
Diana berjalan-jalan di area sekitar taman, terdapat bunga-bunga cantik yang tertanam di sana, melengkapi keindahan di dalamnya. Namun, matahari sudah semakin naik ke atas, sinarnya juga terasa semakin menyengat ketika menyentuh kulit. Jadi, Diana memuruskan untuk masuk ke dalam rumah.
Ketika langkahnya sudah dekat dengan pintu masuk, Diana melihat Mesya yang tengah berdiri di ambang pintu dengan satu buah apel de genggamannya. Diana tidak menghiraukannya, Ia hanya terus melangkah dan melewati Mesya begitu saja.
“Perilaku macam apa itu tadi? ” tanya Mesya, membuat langkah Diana terhenti
Mesya berjalan mendekat ke arah Diana, Ia menatap Diana tajam sembari terus mengunyah buah apel di genggamannya. Sementara Diana menatapnya dengan malas, Ia tahu betul gadis seperti apa Mesya itu, pasti Mesya berencana untuk membuat masalah dengannya.
“Kau tahu, kau menghalangi jalanku. ” ujar Diana, lalu Ia menggeser langkahnya ke sebelah kiri, namun dengan sengaja Mesya juga bergeser ke sebelah kiri dan menghalangi langkah Diana. “Apa maumu? ” tanya Diana
Mesya menipiskan bibirnya, Ia memutarkan bola matanya, menggerakkannya ke kanan dan ke kiri, “Apa mauku? Setelah kau mempermalukanku di meja makan tadi, dan sekarang kau bertanya apa mauku? ” ujar Mesya
Diana berkerut kening, “Memang apa yang telah aku lakukan? ”
“Kau telah mempermalukanku di hadapan kak Alex! ” ujar Mesya mengeraskan nada bicaranya
“Bukankah Alex yang telah mengatakan itu semua? Kenapa kau malah menyalahkan aku? ” tanya Diana, dengan sikapnya yang masih tenang.
“Kau ... Jika saja kau tidak bertanya semalam aku tidur dimana, maka kak Alex tidak akan berkata seperti itu kepadaku! Bukankah Ia mengatakannya karenamu? ” Mesya semakin terlihat begitu kesal ketika melihat sisi tenang Diana, ketika jelas-jelas Ia tengah menindasnya.
“Oh, maafkan aku. ” ujar Diana, kemudian berlalu pergi meninggalkan Mesya.
Tiba-tiba Mesya menarik lengan Diana, membuat Diana sontak menoleh ke arahnya. Lengan Mesya terlihat sudah terangkat ke atas, siap untuk melayangkan sebuah tampan kepada pipi Diana. Mesya mengayunkan lengannya, sementara Diana tertunduk mencoba menghindarinya.
Namun, lengan Mesya tak kunjung menyentuh pipinya. Diana mencoba mengangkat wajahnya perlahan, seketika Ia terbelalak ketika melihat keberadaan Alex di sana. Lengan Alex tengah menahan lengan Mesya, yang tadi hendak menampar Diana.
__ADS_1
Alex menghempaskan genggamannya pada lengan Mesya, “Beranu sekali kau berbuat seperti itu di kediamanku! ” ujar Alex, menatap marah ke arah Mesya
“Kak, Kak Alex, aku hanya ... Diana lah yang memulainya terlebih dahulu. Aku hanya berusaha membalasnya, ” sangkal Mesya, membela dirinya sendiri dengan sejuta kebohongannya.
Diana tersentak, sebelumnya Ia juga pernah berada di posisi yang sama seperti ini. Pada saat itu, dirinya juga yang telah menjadi korban. Saat itu, kejadiannya sangat fatal, hingga membuat Diana di rawat di rumah sakit. Namun, Alex sama sekali tidak membelanya, karena saat itu wanita yang mencelakainya tak lain adalah Nameera. Dan saat ini juga tak jauh berbeda, Mesya adalah teman semasa kecilnya, orang yang bahkan lebih penting jika di bandingkan dengan Diana.
Diana malas melihat drama seperti ini, ujung-ujungnya pasti dirinyalah yang akan di salahkan. Tanpa menghiraukan dua orang di hadapannya, Diana berbalik dan hendak oergi ke dalam kamarnya. Namun, tiba-tiba Alex menahan lengannya agar tidak pergi. Seketika, Diana menoleh dan menatapnya. Sementara Alex hanya menatapnya, lalu kembali menatap ke arah Mesya.
“Kak Alex, percayalah kepadaku. Diana lah yang sudah membuatku marah terlebih dahulu. Aku hanya ingin membalasnya, ” ujar Mesya memelas,
“Kau memang benar, ” ujar Alex, seketika pandangan Mesya tertuju kepada Diana dan tersenyum simpul. Mesya tahu, bahwa Alex akan membela dan mempercayainya.
“Habislah kau! ” gunam Mesya, di dalam hati
“Namun, bukankah yang telah membuatmu kesal adalah aku? Jadi, tidak adil jika kau membalasnya kepada Diana. Balaslah kepadaku. ” ujar Alex, membuat Mesya dan Diana tercengang ketika mendengarnya.
“Ayo balaskan amarahmu itu! ” ujar Alex dengan nada penuh penekanan. Sementara Mesya, hanya tertunduk dan terdiam.
“Jangan pernah mencoba menyentuh istriku! ” Diana tercengang, “Kau ingat itu! ” ujar Alex kepada Mesya, kemudian Ia menarik lengan Diana, untuk membawanya menuju kamar.
Langkahnya terhenti sejenak, “Kemasi barangmu dan pergilah dari sini, ketika sore nanti, pastikan aku sudah tidak melihat kehadiranmu di sini lagi. ” ujar Alex, sementara Mesya hanya terdiam.
***
Diana duduk pada pinggiran ranjang dan Alex terduduk di tepat di sebelahnya. Diana terdiam, sementara Alex terus menatapnya dengan intens. Diana merasa gugup kembali, hatinya bahkan berkecamuk. Mengapa Alex membelanya hari ini, mengapa Alex bersikap sangat baik kepadanya.
__ADS_1
“Aku mendengar semuanya, ” ujar Alex,
Diana mencoba menggendalikan dirinya, mencoba terlihat tenang di hadapan Alex. “Lalu? ” tanyannya,
“Tetaplah bersikap seperti itu, jadilah wanita yang kuat dan tidak mudah di tindas. ” ujar Alex, “Beristirahatlah, ” Alex keluar kamar dan berlalu pergi meninggalkan Diana seorang diru di dalam kamar.
Diana berkerut kening heran, Ia mencoba memahami apa yang Alex katakan tadi. Aoa maksud Alex dengan mengatakan hal seoerti itu, mengapa Ia meminta Diana agar terus bersikao seperti itu. Diana mencoba mencari arti dari pertakaan Akex barusan, namun semua itu hanya membuatnya semakin bingung, semakin Ia memikirkannya, Ia malah semakin tidak mengerti.
Tiba-tiba, pintu kamar terketuk dari luar. Seorang pelayan masuk ke dalam kamar dengan sebuah nampan berisika. buah-buahan di tangannya. Kemudian, Ia menyimpan nampan tersebut di atas meja di sebelah samping ranjang Diana.
“Nona, Tuan muda meminta saya untuk menyiapkan buah-buahan segar untukmu. Tuan muda meminta, bahwa saya harus memastikan anda memakan dan menghabiskannya. Jika tidak, saya akan kehulangan pekerjaan ini. ” ujarnya dengan wajah yang memelas,
“Apa dia mengatakan sepertu itu? Apa dia mengancammu? ” tanya Diana
Pelayan tersebut menundukan wajahnya, “Nona, habiskanlah buah-buahan ini. ” ujarnya, lalu berlalu pergi keluar kamar Diana.
Diana berdecak kesal, Ia sedikit tidak percaya dengan tindakan Alex yang menurutnya sangat berlebihan. Bahkan Alex sampai mengancam untuk memecat pelayan itu, jika sampai Diana tidak menghabiskan buah-buahannya.
“Dia mengendalikan hidup seseorang semudah membalikan telapak tangan. ” gunam Diana.
***
Alex masuk ke dalam kamarnya, Ia melihat Diana yang tengah berbaring dan tertidur pulas di atas peraduannya. Di sebelah tempat tidurnya, tersimpan sebuah nampan dan piring yang sudah kosong. Diana sudah memakan habis semua buah yang di bawakan pelayan tadi, menandakan bahwa Alex tidak bisa memecatnya begitu saja.
Alex tersenyum simpul ketika melihat wajah Diana yang tengah tertidur pulas, wajah polosnya semakin terlihat cantik dan tenang ketika Ia sedang tertidur.
__ADS_1
“Maafkan aku, karena ego dan obsesiku yang begitu besar. Aku sampai harus mengorbankan kehidupanmu. Tapi tidak lagi, jadilah wanita kuat seperti yang aku harapkan. ”