
Hari sudah sangat larut, di club tadi beberapa gelas wine Ia teguk guna sedikit menghilangkan pusing di dalam pikirannya. Pikirannya berkecamuk pening memikirkan masalah yang tengah menimpannya, jika tidak ada Elios yang mengingatkan untuk berhenti minum mungkin Alex tidak akan bisa kembali dengan kakinya sendiri.
Alex membuka pintu kamar dengan sepelan mungkin agar tidak mengganggu satu nyawa yang tengah terlelap di dalam sana, begitu pula ketika Ia menutup pintu. Tapi sesaat aktivitasnya tercekat saat gadis itu berbicara padanya yang cukup membuatnya sedikit terkejut.
“Baru pulang?” tanya Diana yang langsung berganti posisi dari berbaring menjadi duduk di pinggiran ranjang.
“Kau belum tidur?” tanya Alex masih berdiri di dekat pintu sebelum akhirnya Ia mengunci pintu itu dengan rapat.
“Aku tidak bisa tidur, Kak.” jawab Diana menatap Alex yang terus berdiri di tempatnya seperti tidak ada niatan untuk mendekat.
“Oh, aku akan mandi.” ujar Alex singkat lalu dengan langkah lebarnya Ia melangkah memasuki kamar mandi.
Diana menatapnya tajam, dapat Ia cium aroma alkohol yang sangat menyengat saat Alex berjalan melewatinya. Walaupun jarak mereka bisa di bilang cukup jauh, namun indra penciuman Diana sangat tajam. Terakhir kali Alex mabuk adalah di kamar ini, kejadian hari itu di akibatkan ketika Alex sedang di luar kesadarannya. Seketika tubuhnya merinding, semoga hal buruk tidak terjadi mengingat Diana kini tengah mengandung bayi di dalam perutnya. Semoga saja Alex tidak lepas kendali lagi.
Beberapa menit berlalu, dan Diana masih terus menatap pintu berwarna coklat itu tanpa sedetikpun mengalihkan pandangannya. Suasana terasa hening dan hanya suara gemericik air yang terdengar. Tak lama Alex keluar setelah mandinya selesai, Ia terlihat lebih segar dari sebelumnya. Wangi sabun dapat Diana cium dari tubuh suaminya itu. Dada bidang dan rambut yang basah membuat penampilan lelaki itu terlihat semakin sempurna, dan hanya balutan handuk tipis yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
Alex berjalan mendekat ke arah Diana, tidak bisa di hindari bau alkohol masih dapat tercium oleh indra penciuman Diana namun tidak sepekat tadi. Alex duduk di sebelahnya dan membelai rambut panjang yang terurai sedikit berantakan. Duduk? Tidak ada niatan untuk pakai baju? Gunam Diana dalam hati dengan terus menatap tajam lelaki di hadapannya kini.
“Basah, Kak.” kalimat pertama yang gadis itu ucapkan ketika lengan Alex mulai menyentuh lembut pinggangnya untuk Ia rapatkan pada tubuhnya yang basah.
“Baru saja aku sentuh dan kau langsung mengeluh basah?” tanya Alex dengan seringai. Jelas Ia tahu bukan itu maksud Diana.
__ADS_1
Gadis itu tampak berpikir sejenak, mencoba mencerna perkataan dari lawan jenisnya. Ah ... wajahnya seketika memanas, Ia yakin kini wajahnya sudah merona merah semerah buah tomat. Apa-apaan Alex ini, menggoda Diana selarut ini membuat gadis itu tertunduk malu akibat perkataannya sendiri.
Diana mendongakan wajahnya perlahan, “Kak! Bukan itu,” protesnya dengan kernyitan di dahinya.
Alex tergelak lalu Ia menjauhkan lengannya dari pinggang Diana. Kapan lagi menggoda gadis itu untuk membuat raut wajahnya yang begitu menggelikan dan menggemaskan. Tentu saja bukan itu yang Ia maksud dan Alex pun mengerti maksudnya.
“Kau sangat tidak sabaran, dokter bilang tunggu dan jangan melakukannya dulu karena kau baru saja pulang dari rumah sakit.” ujarnya melanjutkan menggoda Diana, membuat wajah gadisnya semakin memerah padam.
Diana mencebik, “Kak, mau sengaja!” ujarnya dengan menghadiahi Alex sebuah cubitan lumayan keras pada perut sispaxnya. Seketika selak tawa itu berubah menjadi ringisan kecil. “Enakkan?” ledek Diana menyimpulkan senyumnya.
“Kau meledekku?” tanya Alex dan hanya di tanggapi senyum simpul oleh gadis itu. “Hadiah untukmu..” Alex memberikan gelitikan kecil pada pinggang gadis itu membuat gelak tawa menggema mengisi seluruh ruangan.
Ya, cukup untuknya melihat gadis di hadapannya ini tertawa bahagia. Alex menghentikan jemari yang sedari tadi menggelitik Diana dan kini Ia gunakan untuk menarik tubuh mungil itu mendekat ke dalam dekapannya. Alex memeluk tubuh Diana ringan karena harus terhalang perut besar berisikan buah cinta mereka, sementara gadis itu masih mengelurkan suara tawa di dalam pelukannya. Alangkah baiknya jika waktu terhenti disini.
Diana menghentikan tawanya saat rasa geli sudah pudar dari menjelajah tubuhnya. Kini tubuhnya yang sudah berada di dalam dekapan Alex benar-benar merasakan basah.“Kak ... ” seketika rengeknya terhenti mengingat kalimat tadi saja di salah artikan oleh Alex.
“Jangan bergerak, biarkan seperti ini.” ujar Alex seakan tahu jika rengekan gadis itu akan tertuju pada tubuhnya yang basah.
“Tapi bajuku Kak nanti basah,” lanjutnya yang tak terima jika pelukan Alex membuat tubuhnya basah.
“Lepas saja,” ujar Alex enteng, gadis itu menarik tubuhnya dan melepaskan pelukan Alex pada tubuhnya.
__ADS_1
Diana memicingkan kedua matanya menatap Alex, “Tidak, Kak!” tolak gadis itu, pandangannya Ia alihkan pada bajunya yang memang kini sudah basah. “Ini semua karena Kakak!” cetus gadis itu.
Alex terkekeh, “Sudah larut, jangan marah. Aku akan mengambilkan pakaian ganti untukmu.” rayu Alex sementara gadisnya itu terus mencebik kesal.
Alex beranjak dari tempatnya setelah Ia mengusak puncuk kepala Diana namun dengan sigap gadis itu menepis lengannya, membuat Alex ingin sekali tertawa namun Ia tahan. Jika tidak gadisnya itu akan semakin merajuk.
Setelah beberapa menit Ia kembali dan membawakan baju untuk Diana dan dirinya sendiri. Alex berdiri di hadapan gadis itu lalu menyerahkan baju yang sudah Ia pilihkan khusus untuk gadisnya.
Mata Diana membulat melihat baju yang Alex berikan padanya, seketika wajahnya kembali merona padam. Alex masih menahan tawanya.
“Kak ... ” ujarnya heran ketika Ia mengangkat sedikit ke atas baju itu, bukan baju lebih tepatnya sebuah gaun tidur malam yang tampak kurang bahan itu. Yang Diana ingat, ini adalah hadiah yang mama mertuanya berikan dulu dengan alasan 'membahagiakan suami', tapi mengapa baju itu turut serta masuk ke dalam daftar pakaian yang Ia bawa untuk babymoon?
Diana melirik Alex dengan tatapan menyelidik seolah Ia merasa bahwa lelaki inilah tersangkanya. Di tatap seperti itu tentu membuat Alex tak enak, Ia mengedikkn bahunya tanda tidak tahu menahu masalah gaun tidur malam nan seksi itu.
“Aku tidak tahu. Bukankah terakhir kali kau yang menyimpan dan menyembunyikannya dariku ketika aku meminta kau untuk memakainya?” ujar Alex membela dirinya sendiri.
Diana mencebik, “Jika bukan kakak lalu siapa? Pelayan tidak mungkim seberani itu!” Diana tak mau kalah, Ia meninggikan volume suaranya untuk menentang Alex. Ia yakin bahwa Alex lah pelaku utamanya.
“Hanya kau yang tahu dimana itu di simpan.” Alex mencondongkan tubuhnya mendekat pada tubuh Diana. “atau kau ... memang sengaja membawanya untuk menggodaku?” ledek Alex yang di hadiahi pukulan kecil pada lengannya oleh Diana.
“Kak!” protesnya tidak terima.
__ADS_1