
Selamat membaca❤❤
“Uh ... ” lenguh Diana ketika sinar mentari menyeruak masuk menyilaukan matanya.
Diana membuka matanya terkejut, Ia mendapati dirinya di dalam ruang rawat rumah sakit. Diana ingat hal apa yang terjadi sebelumnya. Pendarahan pada perutnya. Bayiku!
Diana membelalak, kedua lengannya langsung meraba bagian perutnya. Ia bernapas lega. Perutnya masih dalam bentuk yang semula. Bulat dan terdapat bayinya di dalam sana. Matanya menjelajah sekitar, Ia mendapati Alex tengah tertunduk di pinggiran ranjangnya. Dapat Diana dengar dengkuran halus dari suaminya. Ia tertidur. Entah sejak kapan Alex menunggunya di sini.
“Kau bangun?”
Diana tersentak, lengannya Ia tarik kembali ketika akan mengambil gelas di samping tempat tidurnya.
“Kak,”
Alex mengambil gelas itu dan memberikannya kepada Diana kemudian di terima oleh gadis itu. Wajah datar Alex jelas terlihat, namun masih tersisa kehangatan di dalamnya.
“Kak ... apakah kau marah dengan apa yang sudah menimpaku? Apa kau kecewa?” lirih Diana dalam hati.
“Kenapa?” tanya Alex ketika melihat Diana hanya melamun menatap gelas di tangannya.
Diana menggeleng pelan lalu meminum air putih di gelas hingga tandas.
“Makan?” tanya Alex lagi. Diana terdiam.
“Kak, maaf ... ” Diana menundukan wajahnya dengan genangan air mata memenuhi pelupuk matanya.
“Untuk apa?”
“Kak maaf ... aku ceroboh. Seharusnya aku tidak pergi dari restoran, semuanya tidak akan terjadi. ” suaranya tercekat, tenggorokannya terasa sakit karena menahan tangis yang memaksa keluar. Alex menatapnya diam dengan kerutan di halisnya. “Aku terlalu egois, tidak nyaman dengan-”
“Kau sudah sadar? Bagaimana keadaanmu?” suara seorang pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Sontak Diana menyeka air matanya sebelum Ia memutuskan mendongakan wajahnya untuk melihat siapa pemilik suara tersebut.
Elios ... Dengan seorang wanita yang amat di kenalinya. Stefi.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Stefi menunjukan kekhawatirannya.
__ADS_1
Diana berkerut heran, mendadak hatinya tidak tenang melihat kehadiran wanita asing itu ke dalam ruang rawatnya. Dan Alex juga, Ia tampak santai dan tenang. Tidak tahukah Alex, karena wanita itulah Diana memutuskan untuk pergi dari restoran hingga semua ini terjadi kepadanya.
Diana mengalihkan pandangannya, terdiam tidak menjawab pertanyaan Stefi.
Alex menatapnya heran, Ia memegang lembut lengan Diana. “Ada apa?”
Semua mata tertuju kepada Diana. Pasalnya, ketika Elios dan Stefi datang entah apa yang membuat ekspresi wajahnya berubah begitu cepat.
Alex menatap ke arah Elios dan Stefi, merasa sedikit tidak enak. Sepertinya, Stefi langsung memahami situasinya ketika mengingat kejadian di restoran kemarin.
“Diana, maaf membuatmu menjadi salah paham. Aku tidak tahu apakah hanya perasaanku saja atau ... ehm. ” Stefi melirik ke arah Elios sebelum Ia melangkahkan kakinya mendekati ranjang Diana. “Aku belum memperkenalkan diri secara resmi. Aku Stefi, tunangan Elios.”
Diana membelalak lebar, mendadak hatinya begitu sakit mendengar kenyataan itu. Ia merasa dirinya benar-benar egois.
“Ketika Alex menghubungi Elios untuk pergi ke bali, saat itu pula Elios sedang bersamaku. Namun karena urusan pekerjaan, Elios memintaku untuk terlebih dahulu datang menemui kalian.”
Diana menundukan wajahnya. Ia sungguh malu dengan pikirannya sendiri. Stefi memahami itu. Dirinya juga ikut andil dalam kesalahpahaman ini.
Stefi memegang lembut bahu Diana, “Tidak apa-apa,” Ia tersenyum lembut. Stefi adalah wanita yang baik dan dapat memahami situasi dengan cepat. Mungkin semua itu karena Ia juga wanita sehingga dengan mudaj paham mengenai perasaan wanita lainya.
Stefi beranjak dan mulai mendekat ke tempat Elios berdiri lalu mengangdeng lengan tunangannya, “Sepertinya, kalian butuh waktu berdua. Selesaikan ini dengan baik. Aku dan Elios pamit.”
Setelahnya, Stefi dan Elios perti meninggalkan ruang rawat Diana. Membiarkan pasangan suami istri ini menyelesaikan masalahnya.
“Kak, maaf ... ”
“Apa yang kau pikirkan!” bentak Alex, Diana tersentak dengan air mata yang berlinang. Sentakan Alex benar-benar membuat hatinya sakit.
Alex berdiri, menggeser kasar kursi tunggal yang sedari tadi Ia duduki. “Apa kau pikir Stefi-” Alex mencengkram kuat rambutnya menggunakan kedua lengannya. “Apa kau berpikir aku segila itu?! Memperkenalkan seorang wanita kepada istriku?!” Ia terdiam sejenak menatap Diana yang sedari tadi menundukan wajahnya lalu tak lama Alex mencengkram kuat kedua bahu gadis itu. “Lihat aku! Apa seperti itu pandanganmu terhadapku?!”
Diana terisak, air matanya mulai membludak keluar dari pelupuk matanya. Ia mendongakan wajahnya dan memberanikan diri melihat Alex sembari meringis kesakitan. “Kak maaf, Kak. Sakit ...” isaknya.
Alex menelan ludahnya susah payah melihat wajah Diana yang memerah dengan linangan air mata membasahi wajah cantiknya. Gadis itu terlihat begitu pucat dan gemetar. Alex langsung melepaskan cengkramannya pada bahu Diana. Ia melangkah menjauh. Menghempaskan dirinya ke atas sofa dan tertunduk dengan cengkraman kedua tangan di rambutnya.
Pusing, kepalanya berasa ingin pecah. Tidak adakah kepercayaan di antara mereka? Sedikitpun? Satu hal kecil tanpa adanya komunikasi keduanya benar-benar membuat hal fatal terjadi.
__ADS_1
Percayalah. Selain kepercayaan, cinta dan kasih sayang di dalam rumah tangga, komunikasi keduanya pun sangat penting. Berkomunikasi, bertanya, menghindari hal-hal yang tak di inginkan dan bertanya satu sala lain. Semuanya penting.
Tidak ada cinta di antara mereka, oh lebih tepatnya pengakuan cinta, tidak ada kepercayaan, bahkan dengan komunikasi yang kurang. Membuat hal kecil menjadi besar, memendamnya di dalam hati. Kesulitan sendiri, merasa sakit sendiri tanpa alasan yang jelas.
Alex mendongakan wajahnya ketika isakan Diana terdengar semakin menyesakkan. Ia sudah keterlaluan. Bagaimanapun ini juga kesalahannya. Alex tidak dapat memahimu isi hati Diana dengan cepat. Selain tidur dengannya, apalagi yang sudah Ia lakukan? Ia bahkan belum pernah membahagiakan istri kecilnya.
Rasa bersalah.
Alex mengayunkan kakinya mendekat ke arah ranjang Diana. Ia meraih jemari Diana lalu mengenggamnya dengan erat.
“Maaf ... ” satu kata maaf terucap dari bibirnya.
Bukannya berhenti, gadis itu malah tambah terisak.
“Maafkan aku ... ” dua kata maaf terucap dari bibir Alex. Membuat tangis Diana semakin pecah.
“Maaf ... ” Alex membawa tubuh Diana ke dalam pelukannya. Ia mendekap tubuh gadia itu dan membiarkannya menangis di dalam pelukannya. Jujur, hatinya merasa sakit ketika melihat gadis itu menangis. Tak seharusnya Alex bersikap kasar kepadanya.
“K-kak, maafkan a-aku ... ” ujarnya di sela-sela isak tangisnya.
Alex menarik wajahnya, memberi jarak untuk menjangkau wajah Diana pada pandangannya. Ia menyeka lembut air mata Diana menggunakan ibu jarinya.
“Aku yang salah, maafkan aku.” Alex menghela napasnya. “Mulai sekarang, aku akan menjagamu lebih baik lagi.”
Diana mengangguk pelan, isakanya terdengar mulai berkurang.
“Ingat, aku adalah suamimu. Aku menyayangimu, Diana.”
Satu kata 'Sayang' dari Alex membuat Diana membelalak tidak percaya.
“Jangan pernah berpikir jika aku melakukan semua ini karena terpaksa. Aku sungguh menyayangimu,”
Diana menelan ludahnya susah payah. Pandangannya Ia arahkan pada dada bidang milik Alex, tak berani memandang wajah pria yang kini tengah menyuarakan isi hatinya.
“Awalnya aku melakukan semua ini karena rasa bersalah. Tapi waktu merubahnya. Aku tidak tahu semenjak kapan aku mempunyai rasa untukmu. Aku egois, aku menyangkal semua itu. Tapi kemudian aku kalah, aku menyayangimu.”
__ADS_1
“Sudah, Kak, cukup!” air matanya berlinang namun tanpa isakan.