
Diana berbaring di ranjang sebelah ranjang Nameera, Ia melihat Nameera yang tidak sadarkan diri dengan wajah yang terlihat pucat pasi. Nameera tampak tenang di bandingkan ketika Ia sadar, Diana menyayangkan kenapa mereka tidak bisa menjadi saudari yang akrab.
Sambil menyiapkan peralatanya Dokter meminta Diana untuk mengangkat lengan bajunya sampai siku, Diana sempat tercengang, Ia lupa dengan kondisinya saat ini. Karena dirinya belum pulih benar dan dia sudah harus mendonorkan darahnya untuk Nameera. Tapi, semoga saja tidak terjadi hal yang Ia takutkan. Diana menarik nafas panjang dan memejamkan matanya kemudian mengangkat lengan bajunya secara perlahan. Diana menatap ekspresi dokter tersebut.
Dokter tercengang melihat tangan Diana yang dipenuhi luka memar, Ia mengeryitkan keningnya sembari menatap ke arah Diana. Dokter itu merasa iba terhadapnya, sebab terlihat jelas luka memar itu di sebabkan oleh gigitan kasar seseorang pada lengannya.Seakan mengerti dengan ekspresi yang dokter itu berikan, Diana hanya tersenyum tipis sembari mempersilahkan kepada dokter untuk segera melakukan tranfusi darah.
"Kau sedang tidak sehat bagaimana kau bisa melakukan donor darah untuk seseorang? " Dokter itu menggeleng kepala pelan lalu Ia beranjak pergi
"Tidak, Dok. Tolong biarkan aku melakukanya aku merasa baik baik saja. " Langkah dokter itu tercekat, pasalnnya pasein yang tengah berbaring di samping ranjang Diana pun sangat memerlukan darahnya.
Dokter itu menyakinkan Diana kembali akan perkataanya tadi, Diana hanya mengangguk mengiyakan.
Sebelum melakukan tranfusi kepada Nameera, Dokter itu terlebih dahulu memeriksa kondisi Diana. Seharusnya Diana tidak melakukannya, namun apa daya Ia menginginkannya. Dokter itu menyakinkan Diana kembali atas tindakannya, Diana hanya tersenyum tipis dan mengangguk yakin. Kemudian, Dokter itu melakukan tugasnya di bantu oleh seorang perawat wanita, setelah selesai Dokter itupun pergi keluar ruangan untuk mengurus pasiennya yang lain.
Perawat wanita meminta ijin kepada Diana agar Diana bersedia untuk di infus, karena kondisinya terlihat sangat lemah. Diana hanya mengiyakan saja, terlihat jelas wajah perawat itu terlihat iba dan kasian ketika melihat kondisi lengan Diana.
“Nona, apa kau benar baik-baik saja? ” tanyanya sembari terus menatap lengan Diana.
“Tidak apa-apa, Sus. ” Jawab Diana dengan nada tenang.
__ADS_1
Kemudian perawat itupun melakukan tugasnya, memasang infus pada punggung lengan Diana sesuai prosedur kedokteran. Setelah infus itu menancap kokoh pada punggung lengan Diana, perawat itu mengatur kecepatan pada tetesan selang infusnya. Setelah semuanya selesai, perawat tersebut membereskan semua perlengkapan dan permisi untuk keluar ruangan pada Diana. Diana tersenyum dan berterimakasih.
Alex, Nyonya dan Tuan Wijaya masih menunggu di luar, dokter sudah mempersilahkan mereka untuk masuk dan melihat keadaan pasein. Nyonya Wijaya dengan sigap langsung masuk ke dalam ruangan untuk menemui Nameera.
Diana melihat ibu tirinya yang datang masuk ke dalam ruanganya, ibu tirinya menatap tajam Diana kemudian menghampirinya dan Diana beranjak duduk.
Sebuah tamparan mendarat pada pipi Diana, Diana memegangi pipinya yang terkena tamparan tersebut lalu Ia menatap ibu tirinya. Apa maksud ibu tirinya memperlakukannya seperti itu, padahal Diana baru saja melakukan tranfusi darah untuk Nameera. Jangan berterima kasih, bersikap baik saja pun tidak.
“Ini semua karena dirimu! Jika saja kau tidak menghancurkan kehidupannya! ” ucapnya penuh amarah sembari menunjuk ke arah Diana, tak lama Ia pun berjalan pergi menjauh dari ranjang Diana.
Diana hanya terdiam, menatap lurus dengan tatapannya yang kosong. Pandangannya buram, karena air mata yang memenuhi pelupuk matanya, tiba-tiba air matanya menetes tanpa Dia kehendaki. Diana hanya merasa malu dengan apa yang terjadi padanya, kenapa ini semua harus terjadi. Diana malu karena dirinya yang terlalu lemah, Diana malu karena Ia tidak bisa melakukan apapun.
Diana menangis tanpa suara, sekuat hati Diana menipu dirinya sendiri, Ia tidak menangis karena kehidupannya, melainkan menangis karena rasa sakit pada punggung tanganya.
Di luar ruangan, Alex memperhatikan wajah tuan Wijaya yang tampak cemas sedari tadi, Ia memberikan isyarat kepada Zeno untuk segera pergi. Zeno mengangguk pelan dan pergi meninggalkan Alex dan tuan Wijaya.
Alex berjalan mendekatinya, kemudian Ia duduk di samping tuan Wijaya, Ia menanyakan kenapa mertuanya itu terlihat tampak gusar dan resah.
"Bagaimana keadaan putriku? " tanyanya dengan suara yang lirih dan bergetar, dan wajahnya yang masih tertunduk lemas.
__ADS_1
"Nameera akan baik baik saja, " Ujar Alex menenangkan namun tetap dengan nada yang dinginnya.
"Bukan Nameera. Tetapi Diana, bagaimana keadaanya. Dia tampak pucat seperti orang yang sedang sakit, tapi dia masih harus memberikan darahnya untuk Nameera. Dia tampak sangat sedih, dia tampak tidak bahagia. " Air mata jatuh dari kelopak mata pria paruh baya itu, Ia sangat mengkhawatirkan putrinya. Rasa bersalah menyelimuti hatinya, rasa bersalah karena telah menempatkan putrinya dalam posisi yang tidak adil.
Alex tertegun, Ia mengingat kembali kejadian hari dimana gadis itu memohon padanya, memohon dengan jerit tangisnya. Ia mengingat kembali kejadian itu kembali, dimana Diana yang terus meronta dan menolak. Namun, Alex tidak mendengarkannya dan malah semakin ingin segera melanjutkan aksinya menjamah tubuh Diana. Alex berpikir, ternyata dengan menyakitinya, secara tidak langsung Ia juga telah menyakiti orang tuanya.
'Diana ... Aku hanya merasa marah saat itu. Aku pikir, Ia adalah gadis yang berbeda dari gadis gadis lainya. Tapi ciuman di pinggir pantai saat itu sungguh membuatku murka dan merasa ia sama dengan gadis lainnya. Tapi ternyata akulah seorang yang bejat dan tidak berperasaan, tubuhnya bahkan masih mulus dan belum terjamah oleh siapapun. Alex kau sungguh bodoh! ' batin Alex
_ _ _
Nyonya dan Tuan Wijaya sudah pamit untuk pulang tadi sore, tinggal Alex sendiri yang menjaga mereka. Jam sudah menunjukan pukul 21:45, tranfusi darah untuk Nameera pun sudah di hentikan. Dokter sengaja menginfus Diana agar Diana tidak merasa pusing dan lemas. Diana dan Nameera masih terlelap di atas ranjangnya masing masing.
Alex duduk di sofa yang masih berada di dalam ruang rawat dengan macbook di pangkuanya, Alex menatap focus pada layar macbooknya. Walaupun Ia sibuk dengan pekerjaannya, namun Alex masih menyempatkan untuk berjaga di rumah sakit.
Tiba-tiba Alex mendengar lenguhan Nameera, pandanganya langsung Ia alihkan padanya. Ia memperhatikan Nameera yang tidak mengetahui kalau Alex sedang berada disana dan sedang memperhatikanya.
Ia melihat lengan Nameera mencoba meraih selang infus yang sedang tertancap pada lengan Diana. Mata Alex terbelalak dan langsung terperanjak dari sofa, melihat Nameera sengaja mencabut secara paksa infus yang sedang tertancap pada lengan Diana.
"Aaaaaawhh ... " Diana yang sedang tertidup itupun langsung bangun dan berteriak
__ADS_1
bersambung.....