Pengorbanan Cinta Diana

Pengorbanan Cinta Diana
Episode 95


__ADS_3

Maaf yaaah lama...


Happy reading...


****


Dokter tampan dan muda itu menggerakkan alat USG di antara perut buncit Diana, serta Pandangannya yang teliti menatap ke arah layar USG.


Alex berdiri di samping Diana dengan perasaan yang berkecamuk. Ternyata seperti ini sensasi ketika wanita yang kau sayangi di sentuh oleh orang lain. Walaupun dokter sekalipun.


Alex harus mengundurkan beberapa jadwal pekerjaannya untuk mengantarkan Diana pergi menemui dokter kandungan. Padahal sebelumnya Ia selalu mempercayakan kepada supir untuk mengantar jemput istrinya itu. Namun tiba-tiba perasaanya mendadak tidak tenang ketika Diana mengatakan jadwalnya kali ini dengan dokter yang berbeda. Wanita cantik itu juga menambahkan bahwa dokternya kini adalah pria muda sekaligus tampan. Mendadak hati Alex tidak enak dan kalang kabut.


Setelah selesai, Diana di bantu Alex untuk beranjak, kemudian Alex membawanya duduk di depan meja dokter tampan ini. Dengan senang hati dan raut wajah gembira Diana senantiasa mendengarkan hasil pemeriksaanya. Berbeda dengan raut wajah pria tampan di sampingnya, yang sesekali mendengus kesal tidak suka.


“Apakah kalian ingin mengetahui jenis kelamin bayi kalian?” dokter itu bertanya.


“Ya,”


“Tidak!”


Alex dan Diana menjawab secara bersamaan namun dengan jawaban yang berbeda.


Diana menginginkan dokter untuk memberitahukan jenis kelamin bayinya, sehingga nanti Ia bisa mendekor kamar bayi yang sesuai dengannya. Namun Diana tidak percaya jika suaminya menolak dokter untuk mengatakan itu semua. Entah apa yang berada di dalam pikiran Alex.


“Kak kenapa?” tanya Diana heran.


“Tidak, ayo cepat selesaikan semua itu dan pergi dari sini.” ujar Alex seraya melirik dokter itu tajam, membuat Diana menatapnya heran.


“Tapi Kak, dokter belum mengatakan hasil pemeriksaanya.” ujar Diana yang masih bingung dengan tingkah suaminya


Sementara Alex hanya bergeming menanggapi perkataan Diana.


Wanita cantik yang tengah mengandung itu benar. Lantas untuk apa mereka datang untuk pemeriksaan jika pergi begitu saja tanpa mendengar penjelasan dokter terlebih dahulu? Ah~ Ada-ada saja.


“Kak,” Diana menggoyangkan lengan Alex, membuat lamunan pria tampan itu buyar seketika.


Alex menghela napas panjang. “Baiklah, teruskan.” mengalah lebih baik untuk kesehatan Diana dan buah cintanya.

__ADS_1


Kemudian dokter menjelaskan secara rinci mengenai kondisi kehamilan Diana. Tidak ada yang salah, kehamilannya sehat. Bahkan plasentanya sudah berada di atas.


Seharunya dokter memeriksa bagian bawahnya, dokter harus memeriksa posisi kepala janin yang sudah menempati posisinya dengan benar atau belum, sehingga tidak membuat bayi tersebut berputar posisi kembali. Tapi sayang Alex tidak mengijinkannya.


***


Setelah selesai dengan pemeriksaan kehamilan Diana. Kini Porche 718 itu berhenti di area parkir sebuah restoran Jepang. Diana yang meminta Alex agar membawanya kesana. Mendadak ibu hamil itu ingin makan ramen yang pedas.


Diana dan Alex duduk di kursi yang saling berhadapan. Lalu satu pelayan datang menghampiri mereka untuk menuliskan pesanan pelanggan restoran yang baru datang itu


“Ramen level lima.” ujar Diana sembari jemari dan matanya masih focus pada daftar menu di hadapannya.


“Level lima?” Alex berkerut heran.


“Ya, Kak. Aku ingin makan pedas.” jawab Diana.


“Tapi tidak sepedas itu.” ujar Alex menentang keinginan istrinya.


“Ini tidak pedas, Kak!” pekik Diana kesal. Kenapa sih Alex tidak bisa mengiyakan satu kali saja permintaanya.


Alex menyugar rambutnya ke belakang, serta menarik napas lelah sebelum akhirnya Ia memberi tanda kepada pelayan agar menuruti permintaan istrinya. Alex juga memesankan satu menu tambahan sebelum pelayan itu beranjak pergi dari sana.


Dua mangkuk ramen serta satu piring karaage sudah tersaji di atas meja. Masih dengan wajah yang mencebik kesal, Diana meraih mangkuk ramennya perlahan ke hadapannya.


Wanita hamil itu menyendokan kuah ramen ke dalam mulutnya, lalu tersenyum tipis. Ternyata Alex tidak membatalkan pesanan ya. Pria itu bahkan mau mengalah demi Diana.


“Terimakasih, Kak.” ujarnya sembari mengulas senyum tipis.


“Kau menginginkan yang lain?” tanya pria tampan itu.


“Kak, kembalilah ke rumah sakit untuk menanyakan jenis kelamin bayi kita.” ujar Diana takut-takut. Takut jika pria di hadapannya itu marah.


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Alex. Pria itu hanya terus bergeming tanpa mengeluarkan tanda-tanda akan menjawab. Tapi tak lama kemudian, jemarinya menggeser piring berisikan karaage ke hadapan Diana.


“Makanlah, habiskan itu.” ujarnya, sementara Diana menampilkan raut wajah kecewa karena Alex sama sekali tidak menghiraukan perkataanya.


Ya sudahlah, lagipula apa-apan aku ini, menyatakan permintaan yang tidak-tidak. Sudah untuk jika dia tidak marah. Batin Diana.

__ADS_1


“Kita akan pergi ke rumah sakit setelah kita berkunjung ke suatu tempat.” ujar Alex,seraya Diana mendongakkan kembali wajahnya untuk menatap suami tampannya.


Bibir tipis dan manis itu tertarik ke atas. “Terimakasih, Kak.


****


Diana di buat bingung dengan beberapa pilihan di depannya. Satu set perhiasan berpaduka berlian terpampang di atas sebuah etalase kaca. Diana beralih menatap Alex yang duduk di sampingnya, seolah tatapannya itu mengatakan 'Untuk apa semua ini?'.


“Pilihlah yang kau suka.” ujar Alex seraya menunjuk ke arah beberapa perhiasan di hadapannya.


Sungguh, bukan jawaban seperti itu yang Diana inginkan.


“Nona, ini adalah cincin dengan berlian putih yang indah. Keluaran terbaru dan terbatas milik kami, kami merancang khusus dan hanya membuat tiga cincin saja.” ujar salah satu pegawai toko perhiasan tersebut. Dan Diana hanya manggut-manggut mengiyakan.


Tapi untuk apa Alex membawanya untuk memilih perhiasan? Bahkan dengan harga yang tida sedikit. Semua itu dapat terlihat dari toko perhiasan tersebut yang terdapat di kawasan mall elit ibukota.


“Kak,” lirih Diana, lagi-lagi ibu hamil itu menatap suaminya untuk sebuah jawaban.


Alex menoleh. “Apa kau menyukainya?”


“Aku menyukainya tapi-” kalimat Diana seketika tercekat saat tiba-tiba Alex memotong perkataannya.


“Bungkus yang ini, dan ini juga.” ujarnya seraya menunjuk ke arah kalung berlian berliontin biru laut di dalam etalase.


Diana hanya bisa menggeleng pelan saat Ia rasa Alex menghamburkan uangnya hanya untuk sebuah perhiasan. Itu bukan gaya hidup Diana. Diana adalah gadis yang simple, apa adanya dan biasa saja. Ia tidak terbiasa dengan gaya hidup yang Alex berikan. Elegan, belimpah ruah dan di kelilingi dengan kemewahan. Sungguh bukan Diana.


“Belajarlah lebih baik lagi untuk menghabiskan uangku.” ujar Alex sembari mengusak puncuk kepala Diana.


“Kak, Apa tidak boros melakukan hal seperti ini?” tanya Diana.


“Tidak, untukmu dan calon bayiku. Kenapa tidak? Kalian lah yang paling penting saat ini.” jawabnya dengan senyuman tipis terukir di wajahnya.


“Kak Alex ....”


____


Seeyou di Next Chap yaa...Baaaybay

__ADS_1


__ADS_2