Pengorbanan Cinta Diana

Pengorbanan Cinta Diana
Episode 74


__ADS_3

Diana terdiam memikirkan penjelasan dari Ghani, Ia paham dengan semua itu. Namun ini semua bukan menyangkut mengenai hubungannya dengan Alex, jelas hubungannya dengan Alex tidak di mulai dengan cara seperti itu. Dan sampai saat inipun Diana tidak pernah tahu mengenai perasaan Alex yang sebenarnya kepada Diana.


“Kedua, kau tulus mencintainya. Kau menyukainya dengan hal sekecil apapun yang Ia lakukan maka semua itu dapat menyentuh hatimu dan menggoyahkan keyakinanmu. ”


“Bodoh, ” gunam Diana, lantas Ghani langsung menoleh ke arahnya.


“Siapa yang kau sebut bodoh? ” tanya Ghani yang sudah menatap Diana dengan sinis.


“Apa? lanjutkan saja, ” Diana menyengir kuda, Ia tidak mau membahas hal yang tidak penting kepada Ghani.


Sebenarnya Diana teringat akan dirinya sendiri, apa hal yang membuat Diana yakin mengenai hubungannya dengan Alex, tentu saja bukan hanya perihal bayi di dalam kandungannya yang memerlukan figur seorang ayah, tapi ini semua menyangkut hatinya. Diana pernah, ya pernah! Menyukai Alex walau sesaat. Entah dari mana Alex dapat menyentuh hatinya begitu dalam, jelas-jelas sikapnya begitu buruk memperlakukan Diana. Namun kembali lagi ke awal, ini bukan mengenai dirinya!


“Cinta itu buta. Ya benar! Bahwa cinta itu buta. Ketika kau sudah mencintai seseorang, walaupun orang itu sudah bersama orang lain ... ” Ghani melirik Diana sekilas, “Kau masih akan terus mencintainya. Tidak semudah jatuh cinta, melupakan rasa cinta itu lebih susah untuk di lakukan. Sejauh apapun kau menghindar, tetap saja pikiranmu akan tertuju kepadanya. ”


“Tentu itu bukan aku, ” gunam Diana lagi, dan Ghani mendengarnya. Walau begitu, Ia tidak akan bertanya lagi karena jelas Diana tidak mau membahasnya.


“Berbeda halnya jika kau mendapatkan cinta dari orang yang kau cintai. Kau akan sangat bahagia dan lebih menjaganya di dalam dekapanmu. Menjaganya seolah Ia adalah sesuatu yang mudah rapuh, kau akan melakukan apapun untuk menjaganya agar tepat utuh. Agar kau bisa terus bersamanya, apapun akan kau lakukan dan berikan, meskipun harus mengubah dirimu sendiri. ”


“Aku tidak paham ... ” gunam Diana, Ia yakin bahwa kata demi kata yang sudah Ghani jelaskan tadi kini tengah berputar di dalam pikirannya. “Tapi ... apa yang di maksud dengan mengubah dirinya sendiri? ”


“Kau akan merubah dirimu deminya, demi terlihat sempurna di matanya atau, mengubah dirimu menjadi lebih baik agar dapat bersanding di sampingnya. Seperti magnet, kau akan mengikuti kemanapun arahanya. Kau pergi dia pergi, kau memiliki sikap baik maka Ia juga akan mengimbanginya. Itulah cinta. Keinginan untuk terlihat sempurna di matanya, ”


“Apa itu bersifat permanen? ” tanya Diana dengan polosnya.


Ghani menempelkan jari telunjuknya pada kening wanita cantik itu, “Aku tidak tahu, ” jawabnya membuat Diana berdecih malas.


Lalu Diana terdiam dan berpikir, dapatkah seseorang melakukan perubahan drastis di dalam kehidupannya hanya karena cinta? Dapatkah seseorang sepertinya berubah karena cinta? Siapa? Alex ... eh bukan! Tapi Nameera.


“Apa kau sering bertemu dengan kakakku? ”

__ADS_1


“Terakhir kali aku bertemu dengannya itu ... kemarin. ”


“Apa kau merasakan perubahan di dalam dirinya? Atau sikapnya? ”


Ghani mengangkat kedua bahunya, “Dia hanya menyapaku lalu pergi. Dia sedang bersama kekasihnya. Ya, sepertinya itu adalah kekasihnya. ”


Diana terdiam kembali, Ia larut dalam pikirannya mengenai Nameera. Kemungkinan terburuk Nameera bersikap baik kepadanya, tak lain untuk memanfaatkan Diana. Namun hal positifnya adalah, Nameera mau berubah dan memperbaiki dirinya.


“Nona, ” suara yang jelas bukan suara Ghani itu membuyarkan lamunan Diana.


Diana menoleh ke arahnya, pria paruh baya berpakaian khusus itu tengah menunduk dengan memegang tangannya satu sama lain.


“Maaf, Nona. Tadi Tuan muda menelpon dan menanyakan anda. ” ujarnya dengan sopan.


“Ya, ”


“Tuan meminta Nona untuk segera pulang. ” ujarnya dengan tak enak hati mengganggu pembicaraan Diana dengan Ghani. Terlebih supir itu tidak tahu siapa Ghani sebenarnya, Ia takut kalau Alex tahu maka Ia itu akan mendapat amukannya.


“Baiklah, Pak. Tunggu aku di mobil, aku akan segera menyusul. ” ujar Diana, supir itu hanya mengangguk mengiyakan.


Diana menoleh ke arah Ghani kemudian tersenyum tipis, “Ghani aku harus pulang, ”


“Ya, pulanglah. Aku juga masih banyak pekerjaan di perusahaan, dan harus segera kembali. ”


Ghani membuat alasan agar Diana tidak merasa bersalah karena meninggalkannya di tengah-tengah obrolan mereka.


***


Diana merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, menatap langit-lagit kamarnya. Suasana seperti ini lagi. Setiap hari Diana hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar atau berjalan-jalan di taman mansion. Bosan dan jenuh menjadi teman setianya.

__ADS_1


“Nona, ” pintu di ketuk dari luar dan terdengar suara seorang pelayan memanggilnya.


“Ya, masuk. ”


Seorang pelayan kemudian masuk ke dalam kamar Diana dengan membawa sebuah kotak dengan begitu hati-hati. Diana beranjak bangun dari tidurnya dan langsung duduk di pinggiran ranjang. Lalu pelayan tersebut memberikan kotak itu kepada Diana.


Diana berkerut kening, “Apa ini? ”


“Itu adalah kue ulang tahun, Nona. ”


“Tapi aku tidak berulang tahun hari ini. ”


“Ya, tapi tuan Alex yang berulang tahun. ”


Diana terkekeh, “Lantas, mengapa kau memberikan ini kepadaku? Kenapa tidak kepada Alex saja? ”


Masih dengan wajah tertunduk pelayan itu mengatakan, “Nyonya besar yang memberikannya, Nona. Beliau berharap agar kan segera membaca pesan darinya. ”


“Pesan? ” pelayann tersebut mengangguk pelan.


Tiba-tiba Diana teringat dengan ponselnya yang entah Ia simpan dimana. Diana memersilahkan pelayan itu untuk pergi dan melakukan kembali tugasnya, dan pelayan itu hanya mengangguk menuruti perintah nonanya lalu keluar pergi. Diana menyimpan kue itu di atas ranjang, lalu sibuk mencari keberadaan ponselnya.


“Ponselku! ” pekiknya ketika menemukan ponselnya kembali yang memang sebelumnya Ia simpan di dalam laci meja riasnya.


Dengan segera Diana membuka kode ponselnya dan membuka pesan yang di kirimkan oleh mama mertuanya.


“Diana, aku mengirimkanmu sebuah kue ulang tahun. Rayakanlah bersama Alex, buat Ia merasa senang. Aku dan Ayahmu tidak bisa menghadirinya, karena kami tengah melakukan perjalanan bisnis keluar kota. ” isi pesan tersebut, membuat Diana menghela napas berat.


Alex sudah dewasa, kenapa hari ulang tahunya masih harus di rayakan? Itulah pertanyaan yang di pikirkan oleh Diana saat pertama kali mengetahui bahwa dirinya harus merayakan ulnag tahun Alex.

__ADS_1


“Apa yang harus aku lakukan? ” keluhnya. “Tidak mungkin jika aku harus menghias kamar ini lalu berkata 'kejutan' saat dia kembali. ” Diana mengehentakkan kakinya ke lantai. Ia di buat frustasi oleh tingkah mama mertuanya.


__ADS_2