
Seluruh pesta menjadi kacau balau dan tak terkendali, yang tadinya hanya ada beberapa reporter yang meliput, tapi kini terlihat beberapa reporter lainya turut hadir untuk meliput dan meminta sebuah klarifikasi atas ucapan Alex yang mengatakan wanita yang tampak asing itu adalah wanitanya, sedangkan yang mereka tahu dan yang selalu beredar di kaca televisi ataupun internet tentu bukan Diana. Ia menuntut penjelasan kepada keluarga Pradipta.
Beberapa penjaga rumah pun tak kuasa menahan mereka masuk, terlalu banyaknya reporter dan beberapa tamu yang bertanya tanya sehingga membuat keributan yang begitu fatal.
Dengan cepat Alex menarik lengan Diana, berjalan menuju kamarnya. Di perjalanan menuju kamar, Alex juga meminta kepada pelayan untuk membawakan air hangat ke dalam kamarnya. Diana merasa bingung, sekaligus ngeri melihat keributan yang ada di hadapanya. Beberapa reporter terus mengejar mereka, namun para penjaga dengan sigap menghalangi dan melarang mereka untuk terus mengikuti Alex dan Diana.
Sesampainya di dalam kamar, Alex mendudukan Diana di atas ranjang memintanya untuk tetap diam di sana, Diana hanya mengangguk menurutinya. Tiba-tiba pintu di ketuk dari luar, seorang pelayan datang dengan membawa sebaskom air hangat dan sebuah handuk kecil. Diana berkerut kening, untuk apa itu.
Alex mengambilnya dan segera menutup pintu kamarnya kembali, Ia mencelupkan handuk tersebut kepada air hangat dan menyeka lembut wajah Diana yang lengket akibat tumpahan wine pada wajahnya. Diana menepisnya dan menatap Alex, Ia meminta handuk kecil itu agar melakukannya sendiri. Namun, Alex menolak.
Di lantai bawah, keadaan sangat ricuh. Dengan bertambahnya beberapa reporter yang terus berdatangan. Mereka mengerumuni tuan rumah, yang tak lain adalah Tuan dan Nyonya Pradipta. Tuan Pradipta tampak geram, atas kejadian yang tengah menimpa keluarganya. Pasti setelah ini, layar televisi akan di penuhi oleh berita miring mengenai keluarganya. Tuan Pradipta pun meminta agar para reporter tersebut untuk tetap tenang agar proses klarifikasi mengenai keluarganya berjalan lancar.
Sesaat, para reporter sedikit tenang setelah mendengar perkataan dari Tuan Pradipta, yang mana Ia meminta waktu untuk sebuah klarifikasi. Mereka pun mengiyakan dan tetap setia menunggu. Sementara, Tuan dan Nyonya Pradipta dengan segera menjauhi kerumunan itu dan berjalan menuju kamar dimana Alex dan Diana berada.
Pintu terbuka dengan di banting begitu keras, membuat Alex dan Diana yang tengah berada di dalam kamar terkejut. Terlihat dari raut wajahnya, Tuan Pradipta terlihat sangat marah dengan nafas yang memburu ganas dan tanganya yang mengepal erat.
“Lihatlah! Kekacauan yang telah kau perbuat! ” tegasnya dengan sangat lantang, tangannya terlihat bergetar saat menunjuk ke arah Alex menggunakan jari telunjuknya.
__ADS_1
Diana menundukan wajahnya, Ia tidak bisa melihatnya, Ia merasa sangat bersalah karena ini semua terjadi atas kecerobohannya. Alex terdiam, Ia tak memperdulikan perkataan dari ayahnya. Tanganya masih focus menyeka wajah Diana, walaupun sudah berulang kali di tepis oleh Diana.
Tuan Pradipta yang tampak sangat marah dan kecewa atas perlakuan putranya itu, tiba-tiba dengan cepat Ia mencengkram kerah baju Alex dan mendaratkan sebuah pukulan keras dan kasar pada wajah tampan Alex, membuat Alex terhuyung dan tersungkur ke atas lantai.
Nyonya Pradipta dan Diana yang melihat itupun terkejut, Diana langsung beranjak dan membantu Alex berdiri. Alex ujung bibirnya yang terdapat memar dan mengeluarkan bercak darah. Diana tertegun, Ia takut jika hal yang baru saja terjadi itu terulang.
“Kau! Mendengarkanku kali Ini? ” tanyanya dengan mata yang terbuka lebar menunjuk ke arah Alex, Alex menatapnya tajam kemudian Ia menarik lengan Diana. Namun, Diana hanya berdiam dan berdiri memaku. Kali ini Ia tidak menghiraukan ajakan Alex. Alex menatapnya.
“Aku akan membawanya, memberitahu seluruh dunia bahwa Ia adalag istriku! ” ucap Alex lantang, seolah menantang ayahnya sendiri. Diana menggeleng cepar, seluruh tubuhnya seakan bergetar melihat dua pria yang berada di hadapanya tengah berdebat hebat.
“Lakukan saja jika kau mau! Maka seluruh aset perusahaan dan kekayaan tidak akan pernah menjadi milikmu! ”
“Aku tidak menginginkannya, jangan beritahu semua orang bahwa aku adalah istrimu. ” Langkah Alex tercekat setelah mendengarkan perkataan Diana, Diana juga tak luput dari tatapan tajam dari Tuan Pradipta. Nyonya Pradipta hanya memejamkan matanya, air matanya mengalir tanpa Ia kehendaki setelah melihat dua pria yang paling penting dalam hidupnya itu bertengkar.
Alex berbalik dan menatap tajam wajah Diana, sedangkan Diana memalingkan wajahnya mencoba menghindari dari tatapan Alex. Namun, Alex tidak menghiraukan perkataan Diana dan terus menarik tanganya dan mengajaknya keluar. Diana meronta mencoba sekuat tenaga melepaskan genggaman Alex padanya.
“Kenapa? Kenapa kau ingin mengakuiku sebagai istrimu di hadapan semua orang? ” tanya Diana, lagi-lagi membuat langkah Alex tercekat.
__ADS_1
“Kau memang istriku, untuk apa menutupinya dari hadapan dunia. ” Ucap Alex sembari menatap wajah Diana.
“Aku hanya alat untuk menghasilkan penerus untukmu, aku tidak berhak mendapatkan kehormatan seperti itu. Kau tidak perlu melakukannya, setelah anak ini lahir maka aku akan pergi. ” Ucap Diana, pandangannya buram karena air mata yang mengambang di antara kelopak matanya.
“Kau tidak akan pergi kemanapun, kau akan membesarkan anak ku. Aku tidak akan pernah mengijinkanmu pergi dan meninggalkannya! Anakku tidak hanya membutuhkan seorang ayah, melainkan membutuhkan seorang ibu juga! ” tegasnya, membuat Diana tertegun. Tubuhnya seakan bertambah bergetar dengan hebat setelah mendengar perkataan dari Alex.
“Sampai kapan? Aku juga menginginkan kehidupanku sendiri. ” Nadanya bergetar, membuat amarah Alex memuncak dan semakin menatap tajam ke arah dirinya.
“Apakah selama bersamaku itu bukan sebuah kehidupan bagimu? ”
“Kehidupan seperti apa itu, hanya ada siksaan dan rasa sakit saja. ” Diana mencoba menahan air matanya, mencoba tegar untuk bisa melawan setiap perkataan Alex. Alex melepaskan genggaman tanganya pada tangan Diana.
“Kau mendengarnya! Dia tidak mau jika kau mengakuinya sebagai istrimu di hadapan semua orang! ” tiba-tiba Tuan Pradipta datang menghampiri.
Seakan tertantang oleh ucapan ayahnya sendiri, Alex menatap Diana, Ia meraih kembali tangan Diana yang tadi sempat Ia lepaskan. Tidak peduli dengan keputusan gadis di hadapanya, apa yang Ia inginkan tentu saja harus Ia dapatkan. Jika Alex berkata Diama tidak boleh pergi, maka Diana tidak akan bisa pergi sampai Alex sendiri yang bosan kemudian melepaskannya.
Alex terus menarik lenganya, tidak peduli sekuat apapun Diana meronta. Tiba-tiba Diana merasakan pusing pada kepalanya, langkahnya menjadi terhuyung. Pandanganya menjadi kabur Ia tidak bisa melihat dengan jelas nafasnya juga terasa sangat sesak. Diana tidak kuat lagi, tubuhnya tumbang seketika membuat Alex terkejut melihatnya.
__ADS_1
Bersambung...