya, mungkin meminta agar Diana cepat masuk ke dalam mobilnya.


Bersambung...


__ADS_2